Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Tanda Tangan Palsu


__ADS_3

Pak Revan dan Pak Haris melihat secara bersamaan. Sesekali mereka saling bertatap muka seorang berbincang dengan bahasa isyarat dan kembali melihat ke arah kertas.


"Aku tidak salah kan? Menantumu yang bo*oh ini sudah menyutujuinya," ujarnya.


"Hmm, Aku sudah lihat. Tapi sepertinya bukan Vin yang bo*oh, melainkan kamu ...!" sahut Pak Revan melirik ke arah Vin yang masih bersikap tenang seolah sedang tidak terjadi apa-apa di ruang kerjanya.


________


"Heh! Kalian memang laki-laki bo*oh tidak mau mengakui kesalahan yang sudah kalian lakukan," ejek Nyonya Erika.


"Siapa yang tidak mau mengakui kesalahan? Ngomong-ngomong bagaimana kabarmu Er? Sudah lama kami tidak mendengar kabarmu," ujar Pak Revan mencoba mengalihkan perhatian.


"Seperti yang kau lihat, aku seperti ini karena kalian. Kalian puaskan lihat aku seperti ini sekarang?" ujarnya dengan angkuh.


"Kalau tidak salah, kamu kecelakaan saat hendak mengejar Mobil Vin bukan? Tapi kamu sendiri yang tidak berhati-hati," celetuk Pak Haris.


"Mengejarku?" celetuk Vin.


"Apa maksudmu Ris?" tanya Pak Revan.


"Ya, Vin kamu ingatkan saat Pak Rendy menyuruhmu untuk hadir mewakilinya ke WIJAYA GROUP beberapa tahun lalu? Saat itu kalau tidak salah kamu habis mengantar skripsi ke kampus," ujar Pak Haris mengajak Vin untuk mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu.


"Iya Om, waktu itu aku sudah hampir sampai di Perusahaan. Lalu Papi menyuruhku untuk putar balik ke WIJAYA GROUP," jawab Vin.


"Lalu apa hubungannya? Seingatku tidak ada kecelakaan saat itu," imbuh Vin.


Flashback On


Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, jalanan tidak terlalu ramai oleh kendaraan. Bahkan beberapa kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi mungkin mereka merasa jalan seperti milik sendiri.


Terlihat wanita paruhbaya yang baru saja mengantarkan putrinya ke sekolah sedang duduk di depan kap mobil menikmati sepuntung rokok yang baru saja ia nyalakan.


"Kemana ya sekarang?" gumamnya.


Tak lama setelah itu, lewat sebuah mobil dengan kecepatan sedang. Tak sengaja matanya melihat siapa pengendara di dalam, sontak ia segera masuk ke dalam mobilnya dan membuntutinya.

__ADS_1


"Hmm, Ibunya bisa selamat dari kecelakaan. Tapi tidak dengan anaknya. Daripada aku bingung mau ngapain, lebih baik aku menyingkirkan anak kecil itu," gumamnya mulai menginjak gas mobilnya.


"Ayo, terus jalan. Nikmati detidetik terkahirmy sebelum kamu menghembuskan nafasmu untuk yang terakhir kalinya,"


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha mengejar mobil hitam di depannya. Di depan terdapat lou lalu lintas yang sedang menyala dengan warna hijau, ia menambah kecepatan mobil agar bisa lolos dari lampu merah.


Namun naas, beberapa saat setelah mobil yang di naikinya melewati garis polisi lampu sudah menyala hijau dan kendaraan dari arah kanan enggan memberikan jalan untuknya.


Duarrr ...!


Kecelakaan tak dapat di hindari, sebuah mobil Xenia berwarna putih di tabrak oleh truk yang kebetulan sedang mengangkut sampah. Mobil mengalami kerusakan parah, sang pengemudipun kakinya terjepit hingga tak sadarkan diri.


Flashback Off


"Jadi ... siapa yang salah? Lalu yang tidak mengakui kesalahan itu siapa Erika?" ucap Pak Revan dengan santainya.


"Diam Haris ...! Bisa saja kamu mengarang cerita," bentaknya.


"Ya memang aku sedang mengarang cerita. Tapi kalau mengarang cerita kenapa kamu menyuruhku diam? Padahal aku tidak menyebut namamu dalam cerita itu bukan?" sahut Pak Haris.


