Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Papi Mengenalnya


__ADS_3

"Vannya kenapa? Apa dia sakit?" tanya Mami cemas.


"Kenapa kamu bilang ini kabar bahagia? Apa kamu bahagia mendengar kabar Vannya sakit?" celetuk Alina dengan bingung.


"Aku belum selesai bicara Sayang, dengarkan aku dulu. Okey?" ujar Chandra mengusap kepala Alina dengan lembut.


"Permisi Tuan, Nyonya ... maaf mengganggu sebentar," ujar Mbok Jum dengan membawa minuman dingin juga buah yang sudah di potong dadu.


"Makasih, Mbok!" jawab Alina.


Setelah Mbok Jum menghilang dari balik tembok ruang tengah, Alina, Mami dan Papi menatap Chandra secara bersamaan menanti penjelasan darinya yang belum selesai.


"Huh!! Baiklah, aku minum dulu Mi, Pi ... ." ujarnya meraih gelas di hadapannya.


"No! Jangan minum sebelum kamu mengatakan semuanya," celetuk Alina merebut gelas yang hampir tersentuh ujung jari Chandra.


"Astaga! Baiklah ... ." ujarnya mengalah.


"Jadi Vannya semalam tiba-tiba pingsan, lalu Vin memanggil Stef untuk memerika Vannya. Dan ternyata ... Vannya positif hamil. Udah boleh minum kan?" tanyanya kemudian.


"Benarkah? Kamu tidak bohong kan?" tanya Alina.


"Syukurlah, akhirnya anak-anakku akan menjadi orang tua. Dan kita akan punya dua cucu ya Mas," ujar Mami Kinan dengan penuh haru.


Suasana bahagia memenuhi ruang tengah di dalam rumah Alina dan Chandra. Tak henti-hentinya mereka mengucap syukur dan saling mengucapkan selamat atas kabar bahagia yang membuat mereka bahagia.


"Selamat ya Mam, Papi! Kalian akan memiliki dua cucu sekaligus," ujar Alina pada kedua orangtuanya.


"Hmm, makasih ya Sayang. Kamu sudah memberikan hadiah terindah untuk Mami dan Papi. Jaga kandunganmu baik-baik, Mami dan Papi sudah tidak sabar ingin menimang si kecil ... ." ucapnya memeluk Alina dengan erat.


"Pi," ucap Alina segera bergantian memeluk pria yang sejak tadi diam dan tersenyum penuh haru.


"Ya Nak, jaga dirimu baik-baik. Putri kecil Papi sudah dewasa, semoga kalian bisa menjadi orangtua yang baik dan bijak untuk anak-anak kalian kelak," ucapnya dengan bijak.

__ADS_1


"Hmm, makasih Pi. Aku tidak mungkin bisa berada di posisi ini tanpa Papi juga Mami. Nana sayang kalian," ujar Alina dengan lirih.


"Sampai kapanpun kalian adalah putri kecil kami," ucapnya mengusap pipi Alina dengan lembut.


...ALINA POV...


Lagi-lagi kebahagiaan hadir dalam kehidupanku. Semoga kenahagiaan ini tidak ada akhirnya dan tidak akan pernah berakhir. Aku ingin melihat orang-ornag yang aku sayangi terus tersenyum bahagia seperti ini.


Mami, wanita berhati mulia yang sudah memberikan cintanya untukku sejak pertama kali kami bertemu. Bahkan dia berlaku seperti seorang Ibu kepada putrinya, padahal saat itu Mami belum menikah.


Papi, pria yang kadang jutek tapi penyayang sudah bekerja dengan sangat keras untukku dan Mami sebelum Vin hadir di tengah-tengah kami. Bahkan dialah yang memberikan perhitungan pada orang yang sudah membuat Ibu meninggal.


Lalu Vin hadir di tengah-tengah kami, meski saat itu situasi genting. Mami tak sadarkan diri dan kritis, sedangkan aku di culik oleh adik Ayah. Tapi Vin mampu membuat kami melewati semuanya dan merasakan bahagia yang tiada tara.


Suamiku, pria aneh yang membuatku kesal. Pertama kali ketemu sudah membuaku naik pitam dan meragukan keahlianku sebagai seorang dokter. Tapi tiba-tiba kami menikah di hari itu juga meski kamu belum saling mencintai.


