
Beberapa awak media sudah berjaga di sekitar halaman Rumah Sakit. Entah darimana mereka tau kabar duka ini, melihat Mami yang mulai muncul di hadapan yang lain ... mereka tidak hanya diam.
Tidak berani mendekatinya, hanya mengambil gambar dan video dari jarak yang tidak terlalu dekat. Mereka menghormatinya yang sednag kehilangan, beberapa diantaranya tak kuasa menahan air mata.
Menundukkan kepalanya, menunjukkan rasa belan sungkawa yang begitu dalam. Beberapa mobil sudah terparkir di depan lobby, siap membawa Mami dan yang lain untuk pulang ke rumah.
"Sayang, kamu juga ikut pulang?" tanya Mami setelah mereka berada di dalam mobil.
"Hmm. Mana mungkin aku tetap disini, aku akan lebih baik jika bersama kalian. Bersama Mami ...!" ucapnya memeluk Mami dengan erat.
_________
"Terimakasih, Sayang ...!"
Mobil mulai berjalan secara perlahan meninggalkan area Rumah Sakit. Awak media secara serentak membuka jalan untuk mereka dan kembali menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa hormatnya.
Mereka pulang ke rumah utama Mami dan Papi, sesampainya di rumah para ART sudah menyiapkan segala sesuatunya di rumah. Termasuk beberapa kursi dan tenda yang sudah terpasang di halaman rumah.
"Ayo Mih," ucap Nana mengulurkan tangannya untuk membantu Mami keluar dari dalam mobil.
Mami turun, dan untuk beberapa saat dia terdiam seraya melihat halaman rumahnya yang sudah rapat tanpa celah di selimuti tenda.
Alina dan Vannya segwra membawanya ke kamar, untuk isterihat sejenak sebelum jenazah sampai dan melakukan serangkaian acara perawatan jenazah.
"Nak, boleh Mami sendiri dulu? Kalian isterahat lah," ucapnya.
"Mami yakin mau sendiri?" tanya Alina.
"Hmm, Makasih Sayang udah nemenin Mami ya," ujarnya.
"Nana, Van ... kalian istirahat gih. Nanti kalau Mami kalian butuh apa-apa biar Mamah aja yang bantu, Mamah disini kok," timpal Mamah Maya yang berdiri di pintu kamar Mami.
"Hm, makasih Tante. Titip Mami ya," ucap Alina.
"Mami istirahat ya," ujar Vannya.
"Iya Sayang, kalian juga istirahat. Mami gak mau cucu-cucu Mami kenapa-kenapa,"
Alina dan Vannya keluar dari kamar, pintu langsung di tutup dari dalam. Mamah Maya mengajak Alina dan Vannya duduk di meja makan. Buar bagaimanapun mereka harus makan, karena ada bayi yang di kandungnya.
"Kalian makan ya, kasihan cucu-cucu Mamah kelaparan di dalam. Mamah akan jagain Mami kalian, disini banyak yang jaga juga kok," ucapnya.
__ADS_1
"Mamah juga makan," ucapnya.
"Mamah udah sarapan di rumah, walaupun kalian udah makan ... setidaknya makan sesuatu. Ibu hamil pasti gampang laparnya,"
"Mamah kesana dulu ya,"
_______________
"Ya Tuhan kenapa ini harus terjadi? Teman hidupku sudah pergi lebih dulu ke pangkuanmu,"
"Aku berharap ini sedang mimpi. Aku berharap Mas Randy nanti pulang dengan senyuman di wajahnya dan memelukku. Seperti saat dia pulang kerja atau dari pejalanan bisnis," gumamnya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Kedua matanya menyapu seluruh ruangan di dalam kamar. Selama 27 tahun mereka menghabiskan waktu bersama di ruangan ini, banyak hal yang terjadi di dalam kamar.
Mami perlahan berjalan mendekati sebuah kursi pijat di sudut kamarnya. Kursi yang biasa Papi duduki saat baru perjalanan dari bisnis hingga ia terlelap disana. Mami duduk di atas kursi, berharap ada sentuhan Papi disana.
"Mas, ini kursi favoritmu. Kamu lebih suka sehatian duduk dan tidur disini saat libur bukan? Sampai kamu kadang tidak mau berbagi denganku, sekarang aku duduk disini. Cepat pindahkan aku dari sini, biar kamu bisa duduk dan tertidur dengan lelap disini,"
"Mulai hari ini aku akan sendirian disini sepanjang hari, kesepian, bengong sendiri. Kamu tega banget sih Mas? Kamu ninggalin aku gitu aja, kenapa kamu tidak mengajakku untuk ikut?"
Mami masih terduduk di kursi itu, hingga terlelap dalam tidur dengan wajah yang masih sembab.
