
"Berarti Aura bukan anak kandungnya? Kan dia baru keluar sekitar 5-6 tahun yang lalu bukan?" ujar Vin semakin penasaran.
"Aura anak kandungnya, saat dia berada di dalam penjara ada seorang pengusaha yang mau menikahinya. Entah apa alasannya ...!" jawab Chandra.
"Astaga ...! Lalu apa rencana kita?"
___________
"Kita kelabui saja mereka, kita lihat seberapa jauh mereka akan kuat untuk mengelabui singa," ujar Chandra dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Gimana caranya?"
"Licik di balas dengan licik ... yang pasti kita jangan sampai lengah," ucap Chandra.
"Hmm, tapi jangan lama-lama. Aku tidak mau keburu Vannya tau dan akan salah paham lagi," ujar Vin.
"Hmm, setidaknya kamu harus hati-hati. Sebisa mungkin jangan sampai kamu menuruti kemauan Aura kalau dia mengajakmu pergi berdua,"
"Mana mungkin aku mengiyakannya," sahutnya.
"Kan kali saja. Siapa tau kamu khilaf kan ...!" ujarnya.
"Tidak akan," jawabnya spontan.
" Yang pasti kamu harus cari tau dulu, maksud dan tujuan Ny Erika terhadapmu ... dan cari tau juga apakah Aura 11 12 dengan Ibunya atau tidak,"
"Okey! hmm, ngomong-ngomong ... apakah ini akan mengganggu Mami dan Papi juga?"
"Akan aku pastikan mereka tidak akan bisa mengganggu Mami juga Papi. Kalau mereka berani menyentuhnya, jangan harap bagian tubuh yang sudah menyentuhnya akan utuh," ujar Chandra meremas tangannya sendiri.
"Aihh ...! waktu makan siang sudah habis, sebaiknya Kakak segera kembali ke Perusahaan sebelum sekretaris Kakak melaporkan orang hilang pada polisi," ujar Vin melirik arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 1 siang.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Hati-hati dengan Aura ...!" ucap Chandra.
"Hmm ...!"
Vin segera kembali ke Perusahaan, jarak Perusahaan dengan restoran hanya berjarak 5km. Dalam waktu tak kurang dari 15 menit dia sudah sampai di Perusahaan, karena di tengah jalan ada kecelakaan yang membuat kemacetan.
Sesampainya di Perusahaan, Vin segera masuk ruang kerjanya. Tak lama kemudian, Dewi masuk membawah beberapa berkas di tangannya.
__ADS_1
"Permisi Pak ...!" ujarnya.
"Masuk ...!" sahutnya dari dalam.
"Maaf Pak, ada berkas yang harus Bapak tanda tangani," ucapnya.
"Baik, kemari ...!"
Saat sedang menandatangani berkas terakhir, tak sengaja selembar kertas terjatuh. Dengan sigap Dewi mengambilnya, dan merasa ada yang janggal. Dewi membacanya berulang kali untuk memastikan apa yang dibacanya tidak salah.
"Ada apa?" tanya Vin.
"Maaf Pak, sepertinya ada yang salah. Nanti saya konfirmasikan pada Aura dulu," jawab Dewi mengecilkan suaranya.
"Coba saya lihat," ujarnya.
"Ini Pak, sepertinya Aura salah memasukkan ke berkas ini," ujar Dewi.
"Ini tidak salah, baiklah akan aku tandatangani ...!" ujar Vin.
"Ta-tapi Pak ...!" ucap Dewi berusaha menahan Vin untuk tidak menandatangani kertas tersebut.
"Jangan katakan pada Aura kalau kamu membacanya, lebih baik diam dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Tenanglah, aku tidak mungkin mengecewakan sahabatmu ...!"
"Wah ...! Selamat Pak, saya ikut senang mendengarnya," seru Dewi dengan wajah yang berseri.
"Terimakasih, kalau kamu ingin mengucapkan selamat. Sebaiknya ucapkan secara langsung saja," ujarnya.
"Baik Pak ...! Kalau begitu saya permisi," Dewi merapikan kembali berkas yang sudah di tanda tangani.
...VIN POV...
Tanpa di selidiki, aku sudah mendapatkan jawabannya. Baiklah, sesuai perkataan Kak Chandra aku akan mengikuti alurnya. Kita lihat saja, siapa yang akan menang dalam permainan ini. Aku tidak menyangka kamu akan seberani ini Aura.
