Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Papi Kemana?


__ADS_3

"Ternyata apa yang kamu katakan tentang menantuku beberapa menit yang lalu tidak terbukti ya Er ...! Menantuku sangatlah cerdik. Inilah yang dinamakan CEO tidak boleh mengambil keputusan tanpa mencari tau akarnya," ujar Pak Revan memuji Vin membuat wajah Erika merah padam.


"Dasar anak bo*oh ...! Dari dulu tidak pernah seklaipun membuatku senang. Ayo pulang ...!" bentaknya dengan kedua matanya menatap tajam.


"Ma-maafkan saya Pak," ujar Aura menganggukan kepalanya dengan perlahan.


"Aura ...!" Teriak Nyonya Erika dengan suaranya yang nyaring.


____________


"Astaga ...! Kenapa aku merasa kasihan melihat anak itu? Dia di perlakukan seperti boneka untuk membalaskan dendam Erika," ujar Pak Haris.


"Om benar, Aura hanya di jadikan boneka oleh Nyonya Erika. Tapi karena didikannya yang salah membuat Aura menjadi gadis yang penuh dengan ambisi, dia mencari kasih sayang dari pria lain bahkan yang sudah beristri," ucap Vin.


"Begitulah, dendamnya sudah melampaui batas. Meski mending Om Harun sudah mengakui kesalahannya dan menjelaskan pada putrinya bahwa apa yang mereka lakukan saat itu untuk kebaikannya. Tapi Erika tak mau mendengarkannya,"


"Bahkan Om Harun menikahkah Erika dengan Ruli agar bisa melupakan Pak Rendy, tapi sayangnya itu tidak berlaku untuknya," Imbuh Pak Revan.


Tokkk ... tokk ...!


"Permisi Pak, saya buatkan minum untuk Bapak ...!" ujar Dewi dengan sopan.


"Makasih ya Wi," ucap Vin.


"Hmm, sama-sama Pak. Saya merasa lega sekarang, duri dalam rumah tangga Bapak juga sahabat saya akhirnya tak bersamayam dalam waktu yang lama," ujar Dewi seraya menurunkan secangkir kopi ke hadapan Vin dan yang lainnya secara bergantian.


"Ya, tadinya aku belum mau mengungkapkan ini semua. Tapi Nyonya Erika sudah bergerak lebih cepat," ujar Vin.


"Oh ya ... Vin selamat ya kamu akan menajdi seorang Ayah. Papah hampir lupa gara-gara melihat Erika," ujar Pak Revan menjabat tangan Vin dan memeluknya.


"Makasih Pah," jawab Vin dengan bahagia.


"Wah, aku ketinggalan Info. Selamat ya Vin, akhirnya kita akan memiliki cucu dua sekaligus ...!" ujar Pak Haris turut menjabat tangan Vin dan memeluknya.


Sementara itu,


"Mam, lagi ngapain?" tanya Alina.


"Hai Kak ...! Mami lagi duduk aja, kamu udah bangun?" tanya Mami.


"Iya Mam, Papi kemana? Biasanya kalau ada Mami pasti ada Papi," ujarnya seraya duduk di samping Maminya.


"Papi katanya mau ke Perusahaan Kak ...! Ada berkas yang harus dia selesaikan katanya," jawab Mami.

__ADS_1


"Oh gitu, mungkin nanti pulangnya sekalian sama Chandra Mam. Kan biasanya Vin ke Perusahaan Chandra dulu mau jemput Vannya," ujar Alina dengan lembut.


"Iya Kak ...! Tapi gak tau kenapa perasaan Mami gak enak waktu tau Papi mau pergi," ucapnya dengan raut wajah sedih.


"Mungkin karena Mami sudah terbiasa dengan Papi tiap hari, kemanapun Papi pergi pasti Mami ikut ... begitupun sebaliknya," jawab Alina mencoba menenangkan Maminya.


"Mungkin ya Kak ...! Semoga gak ada apa-apa sama papi kalian," ujar Mami penuh harap.


"Aamiin ... kita doakan yang terbaik aja buat Papi ya Mam. Semoga Tuhan selalu melindungi Papi di luar sana," ujar Alina.


"Iya Kak ...! Makasih ya udah tenangin Mami," ujar Mami sedikit memasang senyum di sudut bibirnya.


"Aku tau Mami sedang mencemaskan Papi. Aku juga Mam, sejak tadi perasaan tidak enak. Dan setelah tau Papi sedang pergi perasaanku semakin tidak enak. Ya Tuhan, lindungi Papi ...!" batin Alina.


