
Sesampainya di Kedai Ice Cream Kinan menarik tangan Randy untuk mengikutinya, dan Sofi juga Lia sudah berjalan di belakangnya. Randy sebelumnya tidak pernah mau diajak ke Kedai Ice Cream, Rayna saja tidak bisa membujuk Randy meski sudah berguling-guling sekalipun.
"Mba, aku mau rasa Vanila 1, Mas mau rasa apa?"Tanya Kinan pada Randy.
"Aku tidak mau."Jawab Randy.
"Baiklah, Sofi, Lia. . kalian mau rasa apa?"Tanya Kinan.
"Cokelat."Jawab Sofi.
"Strawbery"Jawab Lia.
"Tambah Coklat 1, strawbery 1 ya mba."Ujar Kinan.
Mereka segera mencari tempat duduk, Sofi dan Lia memilih memisahkan diri dari Randy dan Kinan karena mereka tidak ingin menjadi obat nyamuk di siang hari.
"Mas Randy kenapa?"Tanya Kinan yang melihat Randy diam saja sejak tadi.
"Tidak apa. . aku akan bertemu dengan Om Harun."Ujar Randy.
"Kapan? Apa karena masalah tadi siang itu? Maafkan aku, gara-gara aku Mas jadi ada masalah dengan dia.'Ujar Kinan merasa bersalah.
"Tidak sayang, bukan kamu yang salah. Mas hanya ingin memberikan peringatan pada Om Harun agar anaknya tidak mengganggumu lagi, aku tidak mau dia berbuat yang lebih lagi padamu."Ujar Randy.
"Aku tidak apa Mas. . . Aku baik-baik saja. . Ada Lia yang menemaniku. . "Ujar Kinan.
"Hmm. . . Mas tahu kamu kuat. . Tapi mas tidak suka kalau ada orang lain yang berbuat kurang ajar padamu sayang. Percayalah, tidak akan ada kekerasan." Ujar Randy.
"Baiklah. . tapi mas janji ya, jangan main tangan. Aku tidak mau masalah ini semakin besar dan dapan mencoreng nama baik Mas dan keluarga Mas. "Ujar Kinan.
"Iya sayang. Sekarang makanlah Ice Creamnya."Ujar Randy dengan manis.
"Mas tidak mau? Ayo cicipi sedikit saja."Ujar Kinan menyuapi Randy.
"Aku tidak suka ice cream sayang. "Ujar Randy tapi tetap membuka mulutnya.
"Enakan?? "Ujar Kinan.
"Sedikit. . . "Jawab Randy tersenyum.
Kinan menikmati Ice Cream di depannya, sambil sesekali menyuapi Randy untuk membantu agar cepat habis. Lia tanpa di suruh sudah mengambil beberapa momen yang bisa abadikan.
__ADS_1
"Kalau aku jadi kamu, pasti aku sudah memukul anak kecil itu."Ujar Sofi.
"Tanganku juga gatal, makanya aku tekan saja tangan dia di belakang. Mungkin kalau di luar kampus aku bisa berbuat lebih dari itu. Tapi aku tidak mau Kinan terbawa-bawa." Ujar Lia.
"Hmm... Kau benar. Bagaimana mereka bisa bertemu?"Tanya Sofi.
"Kinan masuk di kelasnya, aku saja kaget. Dan kau tahu? Aku mengambil beberapa gambar wajahnya saat tidak memperhatikan materi tadi."Ujar Lia.
"Astaga. . kau pintar sekali."Ujar Sofi saat melihat foto Erika dengan wajah cemberut.
"Aku akan menjadikan ini senjata jika aku bertemu dengan dia lagi dan macam-macam padaku atau Kinan." Ujar Lia.
"Pak Randy juga memintaku untuk mengatur pertemuan dengan Pak Harun. Semoga saja Pak Randy tidak memukulnya."Ujar Sofi.
"Memang kenapa kalau Pak Randy memukulnya?"Tanya Lia.
"Dia akan menjadikannya uang dengan memeras Pak Randy atau keluarganya."Ujar Sofi.
"Huhhh... Anak dan Ayah sama saja."Ujar Lia.
"Like father like daughter kan?"Ujar Sofi.
"Tapi sayangnya sikap jahat yang menurun. . "Ujar Lia.
"Hmm. . .Asal tidak main tangan dan menyentuh Kinan sih aku santai saja."Lia.
"Bagaimana kabar Devi."Tanya Sofi.
