
"Terimakasih Pak ...! Wah apa ini," gumamku saat melihat sekitak kue coklat yang diatasnya bertuliskan welcomeback Bu Vannya, manis sekali.
"Hanya kejutan kecil untuk Ibu. Sebagai rasa ungakpan bahagia kami karena Bu Vanna sudah kembali bekerja dengan kondisi yang sehat," jawabnya dengan sopan.
"Terimakasih banyak Pak, tidak perlu seperti itu. Ah, aku jadi ingin nangis," gumamku.
"Terkadang menangis di perlukan untuk menungkapkan isi hati yang tidak mampu terucap oleh lisan Bu. Kalau begitu, saya permisi. Semoga Ibu suka dengan kuenya," ujarnya.
"Tentu saja suka Pak, sekali lagi ... terimakasih ya pak," ucap Vannya.
_____________
...ARDHANA GROUP...
obrolan di Telepon ...
"Hallo Kak? Ada apa?"
"Apa kamu sudah dapat kabar dari mereka pagi ini?" tanya Chandra.
"Belum Kak ...! Semalam aku lupa tidak mengisi daya ponsel, tadi pagi baru ku isi dan belum aku buka. Ada apa?" tanyanya.
"Semalam mereka bilang Ilham tewas, dia berusaha kabur dan jatuh ke dalam jurang. Mungkin sebentar lagi berita tentang penemuan mayat akan naik," ujarnya.
"Benarkah? Astaga ...! Kenapa aku tidak memeriksa ponselku dari semalam," gumamnya.
"Tidak masalah. Mereka sudah aku suruh untuk pergi sementara waktu. Setidaknya saat ini Vannya sudah aman, tidak akan ada lagi yang mengganggunya,"
"Kakak benar. Kalau begitu, terimakasih Kak atas bantuannya selama ini. Mungkin tanpa bantuan Kakka aku tidak akan bisa menjauhkan Ilham dari sekitar kita," ujarnya dengan serius.
"Hmm, sekarang beban sudah berkurang. Kita fokus pada keluarga saja. Oh iya, bagaimana keadaan Mami?" tanya Chandra.
"Sudah jauh lebih baik Kak. Vannya menyiapkan bahan rajutan untuk mengisi waktu luang Mami, dan sepertinya itu berhasil. Aku juga meminta Bi Minah untuk mengawasi Mami selama kami tidak di rumah," jawabnya.
"Syukurlah, kalau ada apa-apa segera kabari kami ya Vin. Mami adalah tanggungjawab kita bersama," ujarnya.
"Iya Kak. Pasti aku langsung kabari kalian, oh iya ...! Sampai kapan Kakak akan di Jogja?" tanya Vin.
"Kamu tau aku di Jogja?" gumamnya.
"Hmm, Vannya yang bilang padaku,"
"Mungkin nanti sore aku kembali ke rumah, cuma masalah kecil kok. Ya sudah, aku mau sarapan dan ke anak Perusahaan setelah ini," ujarnya.
"Iya Kak, semoga masalah segera teratasi,"
__ADS_1
"Terimakasih Vin,"
Panggilan terputus. Vin masih terdiam di dekat jendela di ruang kerjanya. Dia tidak menyangka Ilham akan pergi secepat itu, bahkan dia sendiri tidak merencanakan untuk menghabisinya. Hanya memberikan pelajaran agar Ilham tidak lagi mengganggu Vannya.
Tokk ... tokk ...!
"Permisi Pak," ucap Dewi yang baru datang.
"Masuk Wi," sahutnya.
"Pak Vin kenapa? Sepertinya terjadi sesuatu, tapi apa ...!" batinnya seraya berjalan mendekat ke meja kerja.
"Bapak kenapa? Apa ada masalah dalam pekerjaan? Atau saya sudah melakukan kesalahan?" tanya Dewi.
"Tidak ... tidak. Tidak ada masalah Wi. Semua baik-baik saja. Bagaimana untuk pertemuan siang ini?" ujarnya berusaha mengalihkan perhatian Dewi.
"Untuk pertemuan hari ini sudah saya re-schedule semua Pak. Kecuali pertemuan dengan Pak Arsen yang pada pukul 14.00 nanti," jawab Dewi
"Hmm, kamu carikan hadiah untuk Madav ya. Sekalian cenderamata untuk Pak Arsen dan keluarga. Rencananya besok pagi mereka akan kembali ke Kalimantan,"
"Baik Pak, ada lagi?" tanya Dewi.
"Sepulang kerja, kamu ikut denganku. Bantu Vannya menyiapkan semuanya di rumah. Malam ini aku mengundang mereka untuk makan malam di rumah," ucap Vin.
"Baik Pak, kalau begitu saya izin permisi untuk mencari hadiah dan cenderamata sesuai permintaan Bapak,"
"Baik pak, permisi ...!"
