Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Mengalihkan Perhatian


__ADS_3

"Huh! Akhirnya untuk hari ini sudah berakhir. Semoga Kak Vallent sudah kembali dari luar kota, dan besok bisa kembali bekerja. Sungguh pekerjaanku tak ada apa-apanya di bandingkan pekerjaannya. Kak Vallent memang wanita yang hebat," ujarnya memuji seseorang yang tak ada di sana.


"Baiklah, waktunya pulang. Apa Kak Vin sudah sampai?" merogoh tas kecil miliknya untuk mengambil ponsel.


"Tuhkan! Dia sudah sampai, hmm ... terimakasih untuk kerjasamanya hari ini," ujarnya mengucapkan salam perpisahan pada meja dan seisinya.


Vannya segera bergegas menuju lift, suaminya sudah tiba di parkiran sejak 10 menit yang lalu. Beberapa kali ia berpapasan dengan rekan kerjanya, dengan ramah Vanya melemparkan senyum dan tak segan-segan menganggukan kepalanya.


"Hey Kak! Maaf ya lama," ucapnya seraya memasang seatbelt.


"Baru 10 menit kok, pekerjaanmu baru selesai?" tanya Vin dengan sabar.


"Tidak, tadi merapikan berkas dulu sebelum aku pulang. Biar besok Kak Vallent gak kaget kalau setibanya di meja kerja,"


"Isteriku memang rajin," pujinya mengusap kepala Vannya dengan lembut.


"Hmm, ini hanya bentuk tanggung jawabku kok Kak. Ayo kita pulang," ajaknya.


"Ayo, tadi aku liat Kak Chandra sudah pulang lebih dulu. Tapi sepertinya dia buru-buru, apa ada apa-apa dengan Kak Nana?" ujar Vin.


"Bisa jadi, ya udah nanti aku WA kak Nana deh. Kakak fokus stir mobil aja," ucapnya.


"Ya Sayang! makasih ya,"


"Sama-sama Mas," sahutnya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Erlina? Semoga tidak ada masalah lain lagi," batin Vannya.


Ia segera membuka ponselnya dan mencari nomor Alina untuk menanyakan keadannya.


• *Hey Kak! Lagi apa? Dimana sekarang?


(5 menit kemudian*)


• Hey Van, aku baru selesai mandi. Aku lagi main di rumah Mami, kapan kamu sama Vin main ke sini? Sekalian kita ketemu di sini,


• Hari ini aku sama Kak Vin mau ke rumah Mama Papa dulu Kak, nanti kalau tidak kemalaman niatnya mau mampir ke rumah Mami. Semoga kita bisa ketemu ya Kak. Kakak baik-baik saja kan?

__ADS_1


• Okey Van! Aku tunggu kalian disini ya. Salam buat Om Revan, Tante Maya dan Albian. Aku baik-baik saja kok. Ada apa?


• Tidak apa Kak. Ini tadi Kak Vin nanyain kabar Kakak saja. Tapi karena Kak Vin lagi menyetir jadi aku yang WA Kakak. Hmm, ya sudah kami lanjut perjalanan dulu ya Kak. Sampai ketemu nanti.


• Ya Van, hati-hati ya di jalan.


Obrolan via WhatsApp berakhir, Vannya segera menyampaikan pada Vin jika Alina baik-baik saja. Dan sekarang dia sednag di rumah Mami dan Papi. Sebelum sampai rumah orangtua Vannya, mereka mampir ke pusat perbelanjaan untuk membeli hadiah.


"Ayo Sayang!" Ajak Vin pada isterinya.


"Iya Kak, sebentar ... ." sahutnya melepas seatbelt.


Tanpa di duga, Vannya melihat sosok tak yang tak asing yang hanya berjarak 10 meter dari tempat mereka saat ini. Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Vannya, Chandra berada di tempat yang sama dengan mereka.


Tak lama kemudian, terlihat Erlina juga keluar dari dalam mobil Chandra. Kedua mata Vannya hampir saja loncat begitu saja, Vin yang sejak tadi menatap ada yang aneh pada isterinya segera menegurnya.


"Sayang, ada apa? Kamu lihat apa?" tanyanya hendak menoleh ke arah dimana isterinya menghadap saat ini.


"Eh jangan lihat kesana," ucap Vannya spontan memegang wajah Vin untuk menahannya.


