Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Ikhlaskan


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian, Mami dan Alina keluar. Mereka saling berpelukan dengan wajah yang sendu. Tante Sofi dan Om Keanu segera memeluk mereka dan membisikkan kalimat untuk menguatkan.


"Bang, Mas Randy ...!" isaknya, tangis kembali pecah. Tubuhnya seakan tak bertulang, Om Keanu segera membopong Mami membawanya ke kursi panjang di ujung lorong.


"Tante," ucap Nana segera memeluk Tante Sofi dengan erat.


"Kamu harus kuat Sayang, Tuhan lebih menyayangi Papimu. Ikhlaskan, meski berat. Tidak mudah memang, tapi kita bisa apa selain mengikhlaskan kepergiannya," bisik Tante Sofi.


"Lagi-lagi aku sudah kehilangan orang yang berarti dalam hidupku Tante. Kenapa ini harus terjadi secepat ini?" ucapnya.


"Karena Tuhan punya rencana yang lebih baik lagi, rencana Tuhan lebih indah dari apa yang kita rencnakan Nak," ujarnya.


"Chan, kamu sudah datang?" tanya Tante Sofi saat mwlihat Chandra sudah berdiri di hadapannya.


"Iya Tante. Aku ke dalam dulu ya," ucapnya.


"Hmm, masuklah ...!"


Beberapa perawat sedang melepas peralatan yang menempel di tubuh pasiennya. Ventilator yang terpasang selama 3 hari juga sudah terlepas. Wajah Papi bersih, tanpa alat yang terpasang.


Kain sengaja belum di tutupkan ke seluruh badannya. Chandra yang memintanya, setelah semua terlepas, tangan dan kaki di ikat dengan kain kasa panjang. Perawat bergegas pergi meninggalkan Chandra yang masih terdiam di depan jenazah Papi.


Pria yang sangat di segani dan menjadi panutannya kini telah tiada. Badannya telah terbujur kaku di atas bed, untul beberapa kali Chandra memastikan apakah dia sedang bermimpi atau tidak.


"Pih, apa aku tidak mimpi? Apa aku tidak salah melihat? Kenapa harus secepat ini Pih, kenapa aku tidak bisa menjaga Papi. Maafkan aku Pih, harusnya aku menunggu disana supaya kita bertemu dan kejadian ini tidak akan menimpa Papi," ujarnya dengan pelan.


Chandra duduk di kursi samping bed, menyurusi setiap jengkal tubuh yang sudah terbujur kaku. Rasanya seperti mimpi, meski hanya mertua ... tapi mereka sangat dekat dan akrab.


Papi adalah pribadi yang tidak pernah membeda-bedakan orang lain, termasuk anak-anaknya. Tidak ada anak yang lebih "di anak emaskan", semua sama. Mendapatkan perlakuan yang sama, dan kasih sayang yang terbagi rata.


"Pih ...! Makasih sudah menjadi Ayah terbaik untuk isteriku. Merawat dan menyayanginya tanpa syarat, aku tau ... aku tidak akan bisa seperti Papi,"


"Kasih sayangmu tak ada duanya, tapi aku akan berusaha untuk menjaganya semampuku. Menghormati Mami seperti aku menghormati kedua orangtuaku, meski kita tidak sempat bertemu di detik-detik terakhir ...!"


"Aku minta izin, mengambil alih posisi Papi untuk menjaga keluarga besar kita. Tanpa membeda-bedakan yang lainnya, tolong restui aku Pi. Aku butuh restumu,"

__ADS_1


"Kak ...!"


"Vin," segera memeluk tubuh iparnya yang baru saja datang.


"Aku sudah ikhlas Kak. Aku ingin Papi tenang disana, setidaknya Papi sudah tidak merasakan sakit lagi," ujarnya dengan lirih.


"Kamu benar ... Papi sudah berjuang selama beberapa hari ini. Papi sudah menang melawan rasa sakitnya,"


"Sekarnag tugas kita adalah meneruskan apa yang sudah menjadi tanggungjawabnya selama ini. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga," imbuhnya.


"Hmm, iya Kak ...!"


...VIN POV...


Aku berharap ini hanya mimpi, tapi kenapa aku melihat yang lein bersedih. Tadi pagi, sebelum ke Perusahaan aku masih melihat Papi dengan wajah yang segar seperti orang yang sedang tidur.


