Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Rencana Vin


__ADS_3

"Tentu saja, bukankan selembar kertas adalah bagian dari berkas juga," ujarnya dengan santai.


"Hmm, kau benar. Tapi setelah Kakak tau isinya, pasti Kakak tidak akan percaya ...!" ujar Vin yang semakin membuat Chandra penasaran.


"Apa isinya? Cepat katakan atau aku harus kesana?" tanyanya.


________


"Di dalamnya tertulis bahwa 70% saham yang kita miliki adalah milik Nyonya Erika ...!" jawabnya.


"Lalu apa yang kamu lakukan? jangan bilang kamu menandatanganinya ...!"


"Kenapa tidak? Bukankah kita mau mengelabuinya?" jawab Vin dengan serius.


"Apa maksudmu Vin?" tanya Chandra di ujung telepon.


"Kakak punya rencana, begitupun denganku ...!" jawabnya dengan yakin.


"Hmm ... aku harap rencanamu akan berhasil Vin. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Apa yang menyangkut dirimu, Mami dan Papi ....! Aku juga berhak tau," ujarnya.


"Hmm ...! Iya Kak,"


Telepon terputus. Entah apa maksud Vin, Chandra tidak bisa menebaknya dan tidak menemukan jawaban setepah beberapa saat berpikir. Dan tiba-tiba masuk sebuah pesan, terlihat wajah wanita cantik tersenyum dengan manisnya.


...CHANDRA POV...


Tring ...!


Dia mengirim sebuah foto padaku, senyumnya mampu menggetarkan jiwaku. Aku tidak bisa melarangnya untuk berhenti bekerja, karena biar bagaimanapun panggilan jiwanya sebagai tenaga medis cepat atau lambat akan datang tanpa aba-aba.


Aku hanya berharap, dia bisa menjaga dirinya juga calon bayi kami yang saat ini menginjak usia 10 minggu. Awalnya aku melarang dia bekerja supaya bisa istirahat, karena kata Mamah wanuta yang sedang mengandung fisiknya sangat rentan.


Aku tidak ingin isteriku kenapa-kenapa. Mengingat kejadian lalu yang hampir merenggut nyawanya. Aku tidak sanggup untuk kehilangannya, masih banyak impian kami yang belum di wujudkan.


Dia foto bersama Om Keanu, pria paruh baya yang sangat berwibawa. Om Keanu adalah salah satu motivasi isteriku hingga dia tak pernah menyerah dan mengeluh dalam mengerjakan segala sesuatunya sebagai tenaga medis.

__ADS_1


Bahkan dulu saat dia masih bekerja di Rumah sakit. Tak jarang malam hari ada panggilan masuk dan memintanya untuk datang ke rumah sakit karena butuh tenaganya.


Itulah alasanku kenapa memberikan klinik untuknya, agar setidaknya pekerjaannya tidak terlalu berat. Kalau klinik kan paling pasien bukan yang datang dalam keadaan darurat dan lebih santai dalam bekerja.


• Sayang ...! Aku sedang disini. Sebentar lagi aku kembali ke klinik kok. Kamu udah makan kan?


Sederhana tapi sangat berharga bagiku. Setidaknya dia masih menyempatkan waktunya untuk mengabariku meski terlambat.


• Ya Sayang ...! Salam untuk Om Keanu ya. Aku sudah makan, kamu hati-hati di jalan. Jangan lupa makan, dan istirahat ...!


5 menit kemudian balasan darinya masuk.


• Ya sayang, love you ...!


• Love you yoo, Sayang ...!


_______


"Om aku kembali ke klinik dulu ya. Om jaga kesehatan," ujar Alina dengan manis seraya memeluk dengan erat pria berusia 55 tahun itu.


"Hati-hati Sayang ...! Pelan-pelan jalannya. Sampaikan salam Om buat Chandra dan yang lain ya," ujarnya mencium pucuk kepala Alina dengan lembut.


Alina keluar dari ruang kerja Om Keanu, dan segera bergegas menemui para perawat yang tadi masih membereskan brankar dan lain-lainnya. Mereka tak langsung pulang melainkan mampir makan dulu karena sudah waktunya makan siang.


"Kita makan dulu saja. Yang lain nanti di bungkuskan saja ya ...!" ucap Alina.


