
"Dan selanjutnya, kamu menggantikan Vallent untuk kedepannya. Dia sudah bekerja di anak perusahaan," ujarnya.
"Ka-kapan? Kenapa Kak Vallent tidak bialng sebelumnya?" ujar Vannya terkejut.
"Karena dia memang tidak tau akan di mutasi. Kamu boleh kembali ke ruang kerjamu yang lama untuk mengambil barang-barangmu," ucap Pak Chandra lagi.
"Ba-baik Pak, permisi ... ."
____________
Vannya bergegas meninggalkan ruangan Pak Chandra. Keinginannya untuk bekerja di ruang kerjanya yang lama harus pupus, mau tidak mau dia harus menuruti perkataan Pak Chandra.
"Van kamu sudah kembali?" tanya Mbak Eni yang sudah mulai menyalakan layar monitor.
"Iya Mbak. Tapi aku harus kembali lagi kesana," uajrnya dengan wajah murung.
"Kak Vallent belum kembali?" tanya Mbak Eni.
"Lebih tepatnya tidak akan kembali, ternyata Kak Vallent sudah bekerja di anak perusahaan *W*ijaya Group," ujar Vannya menjelaskan.
"Terus, kenapa kamu sedih?" menghentikan pekerjaannya.
"Aku tidak bisa lagi kerja bareng Mbak En, nanti kalau aku ngantuk siapa yang tiba-tiba datang bawakan aku secangkir kopi kayak kemarin?"
"Huh!! Pasti aku akan kesepian deh," ujar Vannya.
"Van ... Van. Kamu ini, kita kan masih 1 lantai Van. Kalau kamu ngantuk bikin status aja. Nanti aku datang bawakan kamu secangkir kopi deh," ujar Mbak Eni bangun dari duduknya.
"Ya udah, aku bantu kamu kemasi barang-barangmu. Setelah itu aku antar kamu," imbuhnya lagi menawarkan diri.
"Hiks! Mbak En, walaupun aku baru bekerja disini dan belum lama kenal sama Mbak En. Tapi aku akan sangat merindukan Mbak En," celetuknya.
"Sayang! Sini peluk dulu," ucapnya membentangkan kedua tangannya.
"Mbak En, jangan lupakan aku ya. Makasih dua bulan ini udah jadi partner kerja yang baik untukku, kalau mau makan siang ajak-ajak aku," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Iya Van. Astaga! Kamu ini, kayak mau jauhan aja. Padahal jalan sambik merem juga sampai," ujar Mbak Eni mengusap punggung Vannya yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Mereka segera berkemas dan memakai kardus untuk membawa barang-barang Vannya yang tidak terlalu banyak. Dan benar saja, Mbak Eni mengantarkannya sampai meja kerjanya yang baru.
Setelah berbincang beberapa saat, Mbak Eni kemblai ke ruangannya karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dan Vannya harus menyiapkan berkas untuk pertemuan Pak Chandra dengan klien di luar.
"Van, kamu ikut aku keluar!" ucap Pak Chandra yang sudah berdiri di depan mejanya.
"Baik Pak, silakan!" ucapnya mempersilakan untuk jalan lebih dulu.
...VANYA POV...
Mimpi apa aku semalam? Tiba-tiba Pak Chandra memintaku untuk menggantikan posisi Kak Vallent. Dan tidak ada kabar apapun dari yang bersangkutan, apa Kak Vallent sibuk dengan tempat kerjanya yang baru?
Hmm, aku memang tidak ada pengalaman sebelumnya. Tapi aku akan berusaha untuk menjadi sekretaris Pak Chandra yang baik. Meski tidak sebaik dan sepintar Kak Vallent, karena aku tau setiap manusia itu berbeda.
Begitupun denganku, aku masih anak baru tapi prestasiku tidak perlu di ragukan lagi. Dan selama magang hampir 6 bulan disini, aku mendapatkan nilai yang baik tanpa campur tangan orang dalam meski saat itu aku berstatus tunangan Kak Vin adik ipar Pak Chandra.
Hari pertama aku menjabat sebagai sekretaris, Pak Chandra langsung mengajakku terjun ke lapangan. Menemaninya meeting dengan klien di luar Perusahaan. Meski masih grogi aku tetap ikut dengan Pak Chandra.