Dewi segera keluar dari ruang kerja Vin, dan merapikan beberapa berkas di atas mejanya sebelum pergi mencari hadiah dan cenderamata. Setelah semua rapih, dan mematikan layar monitor, Dewi segera turun menghampiri Rico.
"Ric, ayo ikut aku ...!" ajaknya.
"Kemana? Ini masih jam kerja Wi. Kamu mau ajak aku bolos kerja? Tidak mau," sahutnya tanpa mengalihlan perhatiannya dari layar monitor.
"Bolos kerja palamu ...! Aku di suruh Pak Vin cari hadian sama cenderamata untuk Pak Arsen, Pak Vin dah kasih izin kamu juga kok ...!" ucapnya.
"Benarkah? Sebentar ya, sedikit lagi. Tinggal kirim ke kamu kok,"
"Hmm, cepat ya ...!"
"Sabar ...! Nah, udah kan ...! Yuk," ujarnya seraya bangun dari duduknya.
Dewi meminta Rico mengantarnya ke pusat perbelanjaan dekat Perusahaan saja. Lokasi yang dekat, dan disana fasilitas lengkap. Apa yang dia ingin lihat ada disana, sambil sesekali mencuci mata setelah sekian lama tidak pergi ke mall karena sibuk dnegan pekerjaannya.
Dalam waktu 15 menit mereka sudah tiba di basemant. Masih sepi, mungkin karena masih pagi jadi belum banyak pengunjung yang datang. Tanpa banyak bicara, Dewi segera berjalan menyusuri lantai basemant.
__ADS_1
"Emang mereka mau kembali kapan?" tanya Rico.
"Kata Pak Vin sih besok, makanya aku diminta buat cari sekarang. Kira-kira aku cari apa ya buat Madav?" gumam Dewi yang terus berjalan dengan langkah cepat.
"Mainan saja, tidak perlu yang mahal. Karena mereka jelas bisa membelinya sendiri. Tapi cari yang berkesan, supaya Madav ingat dan ada cerita di dalam hidupnya,"
"Astaga ...! Kami habis sarapan apa tadi pagi? Tumben aku tidak bisa mengerti sama apa yang kamu bilang tadi," celetuk Dewi
Pletakk ...!
"Astaga ...! Aku hanya bercanda Ric," ujar Dewi mengusap kepalanya.
Di sisi lain ...
Alina dan Dokter Fani datang ke klinik bersamaan, Dokter Stef yang sudah datang lebih dulu menyapa mereka dengan beberapa jajanan pasar yang sengaja di belinya tadi pagi saat tak sengaja melihatnya di jalan.
"Pagi ...!" sapa Dokter Stef.
"Pagi Stef, wah pagi-pagi udah jajan aja. Banyak sekali ...!" celetuk Dokter Fani seraya menaih tas kerjanya di atas meja ruang jaga perawat.
"Hmm, ayo makan ...! Aku tidak sengaja membelinya, karena penasara," jawabnya.
"Sering-seringlah kamu penasaran Stef biar tiap hari bawa jajanan ini ... !" sahut Alina yang baru kelyar dari ruang jaga Dokter.
"Berdoalah setiap pagi aku bertemu dengan penjualnya, biar aku penasaram terus," jawabnya.
"Baiklah, akan aku lakukan setiap pagi mulai besok," sahutnya.
"Oh iya, kalan udah tau belum?" tanya Dokter Stef pada dua rekannya yang sednah asik mencicipi jajanan pasar yang dibawanya.
"Belum, apa?" jawab Alina dan Dokter Fani secara bersamaan.
"Astaga ...! Kompak sekali," gumamnya tak percaya.
"Katanya ada salah satu dokter muda yang hilang selama beberapa hari. Dan sampai sekarang belum ketemu. Terus tadi pagi, aku dengar ditemukan sebuah mayat di dalam hutan, dan kemungkinan mayat itu adalah jasad dokter yang hilang itu," ujarnya.
"Yang hilang itu nyasar di hutankah atau melarikan diri?" tanya Alina sambil mengunyah makanan.
"Mana aku tau, tadi pagi aku hanya mendengarnya sedikit. Tapi kalau benar, kasihan juga ya ...!" ucapnya.
"Hmm, kamu benar. Tapi takdir Tuhan siapa yang bisa melawan, kita doakan saja supaya Dokter itu tenang di sana. Kalau benar jenazah itu Dokter yang hilang," jawab Dokter Fani.
"Kalau boleh tau, siapa nama Dokter yang hilang itu?" tanya Alina.
"Kalau tidak salah namanya Ilham, ya aku sih tidak terlalu kenal," sahut Dokter Stef.
__ADS_1
"Ilham si buaya darat itu bukan? Dulu aku juga ada junior yang namanya Ilham, setiap hari suka sekali godain mahasiswi di kampus," celetuk Dokter Fani.
"Dan kamu slaah satu dari mahasiswi itu?" tanya Alina.