Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Prepare


__ADS_3

" Kenapa? Kau kan sakit. . . " Ujar Maya.


"Justru karena aku dekat dengan dia jadinya jantungku seperti ini, mungkin ini tanda kalau aku tidak boleh dekat-dekat dengannya May. Aku masih ingin hidup." Ujar Sofi pada Maya.


"hahaha. .Astaga. .Jadi karena kau dekat dengan jadi jantungmu seperti itu? Lalu saat kau dekat dengan Revan atau Bagas apakah jantungmu juga berdebar seperti saat ini?" Tanya Maya yang semakin penasaran.


"Tidak, biasa saja. Sungguh. . ." Ujar Sofi dengan yakin.


"Apakah sebelumnya kamu pernah merasakan seperti sekarang?" Tanya Maya lagi pada Sofi..


"Maksud kamu?" Tanya Sofi.


"Ya, apa dulu kau pernah merasakan seperti ini saat dekat dengam seorang pria yang kau suka?" Tanya Maya menjelaskan.


"Tidak, kau kan tahu aku dekat dengan pria hanya sebatas rekan kerja dan bisnis. Itupun karena harus ikut dengan Pak Randy." Ujar Sofi lagi.


"OK Fixed. .selamat, akhirnya kau merasakan falling in Love di usiamu yang hampir kepala 3. Aku oikir kau akan menjadi jomblo seumur hidup. Tapi sekarang aku lega. So, tak perlu khawatir. Itu wajar dan umur terjadi pada orang yang sedang jatuh cinta Sof." Ujar Maya menepuk pundak Sofi.


"Benarkah? Kau juga merasakan hal yang sama saat bertemu atau dekat dengan Revan?" Tanya Sofi pada Maya.


"Hmm. ." Maya menganggukan kepalanya.


"Oh seperti itu ya. . .yahhh. . ."Ujar Sofi menghembuskan nafasnyabdengan berat.


"Lah, kenapa?" Tanya Maya lagi.


"Berarti aku terlambat dan salah orang May, kalau dia sudah punya calon bagaimana. Aku tidak mau jadi orang ketiga." Ujar Sofi.


"Undangan belum dicetak, janur kuning belum melengkung. Masih ada kesempatan untukmu Sofi." Ucap Maya.


"Ahhh. .Tidak. .tidak. . Aku tidak mau menggoda pacar orang." Ujar Sofi.


"Astaga, dimana Sofi sahabatku yang dulu? Yang berani, tegas, cerdas dan penuh ide. Kau tak perlu menggodanya, kau cukup pasang senyum manis, jangan kegatelan di depan pria lain dan jadilah anak baik." Ujar Maya.


"Haihhh. .Aku tidak mau, aku akan melupakannya saja. Terlalu ribet. .Sepertinya dia juga dekat dengan dokter Lani, Kau tahu dokter Lani kan?" Ujar Sofi.

__ADS_1


"Hillih. . .Terserahmu saja. Yang pasti aku akan mendukungmu jika kamu butuh dukungan." Ujar Maya dengan serius.


"Ahh. . sudah sudah. . .Lila sama Haris kemana? Apakah dia lupa jalan ke rumah Kinan?" Ujar Sofi mengalihkan pembicaraan.


"Entahlah, mungkin masih bingung memilih bunga." Ucap Maya.


Sementara itu di Rumah Sakit. .


"Sayang, mana lagi yang harus Mas bawa ke mobil?" Tanya Randy saat masuk ke dalam ruangan.


"Dua tas itu Mas, sebaiknya Mas minta bantuan saja. Nanti Mas capek. ." Ucap Kinan yang sedang menyusui Adik Vin.


"Hmm iya sayang. . Mas hanya akan mendekatkan pada pintu saja supaya mereka tidak perlu masuk dan melihatmu yang sedang menyusui jagoan kita." Ujar Randy mengangkat dua tas yang berlogo Rumah Sakit Permata.


Tak beberapa lama kemudia, seorang OB datang hendak membantu Randy membawa barang-barangnya menuju mobil. Rabdy pun memberikan kunci mobilnya supaya OB bisa memasukkan barangnya ke dalam mobil.


"Ini kunci mobilnya. . dan ini tip untukmu. Anggap saja itu bonus karena kamu membantuku dan aku sedang bahagia karena hari ini aku bisa pulang bersama isteri dan anak-anakku." Ujar Randy memberikan amplop cokelat pada OB.


