Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Matahariku Tersenyum


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Alina yang sudah bediri di ambang pintu.


"Kan benar apa yang aku bilang. Bahkan aku belum menghampirinya, malah sekarang dia yang menghampiriku," batinnya tak bergeming dari tempatnya berdiri saat ini.


"Hey! Kamu kenapa?" tanyanya mendekati Chandra yang masih mematung.


"Tidak, baru saja aku mau turun. Tapi kamu sudah kembali, apa kamu merindukanku?" tanya Chandra membuat Alina tercengang.


"Astaga! Kamu kenapa sih Chan? Apa kamu sakit?" ujarnya menempelkan punggung tangannya ke dahi Chandra.


"Tidak, suhu normal. Kamu kenapa? Apa kepalamu baru saja terkena tembok atau kenapa?" imbuhnya seraya memeriksa tubuh Chandra secara head to toe.


"Aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya sedang merindukanmu," ucapnya dengan manis.


"Hillih! Aku kira kamu kenapa, ya sudah aku ke klinik sebentar ya," ucap Alina.


"Aku merindukanmu," bisiknya seraya memeluk tubuh Alina dari belakang.


"Chan," ujarnya tanpa bergeming.


"Apa? Boleh kan kalau aku merindukan isteriku sendiri,"


"Chan, kamu sedang kenapa sih?" tanya Alina yang semakin bingung di buatnya.


Chandra segera memutar tubuh Alina, hingga membuatnya saling berhadapan. Kedua mata mereka saling bertatapan, perlahan Chandra menundukkan wajahnya untuk semakin mendekat ke wajah isterinya yang pipinya hampir seperti kue kukus berwarna putih dengan yang variatif bisa cokelat, kacang, daging dan lain-lain.


Alina berdiam diri, tak menolak apa yang di lakukan suaminya. Dia mengikuti permainannya dengan lembut, mereka ber*iuman sambil berdiri cukup lama hingga akhirnya Chandra menggendong Alina dan membawanya ke atas ranjang.


Ya, mereka sudah lama tak bermesraan semenjak Alina di ketahui positif dan emosinya yang tidak terkontrol membuat Chandra harus extra hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Alina.


Di Tempat yang berbeda,


"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Vin yang muncul dari ruang ganti.


Vannya masih terdiam enggan melihat wajah Vin. Kedua matanya menatap sebuah boneka beruang berukuran besar di sudut kamarnya, juga se-buket mawar putih kesukaannya.


Spontan Vannya segera turun dan berlari kecil mendekati apa yang di lihatnya. Wajahnya berseri, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah yang mereka inginkan.


Vin masih terdiam di tempatnya, memandangi isterinya yang sedang memeluk boneka dan se-buket bunga secara bergantian. Semalam tak melihatnya tersenyum membuat hidupnya terasa suram.


Akhirnya sekarang perasaannya telah kembali seperti semula, seolah matahari yang hampur tertutup awan mendung di siang hari bisa lolos melarikan diri dan kembali memancarkan cahayanya memberikan energi hangat bagi penduduk di bumi.


"Akhirnya, duniaku kembali cerah sekarang. Teruslah seperti ini Sayang. Aku takut kehilanganmu," batin Vin seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Kamu menyukainya?" tanya Vin mwncoba memberanikan dirinya untuk bertanya pada Vannya.

__ADS_1


"Hmm, tentu saja. Makasih Kak," ucapnya tersenyum pada Vin.


"Bahkan sekarang matahariku tersenyum dengan manis padaku. Terimakasih Tuhan," batin Vin bersyukur.


"Boleh aku memelukmu?" tanyanya lagi dengan ragu.


"Hmm," jawabnya mengangguk.


Vin segera memeluk isterinya dengan sangat erat. Kegundahannya telah sirna, awan mendung telah menghilang karena kalah dengan sinar mentari yang kuat.


"Makasih Sayang. Maaf aku sudah membuatmu sedih," bisik Vin mengecup kening Vannya berkali-kali dan kembali memeluknya dengan erat.


"Kak, jangan kencang-kencang ... ." bisiknya dengan lirih.


"Ah, ya. Aku lupa, maaf Sayang. Kamu mau apa sekarang? mau rujak? mau ice crem?" ujarnya bersemangat.


"Hmm ... Aku cuma mau Kakak," ujarnya kembali memeluk suaminya.


"Begitupun denganku, aku juga cuma mau kamu. Apa yang kamu baca semalam itu hanya salah paham Sayang," ucap Vin.


