
Tubuh Vannya terkunci, Dokter Ilham sudah berada diatas dan menindih dua kakinya membuat Vannya tak bisa lagi bergerak.
"Ya Tuhan, tolong aku ... siapapun yang lewat tolong buka pintu itu ...!" batin Vannya.
Cklekk ...!
Seseorang sudah berdiri di pintu dengan tatapan yang snagat tajam seakan sang raja rimba yang hendak menerkam musuhnya.
______________
"Kak ... tolong aku," ujar Vannya.
Settt ... Bug ...Bug ... Brakk ...!
Beberapa pukulan mendarat tepat di bagian perut dan pipi sebelah kanannya. Meninggalkan memar merah meski hanya sekali pukulan. Tidak hanya sampai di situ, Ilham kembali di seret kerah kemejanya hingga terdengar suara khas robekan pada kain.
Untuk kesekian kalinya wajah mulusnya harus terkena pukulan dari tangan kekar. Tanpa memperdulikan lawan yang sudah meminta ampun, ia terus memberikan pukulan hingga darah segar mengucur dari bagian hidung dan mulutnya.
"Kakak, udah Kak ...!" ujar Vannya yang perutnya merasa sakit.
"Mana bisa aku membiarkan pria brengsek ini. Berani-beraninya kau menyentuh Adik iparku ...! Kau pikir kau siapa Hah?" ujarnya kesal.
"Kak, sakit ...!" teriak Vannya.
"Van, kamu kenapa Van?" ujar Chandra segera melepas kerah baju Ilham dan mendorongnya hingga terjatuh mengenai kerasnya lantai.
"S-sakit Kak ...!" ujarnya meringis kesakitan.
"Astaga ...! Ada darah, aku akan segera membawamu ke dokter, tenanglah ...!" ujarnya segera menggendong Vannya.
Entah sengaja atau tidak, Chandra menginjak telapak tangan Ilham hingga terdengar suara tulang. Tanoa menghiraukan teriakan Ilham, Chandra bergegas pergi meninggalkan Ruang Kerjanya.
"Vannya ...! Kamu kenapa?" pekik Mbak Eni yang hendak ke ruang kerjanya untuk mengajaknya makan siang.
"Eni, ikut aku. Jangan lupa bilang security untuk membawa pria di dalam sana ke polisi," ujar Chandra seraya menggendong Vannya yang sudah lemas.
"Ba-baik Pak ... !" Mbak Eni mengikuti Chandra.
Sebelum keluar dari gedung, Mbak Eni lari ke bagian resepsionis untuk meminta tolong panggil security dna membawa pria di lantai 6 ke kantor polisi. Setelah itu, Mbak Eni kembali lari, mobil Chandra sudah berada di lobby.
"Ayo Pak ...!" ujar Mbak Eni setelah menutup pintu mobil.
"Vannya, kamu masih kuat kan? Minum dulu," ujar Mbak Eni dengan panik.
__ADS_1
"Kita ke Rumah Sakit terdekat saja, kalau kondisimu sudah stabil baru kita pindah ke Rumah Sakit yang sama dengan Rumah Sakit tempat Papi di rawat," ujar Chandra.
"Mbak, sakit ...!" rintih Vannya.
"Pak, cepat ...!" ujar Mbak Eni semakin cemas.
"Ini sudah ku tambah kecepatannya," sahut Chandra.
"Eni kamu hubungi Vin ya ...!" perintah Chandra.
"Ma-maksud Bapak suami Vannya?" tanya Mbak Eni.
"Iya, siapa lagi kalau bukan suaminya. Pakai ponselku saja," ucap Chandra menyerahkan ponselnya.
"Baik Pak,"
Mbak Eni segera mencari nomor Vin di daftar kontak milik Chandra. Setelah mendapatkanny, ia segera menekan simbol berbentuk gagang telepon dan menunggunya hinga panggilan tersambung.
*Tuuut ... tuut .... tuuut ...!
"Hallo Pak Vin, saya Eni dari Wijaya Group. Maaf kalau mengganggu Pak, saya hanya ingin mengabarkan saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit terdekat karena Vannya mengalami pendarahan," ujar Mbak Eni*.
"A-apa? Apa yang terjadi pada isteriku?" tanya Vin panik.
"Baik kalau begitu, makasih ya Mbak Eni. Saya akan segera menyusulnya," ujar Vin.