"Mam, aku hubungi Chandra dulu ya ...!" ujar Alina.


"Iya Sayang ...!"


Alina pergi ke teras untuk menghubungi Vin lebih dulu. Karena tujuan Papi katanya mau ke Perusahaan, Alina ingin memastikan apakah Papi sudah sampai di Perusahaan karena kata Mami, Papi pergi sejak beberapa jam yang lalu.


Tut ... tuutt ...!


*Obrolan di Telepon


"Hallo Dek ...! Eumm Papi udah sampai belum?" tanya Alina langsung to the point.


"Papi? Emang Papi mau kesini?" tanyanya lagi.


"Iya. Kata Mami ... Papi pergi 2-3 jam yang lalu, katanya ada berkas yang harus ditandangani ...!" ucpa Alina menjelaskan.


"Di situ ada siapa aja? Kok ramai? Ada Papi kan?" imbuhnya.


"Gak ada Kak, aku lagi sama Papah dan Om Haris kok ini. Lagian tidak ada berkas yamg harus Papi tandatangani lagi, semua sudah di selesaikan sebelum Papi pensiun," jawab Vin menjelaskan panjang kali lebar.


"Terus Papi kemana?" tanya Alina cemas.


"Aku tidak tau Kak, ya udah coba nanti hubungi Papi deh. Kakak sama Mami tenang aja ya. Ya udah aku mau telepon Papi dulu nih," ucapnya*.


Setelah telepon terputus, Alina lenjut menghubungi suaminya. Supaya Chandra ikut mencari keberadaan Papi.


Tut ... tuutt ...!


*Obrolan di Telepon

__ADS_1


"Hallo Sayang?" sapanya.


"Sayang, Papi gak ada ...!" ucapnya dengan cemas.


"Gak ada gimana? Papi hilang? Dari jam berapa Papi hilang?" tanya Chandra.


"Bukan gitu, lebih tepatnya Papi pergi 2-3 jam yang lalu katanya mau ke Perusahaan. Tapi barusan aku telepin Vin dan katanya Papi gak ada disana," ujarnya.


"Sayang, kamu tenang ya. Jangan cemas dan stress. Ingat kamu sedang hamil. Ya udah, biar aku cari Papi ya," ujarnya.


"Tolong ya cari Papi. Sejak tadi Mami udah cemas. Aku takut kalau Mami tau Papi ga ke Perusahaan, dia jadi tambah cemas ...!" ujar Alina.


"Iya Sayang, iya ...! Kamu juga jangan cemas. Aku dan Vin akan cari Papi. Yaudah ya, aku mau pergi cari Papi," ucap Chandra.


"Hati-hati ya Sayang ...!"


"Iya Sayang, kamu temani Mami terus ya. Love you," ..


"Love you too, Sayang ...!"


Di Tempat Lain


"Ada apa Kak?" Tanya Vannya yang tak snegaja mendengar Chandra menyebut Papi dan Mami.


"Papi pergi dari rumah beberapa jam lalu. Katanya mau ke Perusahaan, tapi barusan Nana menghubungi Vin katanya Papi tidak ada disana," ujar Vin.


"Ya Tuhan ...! Papi kemana? Aku ikut cari Papi ya Kak," ujar Vannya.


"Tapi Van, aku takut nanti beresiko pada kandunganmu," ujar Chandra.


"Aku kuat Kak, begitupun dengan kandunganku. Aku akan merasa bersalah kalau tidak ikut mencari Papi," rengeknya.


"Hmm, ya udah ... kamu siap-siap. Sebentar lagi kita akan pergi," ujar Chandra.


"Baik, Kak ...!"


Sementara itu,


Sudah 2 jam lamanya Rendy duduk di teras menunggu sang pemilik rumah kembali. Kata ART, sang pemilik rumah sedang ada keperluan di luar dan baru saja pergi sebelum dirinya memasuki gerbang.


Rendy ingin mengajaknya bicara 4 mata mencari jalan damai agar dia tak mengganggu keluarganya lagi. Apalagi saat ini Putranya yang menjadi sasaran, Rendy tidak mau kejadian beberapa tahun yang lalu terjadi lagi.


*Tring ...!

__ADS_1


"Pi, Papi dimana? Kata Kakak Papi pergi 3 jam yang lalu," tanya Vin yang terdengar begitu mencemaskan Papinya*.


__ADS_2