
"Akhirnya, setelah sekian lama kamu main kesini Vin. Tante kira kamu lupa dengan jalan ke rumah Tante." Ucap wanita paruh baya yang duduk di samping suaminya.
"Maaf Tante, sejak bergabung dengan perusahaan Papi. Vin jadi kehilangan banyak waktu untuk pergi berkunjung, ini saja pas ada waktu luang jadi Vin mampir untuk main." Ucapnya salah tingkah.
"Benar hanya mau main? Gak ada niat yang lainnya?" Tanya wanita itu langsung pada intinya karena sejak kedatangannya sudah melihat dari balik jendela ada tatapan yang tak biasa antara putri nya dengan Vin.
"Ma-maksud Tante?" Tanya Vin dengan wajah semu kemerahan.
"Tante hanya becanda Vin. Kamu kenapa wajahnya merah kaya gitu?" godanya semakin membuat Vin tak karuan.
"Mah, jangan goda anak boss. Atau nanti Papah kena batu nya."Ucap suaminya yang sejak tadi diam mendengarkan mereka berdua.
" Haih, Papah. Kan biar suasana gak tegang. Papah gak lihat? Dari tadi Vin tegang loh Pah, dari pada pulang-pulang dari sini dia gak bisa ngomong, jadi Mamah ajak becanda saja." Ucapnya membela diri.
"Maafkan Tentemu ini yang cerewet ya Vin."Ucap Om Revan.
" Heheh iya Om, tidak apa. Om, Tante.. Sebenarnya kedatangan saya kesini.... " Ucap Vin terhenti karena banting ya terus berdegup.
" Ya? Kenapa Vin?" Tanya Om Revan.
" Papah, diam dulu. Biarkan dia meneruskan ucapannya, nanti dia tambah grogi." Ucap Tante Maya.
" Emmm... Sa-saya ingin melamar Vannya untuk jadi pendamping dan menemani saya sampai tua nanti, sampai maut yang memisahkan kami."Ucap Vin dengan satu kali tarian nafas.
Kedua orangtua di depan hanya terdiam saling tatap satu sama lain. Mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang mereka dengarkan barusan. Mereka bahkan sudah menganggap Vin seperti anak mereka sendiri.
" Jadi gimana Tan? Om?" Tanya Vin dengan perasaan yang campur aduk.
"Kau yakin dengan apa yang kau ucapkan barusan Nak? Pikirkan lagi sebelum kau mengambil keputusan. Usiamu masih muda, masa depanmu masih sangat panjang." Ucap Om Revan dengan bijak.
"Saya sudah memikirkan nya sejak pertemuan tak sengaja kami dua tahun yang lalu Om. Dan saya sudah yakin dengan apa yang saya pilih."Ucap Vin lagi.
" Tapi kan Vannya masih kuliah Nak, masih labil. Apa sebaiknya tidak kamu pikir-pikir lagi?" Tanya Tante Maya.
__ADS_1
" Kalau untuk itu, Om dan Tante tidak perlu khawatir. Setelah kami menikah, saya yang akan bertanggung jawab penuh atas Vannya. Dan masalah sikap ataupun sifat bisa berubah seiring berjalan nya waktu. Sayapun masih belajar untuk bisa menjadi suami yang baik.
"Saya tidak bisa janji untuk membahagiakan putri Om dan Tante, tapi saya akan berusaha untuk selalu ada setiap saat untuk putri Om dan Tante." Ucap Vin yang mampu menghipnotis Om Revan dan Tante Maya.
"Ya Tuhan, rasanya baru kemarin aku menimangnya, tapi sekarang dia sudah menjelma menjari pria yang tampan dan berkharisma seperti Papi nya. Inikah jawaban atas doaku selama ini? Yang meminta pri bertanggungjawab untuk menjaga Putriku kelak jika kami sudah tiada?"
Butiran bening lolos begitu saja dari sudut mata Tante Maya, rasa haru menyelimutinya sore itu. Om Revan menggenggam kedua tangan istrinya, mereka berpelukan saling menguatkan.
