
...WIJAYA GROUP...
"Selamat siang, Pak ...!" sapa Bannya setelah melihat kedatangan Chandra yang baru pulang dari pertemuan di luar.
"Siang Van, kamu sudah makan kan?" tanya Chandra.
"Sudah Pak, oh iya di ruang tunggu sudah ada klien dari PT Maju Bersama. Katanya sudah ada janji temu dengan Bapak, tapi ... saat saya lihat schedule tidak ada Pak," ujar Vannya.
"Hmm, katakan 10 menit lagi aku akan menemuinya ya," sahutnya.
"Baik, Pak ...!" jawabnya.
Vannya segera bergegas ke ruang tunggu untuk memberitahunya jika Pak Chandra sudah kembali dan akan segera menemui mereka.
Cklekk ...!
"Maaf Pak, jika menunggu lama. Pak Chandra sudah kembali, sebentar lagi beliau akan kemari ...!" tuturnya dengan sopan.
"Terimakasih Bu Vannya," jawabnya wajah berseri karena bisa bertemu dengan Pak Chandra.
Tak lama kemudian, Pak Chandra sudah datang. Semua segera berdiri dan menganggukkan kepalanya dengan pelan sebagai bentuk penghormatan untuk Pak Chandra dari mereka.
"Terimakasih. Silakan duduk ...!" ujar Pak Chandra mempersilakan.
Vannya memilih pergi meninggalkan mereka untuk berbincang di sana. Ia meminta OB untuk mengantarkan minuman juga hidangan yang pantas untuk tamu juga Pak Chandra.
"Van, kamu darimana?" tanya Mbak Eni yang baru memfotocopy beberapa berkas di tangannya.
"Hei Mbak En, aku baru saja dari pantry ...! Ada tamu soalnya," ujar Vannya.
"Oh gitu, ya sudah aku kembali ke ruangan kerjaku ya ...!" ucapnya.
"Iya Mbak, silakan ...!" sahut Vannya.
Vannya segera berlalu ke meja kerjanya, karena baru saja dari bagian divisi mengirimi pesan bahwa laporan sudah di kirimkan. Ia segera mengeceknya sebelum di tunjukkan kepada Pak Chandra.
"Astaga! Aku mengantuk," gumam Vannya yang beberapa kali menguap.
Tuut ... tuut ...!
"Hallo Pak ...! Ini Vannya, boleh minta tolong? Buatkan kopi untukku tapi jangan terlalu manis," ujar Vannya.
"Baik, Bu Vannya ...! Ada yang lain lagi?" tanyanya di ujung telepon.
"Boleh Pak?" sahut Vannya dengan girang.
"Eh iya Bu, boleh ...!" sahutnya dengan gugup.
"Okey Pak ...! Tolong belikan siomay di depan ya Pak. Saus dikit aja, sambalnya yang banyak. Terus jangan pakai tahu ...!" uja Vannya.
"Ba-baik Bu ...!" jawabnya.
"Wah ...! Makasih ya Pak. Jangan lama-lama,"
"Baik Bu ...!" jawabnya lagi.
Setelah menunggu hampir 20 menit lamanya, akhirnya siomay dan secangkir kopi sudah datang.
__ADS_1
"Permisi Bu," ucapnya dengan sopan.
"Iya Pak, silakan ...!" sahut Vannya menghentikan pekerjaannya.
"Kopi dan siomaynya Bu ...!" ujarnya.
"Makasih ya Pak ...! Ini untuk Bapak," menyodorkan satu lembar uang berwarna merah.
"Saya permisi dulu untuk cari kembalian ya Bu,"
"Tidak usah, itu buat Bapak saja. Makasih sudah membelikan siomay ini Pak," ujarnya dengan ramah.
"Terimakasih Bu Vannya, kalau ada butuh apa-apa panggil saya saja ..." ucapnya dengan semangat.
"Baik Pak ...!" jawab Vannya.
...VANYA POV...
Padahal tadi aku sudah makan, tapi masih saja lapar. Sepertinya ini enak ...! Aku segera menyendok siomay yang penuh dengan bumbu kacang, aroma sambal tercium sangat kuat.
Dan benar saja, rasanya sangat enak. Bumbu kacangnya lebih kuat meski pedas dari cabe lebih dominan. Sepiring siomay dan secangkir kopi hangat mengobati rasa kantukku siang ini. Aku sampai lupa jika saat ini masih berada di Perusahaan.
Sayangnya di luar sedang panas, mungkin jika hujan rasanya akan lebih syahdu.
Beberapa menit kemudian ....
