Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Omah untuk Madav


__ADS_3

"Sayang ...!" ujar Alina seraya bersandar di bahu Chandra yang kekar.


"Hmm? Kenapa?" sahutnya.


"Selama di sana kamu kangen aku gak?" sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu di jawab. Tentu saja Chandra merindukan isterinya.


"Tentu saja Sayang, setiap hari aku selalu kangen sama kamu. Malas rasanya kalau harus ninggalin kamu meski cuma bekerja seperti biasa sekalipun," ujarnya.


"Sama ... aku juga kangen sama kamu. Aku kemarin gak bisa tidur karena gak ada kamu," gerutunya.


______


"Maaf Sayang, karena aku harus pergi kemarin. Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan lagi meninggalkanmu di rumah ... kemanapun aku pergi kamu akan ikut," ujarnya.


"Janji?" sahutnya dengan manja.


"Hmm," gumamnya.


"Eh iya, Sayang ... kamu tau? Kemarin kita dengar da berita dokter muda yang meninggal dengan tragis. Kasihan deh," ujarnya menceritakan apa yang dia dapat dari media sosial kemarin.


"Oh ya? Kenapa bisa begitu?" pura-pura tidak tau.


"Aku juga gak tau Sayang, aku cuma tau dia meninggal dalam kondisi perut robek karena tersamgkut di atas pohon. Padahal dia masih muda,"


"Lalu, kalau masih muda tidak boleh meninggal? Umur tidak ada yang tau Sayang. Tuhan yang sudah menentukan semuanya. Bisa saja saat kita tidur nanti paginya kita sudah gak bisa bangun lagi kan?" ujar Chandra.


"Hmm, benar juga sih. Tapi aku kasihan aja sama dia," gumamnya.


"Tapi kamu gak kasihan sama aku?" ujarnya.


"Emang kamu kenapa Sayang? Kamu sakit? Atau ada kejadian di sana?" menatap wajah Chandra lekat-lekat.


"Aku disan tersiksa Sayang,"


"Tersiksa? Siapa yang berani nyiksa kamu? Lagian gimana bisa kamu di siksa? Kamu kan kuat ...!" ujarnya dengan seidkit cemas tapi masih mengontrol kecemasannya agar situasi sedikit mencair.


"Keadaab yang siksa aku. Aku tersiksa rindu karena jarak yang memisahkan kita," jawabnya.


"Aiihh ...! Astaga ...! Aku udah panik beneran loh, ternyata kamu gombal. Nyebelin deh," gerutunya.

__ADS_1


"Maaf Sayang,"


"Tapi kan ...Mmmhh ...!" Belum sempat Alina meneruskan kata-katanya, Chandra sudah ******* bibir tipisnya dengan lembut.


Di bawah sinar bulan dan bintang, mereka tengah memadu kasih di balkon kamarnya. Entah sudah berapa lama mereka di sana, bulan enggan menyelinap masuk meski merasa malu harus melihat keduanya yang bercumbu.


Rasa rindu yang menyiksa, membuat mereka tak sanggup menahan segalanya. Untunglah balkon semi tertutup, tidak ada yang bisa melihat mereka dari arah manapun. Kecuali dari langit dan dari dalam kamar mereka sendiri.


"Sayang, I love you ...!" Bisiknya setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan.


"I love you, Sa-yang ...!" jawabnya seraya menyandarkan kepalanya di dada Chandra yang bidang.


Setelah beberapa saat mereka mengumpulkan tenaga, akhirnya Chandra menggendong isterinya dan memindahkannya ke dalam kamar. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk.


Lagi mereka melakukannya, seolah tak ada habisnya rasa lelah dalam tubuhnya. Keringat bercucuran, hingga membuat kulit mereka mengkilap saat tak sengaja bertabrakan dengan cahaya remang-remang dari lampu tidur di atas nakas kecilnya.


"S-sayanghh ...!" ujarnya dengan suara yang parau.


Masing-masing tangannya enggan untuk melewatkan bagian tubuh mereka setiap incinya. Hingga nafsunya semakin terpancing dan dengan sekali hentakan kembali sampai di puncak kenikmatan untuk kedua kalinya.


"Ahh ...!" teriaknya lirih secara bersamaan.


______________


Sementara itu,


Mami ikut bergabung dengan rombongan Madav, sejak tadi dia memperhatikan mereka selalu tertawa entah apa yang memicu mereka sehingga selalu tertawa sejak tadi.