"Sudahlah, aku kesini hanya ingin mengatakan mulai besok ruang kerjamu sudah tidak disini lagi,"


"Apakah ruang kerjaku akan di renovasi?" celetuk Vin.


"Dasar idiot ...!" makinya tanpa merasa bersalah.


"Astaga ...! Dari dulu kamu gak berubah ya Er. Gak pernah mau mengakui kesalahan, malah menyumpah serapahi orang yang tidak tau apa-apa," gumam Pak Revan.


"Pah, tolong jelaskan ... supaya Tante ini paham," ucap Vin dengan halus.


"Baiklah, basa-basinya sudah cukup. Waktunya kita serius supaya masalah cepat selesai dan kamu tidak pulang kesorean ya Er," ujar Pak Revan.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Karena semua sudah jelas ada tanda tangannya di atas materai. Tak usah mengelak jika kalian sudah kalah. Lagian kalau kalian masih ingin bekerja disini boleh kok," ujarnya lagi.


"Dewi tolong ambilkan berkas lain yang ada tanda tangan Pak Vin ya ...!" pinta Pak Revan oada Dewi yang sejak tadi berdiam diri mematung di depan pintu.

__ADS_1


"Ba-baik Pak, sebentar ...!" Dewi segera keluar dan mengambil berkas di atas meja kerjanya.


Kebetulan ada satu berkas yang baru saja di tandatangani Pak Vin. Dewi kembali masuk dan membuka berkas tepat yang ada tandatangan Pak Vin dan memberikannya pada Pak Revan.


"Silakan Pak," ucapnya dengan sopan.


"Makasih ya Wi," ucapnya.


"Ngomong-ngomong kok Aura disini?" tanya Pak Haris yang baru menyadari ada pegawai lain di dekatnya.


"Jadi Om, Aura adalah anak kandung dari Nyonya Erika dengan Tuan Ruli. Entah dia atau siapa yang sudah menyembunyikan nama Ibunya," ujar Vin menjelaskan.


"Oh ...!" Semua mengangguk setelah mendengar penjelasan Vin.


"Astaga ...! Ternyata wanita itu Ibunya. Untung saja aku gak keceplosan panggil wanita ini nenek gayung," batin Dewi.


"Erika, Aura ... lihat baik-baik berkas ini," ujar Pak revan menunjukkan berkas pada Aura dan Nyonya Erika.


"Udah kan? Coba sekarang lihat yang ini ... setelah itu lihat kembali ke yang pertama kalian lihat, adakah perbedaannya?" imbuhnya dengan tenang dan tegas bak seorang guru yang sedang menjelaskan pelajara pada dua muridnya yang belum paham dengan apa yang ia jelaskan.


"Ti-tidak mungkin pasti kalian yang sudah memanipulasi kan? Kalian licik ...!" teriak Nyonya Erika tak mau menerima kenyataan jika tanda tangan yang ia dapatkan adalah palsu.


"Ya aku memang memanipulasinya, tapi untuk kebaikan. Untuk menyelamatkan apa yang menjadi milik kami Tante," jawab Vin dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Akhirnya ketakutanku sudah terjawab hari ini, ternyata Pak Vin menjebak balik mereka. Rasakan Aura, kamu bernai sekali menajdi musuh dalam selimut. Padahal Pak Vin sudah baik sekali padamu,"


"Ternyata kecantikanmu hanyalah pemanis supaya kumbang tertarik padamu, tapi bau busukmu tak mampu membohongi para kumbang yang hampir mendekatimu," batin Dewi.


"Saksinya adalah Dewi. Karena waktu itu tak sengaja ada selembar kertas yang jatuh," Semua mata tertuju pada Dewi, membuat Dewi hanya mengangguk dan sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Ternyata apa yang kamu katakan tentang menantuku beberapa menit yang lalu tidak terbukti ya Er ...! Menantuku sangatlah cerdik. Inilah yang dinamakan CEO tidak boleh mengambil keputusan tanpa mencari tau akarnya," ujar Pak Revan memuji Vin membuat wajah Erika merah padam.


"Dasar anak bo*oh ...! Dari dulu tidak pernah seklaipun membuatku senang. Ayo pulang ...!" bentaknya dengan kedua matanya menatap tajam.


"Ma-maafkan saya Pak," ujar Aura menganggukan kepalanya dengan perlahan.

__ADS_1


"Aura ...!" teriak Nyonya Eriak dengan suaranya yang nyaring.


__ADS_2