"Wah ... enak sekali Van ...!" celetuk Pak Chandra.
"Eh Kak ...! Kakak juga mau? Nanti aku minta orang pantry buat beli," ujarnya.
"Kakak ketemu sama Kak Vin?" tanya Vannya.
"Emang aku bilang kayak gitu? Tidak ah ...!" ujarnya mengelak.
"Kupingku masih normal Kak, tadi Kakak menyebut nama Kak Vin ...!" ujarnya bersikukuh.
"Hm, iya deh ...! tadi aku ketemu sama Vin di restoran setelah pertemuan dengan klien. Tapi tidak sengaja, jafi kita makan bersama ...!" jawab Pak Chandra.
"Kalian tidak merencanakan sesuatu kan Kak?" tanya Vannya lagi
"Tentu saja merencanakan," jawabnya.
"Apa? Apa yang kalian recanakan?" kedua matanya sudah menyipit seakan mengintimidasi Pak Chandra.
"Astaga! Apa salahnya kalau kami merencanakan liburan dengan isteri tercinta kami ...!" ujarnya mencari alasan.
"Benarkah?"
"Tentu saja, kamu tidak percaya?" tanya Pak Chandra menatap Vannya tajam.
"Hmm ... aku harus percaya atau tidak ya," batin Vannya menatap lekat-lekat wajah Pak Chandra.
"Kenapa kamu diam?"
"Ti-tidak ...!" sahut Vannya gugup.
"Baiklah, aku masuk dulu. Kalau ada yang mau kamu tanyakan lagi, masuk saja ya ...!"
__ADS_1
"Iya Kak ...! Maaf ya," ujar Vannya merasa tidak enak.
"Hmmm ... tidak apa," sahutnya.
Sementara itu,
Setelah merujuk pasien ke Rumah Sakit terdekat, Alina tak langsung kembali ke Klinik tempatnya bekerja. Melainkan mampir ke ruang kerja Om Keanu, Kakak kandung Maminya.
Tokk ... tokk ...!
"Om ...!" sapa Alina saat masuk ke ruangan yang bernuansa dengan warna putih.
"Hai Sayang, masuklah ...!" ujar Om Keanu yang langsung memundurkan kursinya dari meja kerja.
"Apa aku mengganggu?" tanyanya.
"Tidak, kamu sedang apa kesini?"
"Aku baru saja merujuk pasien. Terus aku ingat sama Om," jawabnya mencium punggung tangan Om Keanu dan memeluknya.
"Suamimu sudah mengizinkan kamu kerja?" tanyanya mengusap kepala Alina dengan lembut.
"Sebenarnya belum boleh. Tapi karena Stef sedanga da urusan jadi aku menggantikannya sehari ini," jawabnya lagi.
"Hmm duduklah. Om senang sekali akhirnya kamu kesini. Jarang-jarang Om melihatmu dengan jas putih ini," ujarnya menatap Alina dengan bangga.
"Hehe ...! Ini berkat support dari Om juga kan ...!" sahutnya.
"Kamu salah, ini berkat kerja kerasmu Sayang ...! Bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Om Keanu.
"Baik Om, tidak ada mual sama sekali. Oh ya ... Vannya juga katanya sedang hamil. Jadi Om mau punya dua cucu sekaligus,"
"Wah ...! Benarkah? Sudah lama Om tidak bertemu dengan mereka,"
"Hmm besok kalau ada libur, kami main ke rumah Om ya ...! Yang penting Om harus sehat," ujar Alina.
"Om pasti sehat, karena ada kamu dokter muda yang hebat," pujinya dengan bangga.
"Om pandai sekali memuji. Sampai aku bingung mau berkata apa lagi,"
Mereka melanjutkan obrolan sampai 15 menit lamanya, karena Alina harus segera kembali ke klinik takut ada pasien yang datang.
Di sisi lain ....
*Obrolan melalui telepon
"*Kak! Kamu tau apa yang gadis itu lakukan?" ujarnya dengan serius.
"Apa? Katakanlah ...!" jawabnya dengan tenang di sertai dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Saat Dewi membawa beberapa berkas untuk ku tanda tangani, di salah sati berkas ada selembar kertas ...!" ujarnya terpotong.
"Tentu saja, bukankan selembar kertas adalah bagian dari berkas juga," ujarnya dengan santai.
"Hmm, kau benar. Tapi setelah Kakak tau isinya, pasti Kakak tidak akan percaya ...!" ujar Vin yang semakin membuat Chandra penasaran.
"Apa isinya? Cepat katakan atau aku harus kesana?" tanyanya*.
__ADS_1