"Terimakasih Pak." Ucapnya dengan tangan gemetar.


"Hmm. . .10 menit lagi kami akan turun." Ujar Randy.


Randy kembali menutup pintu dan mendekati Kinan yang masih mengAsihi Adik Vin. Sedangkan Alina sedang main game di ipad miliknya yang baru Randy belikan tadi pagi karena Alina sudah nurut dan tidak rewel selama mereka di Rumah Sakit beberapa hari.


"Apakah jagoan kita belum kenyang?" Tanya Randy duduk di samping Kinan.


"Lihat saja sendiri Mas, sejak tadibbelum mau lepas." Ujar Kinan pada Randy.


"Astaga. . sudah sini aku gendong. Biar nanti lanjutkan saja di rumah." Ucap Randy menggendong Adik Vin.


"Kakak, kita pulang yuk. Ipad nya Mami simpan dulu ya Nak." Ujar Kinan mendekati Alina.


"Iya Mami. . " Ujar Aaina menyerahkan ipad pada Kinan.


"Good girl, Kakak." Ujar Kinan merasa bangga dengan Alina yang selalu nurut.

__ADS_1


Randy keluar dari ruangan dengan menggendong adik Vin dalam pelukannya. Sedangkan Kinan berjalan di belakangnya dengan menggandeng Alina di tangan kirinya.


Semua mata tertuju pada Randy dan juga Kinan. Mereka terpana dengan kekompakkan diantara keduanya dan juga merasa iri dengan Kinan yang beruntung memiliki seorang suami begitu pengertian hingga mau menggendog bayinya tanpa bantuan perawat.


"Astaga. . . mereka kompak dan serasi sekali. Suami yang sigap dan pengertian, dia bahkan menggendong bayinya tanpa merasa gengsi. Isterinya benar-benar beruntung memiliki suami sepertinya." Ujar seseorang yang sedang melihat mereka di kursi tunggu depan poliklinik.


"Pak Randy juga beruntung, memiliki isteri cantik dan ramah. Meski suaminya kaya, dia tetap sederhana dan rendah hati. Pakaiannya pun sopan, tidak memakai baju yang kurang bahan." Sahut seseoarang di sebelahnya.


"Benar. . mereka saling beruntung. Semoga rumah tangganya langgeng dan terhindar dari orang ketiga. . sekarang kan lagi maraknya orang ketiga dalam rumah tangga." Ucapnya lagi.


"Husssst. . jangan keras-keras. Mana mungkin Pak Randy sejahat itu, kalau sampai dia menyakiti anak dan isterinya sama saja dia menyia-nyiakan berlian yang begitu berharga. Dan tidak menutup kemungkinan isterinya juga banyak yang suka. ." Ujar yang lainnya.


Astaga. . . mereka malah bergosip. Apakah mereka tetanggaan dan sedang berobat massal? kompak sekali mereka. . .Tapi setidaknya mereka mendoakan yang baik-baik untuk keluarga kecilku. Semoga hal baik berbalik kepada mereka.


Batin Kinan dengan menebar senyum di bibirnya membuat wajahnya semakin berseri. Kinan terus berjalan melewati orang-orang yang sejak tadi membicarakannya.


Sesampainya di lobby, OB yang membantu membawakan barang sudah menunggu disana. Tak lupa dia membukakan pintu untuk Kinan dan Randy. Ternyata Randy sudah memasang carseat untuk Adik Vin dan juga Alina di kursi belakang.


"Mas yakin, adik Vin tidak akan rewel?" Tanya Kinan dengan ragu.


"Tentu saja yakin. Ada Kakak Nana yang akan menjaganya. Iya kan Kak?" Ujar Randy pada Nana.


"Hmm. . Kakak Nana jagain Adik Vin Mami." Ucap Alina.


"Lagian, kau tidak mungkin memangkunya. Luka jahitanmu belum kering sayang." Ujar Randy.


"Hmm terserah mas saja." Ujar Kinan akhirnya menyerah.


Randy meletakkan adik Vin pada carseat bayi yang sudah di pasang senyaman mungkin untuknya. Setelah itu Randy meminta Alina untuk duduk di carseat dan memasang sabuk pengamannya.



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Ditunggu Kritik dan Sarannya Kak 😍😍

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen. . rate5 dam Vote seikhlasnya juga boleh, biar lebih semangat ngetiknya . heheh.


Terimakasih yang masih setia membaca karyaku. . 😍😍**


__ADS_2