
"Terus, Mas kenapa kayak gitu?" tanya Mami.
"Tidak Sayang, aku cuma lagi menikmati suasana disini. Meskipun matahari di atas sana terik, tapi udaranya masih segar di tubuh. Membuatku betah disini," ujar Papi beralasan.
"Aiih! Mas, kita menikah sudah lama. Aku tau kamu sedang ada masalah sekarang. Tapi kalau kamu belum bisa cerita, tidak apa. Yang harus kamu tau, aku siap jadi pendengarmu kalau butuh teman cerita," ujar Mami dengan lembut.
"Hmm, makasih Sayang. Mungkin belum saatnya aku cerita. Tapi janji akan menceritakannya padamu," ucap Papi tak kalah lembutnya.
"Okey Mas! Ya sudah aku ke bawah dulu mau minum. Mas jangan kelamaan di luar, ingat Mas sudah tidak sekuat dulu. Bisa saja Mas jatuh karena terhempas angin yang tidak menabrak Mas," celetuk Mami.
"Iya Sayang," sahutnya tersenyum lebar.
Itulah kenapa Papi memilih Mami untuk menjadi teman hidupnya. Ibu untuk anak-anaknya dan juga keluarga kecilnya. Meski dulu hubungan mereka hanya sebatas kekasih kontrak, tapi akan berakhir hingga ke syurga.
____
Siang berganti malam, langit diatas pun telah menghitam. Terdengar suara gemuruh saling bersahutan, pertanda hujan akan segera turun mengguyur bumi di malam hari.
Makan malam telah selesai 30 menit yang lalu, Alina dan Kedua orangtuanya duduk di teras menikmati suasana malam yang dingin namun terasa hamgat dengan adanya Mami dan Papi di sisinya.
"Mam, Pi ... kalian tau? Sudah lama aku menginginkan ini, aku pikir itu cuma akan menjadi anganku. Tapi sekarang Tuhan sudah mengabulkan keinginanku untuk duduk di antara kalian setelah hampir 4 tahun lamanya tidak merasakan ini lagi setelah aku menikah," ujar Alina dengan sendu.
"Nak, jangan pernah memendam sendirian. Katakan apa yang kamu inginkan, selama itu bisa kami lakukan untukmu. Pasti akan Mami dan Papi lakukan, iya kan Pi?" ujar Mami melirik Papi.
"Hmm, Mamimu benar Nak. Jangan pernah sungan untuk meminta pada kami. Sampai kapanpun kamu adalah putri kami, meski saat ini kamu sudah menikah," imbuh Papi pada Alina.
"Iya Mam, Pi. Maafin Nana yang masih sering memendam sendirian. Nana hanya tidak ingin merepotkam kalian, setelah merawatku dengan kasih sayang selama ini," ujar Alina.
"Hey! Liat Mami, Emang Mami pernah mengeluh saat kamu memanggil Mami?" tanya Mami memegamg dagu Alina dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak, justru Mami terlihat senang saat aku memanggil Mami," jawab Alina.
"Itulah kenapa Mami memintamu untuk tidak lagi menyembunyikan segala sesuatunya sendirian. Kamu punya Mami, Papi, dan yang lainnya. Kita hidup tidak cukup sendiri, tapi juga peran dari orang lain bukan?" ujar Mami lagi dengan bijak.
"Hmm, Mam ... Pi. Aku ingin kalian tinggal bersamaku disini. Tapi rasanya tidak mungkin," ujarnya dengan lirih.
"Sayang. Mami dan Papi tidak keberatan untuk itu, tapi tidak baik jika kami ikut tinggal disini. Kalian juga memiliki privasi bukan? Kalau kamu kangen sama kita, datanglah ke rumah. Atau panggil kami, pasti kami akan datang untukmu," ucap Papi membuat buliran bening di ujung matanya lolos begitu saja.
Chandra tak ikut duduk dengan mereka, ia ingin membiarkan isterinya menghabiskan waktunya bersama kedua orangtuanya. Ia tau, selama ini isterinya sering terlihat murung saat tak sengaja melihat foto kedua orangtuanya.