"Itu kan Kak Vin, ngapain dia disini? Ini kan belum waktunya makan siang," batinnya yang melihat sosok suaminya dari jarah jauh.
Vin terlihat masuk ke dalam sebuah ruangan di tempat itu, tapi Vannya dan Pak Chandra masuk ke ruang ang lain. Dengan terpaksa dia tidak bisa mengikuti suaminya yang entah dengan siapa saat ini dia bersama.
Vannya menyiapkan beberapa dokumen penting dan memberikannya pada Pak Chandra. Sepanjang meeting fokusnya terbagi dua, memikirkan suaminya dan juga Pak Chandra atasannya.
Dalam waktu hampir dua jam, akhirnya pertemuan selesai. Vannya membereskan kembali dokumen yang tadi dia bawa dan memasukannya ke dalam map. Setelah ini ia berharap bisa bertemu dengan Vin, setidaknya supaya dia tau sedang apa dan dengan siapa ia disini.
"Terimakasih atas waktunya Pak Chandra, tadinya kalaubkamu harus datang ke Perusahaan anda pun kami akan datang. Tapi anda memilih tempat lain supaya kami tidak perlu jauh-jauh mendatanginya," ujar wanita paruh baya berusia mungkin 5 tahun lebih tua dari Pak Chandra.
"Sama-sama Bu, kebetulan sekretaris saya baru saja menjabat. Jadi saya harus mengajaknya jalan-jalan sambil bekerja supaya bisa refreshing dan tidak tegang," jawab Pak Chandra dengan santun.
"Oh seperti itu. Pantas saya baru saja melihatnya," ujarnya dengan ramah.
Vannya hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman simpul. Pak Chandra bukan hanya memperkenalkan sebagai sekretaris melainkan adik iparnya.
__ADS_1
Perbincangan setelah meeting berjalan hampir 30 menit lamanya. Vannya yang keluar paling belakang sesekali menengok ke arah kiri lebih tepatnya ruangan yang baru suaminya masuki dua jam lalu.
"Pak, apakah saya boleh kesana sebentar?" bisik Vannya pada Pak Chandra.
"Ada apa?"
"Ta-tadi saya melihat Kak Vin masuk kesana," ujarnya.
"Sepertinya Vannya sedang mencurigai suaminya. Hmm, mungkin isteriku akan melakukan hal yang sama jika dia juga melihatku kemarin," batin Pak Chandra.
"Pak, apakah boleh?" tanya Vannya sekali lagi.
"Oh, ya. Silakan Van, aku disini saja ya ... ." ucapnya.
"Terimakasih, Pak!" Vannya segera berjalan mendekati sebuah ruangan yang ia lihat sejak tadi.
Tak berapa lama kemudian beberapa pria dengan pakaian rapih keluar dari sana menenteng tas kecil di bahu. Vannya hanya diam mengamati satu persatu wajah pria yang melewatinya.
Tidak ada Kak Vin, apakah dia sudah pulang? Rasa kecewa terlihat cukup jelas di wajahnya, Pak Chandra hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan melihat adik iparnya yang gagal menemui suaminya.
• Vin, kamu dimana? Bisakah kesini sebentar? Aku sharelok ya,
...VIN POV...
• Baik Kak! Aku akan datang.
"Ada apa Kak Chandra memintaku untuk datang? Hmm, dia juga berada disini. Apa Kak Chandra tadi juga melihatku? Baiklah aku akan keluar," ujarku seraya merapikan beberapa dokumen dan memasukannya ke dalam tas kerjaku.
Setelah semuanya masuk dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Aku segera bergegas keluar supaya Kak Chandra tidak kelamaan menungguku.
Deg!!
Dia bersama isteriku? Bukankah Kak Chandra memiliki asisten yang bernama Vallent? Lalu kenapa meraka bisa datang ke tempat ini berdua? Dan wajah isterinya terlihat murung. Apa yang terjadi padanya.
Dengan langkah cepat aku segera bergegas mendekatinya. Dan hendak meraih pergelangan tangan Vannya, tapi dia malah menghindarinya. Membuatku bingung dan semakin mencemaskannya.
__ADS_1