"Baik Pak,"
Telepon terputus, mobil sudah memasuki area Rumah Sakit. Sesampainya di depan IGD Chandra segera berlari membuka pintu belakang untuk mengeluarkan Vannya dari dalam mobil.
"Suster, Dokter ...! Tolong kami ...!" teriak Mbak Eni setelah keluar dari mobil.
Tak berapa lama kemudian, beberapa perawat keluar membawa brankar di antara mereka. Dengan cepat seelah Vannya diturunkan di atas brankar, mereka segera membawanya masuk ke dalam dan masuk ke ruang tindakan.
"Eni, tetap disini. Aku akan mengurus administrasinya," ujar Chandra.
"Baik Pak," sahut Mbak Eni.
"Ya Tuhan ...! Selamatkan Vannya dan bayinya. Aku tidak tau apa yang terjadi barusan," batin Mbak Eni.
Sementara itu di dalam ruang tindakan..
Infus RL berukuran 500 ml telah terpasang di pergelangan tangan Vannya dengan aliran 30 tetes per menit karena kondisi pasien sudah pucat dan lemas. Selang Oksigen juga terpasang binasal kanul dengan aliran oksigen 4 liter per menit.
__ADS_1
Sudah dilakukan tindakan DJJ untuk mengetahui normal denyut jantung janin. Hasil terpantau normal yaitu 125 denyut permenit. Kemudian Dokter memeriksa kondisi yang lain, tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Saat ini kondisi Vannya sudah jauh lebih stabil daripada kondisi saat pertama kali ia datang ke Rumah Sakit. Untung saja Vannya cepat di bawa ke Rumah Sakit, sehingga Ibu dan janin bisa di selamatkan.
"Bu Vannya, apa yang Ibu rasakan saat ini?" tanya Dokter dengan ramah.
"Sudah jauh lebih baik Dokter, terimakasi ...!" jawabnya dengan lemah.
"Syukurlah, kalau begitu untuk sementara Ibu di rawat dulu ya. Untuk memantau kondisi Ibu dan juga janin yang ada di dalam kandungan," ujarnya lagi.
"Iya Dok," sahutnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya," ucapnya.
Dokter segera keluar dari tindakan, Mbak Eni segera menghampirinya dan menanyakan kondisi Vannya saat ini. Mbak Eni benar-benar sangat mencemaskan kondisinya.
"Dokter, bagaimana kondisi Vannya?" tanyanya.
"Kondisinya saat ini sudah stabil Bu. Pasien sudah kami berikan terapi infus dan Oksigen. Denyut Jantung Janin terpantau dengan normal, dan pendarahan juga sudah berhenti," ujarnya menjelaskan.
"Syukurlah ...! Terimakasih Dokter," ucap Mbak Eni.
"Dok, bolehkah pasien di rujuk ke Rumah Skait Permata Ungu, karena kebetulan keluarga kami juga dirawat disana. Supaya kami tidak bolak balik kesana kemari, dan bisa lebih fokus menjaga keduanya," ujar Chandra menimpali saat melihat Dokter hendak pergi.
"Hmm, boleh Pak. Tapi biarkan Nyonya Vannya untuk kami observasi dulu ya, mungkin 1-2 jam dari sekarang," ujarnya seraya melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.
"Baik Dok, terimakasih ...!" ucap Chandra.
"Dok ... apa kami boleh masuk?" tanya Mbak Eni.
"Silakan Bu, tapi jangan ajak pasien untuk banyak bicara ya. Karena kondisi masih lemah, dan pasien butuh banyak istirahat," ucapnya.
"Baik Dok, terimakasih ya ...!" ujar Mbak Eni.
Setelah Dokter pergi, Mbak Eni dan Chandra sehera masuk untuk melihat kondisi Vannya saat ini. Dan mereka di sambut dengan senyum manis Vannya yang mengembang menghiasi wajah cantiknya.
"Astaga Van ...! Kamu udah sehat? Kamu bikin Mbak panik tau ...!" celetuk Mbak Eni.
"Aku udah baikan Mbak, makasih ya Mbak ... Kak Chandra ...!" ujar Vannya.
"Sama-sama Van, maaf ya karena aku pergi jadi kamu seperti ini," ujar Chandra merasa bersalah.
"Tidak apa Kak, ini bukan salah Kakak ...!" jawab Vannya.
__ADS_1
"Memang apa yang terjadi sih?" batin Mbak Eni masih penasaran.