Bagi Chandra itu wajar, karena pernikahan mereka yang terkesan mendadak. Pasti Alina belum puas menghabiskan waktunya bersama keluarganya, dan tiba-tiba harus menikah dengan pria tengil yang tak di kenalnya.
...Sementara itu,...
Vannya dan Vin memilih untuk makan malam di saung halaman tengah. Menu makan malam ini adalah Ayam pedas bumbu kuning kemangi, tempe goreng tanpa tepung dipotong dadu, telur mata sapi dan juga ikan asin.
Meski menu sederhana, namun bisa memanjakan perutnya yang sudah merasa lapar. Masakan Bi Minah tak perlu diragukan lagi, dulu katanya dia menjadi koki undangan di acara hajatan di kampungnya.
Untunglah waktu itu tidak sengaja bertemu dengan Vannya dna vin yang sedang belanja bulanan. Dna tanpa berpikir panjang, setelah mendengar cerita Bi Minah. Mereka mengajak Bi Minah untuk bekerja di rumahnya.
"Hmm ... akhirnya aku kenyang," celetuk Vannya mengelap mulutny dengan tissue.
"Aku senang melihat nafsu makanmu meningkat. Tak perlu khawatir dengan berat badan, yang terpenting Ibu dna Baby sehat," ujar Vin menatap isterinya dengan bangga.
"Heheh, maaf ya Kak. Akhir-akhir ini aku suka khilaf kalau lihat makanan," ucap Vannya tersipu malu.
"Haiss! justru aku senang Sayang, berat bada naik itu tandanya kamu bahagia," sahutnya.
"Tapi kalau aku gemuk, Kakak tidak akan berpaling ke yang lain kan? Termasuk ... ." ujarnya dengan pelan.
__ADS_1
"Tidak akan, secantik apapun wanita di luar sana. Dimataku cuma kamu yang paling cantik," ujar Vin.
"Ah itu kata-kata buaya Kak!" ujar Vannya.
"Eh? Berarti aku salah berguru. Ya sudah besok aku cari kata-kata lain untuk isteriku," ujar Vin lagi.
"Kamu udah kasih kabar ke Mamah sama Papah?" tanya Vin mengingatkan isterinya.
"Kasih kabar apa?" sahut Vannya.
" ... ." Vin hanya tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya melihat aksi isterinya.
"Ah, ya! Aku ingat, aku belum menghubungi Mama sama Papa. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa lupa. Makasih ya Kak udah ingatkan aku. Kalau gitu, aku permisi dulu," uajrnya bergegas turun mencari sndal di depan saung bagian bawah.
Tring!!
Sebuah pesan masuk dari Kak Chandra, ia emminta Vin untuk menemuinya besok siang di sebuah restoran. Vin segera membalas dan mengiyakannya, pasti Kak Chandra akan membahas seputar Aura.
Setelah mengirimkan pesan pada Kak Chandra, Vin segera meminta Dewi untuk mengatur schedule memindahkan/menmbatalkan jadwal pertemuan jika ada.
• *Dewi! ubah schedule/batalkan untuk besok siang saat wkatunya makan siang. Aku akan pergi satu jam sebelum makan siang di mulai. Jadi atur lagi jika ad apertemuan di jam 11-12 ataupain dua jam setelah makan siang berlangsung,
Tring*!!!
Tiga menit kemudian, balasan pesan dari Dewi masuk den mengiyakan perintahnya tanpa banyak bertanya lagi.
...VIN POV...
Semoga semua berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Semoga Ibunya Aura terketuk pintu hatinya dan tidak lagi memaksa Aura untul mendekati pria yang sudah beristeri.
__ADS_1
Meski populasi pria dan wanita lebih sedikit, bukan berarti wanita bebas bermain sesuka hatinya mengganggu rumah tangga orang lain hingga menghancurkan komitmen pernikahan yang sudah di bangun mungkin cukup lama.
Lagian kenapa Aura tidak mencari pasangan lain saja? Mungkin ibunya takut Aura akan lebih fokus bekerja dan mengabaikan maslaah percintaannya. Atau mungkin ... Ibunya sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu.