Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Calon Mertua?


__ADS_3

Mereka terus berjalan melewati lorong di lantai 3. Mereka mampir ke ruang jaga perawat untuk memastikan ruang perawatan Aura. Setelah mendapatkam informasi lagi, mereka melanjutkan perjalanan menuju ruangan yang terlihat dari ruang jaga perawat.


"Kamu masuk dulu aja Wi," ucap Rico.


"Kita kesini berdua, kenapa tidak masuk berdua aja. Udah yuk ...!" ajaknya seraya menggandeng tangan Rico untuk masuk.


Tokk ... tokk ...!


Cklekk ...!


"Selamat sore Pak, Aura ...!" sapa Dewi dengan ramah.


"Ngapain kalian kesini?" sambutan yang tak bersahabat dilontarkan dari mulut Aura.


____________


"Selamat sore, silakan masuk ...!" jawab Pak Ruli dengan ramah.


"Terimakasih Pak," ucap Dewi dengan sopan.


"Ayah, suruh mereka keluar. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun," ujarnya tanpa menoleh sedikitpun pada Dewi dan Rico.


"Tapi Nak, kenapa? Mereka kan datang dengan baik-baik," tanya Pak Ruli dengan sabarnya.


"Apa Ayah tidak mendengarku? Aku tidak mau melihat siapapun disini, kecuali Ayah ...! Mereka datang hanya untuk mengejekku," ujarnya tersulut emosi.


"Ta-tapi Ra," sela Dewi namun Rico menahannya.


"Wi, kita keluar saja. Jangan buat Aura semakin emosi, kondisinya masih belum stabil. Ayo," bisik Rico seraya menggandeng tangan Dewi.


"Ya udah, kalau begitu Ayah yang akan menemui mereka. Kamu tunggu disini sebentar ya Nak," ucap Pak Ruli.


Rico menggandeng tangan Dewi mengajaknyabuntuk segera keluar agar Aura tak merasa terganggu. Kedua mata Aura menatap tajam, melihat mereka bergandengan tangan di depan mata kepalanya sendiri.


"Maaf Pak, kalau kedatangan kami sudah mengganggu," ujar Dewi dengan sopan.


"Tidak apa Nak. Kalian tidak mengganggu, hanya saja saat ini suasana hati Aura sedang tidak baik. Saya sebagai Ayah dari Aura meminta maaf yang sebesar-besarnya karena sikap Aura terhadap kalian," ucapnya dengan tulus.


"Tidak ... tidak ...! Bapak tidak perlu meminta maaf, kami bisa memahaminya Pak. Apalagi saat ini kondisi Aura yang maaf ... seperti itu," ujar Dewi.


"Iya Nak, makasih ya sudah datang ...!"


"Sama-sama Pak,"

__ADS_1


"Oh ya, sebelumnya ... kami perkenalkan diri dulu. Saya Dewi dan ini Rico. Kami adalah teman Aura di Perusahaan Pak," ucap Dewi di barengi dengan anggukan kepala Rico yang seolah mengiyakan.


"Salam kenal ya, saya Ruli Ayah dari Aura," jawab Pak Ruli.


"Maksud kedatangan kami kesini adalah ... untuk menyampaikan amanah dari Pak Vin atasan kami. Silakan Pak," menyerahkan amplop berwarna cokelat susu.


"Apa ini?" ujarnya tak mengerti.


"I-ini banyak sekali ... untuk apa? Tidak usah, lagian anak saya kan yang sudah bersalah ...!" imbuhnya merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Pak Vin sudah memaafkan semuanya Pak, kami sudah melupakan apa yang terjadi kemarin lusa. Biar bagaimanapun, Aura sudah banyak membantu selama ini. Jadi dia berhak mendapatkannya," ujar Dewi menyampaikan apa yang Pak Vin sampaikan padanya beberapa saat yang lalu.


"Ya Tuhan, sampaikan terimakasih saya pada Pak Vin ya Nak. Sampaikan juga permintaan maaf saya karena sudah gagal mendidik anak saya, sehingga melakukan kesalahan yang hampir saja merugikan mereka," ucapnya.


"Iya Pak, akan kami sampaikan. Bapak yang sabar ya, saat ini Aura hanya belum bisa menerima keadaannya. Hanya dukungan Bapak lah yang bisa menguatkannya," ucap Dewi.


"Iya ... saya akan menebus kesalahan saya, saya akan sabar dan terus berada di sampingnya apapun yang terjadi ...!" ucapnya.


...AURA POV...


Heh ..!


Untuk apa mereka datang? Untuk menertawaiku? Melihat kondisiku yang cacat. Atau mau pamer kemesraan di depanku? Dasar pria tak bisa di pegang omongannya.


Kemarin saja dia bernafsu padaku, tapi sekarang setelah tau kondisiku yang seperti ini, dia menggandeng wanita lain yang aku kenal. Dasar brengsek ...!


...RICO POV...


Aku merasa sedih melihatmu yang sekarang Ra. Aku datang untuk menghiburmu, tapi sepertinya sekarnag bukan waktu yang tepat. Kamu tetap cantik di mataku, aku tidak pernah melihat fisikmu.


Semoga kamu bisa melewati fase terberat dalam hidupmu. Aku akan terus ada untukmu, sampai kapanpun. Jangan lama-lama terpuruk dalam keadaan yang sulit.


Hidup bukan hanya untuk menangisi keadaan buruk. Tapi menikmatinya, mengubah yang buruk menjadi lebih baik. Buatlah hidupmu senyaman mungkin, apa yang membuatmu senang lakukanlah ...! Selama tidak merugikan orang lain.


Aku percaya ... kamu adalah orang baik. Hanya saja kamu terpengaruh sedikit sifat yang tidak baik. Tapi aku yakin, cepat atau lambat kamu akan kembali pada dirimu sendiri.


________


"Ric, udah? Apa masih mau disini dulu?" tegur Dewi yang membuyarkan lamunan Rico.


"A-apa? Udah? Ya udah yuk ...!" sahutnya dengan gugup.


"Kalau masih mau disini, aku temani. Kamu masih mau lihat dia kan? Lihatlah sepuasmu ...!" ujar Dewi.

__ADS_1


"Eh? Kenapa gitu? Ini udah sore, ayo pulang. Biarkan Aura isterahat, dan Ayahnya juga pasti ingin istirahat," ucap Rico.


"Yakin mau pulang?" tanya Dewi lagi.


"Ya-yakin lah ... ayok ...!" sahutnya.


"Ya udah, pamitan dulu gih sama calon mertua," goda Dewi.


"Heh? Apa lagi ini?" gumam Rico, tersirat senyum diwajahnya yang tak bisa diartikan oleh siapapun saat ini.


"Pak, kami pamit pulang dulu ya," ujar Rico.


"Oh iya, Nak. Makasih ya sudah datang," jawab Pak Ruli.


"Iya Pak sama-sama. Salam untuk Aura," ucap Rico.


"Iya, nanti akan saya sampaikan ...!" jawabnya lagi.


"Ehhmm ... eehhmm ...!" sahut Dewi yang pura-pura batuk.


"Pak, kami pamit dulu ya. Bapak yang sabar, dan tetap semangat untuk Aura ...!" ujar Dewi.


"Iya Nak Dewi, makasih banyak ya. Sampaikan salam saya pada Pak Vin," ucapnya.


"Baik Pak, akan saya sampaikan ...!" jawab Dewi.


Dewi melenggang ke pintu mengintip Aura sedikit dan berpamitan padanya.


"Aura ...! Kami pamit ya. Next time, aku akan main mengunjungimu ...! Get well soon Aura," ucap Dewi.


"... ."


Dewi dan Rico segera melenggang pergi meninggalkan lantai 3. Suasana di sekelilingnya sudah sangat sepi, tidak ada orang lain yang duduk di kursi atau di lantai seperti saat mereka datang.


Mungkin karena waktu sudah hampir maghrib, Rico dan Dewi terus berjalan beriringan saling melempar canda untuk menghangatkan suasana.


"Astaga ...! Rico, aku takut ...!" pekik Dewi menutup wajahnya dengan bahu Rico.


"Tenanglah, ada aku. Toh ada petugas yang memabawanya kan, kecuali kalau brankar berisi jenazah itu jalan sendiri. Aku pasti takut dan udahbkari duluan ninggalin kamu," celetuk Rico.


"Aihh ...! Tega sekali ninggalin. Apa mereka sudah lewat?" tanya Dewi yang masih bersembunyi di bahu Rico.


"Udah Wi, udah jauh kok mereka. Ayo pulang sebelum mereka yang terlihat muncul disini," ujarnya semakin membuat Dewi ketakutan.

__ADS_1


"Iiishhh ...! kamu ini," gumam Dewi.


"Ayo, sini tanganmu biar gak takut," jemarinya saling bersentuhan menyatukan dua tangan mereka selama perjalanan dari lorong sampai parkiran Rumah Sakit.


__ADS_2