"Kamu kenapa? Memang disana ada apa?" tanyanya bingung.


"Maaf Kak, aku sudah bohong. Aku melakukannya demi rumah tangga Pak Chandra dan Kak Nana. Juga untuk keluarga besar kita," batin Vannya merasa bersalah.


"Sayang, udah berapa kali aku bilang? Gak ada wanita lain yang bisa mencuri perhatianku selain kamu,"


"Hmm, aku kan hanya berjaga-jaga saja Kak. Siapa tau Kakak khilaf," celetuknya mencari alasan.


"Tidak akan Sayang," jawabnya dengan lembut.


"Ya sudah kita masuk lewat sana aja yuk Kak, aku ingun jalan-jalan dulu ... ." ujarnya.


"Ayo Sayang," jawabnya dengan sabar.


Vannya segera menggandeng lengan suaminya dan mengajaknya jalan menuju arah kanan menghindari Chandra dan Erlina. Kalau sampai Vin tau, mereka pasti akan baku hantam dan masalah semakin rumit.


Sementara itu,

__ADS_1


"Astaga! Itu kan Vannya dan Vin. Apa mereka melihatku?" batin Chandra dengan cemas.


Tring!


• Saya sedang berusaha untuk membuat kak Vin tidak melihat Bapak. Kami ingin pergi ke lantai 2. Kalau bisa sebaiknya Bapak jangan menginjakkan kaki di lantai 2. Dan cepat selesaikan masalah ini Pak,


Sebuah pesan masuk dari Vannya, Chandra sedikit merasa lega. Ternyata Vin tidak melihatnya, setidaknya saat ini masih aman. Tadinya Chandra hendak segera pulang ke rumah mertuanya, tapi Erlina tiba-tiba menghubunginya dan mengancam akan ke Perusahaan kalau Chandra tidak segera datang.


"Sayang! Ayo ... ." ajaknya menggandeng tangan Chandra.


Tanpa bersuara, Chandra hanya mengikutinya. Mereka pergi ka arah kiri, melewati tangga darurat supaya Vin tidak melihat mereka.


"Kenapa sih kita lewat sini? Mana ada yang bisa aku lihat," ujarnya mengeluh.


"Aku tidak suka keramaian, kau tau itu kan. Jadi, jangan mengeluh atau sebaiknya kita pegi," sahutnya tanpa *ekspresi.


"Huh! Baiklah ... Sabar Er, kamu akan menuai apa yang kau tanam," batinnya berusaha menyemangati dirinya sendiri*.


Menuju lantai 3 melalui tangga darurat, tidak seberapa untuk Chandra. Tapi tidak untuk Erlina, keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya. Tapi dia tak ada keberanian untuk mengeluh lagi atau Chandra tidak akan mau menemaninya lagi.


Di lantai 2 ....


Vannya dan Vin segera berjalan menuju sebuah toko yang menjual kursi pijit. Mungkin itu lebih bermanfaat untuk Papah Revan setelah seharian berkutik di depan layar monitor dan beberapa berkas.


Setelah mendapatkan apa mereka inginkan, Vannya dan Vin segera membayarnya dan bergegas pulang sebelum waktu makan malam tiba. Vannya sesekali melirik ke berbagai penjuru memastikan tidak ada Chandra dan wanita itu di lantai yang sama.


"Sayang, apa kamu masih ingin mencari sesuatu?" tegur Vin saat melihat Vannya sepertinya sedang mencari sesuatu di sana.


"Hmm, tidak Kak. Ayo kita cepat pulang, pasti Papa sama Mama sudah menunggu kita," jawabnya dengan semangat segera menarik tangan suaminya.


"Aku harus segera mengajak Kak Vin pergi ari tempat ini sebelum dia melihat Pak Chandra,"


"Maaf Kak, aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tapi aku janji setelah ini aku akan menceritakan semuanya,"


"Pelan-pelan sayang! Tadi katanya mau jalan-jalan dulu," ujarnya tetap berjalan di belakangnya.


"Tapi sekarang aku mulai lapar Kak, pasti Mama sudah masak banyak deh," jawabnya berbohong.

__ADS_1


"Kalau begitu beli makanan saja dulu untuk menggajal rasa laparmu,"


"Ti-tidak perlu, masih bisa aku tahan kok. Nanti malah sampai rumah aku bisa kenyang kalau makan sekarang," ujarnya mencari alasan.


__ADS_2