Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Paling Paham


__ADS_3

Alina telah selesai mandi, ia mengambil baju terusan berwarna Navy di dalam lemari pada ruang ganti. Saat di pakai bajunya begitu pas dengan ukuran tubuhnya.


"Bagaimana baju ini bisa sesuai dengan ukuranku? Padahal Bapak itu kan baru saja bertemu denganku.


Apa karena dia sudah sering membelikan pakaian untuk wanita lain? tentu saja, bukankah dia bilang banyak wanita yang mengejar-ngejarnya. Sebenarnya apa sih pekerjaan dia? Sepertinya perusahaan dia lebih besar dari milik keluargaku??"


Setelah selesai menyisir rambutnya, Alina mengambil ponsel miliknya yang masih berada di dalam tas di atas mejanya. Terpasang foto pria imut yang menjadi penyemangatnya selama ini.


"Hmm. . Gantengku. . lagi apa kamu sekarang? Apa kamu kangen Kakak? Kenapa kamu tidak datang tadi? Aku telepon saja, siapa tau dia sedang kesepian."


Tutt. . tutt. . tuutt. .


"Hallo Kak?" Ucap seseorang dari seberang sana.


"Hallo sayang. . kamu sudah makan?"Tanya Alina.


"Sudah kak. . Kakak sedang apa? Apa Kakak sudah makan?" Tanya Vin pada Kakaknya.


"Belum. . Kakak baru selesai mandi. Kamu lagi apa?" Tanya Alina.


"Aku lagi di kamar kakak. Aku kangen Kakak." Ujar Vin.


"Kakak juga kangen kamu sayang. . Maaf ya kalau kakak menikah secara tiba-tiba."Ujar Alina.


"Kakak menikah tidak karena ancaman kan kak? Apakah dia melukai Kakak?" Tanya Vin.


"Hmm Tidak sayang, dia pria yang baik. Dia tidak akan melukai Kakak. Kalau nanti dia melukai Kakak, pasti Kakak langsung ngadu ke adik kakak supaya dia di pukul." Ujar Alina.


"Syukurlah. . .Kakak jaga diri baik-baik. Kalau ada waktu mampirlah ke Perusahaan atau menginap di rumah." Ujar Vin.


"Iya sayang. . Kakak titip Papi sama Mami. Kalau Papi atau Mami sakit segera hubungi Kakak. Kakak sayang kalian." Ujar Alina menahan air matanya yang hampir jatuh.


"Hmm. . aku akan menjaga Papi sama Mami. Kita juga sayang sama Kakak." Ujar Vin sebelum mengakhiri obrolan malam ini.


Alina tak mampu lagi menahan air matanya, tangisnya langsung pecah saat layar ponselnya mati. Dia tau saat ini pasti Vin sedang begitu kehilangannya.

__ADS_1


Hampir setiap malam, sebelum mereka tidur selalu menghabiskan waktu bersama di balkon. Bertukar cerita satu sama lain, saling membelai satu sama lain.


***


Di balik pintu kamarnya, Chandra sudah berdiri hendak membuka pintu. Tapi sesaat dia mendengar suara Alina yang sepertinga sedang berbicara dengan seorang pria di seberang sana.


"Dia begitu menyayangi adiknya, pasti selama ini adiknya yang selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah.


Meski dia terlihat galak, tapi kali ini mematahkan semuanya.


Hatinya begitu lembut, apakah aku bisa membuatnya bahagia tanpa harus membuatnya menangis?"


Chandra masuk ke dalam kamar dan memeluk tubuh istrinya yang duduk di bawah sedang menangis. Hatinya seperti teriris saat mendengar isakannya yang begitu pilu.


"Maaf, aku sudah memisahkanmu dengan adikmu. Dia bisa datang ke rumah ini kapanpun yang dia mau. Tapi tolong, jangan menangis. Aku tidak bisa melihat orang yang menangis." Ucapnya terus memeluk tubuh Alina.


"Maaf. . aku tidak bermaksud untuk menangis. Hanya saja dadaku terasa sesak saat mendengar suaranya, dia begitu kehilangan aku." Ucap Alina.


"Hmm aku tau, begitupun denganmu. Mungkin saat ini kamu masih merasa asing berada di rumah ini. Tapi akan aku pastikan, mereka tidak akan membuatmu terusik." Ujar Chandra.


