
"Ya sudah, kalian berbincang-bincang lah, sebentar lagi sarapan akan datang. Mami sudah bilang, sarapan Nak Chandra di antar kesini juga. Nak Chandra titip putri Mami yang cantik ini ya." Ucap Kinan meraih handbag di atas meja samping bed Alina.
"Iya Mam." Jawab Chandra lagi menganggukkan kepalanya dengan sopan.
Kinan segera keluar meninggal kan Alina dan Chandra berdua di dalam. Kinan berbohong pada keduanya jika dia akan menemui dokter Lani. Kinan hanya ingin membiarkan putrinya bisa berduaan dengan Chandra, suaminya.
"Hanya ini yang bisa Mami lakukan untuk membantu kalian, Nak. Percayalah, Tuhan sudah menyatukan kalian dalam ikatan pernikahan bukan tanpa alasan. Tapi karena nama kalian sudah tersirat untuk berpasangan."
Kinan segera menjauh dari ruang rawat di lantai 4, dia memilih untuk pergi ke restauran samping Rumah Sakit menikmati segelas coffee late panas dengan sepiring Bread and Buterfly untuk menemaninya pagi ini.
Sementara itu. . .
"Ada seribu hal yang bisa membuatku untuk meninggalkanmu, tapi ada satu kata yang membuatku tetap disini. Aku cinta kamu."
Mungkin itulah sepenggal kalimat hang mewakili suasana hati Chandra pagi ini. Seperti mimpi rasanya, pagi ini dia bisa bersama wanita yang selama dua tahun ini ia tunggu-tunggu untuk segera membuka matanya.
"Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" Tanya Alina untuk membuka obrolan pagi itu di sebuah ruangan.
"Bisa di katakan iya, tapi mungkin kau tak mengingatnya. Karena kita bertemu dua tahun belakang ini. Kau tak perlu memaksa untuk bisa mengingatnya, biarkan ingatanmu pulih dengan sendirinya tanpa kau paksa." Ucap Chandra.
"Hmm. . dimana kita bertemu?" Tanya Alina lagi.
"Di Rumah Sakit ini, pagi itu ada seorang pasien pria datang karena alergi minyak angin. Dan bahkan kau mengolesi obatnya dengan tanganmu sendiri." Ucap Chandra menatap wajah Alina yang masih berusaha mengingat namu tidak bisa.
"Benarkah? Apa kau juga seorang dokter?" Tanya Alina lagi.
"Tidak, aku hanya keluarga pasien yang secara diam-diam mengamati mu. Mengagumi mu dalam diam karena skill mu." Pujinya membuat wajah Alina bersemu merah.
__ADS_1
"Kau pasti bohong, mana ada keluarga pasien yang fokus pada dokternya, sedangkan keluarga dalam keadaan yang mengkhawatirkan saat itu." Ucap Alina membuat Gavin tersenyum.
"Tapi memang itu kenyataannya, saat itu aku justru lebih fokus untuk melihatmu. Mengagumi kecantikan yang kamu miliki, meski kau sedikit galak." Ujar Chandra dengan tertawa renyah.
"Kalau aku galak, lalu apa yang kau kagumi dariku? Astaga, untuk apa kau mengagumi wanita yang galak Can." Ucap Alina tertawa karena merasa Chandra pria yang aneh.
"Karena hati tidak memandang siapa dan bagaimana sikapnya. Hati hanya bisa merasakan tanpa harus melihat." Ucap Chandra membuat Alina terdiam.
"Hmm. . Kau pasti suka modus ke semua wanita bukan? Jangan kamu tebar pesona pada semua wanita Can, karena tidak semua wanita menyukai pria yang hanya modus." Ucap Alina.
"Ya, seperti kamu. Bahkan kamu paling benci dengan Pria yang sejenis dengan modus." Ujar Chandra.
"Haha. . entahlah. Aku memang tidak ingat siapa dirimu? Dimana kita bertemu? Tapi aku yakin, kamu pria yang baik Can. Buktinya Mami percaya padamu untuk disini menemaniku." Ungkap Alina menatap ke depan di ikuti dengan hembusan nafas panjang.
"Hmm. .itu sekarang Na, semenjak aku mengenalmu. Dulu bahkan aku terkesan cuek pada wanita, termasuk mantan kekasihku yang sudah tiada." Ucap Chandra dengan gamblang tanpa ada perasaan berat ataupun apapun. Semua terucap begitu saja saat ini.
