
"Mas buka kedua matamu, ayo kita pulang dari sini. Aku tidak bisa berjauhan denganmu sekarang. Kamu tau? Semalaman aku tidak bisa tidur, aku ingin cepat-cepat pagi agar bisa kesini untuk menemanimu Mas," imbuhnya lagi.
"Aku mendengarmu Sayang, tapi lidahku kelu. Mulutku seakan terkunci. Aku juga ingin membuka mataku, tapi susah sekali," ucap Papi dalam hatinya.
"Mas, anak-anak kita sangat mengkhawatirkanmu. Lihat ... mereka disana, melihat ke arah kita. Nana hari ini ada rapat, jadi gak bisa ikut. Tapi mereka menitipkan salam untukmu," ujarnya.
"Mas harus kuat ya, kita selalu disini buat Mas. Kita yakin, Mas adalah Ayah yang kuat. Mas tidak akan pernah mengecewakan keluarga, Mas pasti akan berjuang untuk bisa melewati ini semua kan Mas?" air mata perlahan mengalir dari ujung matanya.
_________
"Pih, bangunlah ...! Sampai kapan Papi akan betah di dalam sana? Bukankah Papi tidak suka dengan Rumah Sakit? Ayo kita pulang, aku akan membawa Papi pulang kalau Papi mau kabur sekalipun," batin Vin.
Mami keluar dari ruang ICU karena Perawat akan memberikan obat untuk Papi. Vannya segera menyambut Mami di pintu, dan memeluknya dengan erat.
"Mami harus kuat ya, kita disini bersama Mami ...!" bisik Vannya pada Mami.
"Iya Sayang, makasih ya kamu selalu ada buat Mami. Kamu anak yang baik," ujarnya.
"Kinan ...!" Panggil seseorang di ujung lorong.
"May," sahutnya dengan penuh haru.
"Aku ikut sedih dengarnya. Tapi kamu pasti bisa lewatin semua ini, Pak Randy akan sembuh ...!" ujarnya memeluk sahabatnya dengan sangat erat.
"Hmm ... makasih May. Aku kuat karena ada kalian disini, makasih ya selalu ada untukku ...!" ujarnya.
"Bukan hanya aku, Devi dan Lila juga ... mereka akan kesini mungkin nanti," ucapnya.
"Kamu memberitau mereka?" tanya Kinan tak percaya.
"Tentu saja, kejadian kemarin sudah terdengar dari ujung ke ujung. Pasti mereka juga tau itu, dan semalam mereka bilang katanya mau kesini buat kamu ...!" ucapnya.
"Hmm, makasih May. Kamu memang yang terbaik," ucapnya.
"Karena sahabat tidak akan pernah membiarkan sahabatnya sedih sendirian, apa yang kamu rasakan saat ini ... kami juga ikut merasakannya ...!"
Setelah berbincang-bincang beberapa saat di rumah Sakit, waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 waktunya Chandra dan yang lain berangkat kerja. Merekapun berpamitan pada yang lain untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
"Mah, aku berangkat dulu ya. Titip Mami," ujar Vin.
"Iya Nak. Kalian fokus saja bekerja, kami disini akan baik-baik saja. Mamah dan Bu Irene akan menjaga Mami kalian disini," ujar Mamah Maya.
"Makasih ya Mah," ucap Vin.
"Mah, aku berangkat. Makasih ya udah datang kesini," ujar Vannya memeluk Mamah Maya.
"Iya Sayang. Kamu hati-hati ya ... jangan lupa makan, jaga baik-baik calon cucu Mamah ...!" ucapnya.
"Hmm ...!" gumamnya.
"Mih kami berangkat dulu ya," ujar Vin.
"Hati-hati ya. Jangan pikirkan Papi disini, dia akan baik-baik saja," ucap Mami.
Mereka segera bergegas meninggalkan lorong ICU, hari ini Vannya berangkat bersama Chandra, sedangkan Vin bersama Papa Revan, karena semalam istirahat Papa Revan tidak cukup jadi tidak boleh membawa mobil sendiri.
"Pa, apa tidak sebaiknya Papa pulang saja? Nanti aku jemput lagi setelah pulang kerja," ujarnya.
"Hmm, tapi kalau Papa capek. Iatirahat saja ya Pa, aku tidak mau Papa sakit,"
"Papa tidak akan sakit Nak," jawabnya.