"Astaga masih sempat-sempatnya dia memanggilku Bapak. Apakah aku setua itu? Aku dan dia kan hanya terpaut usia 2 tahun. Tapi tidak apa, untuk kali ini aku biarkan." Batin Chandra sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, aku akan mandi dulu, kalau kau lapar turunlah dulu. Makanan udah siap." Ucap Chandra.


"Mana bisa aku makan sendiri, sedangkan suami ku ada di rumah. Aku akan menunggu Bapak saja. Mandilah, sebelum aku pingsan untuk kedua kalinya karena kelaparan." Ujar Alina.


"Hmm. .Jangan menangis lagi. Hapus air matamu. Wajah galakmu hampir saja hilang terhapus air matamu yang mengalir dengan derasnya. Untung saja bajuku ini bisa menyerap air. Mungkin kalau tidak seisi rumah ini akan kebanjiran." Ucap Chandra dengan mengacak pelan rambut istrinya yang masih terduduk di bawah.


"Tidak adakah kata-kata lain yang bisa membuatku tersenyum? Astaga. . suami macam apa ini." Ujar Alina segera bangun dan pergi menjauh darinya.


Chandra hanya tersenyum melihat istrinya yang tiba-tiba seperti anak kecil sekarang.


"Dia bisa berubah dalam waktu yang singkat, Kadang galak seperti singa, dalam waktu beberapa menit bisa tersenyum, tiba-tiba cengeng dan sekarang suka ngambek. Astaga. . Apakah semua wanita seperti itu?" Batin Chandra yang masih menatap lekat kepergian istrinya sampai menghilang di balik dinding pemisah.


~Di Balkon Kamar~

__ADS_1


Layar ponselnya telah kembali mati, Vin menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sedikit terobati kerinduannya pada separuh nafasnya yang kini telah menyandang status sebagai istri orang.


" Mungkin butuh waktu untuk aku bisa terbiasa, sendirian lagi seperti 6 bulan lalu, tak ada lagi yang membangunkan ku dengan menjatuhkan tubuhnya diatas tubuhku, atau terus bernyanyi dengan suara cemprengnya sampai aku membuka mataku."


Setelah semua sudut balkon kamar ia singgahi, akhirnya Vin memutuskan untuk kembali ke kamarnya setelah memastikan kamar Alina benar-benar kosong.


"Kamu belum tidur sayang?" Tanya Kinan yang tiba-tiba susah berdiri di belakangnya saat dia sesang menutup pintu kamar Alina.


"Astaga. . Mami. . kau mengagetkan ku. Ini benar Mami?" Tanya Vin dengan kedua tangannya memegang wajah Kinan.


"Astaga. . Apa kamu kira Mami mu ini hantu?" Ujar Kinan membuat gelak tawa Vin pecah begitu saja.


"Hahaha. . .Maaf Mam. Habisnya Mami tiba-tiba sudah berada di belakangku. Bagaimana aku tidak kaget." Ucap Vin.


"Kamu kangen Kakakmu?" Tanya Kinan.


"Tentu saja. . Bagaimana tidak, hampir setiap pagi suara cemprengnya membuat kuping ku sakit. Barusan Kakak telepon, dia menitipkan salam untuk Mami dan Papi. Dia baik-baik saja Mam." Ucap Vin pada Kinan.


"Hmm. . syukurlah. . setidaknya Mami bisa merasa tenang sekarang. Kamu tidurlah. Ini sudah malam." Ucap Kinan.


"Hmm Iya mam. . Mami juga segeralah ke kamar, nanti pria itu berisik membuatku susah tidur." Ucap Vin.


"Gitu-gitu juga Papi mu Nak. Ya sudah, pergilah. Selamat tidur sayang." Ucap Kinan.


"Hmm. . Selamat malam Mam." Ucap Vin mengecup kening Kinan sebelum berlalu ke kamarnya.


Kinan menatap lekat-lekat kepergian Vin dengan langkah gontai. Kinan paham betul, anak laki-lakinya sedang kehilangan sosok Kakaknya yang selama ini selalu memanjakan dirinya.


"Kamu bisa saja berpura-pura tersenyum di depan Mami. Tapi tidak dengan perasaanmu Nak. Mami pun merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat ini." Ujar Kinan yang lengsung berlalu ke kamar setelah Vin menghilang di balik pintu kamar.


>>>>>>


¤ Kasih Vin pacar, atau biarkan Vin galau dulu karena merasa kehilangan Alina?


¤ Jangan lupa Like&Komen nya ♡♡

__ADS_1


♡KEKASIH KONTRAK TILL JANNAH EPS. 161 . . ♡


__ADS_2