Kenapa sejak awal aku tidak menyelidiki siapa dia sebenarnya? Aaihh ...! Aku merasa gagal sebagai pimpinan dari Perusahaan ini. Baiklah, mulai saat ini aku harus belajar dari Kak Chandra. Setidaknya jangan terlalu lemah pada perempuan.
Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan keluargaku. Membuka kembali trauma yang sudah hampir di tutup dengan rapat. Kak Nana ...! Aku janji akan membalaskan apa yang sudah mereka lakukan pada Ibu dulu.
Aku juga sudah menganggap Ibu seperti Ibuku sendiri. Aku pikir penderitaan di masa lalu sudah berakhir, ternyata masih ada si biang yang siap beraksi ketika kami lengah.
__ADS_1
Di sisi lain ....
Dewi segera melanjutkan pekerjaannya memeriksa laporan dari para divisi dan staff.
"Astaga! Aku belum menghubungi yang lain untuk mengambil berkas yang sudah ditandatangani Pak Vin ...!" ujar nya tersadar.
tut ... tut ...!
"Iya Wi? Apa berkas yang aku antarkan sudah di tanda tangani?" tanya Aura di ujung telepon.
"Udah Ra, ambilah. Aku meneleponmu cuma mau mengatakan berkas udah ditandatangani. Ya udah ya Ra," ujar Dewi menutup teleponnya.
Dewi melanjutkan untuk menghubungi divisi lain yang tadi mengantar berkas padanya. Setelah semua di hubungi, Dewi melanjutkan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Pekan depan akan ada pertemuan besar dengan beberapa Perusahaan ternama di kotanya. Pak Vin memintanya untuk menyusun laporan juga materi yang menarik.
Bagi Dewi ini adalah tugas besar yang snagat berarti untuknya. Itu berarti, Pak Vin sudah mempercayakan proyek besar padanya. Tak berapa lama kemudian, datang Aura dengan senyum khas di wajahnya.
"Hey Wi ...! lagi sibuk ya?" tanyanya berbasa-basi.
"Hai Ra ...! Tidak, hanya sedikit. Kamu mau ambil berkasmu? Ambilah ...!" ujar Dewi dengan ramah.
"Iya Wi ...! thank's ya. Ya udah, aku balik lagi ke ruanganku. Semangat Wi ...!" ujarnya mengepalkan tangannya memberikan semangat pada Dewi.
"Iya Ra ...! thank's," jawab Dewi.
Seperginya Aura, Dewi menghentikan aktivitasnya sejenak. Sesaat dia teringat dengan selembar kertas yang tak sengaja jatuh dan dia baca.
"Ra, aku harap kamu sadar apa yang kamu lakukan sekarang salah. Pak Vin selalu berbuat baik pada kita," batin Dewi.
"Tapi ... kenapa Pak Vin tetap menandatanganinya? Padahal dia sudah tau isi dari kertas itu," imbuhnya masih berpikir keras.
Di Ruang yang lain,
Aura segera menutup pintu dan menguncinya. Ia bergegas mendekati meja kerjanya, dan membuka berkas yang baru dia ambil dari meja Dewi.
"Semoga masih ada ... kalau tidak ada berarti Pak Vin tau. Tidak, tidak ... aku akan mati dengan naas kalau sampai aku tidak mendapatkannya," gumamnya dengan panik membolak balikkan berkas di hadapannya.
Setelah beberapa kali membolak-balikkan kertas di dalam folder tersebut. Akhirnya Aura mendapatkannya, ia merasa lega karena kertas yang ia selipkan masih ada di sana. Dan yang membuatnya merasa senang adalah, ada tanda tangan di sana.
__ADS_1
"Ya Tuhan ...! Terimakasih, akhirnya aku aman. Aku akan melakukan apapun selama hidupku bisa tenang. Dan ... masih bisa menemui Arsen di seberang sana," ujarnya seraya menjatuhkan badannya di kursi.
"Tapi, untuk apa Ibu minta ini? Ada urusan apa Ibu dengan Ardhana Group? Terserah lah ...! aku tidak mau ikut campur," imbuhnya segera memasukkan kertas tersebut ke dalam tas miliknya.