Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Ingin Mencobanya


__ADS_3

Selesai sarapan, Chanda dan Vannya berangkat bersama sedangkan Vin berangkat sendiri karena tujuannya yang berbeda dari keduannya. Setelah berpamitan pada yang lain, mereka segera pergi meninggalkan rumah tersebut.


Sementara itu, Vin segera menghubungi anak buahnya untul mencari informasi mengenai seorang dokter Ilham. Ia ingin memberikan peringatan padanya supaya tidak berani menhganggu isterinya lagi.


"Cari informasi mengenai dokter Ilham ...!" ujar Vin saat bertemu dengan anak buahnya di jalan.


"Ba-baik Pak ...!" jawabnya dengan lantang.


"Apapun yang kalian ketahui segera laporkan padaku, jangan sampi ada yang kalian sembunyikan. Mengerti?" ucapnya lagi.


"Mengerti Pak ...?"


"Hmm bagus ...! Kalau begitu pergilah ...!" ujarnya seraya berbalik badan segera masuk ke dalam mobil melanjutkan perjalanan menuju Perusahaan.


Rasanya, ia ingin memukul wajah Dokter Ilham ssemalam, tapi dia menjaga perasaan isterinya. Pasti Vannya akan memarahinya jika melihat Vin berbuat kasar pada orang lain.


"Jangan harap, setelah pertemuan kedua nanti kamu masih bisa menghirup udara lewat hidungmu saja," gumamnya.


Vin melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, sesuai dengan suasana hatinya yang sebenarnya sedang kesal bercampur marah. Apalagi secara terang-terangan Ilham menatap wajah Vannya dengan liar.


Sesampainua di Perusahaan, Vin segwra masuk ke ruang kerjanya tanpa menyapa siapapun yang berpapasan dengannya. Tidak seperti biasanya, bahkan yang berpapasan degannya merasa takut saat melihat wajah Vin pagi ini.


"Dewi ...!" panggil resepsionis di lantai 1 yang melihat Dewi baru datang.


"Ya ...? Ada apa Kak?" tanya Dewi berjalan medekati meja resepsionis.


"Pak Von pagi ini terlihat beda, dia kenapa?" tanyanya.


"Beda?? Maksudnya?" tanya Dewi tak mengerti.


"Ya, biasanya dia sangat ramah. Tapi pagi ini wajahnya dingin sekali," ujarnya.


"Dingin? Kau memegang wajahnya?" tanya Dewi yang malah menjawabnya dengan santai.


"Wi aku serius," ujarnya lagi.


"Benarkah? Hmm, aku tidak tau . Kan aku tidak tinggal bersama dengannya. Ya udah, nanti aku cati tau deh. Aku ke atas ya ... jangan gosip ah pagi-pagi," celetuk Dewi segera melenggang pergi meninggalkan meja respsionis.


"Apa Pak Vin sedang marahan sama Vannya? Tapi kenapa? Bukankah mereka sednag bahagia karena kehamilam Vannya? Atau ... jangan-jangan Aura berbuat ulah?" batin Dewi selepas keluar dati lift dan berjalan seorang diri menuju meja kerjanya.


Sementara itu,


Sesampainya di Perusahaan, Vannya dan Chandra segera menuju ruang kerjanya. Setelah Chandra masuk dan Vannya meletakkan tas kerjanya, ia segera bergegas ke pantry untuk membuatkan Chandra secangkir kopi.


"Pagi, Bu Vannya ...!" Sapanya dengan ramah.


"Pagi Pak," balas Vannya.

__ADS_1


Vannya segera meracik kopi dan gula ke dalam cangkir yang sudah OB sediakan sejak tadi. 1 ¹/² kopi dengan 1 sendok gula, kemudian air panas di tuangkan dan di aduk sampai beberapa saat lamanya.


"Biar saya bawakan Bu," ucapnya dengan sopan.


"Hmm, Baik Pak. Makasih ya," ujarnya.


OB segera membawakan nampan berisi secangkir kopi panas dengan asap yang masih mengepul. Sementara Vannya berjalan di depannya membukakan pintu ruang kerjanya untuk OB.


"Pak bawa masuk ya," ujar Vannya.


"Baik, Bu ...!" jawabnya.


Vannya segera memulai pekerjaannya, menyalakan layar monitor melihat schedule hari ini. Tidak ada pertemuan, mungkin masih menyusul seperti biasanya.


Di sisi lain,


Pagi ini Aura sengaja berdandan tidak seperti biasanya. Ia mengenaikan blouse berukuran fit dengan belahan dada yang sedikit lebih rendah dan rok span di atas 5 cm lutut.