"Baik Dok ...!" sahutnya kompak.


Mereka segera masuk ke tempat makan yang tidak terlalu ramai, karena waktu makan siang sudah lewat sejak 30 menit yang lalu. Selama menunggu makanan yang belum datang, Alina pergi membeli rujak yang jualan di depan tempat makan itu.


Ia membeli 5 bungkus rujak, untuk yang lain juga. Karena tidak mungkin jika dia makan hanya seorang diri di depan rekan kerjanya.


"Makanlah, temani aku ...!" ujar Alina menyodorkan rujak ke yang lain.


"Iya Dok," dengan malu-malu keduanya mulai memakan rujak yang di beli Alina.

__ADS_1


...ALINA POV...


Akhirnya, setelah sekian lama aku tidak makan siang di luar. Dulu setiap pulang kerja, aku dna rekan sejawat yang lain selalu kesini untuk makan bersama. Sekarang setelah 3 tahun lamanya aku kesini lagi bersama mereka yang selalu membantuku.


Meski baru beberapa bulan kami bekerja sama, tapi tak sedikitpun ada rasa canggung antara kami. Mereka adalah keluargaku, tanpa mereka aku bukan siapa-siapa.


Aku hanya berusaha membantu perekonomian mereka meski tidak seberapa. Aku ingin mereka menganggapku seperti keluarga mereka juga. Semoga saja klinik yang sednag kami rintis bersama semakin maju dan bisa membuka peluang kerja lebih banyak lagi.


Selesai makan, kami segera kembali ke klinik. Sebentar lagi pergantian shift akan tiba, dan aku juga menghubungi kawan sejawat untuk menjadi dokter pengganti selama Stef belum kembali.


Di Klinik ....


Semua aman terkendali, Alina segera duduk di meja kerja karena ada pasien baru yang datang. Setelah di timbang, ukur suhu dan tensi baru pasien di arahkan untuk duduk di depan meja kerja Alina.


Setelah itu Alina menganalisa pasien, seputar keluhan dan lamanya pasien ada keluhan tersebut. Setelah itu barulah perawat pasien dia arahkan untuk naik ke atas bed dan di periksa lanjutan.


"Saya periksa dulu ya Pak ...! Coba tarik nafas ... lalu hembuskan lagi," ujar Alina dengan lembut seraya menempelkan stetoskop di bagian dada kanan dan kiri pasien secara bergantian.


"Sekarang silakan duduk dulu," tanpa menjawab pasen segera bangun dan duduk di tepi bed.


"Buka mulutnya Pak ...!" ujarnya lagi seraya menyalakan penlight dan diarahkan ke dalam rongga mulutnya.


"Hmm, sudah ... mari saya jelaskan," ucapnya.


"Pak, setelah saya periksa ternyata amandel sudah membesar. Dan keluhan yang Bapak rasakan selama ini adalah reaksi dari pembesaran amandel itu sendiri ...!" ujarnya menjelaskan.


"Apakah perlu di lakukan tindakan Dok?" tanyanya.


"Harus Pak ...! Karena mendengar dari penjelasan Bapak yang dulu juga pernah dengan riwayat seperti ini. Saya sarankan untuk segera di angkat saja," jelasnya dengan pelan tapi jelas.


"Kalau di kasih obat saja bagaimana Dok?" ujarnya menawar. (Kaya di pasar ya nawar😄)


"Bisa saja Pak, tapi tidak akan bertahan lama. Dan kalau di biarkan bisa saja ada luka dan bernanah, mungkin saja bisa menyebar dan membuat kondisi Bapak semakin parah. Saya hanya bisa menyarankan, semua saya kembalikan ke Bapak saja ...!" ujarnya memberikan pilihan.


"Kira-kira operasinya lama tidak Dok? Saya tidak bisa kalau harus berlama-lama di Rumah Sakit. Saya harus bekerja untuk keluarga saya," ungkapnya dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Semua tergantung dengan kondisi Bapak, kalau kondisi Bapak stabil bisa saja sorenya bisa langsung pulang. Dna tindakan hanya dalam waktu 1-2 jam malah tidak sampai," ujarnya menjelaskan.


"Apakah harus dalam waktu dekat ini Dok?"


__ADS_2