"Hai tampan, boleh Omah ikut?" tanya Mami Kinan.


"Boleh Omah ... ayo sini duduk," ajaknya menggandeng tangan Mami Kinan dan membawanya di sofa panjang untuk duduk bersama mereka.


"Lagi ngobrolin apa sih? Seru banget kayaknya," ujar Mami lagi.


"Tidak ada Omah. Tapi Kakak, Tante sama Paman selalu ketawa. Madav tidak tau apa-apa," jawabnya dengan polos.


"Oh ya? Wah ... coba deh Omah ikutan ketawa apa tidak ya kalau ada disini,"


"Omah jangan ikutan kayak mereka Omah, nanti Madav tambah bingung," ucapnya bergelayut manja pada Mami.

__ADS_1


"Iya Sayang, Omah kan Tim Madav ...!" ujarnya.


"Beneran Omah? Yay ...! Madav punya teman," teriaknya hingga terdengar sampai ruang tengah dimana Arsen dna yang lainnya berada disana.


"Omah, aku tidak tau Omah sama Opah dimana. Tapi aku senang, sekarang bisa ketemu sama Omah walapun Omah bukan Omahnya Madav," ujar Madav membuat semua terdiam.


Suasana menjadi hening, Amanda dan Kemal hanya diam tak bersuara sedikitpun. Hatinya merasa teriris mendengar Madav yang berkata seperti itu. Sejak kecil, Madav memang belum pernah melihat Omah dan Opahnya.


"Emang Omah sama Opah Madav dimana?" tanya Mami Kinan seraya mengusap rambut Madav.


"Tidak tau Omah, kata Ibu Omah sama Opah di luar negeri. Jauh Omah, katanya Ibu sama Ayah lagi nabung biar kita bisa kesana ketemu Omah sama Opah," jawabnya.


"Benarkah? Asyik ... Madav mau ke luar negeri," sahut Omah.


"Tapi tidak tau kapan Omah, Ibu sama Ayah selalu bilang besok dan besok," ujarnya.


"Sabar Nak. Mungkin Ayah masih sibuk, Ibu Madav kan juga sibuk. Tapi Omah yakin, walaupun Madav belum pernah bertemu sama Omah dan Opah, mereka sangat menyayangi Madav," ucap Mami Kinan.


"Hmm, Omah mau kan jadi Omahnya Madav?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.


"Tentu saja Nak, dengan senang hati. Sini peluk Omah," ucap Mami membuka kedua tangannya.


"Omah ...!" panggil Madav seraya memeluk Mami dengan erat.


"Mulai sekarang, Omah Kinan adalah Omahnya Madav ya. Jadi Madav tidak boleh sedih lagi," ujarnya.


"Aku tidak tau apa yang terjadi dalam keluarga kalian, yang pasti kalian melakukan ini untuk kebaikan Madav," batin Mami Kinan.


Tak terasa air mata lolos begitu saja dari sudut matanya. Setelah mendnegar teriakan putranya beberapa saat yang lalu membuat Tyas penasaran dan ingin mengintip mereka sedang membahas apa sehingga putranya berteriak dengan riangnya.


Namun, suasana menajdi berbeda. Ada perasaan bersalah saat melihat putranya sedang bercerita dengan Mami Kinan. Ya, selama ini putranya merindukan kasih sayang seorang Omah dan Opah.


"Nak, maafkan Ibu sama Ayah belum bisa membawamu ke Omah dan Opah. Ibu janji, cepat atau lambat Ibu akan bawa kamu ke Omah dan Opah ...!"


"Makasih Bu Kinan, sudah mengobati kerinduan Madav pada Omah dan Opahnya. Semoga Ibu diberikan umur panjang, supaya putraku bisa memeluk Ibu hingga dewasa nanti ...!" batin Tyas dari balik tembok ruang keluarga dimana Madav dan yang lainnya berada disana saat ini.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arsen yang tiba-tiba sudah berada di depannya.


"Mas," langsung memeluk suaminya dengan isakan tangis yang menyayat hati.

__ADS_1


Arsen memeluknya dengan erat, ia tidak tau apa yang terjadi pada isterinya. Ia mengintip sedikit ke dalam melihat putranya disana, Madav sedang di peluk Bu Kinan. Seperti Omah yang sedang memeluk cucu tersayangnya.


__ADS_2