Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Makhluk Kecil yang Tampan


__ADS_3

"Rianti. . kalau kamu terus berbicara, nanti suamimu tidak jadi makan." Ujar Nenek pada Bunda.


"Maaf Bu, Rianti hanya tidak sabar ingin bertemu dengan anak dan cucu. Ibu juga tidak sabar kan ingin bertemu dengan cicit?" Tanya Bunda membuat Nenek tersenyum karena apa yang dia ucapkan memang benar.


Matahari sudah semakin beranjak naik ke atas. Bunda, Ayah dan Nenek sudah tiba di Rumah Sakit Permata. Setelah turun dari mobil, mereka bertemu dengan Mamah dan yang lainnya di parkiran.


"Bunda. . ." Ucap Rayna mencium punggung tangan Bunda.


"Ray, cantik sekali kamu Nak." Ucap Bunda.


"Terimakasih Bunda.. " Ujar Rayna tersipu malu.


"Bunda, akhirnya bertemu juga kita. Selamat ya Bun, kita sudah memiliki cucu lagi. . ." Ujar Mamah memeluk Bunda.


"Iya Bu irene, saya sudah tak sabar ingin menggendongnya. Nana juga sudah disini kata Nak Maya, saya juga ingin melihat kondisinya." Ujar Bunda pada Mamah.


Bunda dan Mamah berjalan beriringan di samping kanan dan kiri Nenek menyusuri lorong Rumah Sakit yang panjang. Beberapa orang duduk di tepian lorong sambil menyapa satu sama lain.


Ruang Kinan berada di lantai 3, sedangkan lift berada di ujung lorong. Rayna bergelayut manja di pundak papahnya yang masih kuat karena rajin olahraga.


Sedampainya di depan lift, mereka harus menunggu hingga lift sampai di lantai satu karena baru saja ada orang yang masuk untuk naik ke lantai dua.


Sesampainya di lantai 3, mereka lagi-lagi harus berjalan menuju ruangan Kinan yang berada di ujung lorong lantai tiga. Semua perawat yang berada di lantai 3 menundukkan kepalanya dan melemparkan senyum ramahnya kepada mereka.


Tokk tokk tokk. . .


"Selamat pagi. . .kakak-kakak yang cantik dan tampan. . . " Ucap Rayna dengan senyuman manis yang menghiasi wajah imutnya.


"Selamat pagi Adik Rayna yang cantik. . " Celetuk Sofi membuat wajah Rayna bersemu merah.


RAYNA



"Selamat datang Bapak, Ibu. . Bunda Ayah dan Nenek. . ." Ucap Sofi dengan sopan diikuti Maya yang berdiri di sampingnya.


"Selamat pagi. . . Terimakasih sudah menjaga anak dan cucuku." Ujar Mamah terharu melihat mereka yang dengan setia berbagi tugas menjaga Alina dan Kinan.


"Sama-sama Bu. . " Ujar Maya.

__ADS_1


"Mungkin kalau tidak ada kalian, kami akan kewalahan harus berbagi tugas. Kalian orang-orang yang baik." Ujar Bunda mengusap pipi Sofi dan Maya secara bergantian.


"Para Oma dan Opa datang. Kinan dan Alina baru saja tertidur. " Ujar Randy membuat Mamah dan yang lainnya tertuju pada bed besar yang berisikan Alina dan Kinan di sana.


"Kinan sudah sadar?" Tanya Bunda.


"Sudah Bunda, Kinan sadar satu jam yang lalu." Ujar Randy menjelaskan.


"Syukurlah. . . ikut senang mendengarnya. Si cantik ini kapan sampai disini? Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Mamah mengusap Alina dan Kinan secara bergantian.


"Nana baik-baik saja, nanti pukul 2 dia akan menjalani pemeriksaan paru (rontgen) karena dia banyak menghirup obat bius." Ujar Keanu yang setengah jam yang lalu menghubungi dokter di rumah sakitnua secara langsung untuk memastikan keadaan Alina.


"Syukurlah, biarkan mereka tidur. Sekarang antar kami melihat cucu yang satunya." Ujar Papah.


"Baiklah akan aku antar. Nenek disini saj ya. Nanti Randy fotokan untuk Nenek." Ucap Randy pada Nenek yang duduk disofa.


"Hmm. . fotokan yang banyak, Nenek ingin melihat cicit Nenek yang satunya." Ujar Nenek.


"Semuanya, aku titip anak dan isteriku ya." Ujar Randy.