"Dia sudah bekerja seperti biasa. Aku harap dia juga segera sadar kalau saingan dia sangat berat."Ujar Lia.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 16.00, Randy meminta Lia untuk mengantar Kina pulang, karena mendadak Om Harun menghubunginya dan meminta pertemuan mereka hari itu juga.
"Mas hati-hati ya, jangan main tangan. . kalau bisa rekam diam-diam supaya kalian ada bukti jika sewaktu-waktu mereka membuat cerita baru. "Ujar Kinan.
"Iya sayang. . disana sudah ada pelayan yang Sofi perintahkan untuk merekam diam-diam. Kamu pulang ya."Ujar Randy.
"Sofi, jagain mas Randy ya. . ingatkan dia kalau emosinya mulai tidak stabil."Ujar Kinan.
"Kau percaya kan padaku?"Tanya Sofi.
"Hmm. kali ini aku percaya."Ujar Kinan.
__ADS_1
"Hati-hati sayang. . salam untuk Ayah dan Bunda."Ujar Randy.
"Iya sayang. Kabari aku setelah selesai ya."Ujar Kinan.
"Iya sayang. CUPP." Randy mencium kening Kinan.
Lia dan Kinan pulang lebih dulu, di sepanjang perjalanan Kinan diam saja memikirkan Randy yang akan bertemu dengan Pak Harun. Dia takut jika Randy akan kenapa-kenapa. Melihat Kinan yang gelisah membuat Lia khawatir, dia menepikan mobilnya.
"Kin, kau baik-baik saja?"Tanya Lia.
"Hmm.. aku baik-baik saja Li. Aku hanya takut memikirkan Mas Randy."Ujar Kinan.
"Kau percayakan saja pada Pak Randy dan Sofi, mereka pasti sudah mengatur dengan matang."Ujar Lia.
"Hmm.. terimakasih Li. . . kamu selalu membuatku merasa lebih tenang." Ujar Kinan.
"Baiklah, kita lanjutkan perjalanan pulang ya."Ujar Lia.
Namun tiba-tiba di tengah perjalanan, ada sebuah mobil yang melajukan dengan kecepatan tinggin dari arah yang berlawanan dan memakan jalur lawan arah. Lia berusaha untuk bisa mengendalikan mobilnya agar tidak menabrak pembatas jalan.
"Kinan, ambil bantal di kursi belakang untuk menutup wajahmu. Cepat."Ujar Lia tetap mengendalikan laju mobik yanh sudah tidak stabil.
"Baiklah. Hati-hati Lia, aku tidak mau kau kenapa-kenapa. "Ujar Kinan tanoa melihat sekitar karena wajahnyabtelah ia tutupi dengan bantal sesuai perintah Lia.
BRUKKK. . . .
Mobil menabrak pohon besar yang ada disisi jalan membuat Kinan dan Lia tidak sadarkan diri. Warga yang berada di dekat lokasi kejadian segera mengeluarkan Konan dan lia yang masih berada di dalam mobil. Salah satu warga ada yang mengambil tas Kinan dan juga Lia agar mereka bisa menghubungi keluarganya.
Setelah Kinan dan Lia juga tas keduanya mereka keluarkan dari mobil dan menjauh dari lokasi mobil meledak dwngan begitu keras. Mereka segera memanggil ambulance dan membawanya ke RS. Salah satu warga yang membawakan tas Kinan juga Lia segera menyerahkan kepada petugas medis untuk agar bisa menemukan odentitas kprban dan juga keluarga dari korban.
Kondisi Kinan dan Lia masih kritis, keduanga masih menjalani perawatan di ruang yang sama. Lia mengalami luka robek cukup parah di kepalanya, sedangkan Kinan dengan Cidera Kepala Sedang yang membuatnya tidak sadarkan diri.
Tuut...Tuut.... Tuut...
"Hallo Lia. . .ada apa?"Jawab Sofi yang memegang ponsel Randy karena saat ini Randy sedang berbicara dengan Pak Harun.
"Selamat sore. . benar ini nomor Bapak Randy?"Tanya seorang perawat.
"Oh iya benar, saya sekretaris Pak Randy tapi beliau sedang ada kepentingan. Maaf ini siapa? Kenapa ponsel teman saya ada pada anda?"Tanya Sofi.
"Maaf Ibu, Kami dari RS. Permata mengabarkan bahkan Ibu Lia dan temannya mengalami kecelakaan."Ucap seorang perawat.
__ADS_1
"Apa??? Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang?"Tanya Sofi dengan panik.