" Aku percaya pada-Mu Tuhan. Nak Vin lah yang mampu menjaga Putriku, aku serahkan semuanya pada-Mu. Meski rasanya baru kemarin, kami lari kejar-kejaran dengan Vannya, tapi sore ini ada seorang pria yang melamar nya." Batin Om Revan dengan penuh haru.
Vin paham betul dengan apa yang saat ini Om Revan dan Tante Maya rasakan. Tidak akan mudah menyerahkan anak perempuannya pada orang lain meski mereka sudah mengenal baik pria itu.
" Kami tidak bisa menjawabnya Nak." Ucap Om Revan tertahan.
"Tidak apa Om, saya paham. Memang tidak mudah melepaskan anak perempuan ke orang lain."Jawab Vin dengan sedikit rasa kecewa karena lamarannya di tolak.
"Ya, maaf kami tidak bisa menjawabnya. Biarkan Vannya saja yang menjawab langsung. Mah panggilkan Vannya ya." Ucap Om Revan pada isterinya.
Tante Maya segera berlalu meninggalkan Vin dan Om Revan berdua di ruang tamu. Rasa haru dan bahagia terlihat dari wajahnya, ia segera menaiki anak tangga menuju kamar putrinya.
Pintu kamar terbuka sedikit, kepala Vannya mengintip memastikan siapa yang datang. Setelah melihat Mamah ya, Vannya membukanya dengan lebar dan mempersilahkan masuk.
"Masuk Mah." Ucap Vannya.
"Kamu sedang apa Nak?" Tanya Tante Maya bebasa-basi.
Terlihat laptop di meja menyala dengan beberapa tumpukan buku di sana. Vannya sedang mempersiapkan diri sebelum terjun langsung ke lapangan.
"Lagi browshing aja Mam. Ada apa Mam? Memang Kak Vin sudah pulang?" Tanya Vannya memastikan, karena dia tidak berani turun takut matanya khilaf tak bisa berkedip saat melihat pria tampan.
"Loh kamu ini, nak Vin kan datang denganmu. Masa kamu gak turun Nak?" Tanya Tante Maya.
"Ehmm.. Aku harus mempersiapkan diri untuk besok Mah."Ucapnya beralasan.
__ADS_1
" Kamu yakin? Tidak ada yang sedang kamu sembuyikan sama Mamah mu yang cantik ini?" Ujar Tante Maya.
" Mah.. Apa si? Aku gak bohong." Jawabnya dengan pelan tapi menghindari kontak mata dengan Mamah nya.
" Nak.. Boleh Mamah tanya sesuatu padamu?" Tanya Tante Maya.
Seketika suasana menjadi hening, Vannya duduk dengan tegap menunggu pertanyaan yang akan di lontarkan Mamah nya.
" Mamah mau tanya apa?" Tanya Vannya dengan gugup.
"Apa kamu ada rasa dengan Nak Vin?" Tanya Tante Maya.
"Ma-maksud Mamah?" wajah Vannya kini telah berubah bersemu merah.
"Sayang, lihat mata Mamah. Katakan yang sejujurnya. Mamah tidak akan marah, kamu sudah dewasa Nak." Ucap Tante Maya memegang dagu Vannya dan mengarahkan wajahnya untuk berhadapan dengannya.
Keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat, Tante Maya mencari jawaban atas pertanyaan yang baru ia lontarkan pada putrinya. Meski mulutnya diam, tapi matanya yang berbicara.
"Aduh Mah. Kenapa harus seperti ini. Aku tidak bisa berbohong sama Mamah. Ketauan kan aku. Astaga..." Batin Vannya.
"Ternyata kamu juga menyayanginya Nak. Kalau begitu Mamah dan Papah tidak bisa berkata lagi. Semua keputusan ada tanganmu." Ucap Tante Maya dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Tapi Mah, aku masih kuliah. Dan aku..."Ucap Vannya yang kehabisan kata-kata untuk menjawabnya.
"Sekarang terserah kamu, kalau kamu tidak mau ikut Mamah turun dan menjawab lamaran Vin berarti kamu harus siap datang ke acara pernikahannya dengan gadis lain." Ujar Mamah.
"Apa? Kak Vin melamarku?" Tanya Vannya terbelalak.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. 😍😍😍
Happy Reading 😘😘