Randy mengantarkan Mamah dan yang lainnya melihat Adik Vin di ruang Bayi. Mereka hanya melihatnya dari balik kaca. Tak henti-henrinya Mamah dan yang berucao syukur saat melihat Adik Vin dalam keadaan sehat.


"Namanya siapa Kak?" Tanya Rayna.


"Merviano Putra Ardhana, aku ingin dia menjadi pemimpin dalam segala bidang yang di segani." Ujar Randy yangbtak henri-hentinya menatap putra kecilnya di dalam sana.


"Nama yang bagus, kamu harus menjadi contoh yang baik untuknya. Dan berlaku adil pada anak-anakmu yang lain." Ucap Ayah menepuk pundak Randy.


"Iya Ayah, doakan supaya aku bisa berlaku adil pada anak-anakku. Seperti kalian yang tak pernah membeda-bedakan." Ucap Randy.


"Kamu pasti bisa. . Kami tidak bisa sepenuhnya ikut dalam urusan rumah tangga kalian. Kami hanya bisa mengingatkan saja selaku orang tua." Ucap Papah dengan bijaknya.


"Hmm. . .terimakasih Pah." Jawab Randy penuh haru.


Rayna tak henyi-hentinya mengambil gambar Adik Vin karena merasa gemas dan lucu. Sedangkan Bunda dan Mamah saling merangkul menatap Adik Vin penuh kasih sayang.


"Bunda, aku sudah tidak sabar ingin menimang Adik Vin. Dia lucu sekali." Ujar Mamah.


"Iya Bu, saya juga tidak sabar ingin menimangnya. Harusnya sekarang kita sudah bergantian menimang dia ya Bu." Ujar Bunda.

__ADS_1


"Iya Bun . . Adik Vin bayi yang kuat seperti ibunya. . ." Ujar Mamah lagi.


"Sebentar lagi kakak akan tergantikan oleh Adik Vin Kak." Ujar Rayna.


"Mana bisa dia menggeser posisiku yang di kerumuni banyak wanita. Dia masih kecil. . " Ujar Randy.


"Tentu saja bisa, lihat saja sekarang, semua mata tertuju padanya. Dan akupun begitu, keponakan aku sangat tampan." Ujar Rayna.


"Ketampanannya menurun dariku. . .apa kau lupa? Kakakmu ini sangat tampan?" Ujar Randy.


"Haihhh. . .Papi macam apa yang tidak mau kalah dengan anaknya. Adik Vin masih kecil saja sudah kau cemburui kak." Ujar Rayna bergelayut manja pada Randy.


Di sisi Lain. ..


"Hoaammm. . aku ketiduran. . " Ucap Kinan dengan satu tangan menjadi bantalan Alina.


"Bunda dan yang lain datang, tapi mereka sedang melihat Adik Vin." Ucap Keanu.


"Aku ingin melihatnya?Bagaimana wajahnya" Tanya Kinan pada Keanu.


"Dia sangat tampan, besok baru perawat antarkan kesini. Kau ingin melihatnya? Aku sudsh mengambil gambar wajahnya untukmu." Ujar Keanu menyerahkan ponselnya pada Kinan supaya Kinan bisa melihat putra kecilnya yang saat ini masih terpisah dengannya.


Inikah putraku? Makhluk kecil yang ada di dalam perutku selama 8 bulan ini. Mami ingin memelukmu Nak, Mami ingin menciummu menyanyikan lagu untukmu tidur.


Kinan menatap lekat-lekat wajah putranya. Tak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Keanu mengusap punggung Kinan untuk memberinya kekuatan.


Melihat Kinan menangis Sofi dan Maya mendekatinya untuk menangkan Kinan. Mereka memeluk Kinan secara bersamaan dan mengelus punggungnya.


"Secepatnya kalian akan bersama. Dia bayi yang kuat. . .Dia pasti bangga memiliki Mami yang kuat sepertimu." Ujar Maya.


\=\=\=\=\=\=\=\=


πŸ’πŸ’JANGAN LUPA BACA JUGA 'LOVING SLOWLY' πŸ’πŸ’πŸ™πŸ™


Maaf typo masih suka nyempil.


Ditunggu Kritik & Sarannya πŸ™


Jangan lupa meninggalkan Jejak untukku (Like, Komen, Rate 🌟🌟🌟🌟🌟, jika berkenan boleh juga vote πŸ™πŸ™πŸ™)

__ADS_1


Terimakasih 🌹🌹


__ADS_2