"Maafkan aku, sudah membuatmu teringat dengan mantan kekasihmu Can. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu teringat pada masa lalu mu Can." Ujar Alina dengan perasaan bersalah.
"Aku sudah mengikhlaskan nya, bahkan aku merasa seperti tak ada beban lagi saat aku bisa menceritakan semuanya Na. Semua yang bernyawa pasti akan kembali kepada sang Pemilik, bukan?" Ucap Chandra.
"Kau benar, kalau dengan menceritakannya kau bisa merasa lebih tenang. Ceritakan saja padaku Can, setidaknya otakku masih bisa terisi untuk mendengar curhatan mu." Ucap Alina dengan senyum manisnya.
[Flashback On]
Siang itu, Erlita datang menghampiri Chandra yang sedang duduk bersama teman-temannya di taman kampus menunggu jam kuliahnya tiba. Tanpa di sangka, Erlita mengungkapkan isi hatinya saat itu juga di depan yang lainnya.
Semua bersorak berteriak untuk menerimanya, aneh memang. Tapi itulah kenyataannya, Chandra sejenak menatap lekat-lekat Erlita. Gadis berparas cantik meski sedikit centil, tapi ada sedikit kriteria yang ada pada dirinya.
__ADS_1
Atas desakan yang lain, akhirnya Chandra mengiyakan, dan Erlita dengan semangatnya hendak memeluk Chandra yang baru saja menerima perasannya. Tapi Chandra malah menghindar, membuat Erlita hampir terjatuh.
Hubungan mereka berlanjut sampai beberapa tahun lamanya, meski tidak ada rasa cinta di hatinya. Tapi rasa nyaman tumbuh secara perlahan membuat Chandra tak bisa melepaskan Erlita.
Begitu pun dengan Erlita yang tidak ingin lepas dari Chandra karena dia tulus menyayanginya. Bahkan Erlita sempat mengancam akan bunuh diri jika Chandra meninggalkannya.
Hingga pada suatu hari, Erlita jatuh pingsan saat sedang berjalan di koridor kampus. Semua teman-temannya histeris, kebetulan Chandra sedang melintas di koridor yang sama. Salah seorang mahasiswi memanggil Chandra, dan memberitahukan jika Erlita yang pingsan.
Dengan sigap, Chandra segera membawa Erlita ke Rumah Sakit. Setelah di lakukan pemeriksaan terhadapnya, dokter mengatakan jika Erlita mengidap penyakit leukemia sejak beberapa tahun belakangan dan sudah memasuki stadium 3. Entah bingung atau sedih yang Chandra rasakan saat itu, dia hanya tidak menyangka jika wanita yang selama ini selalu ceria mengidap sakit yang cukup serius.
Semenjak saat itu, Chandra berjanji akan selalu di sampingnya meski belum ada rasa sekalipun. Mungkin lebih tepatnya, Chandra merasa iba pada Erlita hingga membuatnya masih bertahan untuk menemaninya hingga di saat-saat terakhirnya.
[Flashback Off]
"Hmm. . begitulah, aku sadar aku salah. . aku bahkan belum membalas perasaannya sampai dia menutup kedua matanya. Tapi aku sendiri tidak bisa jika harus berpura-pura sayang padanya. Aku jujur, aku belum menyayanginya. Tapi aku janji akan ada di sampingnya, dan sudah terbukti aku ada disampingnya saat dia menghembuskan nafas terakhirnya." Ucap Chandra tanpa jeda sedikitpun.
"Setidaknya aku tetap merasa bangga padamu Can, kau masih setia di sampingnya. Bahkan kau tak berusaha untuk mencari wanita lain saat itu." Ucap Alina.
"Hmm. . dan jujur sampai sekarang, aku masih menyimpan beberapa fotonya di lantai 3 di rumahku, aku pikir aku telah mencintainya, tapi ternyata salah. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau aku mencintainya. Tapi tak bisa aku pungkiri, kata cintaku hanya karena perasaan bersalahku saja. Dan mungkin karena aku bersamanya sudah hampir 4 tahun lamanya jadi aku merasa seperti kehilangan nya. Itu saja. Aku baik-baik saja." Ucap Chandra dengan sebuah senyuman mengembang di wajahnya.
______________________________________________________
Kok ceritanya muter-muter Thor?
Entahlah, efek semalaman ga bisa tidur kayaknya. Akhirnya di paksa ngetik daripada ga Up (curcol)😂 akhirnya ku tulis saja yang ada di otak seadanya.
Maaf jika bahasanya terlalu muter-muter. 🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. 😍😍😍
Happy Reading 😘😘