Sementara itu,
Sesampainya di Perusahaan, Vannya dan Chandra segera bergegas ke ruang kerjanya. Untung saja tidak ada pertemuan pagi ini, Vannya langsung di sibukkan dengan beberapa laporan yang masuk dari para divisi.
• Van, barusan aku dapat berkas dari klien. Aku taruh saja di meja kerjamu ya.
Sebuah pesan masuk dari Mbak Eni, Vannya segera mengalihkan pandangannya ke meja kecil di sudut ruangan tempatnya bekerja. Berkasnya masih ada disana, tersungging sebuah senyuman di wajahnya.
• Iya Mbak ...! Thank's ya. Maaf sudah merepotkan Mbak En pagi-pagi sekali,
Beberapa menit kemudian, ponsel kembali berdering balasan masuk dari Mbak Eni. Setelah membuka pesan, Vannya melanjutkan pekerjaannya untuk mengecek beberapa laporan yang masuk pagi ini.
Lumayan banyak, jika tidak segera di kerjakan maka laporan yang masuk akan semakin menumpuk dan membuatnya kewalahan.
__ADS_1
Di Tempat yang berbeda,
"Dokter, kami turut berduka atas musibah yang menimpa Pak Randy. Semoga beliau segera pulih dan sehat seperti sedia kala ya Dok ...!" ucapnya.
"Terimakasih banyak, maaf ya pesan kalian tidak bisa saya baca satu persatu. Terimakasih atas doa dan dukungannya,"
"Pi, lihat? Mereka mendoakan untuk kesembuhan Papi. Semoga dengan doa dari mereka, bisa membangkitkan semangat Papi," batin Alina.
"Baiklah, sebaiknya rapat kita mulai hari ini ya. Apakah Dokter Fani juga sudah hadir?" tanya Alina.
"Hai, Maaf aku terlambat. Jalan di depan sana macet sekali," ujarnya menyahut dari pintu depan.
"Tidak terlambat Dok, karena rapat belum di mulai ...!" ujar Dokter Stef.
"Hati-hati Dok. Jangan sampai buaya daratnya bangun," celetuk Alina melirik pada Dokter Stef.
"Astaga ...! Aku manis begini di bilang buaya darat," sahut Dokter Stef.
"Hahah ...! Udah yuk mulai," ajak Dokter Fani yang sudah mengenakan jas kebanggannya.
Rapat segera di mulai, hari ini adalah peresmian Dokter Fani menjadi Dokter tetap di Klinik yang di kelola Alina dan para rekan sejawatnya. Dengan penambahan jumlah Dokter, mereka berharap klinik tersebut akan semakin maju dengan pesat dan bisa membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia yaitu kesehatan.
Selain itu, rencananya Alina juga akan bekerjasama dengan bidan dan juga dokter Obgyn untuk ikut bekerjasama dengan mereka. Perlahan tapi pasti, apa yang mereka inginkan pasti akan tercapai.
Proses dan usaha yang mereka lakukan selama ini akan membuahkan hasil sesuai yang mereka inginkan. Tanpa mengurangi kualitas pelayanan, naiknya biaya konsultasi dan lain-lain.
Selama hampir 2 jam, akhirnya rapat telah usai. Dokter Stef segera bergegas keluar karena ada pasien yang datang. Sedangkan Alina masih duduk disana bersama Dokter Fani yang masih merapikan kerudungnya.
"Makasih ya Fan, kamu mau gabung dengan kita," celetuk Alina.
"Kamu ini kayak lagi sama siapa aja sih Na ...! Kita udah lama kenal, jangan pernah sungkan. Justru aku yang makasih kamu udah kasih kepercayaan sama aku yang levelnya masih sangat jauh di bawahmu," sahutnya dengan lembut.
"Hahah ...! Tidak ada level dalam dunia ini Fan, kita semua sama. Toh aku tidak jago dalam semua bidang, bahkan sekarang aja aku gak bisa berlama-lama disini," ujarnya.
"Karena kita disini untuk saling melengkapi bukan? Kamu bukannya gak bisa, hanya harus berjaga-jaga karena ada si kecil di perutmu ...!" ucapnya.
"Kamu benar Fan, inilah yang aku suka darimu. Selalu memberikan kata-kata yang manis di setiap kalimat yang kamu ucapkan," pujinya.
__ADS_1