Ternyata itu menjadi terakhir kalinya aku melihat Papi masih dengan kondisi yang baik meski belum sadarkan diri. Seperti tersambar petir di siang bolong, tapi aku bisa apa?


Tuhan lebih menyayangi sosok panutanku selama ini, Tuhan yang memilikinya dan Tuhanlah yang berhak atas segelanya. Aku beruntung, terlahir di tengah-tengah mereka.


____________


Sudah hampir satu jam, Chandra dan Vin berada di dalam. Hingga perawat mengingatkan kepada mereka jika jenazah akan segera di pindahkan ke ruang jenazah karena administrasi sudah di urus dan atas permintaan keluarganya.


Chandra merangkul Vin keluar dari ruang ICU, menemui keluarga yang lain di luar. Tatapan sendu kembali terlihat di pelupuk matanya. Entah bagaimana caranya untuk mereka bisa menenangkan yang lain.


Sedangkam dirinya sendiri ikut kalut dalam suasana kedukaan. Tidak ada orang yang tak menangis disana, ini adalah bukti jika semasa hidupnya Papi merupakan orang yang sangat baik. Sehingga banyak yang merasa kehilangan.


"Sayang," ucap Chandra saat melihat isterinya.


"Aku kehilangan orangtuaku lagi," ucapnya terisak.


"Tapi Papi selalu ada di hatimu, hati kita semua. Ikhlaskan Papi, biarkan dia tenang di surga. Papi sudah kembali kepada sang pemilik, kita tidak bisa berbuat apa-apa Sayang,"


"Ingat, yang lebih merasa kehilangan. Kita harus menghiburnya, kita yang harus menjaga Mami sekarang ...!" imbuhnya.

__ADS_1


"Astaga ...! Ya Tuhan, maafkan aku ...!" gumam Alina yang baru tersadar dengan Maminya saat ini.


______


"Kak, aku ikut pulang ya ...!" ucap Vannya setengah berbisik.


"Kamu sudah baikan?" tanya Vin seraya memeluknya.


"Hmm, aku akan merasa baik jika berada di tengah-tengah kalian. Aku mau ikut mengantar Papi," jawabnya.


"Baiklah, nanti kita pulangnya ...!" ujarnya seryaa mengecup pucuk kepala Vannya.


"Kita ke Mami yuk," ajak Vannya.


__________


Mami duduk di kursi tengah-tengah lorong di temani yang lainnya. Alina dan yang lain segera mendekatinya dan memeluknya. Mereka berusaha untuk tidak menangis di depan Mami.


Mereka merasa, Mami yang lebih kehilangan dan berduka. Karena Mami yang sudah menemani Papi selama 27 tahun ini.


"Mam, sebaiknya kita pulang sekarang. Nanti aku dan Vin juga Om Revan yang akan pulang bersama Papi," ujar Chandra setelah beberapa saat.


"Hmm," hanya itu yang terdengar. Air matanya terus mengalir, meski Mami sudah berusaha untuk tidak menangis di depan anak-anaknya.


Alina dan Vannya merangkul Mamih dari sisi kiri dan kanannya. Memapahnya untuk segera beranjak meninggalkan lorong ICU, yang lain mengikuti dari belakang tanpa bersuara sedikitpun.


Beberapa awak media sudah berjaga di sekitar halaman Rumah Sakit. Entah darimana mereka tau kabar duka ini, melihat Mami yang mulai muncul di hadapan yang lain ... mereka tidak hanya diam.


Tidak berani mendekatinya, hanya mengambil gambar dan video dari jarak yang tidak terlalu dekat. Mereka menghormatinya yang sednag kehilangan, beberapa diantaranya tak kuasa menahan air mata.


Menundukkan kepalanya, menunjukkan rasa belan sungkawa yang begitu dalam. Beberapa mobil sudah terparkir di depan lobby, siap membawa Mami dan yang lain untuk pulang ke rumah.


"Sayang, kamu juga ikut pulang?" tanya Mami setelah mereka berada di dalam mobil.


"Hmm. Mana mungkin aku tetap disini, aku akan lebih baik jika bersama kalian. Bersama Mami ...!" ucapnya memeluk Mami dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2