Rambutnya ia cepol untuk memperlihatkan lehernya yang jenjang. Sesampainya di Perusahaan, ia berjalan dengan meliuk-liukkan tubuhnya bak seorang model yang sednag berjalan di catwalk.


Semua pegawai laki-laki yang melihat atau berpapasan dengannya tak berkedip. Bahkan Aura dengan centil melemparkan senyum pada pria yang berpapasam dengannya di lorong yang sepi.


"Hy Rico," Sapa Aura seraya mengedipkan matanya.


"H-hai Ra ...! Kamu cantik," pujinya tanpa berkedip.


"Hmm, makasih Sayang ...!" jawabnya dengan sedikit desahan.


"I-iya Ra ...!" jawabnya dengan gugup.


"Astaga! *Dia menggodaku, apa dia sedang memberikan kode agar aku mendekatinya? Ahh ...! tunggu waktu yang tepat Ra ...!" batin Rico yang masih menatap Aura dari belakang.


"Cih ...! begitu saja sudah tak berkedip, Aku juga harus melakukannya pada Pak Vin, aku ingin mencobanya ...!" batin Aura*.


Setelah meletakkan tas kerjanya, Aura segera melenggang pergi menuju Ruang Kerja Vin. Di sana ada Dewi yang sedang berkutik dengan layar monitor yang menyala di hadapannya.


"Pagi Wi," sapa Aura


"Hy Ra, kamu mau kemana? Astaga! Kamu cantik sekali," puji Dewi.


"Benarkah? Aku mau menemui Pak Vin, ada yang mau aku tanyakan. Apa Pak Vin nya ada?" tanya Aura.


"Ada ... tapi suasana hatinya sedang tidak baik. Sebaiknya nanti saja kamu menemuinya," ucapnya.


"Benarkah? Apa yang terjadi padanya?" tanya Aura


"Hmm, aku juga tidak tau Ra. Aku saja belum melihatnya pagi ini. Mungkin Pak Vin membutuhkan waktu untuk sendiri," jawabnya.

__ADS_1


"Tapi aku harus bertemu dengannya. Gimana dong?" tanya Aura.


"Emang ada apa sih?" tanya Dewi.


"Itu, masalah pekerjaan dengan PT. Madava ..." jawabnya.


"Emang harus sekarang ketemunya?"


"Harus," sahutnya.


"Nanti saja deh Ra, sebentar lagi Pak Vin ada pertemuan. Aku takut suasana hatinya semakin kacau kalau sepagi ini udah bahas pekerajaan," celetuk Dewi mencari alasan agar Aura tidak menemui Pak Vin.


"Aaiishh ...! Tidak bisa Wi ...! Gini deh, aku pastikan Pak Vin tidak akan marah. Siapa tau setelah aku datang suasana hatinya berubah jadi lebih baik," ujar Aura.


"Mana bisa begitu?" tanya Dewi.


"Tentu saja bisa. Udah deh, aku masuk saja ...!"


"Eh ... Ra ...!" panggil Dewi.


"Astaga ...! Apa yang Aura lakukan? Semoga tidak terjadi apa-apa di dalam. Ya Tuhan, semoga Aura tidak berbuat lebih pada Pak Vin," batin Dewi yang merasa cemas.


...WIJAYA GROUP...


"Permisi," sapa seorang kurir dengan sopan.


"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis dengan ramah.


"Maaf mau tanya, ruangan Bu Vannya di mana ya Kaka? Soalnya ada kiriman untuk Bu Vannya," ujarnya seraya menunjukkan sebuket bunga berukuran besar di tangannya.


"Oh Bu Vannya. Di lantai 6 Pak, silakan lewat sini saja ...!" ujarnya menunjuk sebuah lift di dekatnya.


"Baik Kak ...! Makasih ya," ujarnya.


"Sama-sama," sahutnya.


Pintu lift kembali tertutup, kurir tersebut segera menekan tombol nomor 6. Setelah 2 menit, lift berhenti saat angka menunjukkan lantai 6. Ia segera keluar menyusuri lorong menuju ruang kerja Vannya yang sudah di tunjukkan resepsionis tadi.


Tokk ... tokk ... tokk ...!


"Masuk,", sahutnya.


"Pagi, Bu Vannya. Ada kiriman bunga untuk Ibu," ucapnya dengan ramah.


"Pagi, untukku?" sahut Vannya dengan bingung.


"Iya Bu, silakan tanda tangani surat tanda terimanya ya Bu," ucapnya dengan ramah.

__ADS_1


"Hmm, baiklah ...!"


Setelah kurir pergi meninggalkan meja kerjanya, pintu sudah kembali tertutup dengan rapat. Vannya segra meraih kotak kecil di bawah buket bunga. Tidak ada namanya disana, Vannya segera membuka kotak kecil itu.


__ADS_2