"Lalu, buat apa Kakak pergi menemuinya?" tanyanya memasang wajah cemberut.


"Sayang, teuslah tersenyum. Baru saja matahariku tersenyum, tapi sekarang mendung lagi. Senyumlah, nanti akan aku ceritakan semuanya padamu," ucapnya.


"Janji Sayang," menautkan kelingkingnya dengan kelingking Vannya.


"Okey! Sekarang ayo ceritakan padaku," ujarnya menagih janji.


"Baiklah. Aku akan menceritakannya," mengangkat tubuh Vannya, dan menggendongnya ke atas ranjang.


"Eh, ngapain?" tanyanya bingung berpegangan pada leher Vin dengan erat.


"Hanya memindahkan isteriku ke atas ranjang, supaya bisa sambil rebahan," jawabnya.


"Hmm, Okey. Yuk cerita," ucapnya sudah tak sabar.


"Hmm, Udah gak sabar rupanya. Cupp!" seraya mengecup pipi Vannya.


Vin mulai mengatur nafasnya, merilekskan badannya sebelum memulai bercerita. Sedangkan Vannya sudah siap sejak tadi hendak mendengarkannya karena dia juga penasaran.


"Kak! buruan,"


"Iya Sayang! Jadi Aura memintaku untuk menemuinya disana, dia ada masalah dengan Ibunya. Lalu dia memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya," ucapnya berkata jujur.


"Lalu Kakak mau?" tanyanya mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku mau jadi kekasihnya. Aku sudah memiliki kamu, Sayang!" ujarnya memeluk pinggang isterinya.


"Kakak tidak bohong kan?" tanyanya lagi.


"Apa kamu tidak percaya padaku?" ujarnya mendekatkan wajahnya.


"Pe-percaya Kak! Aku harap Kakak tidak menyalahgunakan kepercayaanku," sahutnya menyandarkan kepalanya di dada Vin.


"Hmm, Kakak janji ... ." ucapnya membelai rambut Vannya dengan lembut.


"Aku janji akan segera menyelesaikan masalah ini, Sayang! Maaf aku terpaksa berbohong padamu. Aku cuma tidak bisa lama-lama kamu cuekin," batin Vin merasa bersalah karena sudah berbohong pada isterinya.


Namun apa yang dia lakukan untuk kebaikan rumah tangganya. Apalagi saat ini ada bayi dalam kandungan isterinya, Vin tidak ingin keduanya kenapa-kenaoa karena masalah ini.


Sementara itu,


"Sudah pulang? Ada perkembangan apa?" tanyanya tanpa melihat Aura.


"Aku sudah bertemu dengannya. Sesuai dengan kemauanmu," jawabnya ketus.


"Jaga matamu. Berani kamu melotot padaku," ujarnya membentak.


"Haiss! Siapa juga yang melotot," gumam Aura pelan.


"Apa buktinya kalau kamu sudah menemuinya?"


"Lihat," menyerahkan ponselnya.


"Bagus! Tumben kamu pintar," ujarnya mengejek membuat Aura semakin kesal dan ingin mencabiknya.


"Arrrgghh! Aku tidak sebodoh seperti yang Ibu kira, Sudah kan? Aku capek!" berlalu masuk ke kamar dan membanting pintunya dengan cukup keras.


Aura segera masuk ke kamar, sebenarnya dia merasa lapar. tapi melihat wajah wanita licik itu membuatnya kenyang dan malas mengunyah makanan. Ia segera meraih ponselnya dan menanyakan kapan Ayahnya akan kembali ke Ibukota.


"Dasar anak tidak tau diuntung! Masih bagus aku mencarikan jodoh yang mapan untuknya, belum tentu dia akan mendapatkan jodoh yang seperti aku inginkan," ujarnya dengan senyum licik.


"Dulu aku boleh gagal mendapatkan pria yang aku cintai. Tapi sekarang aku tidak akan gagal lagi membalas dendam pada mereka yang sudah menolakku. Apalagi membuat Papah dan Mamahku tak mendukungku karena anak kecil itu," imbuhnya mengepalkan kedua tangannya.


_________


Waktu menunjukkan pukul 13.00, perlahan Alina mulai terbangun dari tidurnya setelah menemaninya suaminya yang tiba-tiba seperti anak kecil hingga membuatnya kebingungan.


"Hmm, pulas sekali tidurnya. Tapi aku lapar," batinnya memegangi perutnya yang mulai demo.


"Sayang, bangun ... aku lapar," ujarnya perlahan membangunkan Chandra yang masih terlelap.

__ADS_1


__ADS_2