_______
Aku seperti berada di tempat yang asing, hamparan rumput terbentang luas. Tidak ada siapa-siapa disini, lalu kenapa aku bisa disini? Sesuatu berhasil menarik mataku untuk melihatnya.
Mawar putih yang tumbuh di atas batu besar, aku ingin memetiknya. Tapi bagaimana caranya? Batu ini sangat besar, apa aku harus memanjatnya? Tidak ada celah untuk jalan, tidak ada ranting yang bisa aku gunakan.
Entah bagaimana caranya, aku harus bisa memetiknya. Bunga itu harus menjadi milikku. Perlahan aku mencoba menaiki batu besar di depanku. Ya, aku bisa ... aku seperti spiderman yang bisa berjalan merayap.
Brukk ...!
Saat aku sudah hampir meraih mawar itu, tiba-tiba saja aku terjatuh. Astaga, aku harus memulainya lagi awal. Badanku sakit semua, kaki ku juga terkilir. Apa benar tidak ada orang disini?
Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang, cahaya terang terlihat di tengah hamparan rumput. Perlahan aku membuka kedua mataku untuk mengintip apa cahaya itu, dari mana datangnya.
Aku melihat Mas Randy, dia tersenyum padaku. Senyuman yang selalu ia berikan setiap hendak pamit untuk pergi perjalanan bisnis. Ya aku ingat sneyuma itu, aku ingin mendekatinya. Tapi kakinya tak bisa untuk berdiri.
"Mas, tolong aku. Kakiku sakit, aku mau bunga itu," tunjukku ke atas batu besar.
"Eh? Kemana bunga itu? Kenapa tidak ada? Tadi ada disana padahal," gumamku.
__ADS_1
Aku hanya melihat Mas Randy tersenyum tanpa bicara sepatah katapun. Biasanya dia selalu sigap membantuku saat aku memanggilnya. Tapi kenapa sekarang dia malah diam saja disana?
"Mas, bantu aku berdiri. Kakiku sakit," rengekku dnegan manja.
Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Astaga, aku semakun kesal di buatnya. Bunga yang aku mau sudah hilang entah kemana, sekarang suamiku yang bisanya sigap menolongku malah cuma diam disana seperti patung.
"Kamu tidak akan bisa menyentuh bunga itu," ucapnya dengan suara yang menggema.
"Kenapa? Apa bunga itu mahal? Nanti akan aku bayar, ku kan punya uang tabungan," jawabku.
"Lalu kenapa Mas sekarang berubah? Kenapa Mas tidak menolongku? Apa Mas sudah tidak mencintaiku?" tanyaku dengan sedikit kesal.
"Aku tidak butuh senyuman itu cepat jawab pertanyaanku Mas,"
"Karena kita sudah berbeda?" Mas Randy menjawabnya dengan tenang.
"Kenapa? Bukankah sejak awal kita memang sudah berbeda? Tapi kita berhasil menyatukan perbedaan itu, dan hidup bersama selama 27 tahun," sahutku lagi.
"Karena sekarang sudah berbeda, aku tidak sama seperti dulu. Kamu harus bisa tanpa aku," ucapnya membuatlu semakin bingung.
"Emang kenapa? Mas mau kemana? Ajaklah aku, aku akan ikut kemanapun Mas pergi," pintaku padanya.
"Aku tidak bisa mengajakmu, perjalanmu masih panjang. Teruslah melangkah meski tanpa aku. Aku tidak bisa lagi menemanimu setiap saat, tapi kau akan menunggumu disini sampai waktunya tiba nanti,"
Perlahan cahaya terang itu meredup, bersama sosok Mas Randy yang semakin memudar. Entah apa yang terjadi sebenarnya, aku masih belum mengerti. Aku terus memanggil Mas Randy berharap dia akan datang lagi dan mengajakku.
"Mas ... Mas Randy, jangan tinggalkan aku. Ajak aku," teriakku sekuat tenaga.
Namun Mas Randy tak kunjung terlihat lagi. Aku benar-benar sendirian, pria yang sudah 27 tahun hidup bersamaku kini sudah berubah. Dia tak lagi mau bersamaku tanpa kejelasan.
"Mas, kenapa kamu tega? Aku mau ikut denganmu, Mas Randy ...!" panggilku.
___
"Kin, bangun Kin ...!" sebuah suara samar-samar terdengar di telingaku. Tubuhku terguncang hebat, membuatku segera tersadar dan membuka kedua mataku secara perlahan.
"May, Kak Sofi, Bu Irene ...? Kenapa kalian disini? Ada apa?" tanyaku.
"Mereka sudah tiba," jawab Mamah Maya.
"Mas Randy pulang? Mana? Aku akan menemuinya ...!" Aku langsung berhambur lari keluar dari kamar untuk segera memeluk suamiku yamg sudah pulang.
__ADS_1