Pada akhirnya, rasa cinta muncul dengan sendirinya tanoa di duga-duga. Dia sudah membuktikan untuk menjadi suami yang baik bagi isterinya, bertanggungbjawab siang dan malam tanpa perduli peluh yang menetes di dahinya.


Lalu Vannya, gadis lugu yang pemalu. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, dan Tuhan menakdirkan dia menjadi pasangan Adikku. Semoga mereka selalu bahagia, kapan dan dimanapun merwka berada.


"Sayang, aku ke atas dulu ya. Ada masalah pekerjaan yang harus aku selesaikan," bisik Chandra pada Alina.


"Hmm," sahut Alina dengan anggukan.


"Mam, Pi ... aku ke atas dulu ya. Ada yang harus aku selesaikan," ucapnya dengan sopan.


"Iya Nak," jawab Mami Kinan.


Chandra segera berpamitan, dan bergegas pergi ke lantai dua dimana ruang kerjanya berada disana. Dia teringat dengan Aura, dan beberapa hari lalu dia meminta seseorang untuk mencari informasi tentang Ibu kandung Aura.


Entah kenapa dia merasa ada yang aneh dengan Ibu Kandungnya. Selama ini Aura menyembunyikan identitasnya, entah apa alasannya. Dan tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari email pribadinya.


Chandra segera membukanya, ternyata dari orang yang dia suruh kemarin. Setelah mengatur nafasnya Chandra mulai membuka isi pesan dan membacanya dengan teliti tanpa ada yang terlewat sedikitpun.

__ADS_1


...CHANDRA POV...


Erika Kurniawan, Putri tunggal dari pasangan Tuan Harun Kurniawan dan Soraya. Lahir di Jakarta, 14 Maret 1970. Menikah dengan seorang pengusaha bernama Ruli Hermawan tahun 1997. Dari pernikahannya memiliki seorang anak Aura Putri Kurniawan, tahun 2015 mereka bercerai. Tak lama setelah itu Tuan Ruli menikah dengan seorang wanita bernama Mayang Jatisari dan tidak memiliki anak dari pernikahan keduanya.


Hmmm ... lalu apa hubungannya mereka dengan Vin? Bahkan di ingat dari kejadian 5 tahun lalu, tidak terjadi apa-apa pada Vin. Aku jadi bingung, Nyonya Erika meminta Aura mendekati Vin yang sudah menikah. Aku kira itu karena balas dendam, mungkin hanya obsesi sebagai seorang Ibu yang menginginkan putri semata wayangnya memiliki pasangan yang mapan.


Hah!! Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku sudha terlanjur meminta Vin mengiyakan permintaannya, jadi aku yang harus bertanggungjawab menyelesaikannya.


Dan Vannya juga sudah memintaku untuk membantunya. Aku tidak bisa mengelak lagi, ini adalah tanggangjawabku. Okey, Chan! Ayo berfikir ... cari cara untuk mengakhir semuanya.


Jangan sampai semuanya berantakan dan membuatku merasa bersalah karenanya. Apalagi aku akan mengecewakan isteri dan juga keluargaku. Ah!! Tidak ... semua itu tidak akan terjadi.


Tokk ... tokk ... tokk!!


"Chan, boleh Papi masuk?" tanyanya setelah mwngetuk pintu ruang kerjaku beberapa kali hingga membuatku tersadar dari lamunan.


"Si-silakan masuk Pi," sahutku mempersilakan.


"Kamu sedang sibuk? Apa Papi mengganggumu?" tanyanya lagi.


"Tidak sama sekali Pi. Silakan duduk," ujarku lagi.


"Terimakasih Chan," ujarnya seraya duduk di kursi hadapan Chandra.


"Iya Pi,"


"Bagaimana dengan pekerjaanmu Nak?" tanyanya padaku.


"Semua berjalan sesuai dengan yang kami harapkan Pi, apalagi setelah isteri Vin menjadi sekretaris. Dia bekerja dengan sangat baik, dan memudahkan pekerjaanku sampai aku bisa pulang lebih cepat untuk melihat isteriku," ujarku membuat Papi tersenyum karenanya.


Mungkin Papi ingat dengan kenangan dimasa lalu yang pernah melakukan hal yang sama demi pulang lebih cepat untuk menemui isteri dan anaknya pada saat itu.


"Chan, apa ini Erika putri Om Harun?" tanya Papi membuatku sedikit tersentak.

__ADS_1


"Da-ari mana Papi tau? Papi mengenalnya? Siapa dia Pi?" tanyaku penasaran.


__ADS_2