Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Cinta Buta


__ADS_3

"Ibumu menyayangimu, hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya. Masih ada Pak Ruli. Dia sangt menyayangimu," ujar Chandra.


"Aku tau, tapi kenapa Ibu terus memarahiku. Tidak pernah sekalipun dia bilang sayang, tidak pernah dia memelukku ...!" ujar Aura.


"Maaf ya Nak, Ayah gagal menjadi kepala keluarga. Ayah tidak bisa merubah sikap Ibumu yang angkuh," sahut Pak Ruli yang sudah berdiri di pintu.


"... ."


Pak Ruli mendekati putrinya, dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Putrinya tak pernah bahagia sejak dulu, ia menyadari itu. Itulah salah satu alasannya untuk menikah lagi dengan Mayang, tapi baru 5 tahun pernikahannya ia harus di pisahkan oleh maut.


____________


"Jangan menangis, Ayah janji akan membahagiakanmu sampai nafas terakhir Ayah, Nak ...!" ujarnya menenangkan putrinya.


"Ayah ...! Apa Ibu tidak pernah menginginkan aku? Kenapa Ibu sangat membenciku?" tanyanya dalam isakan.


"Tidak, Nak ...! Saat kamu lahir, Ayah, Ibu, Opa dan Oma sangat bahagia. Kami semua menyayangimu, sangat ...!" ucapnya.


Chandra memilih untuk keluar, memberikan waktu untuk Pak Ruli dan Aura berbicara dari hati ke hati. Ia segera menemui petugas Kepolisian yang sudah menunggunya di luar.


"Disini ada bukti rekaman penjelasan dari Aura, dia tidak bersalah dalam kasus ini ...!" ujar Chandra.


"Terimakasih, Pak Chandra ...!"


Kedua polisi segera pergi meninggalkan area Rumah Sakit, tak lama setelah itu Chandrapun ikut menyusulnya untuk segera kembali ke Perusahaan. Tapi sebelumnya dia mampir ke kantor polisi untuk melihat perkembangan dari kejadian yang menimpa Papi Randy.


Di sisi lain ....


Sekembalinya dari lantai atas, Rico hanya bisa diam dan termenung. Di lubuk hati kecilnya dia mengkhawatirkan Aura, tapi di sisi lain ia juga merasa takut tidak bisa membahagiakan Aura.


"Apakah aku bisa membahagiakanmu? Bahkan aku sendiri tidak tau bagaimana caranya untuk aku menghiburmu saat ini. Haruskah aku menemui sepulang kerja nanti Ra?" gumam Rico.


Tring ...!


"Rico, sepulang kerja antar aku ke Rumah Sakit Sumber Waras ya. Sekalian kamu mau ketemu sama Aura kan?" ujarnya di ujung telepon.


"Ada apa Wi?"


"Aku di minta Pak Vin untuk menyampaikan amanah buat Aura," jawabnya.


"Hmm, baiklah. Nanti aku tunggu di lobby ya ...!" ucap Rico.


"Ok, Ric ... see you,"


"Setidaknya aku ada alasan nanti, menemani Dewi menyampaikan amanah dari Pak Vin. Kalaupun aku tidak bisa melihatnya secara langsung, paling tidak aku bisa mendengar suara Aura ...!" gumamnya.


Di Tempat yang Berbeda ...


"Hallo Kak ...! Bagaimana?" tanyanya.


"Dia tidak bersalah, ini murni Nyonya Erika yang salah di balik kejadian ini. Kami sudah mendapatkan rekaman saat Aura menceritakan semuanya," jawabnya.

__ADS_1


"Ah begitu, baiklah. Kakak masih di luar?" tanyanya lagi.


"Hmm, aku sedang di Kantor Polisi. Siapa tau mereka masih butuh penjelasan atau bukti lain,"


"Hmm, makasih ya Kak ...!" ujarnya.


"Makasih untuk apa?"


"Makasih karena Kakak yang mengurus semuanya," sahutnya.


"Kamu anggap aku Kakakmu kan? Bukankah itu sudah jadi tanggung jawabku sebagai anak tertua di dalam keluarga,"


"Iya Kak ...!" sahutnya tak bisa lagi berkata apa-apa.


Telepon terputus, tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari Mamah Maya yang mengirimkan sebuah foto kebersamaan mereka di Rumah Sakit. Kedatangan Tante Lila dan Tante Devi, setidaknya akan sedikit menghibur Mami.


Sebuah senyum tersungging di wajah mereka, membuat Vin secara tidak sadar ikut tersenyum karenanya. Vin segera menggulir nomor untuk menanyakan kondisi Papinya saat ini.


Lagi-lagi jawaban yang sama, tidak ada perubahan yang terjadi secara signifikan. Kondisi masih lemas, bahkan sempat terjadi gagal nafas namun bisa di tangani hari ini.


"Pih, dulu Papi selalu bilang jadi cowok harus kuat. Jatuh harus bisa bangkit lagi dengan sendirinya, api sekarang kenapa Papi lemah? Bukankah Papi lebih kuat dariku?"


"Papi salah, meski aku sudah menikah aku belum bisa mandiri Pih. Aku masih ingin bersama Papi, masih banyak yang belum aku berikan untuk Papi. Kasih kesempatan buat aku membahagiakan Papi, meski tidak seberapa. Setidaknya aku ingin membuat Papi tersenyum dengan bangga padaku," gumam Vin memandangi foto masa kecilnya bersama Papinya.


"Baru aku bisa menggagalkan rencana Tante Erika untuk menguasai Perusahaan ini. Tapi aku gagal menyelamatkan Papi dari kejahatan Tante Erika,"


Tokk ... tokk ...!


"Maaf Pak, apa saya mengganggu?" tanya Dewi yang melihat wajah atasannya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Ti-tidak ... ada apa?" tanyanya.


"Maaf Pak. Saya hanya membawa surat pernyataan yang Bapak minta, sudah selesai saya buat. Tapi Baoak harus menandatanganinya," ujar Dewi.


"Ah, begitu ...! Baiklah, bawa kesini ...!" ujarnya segera kembali ke meja kerjanya.


"Silakan Pak,"


"Kamu kesana sama siapa nanti?" tanya Vin seraya membubuhkan tanda tangan diatas materai.


"Saya pergi dengan Rico Pak, kebetulan rumah kami satu arah. Jadi sekalian saja saya memintanya untuk menemani," jawab Dewi.


"Baguslah kalau begitu. Setidaknya kamu lebih aman. Makasih ya Wi," ucapnya.


"Sudah menjadi kewajiban saya untuk menjalankan tugas dari Bapak, bukan?" ujar Dewi.


"Hmm," gumam Pak Vin yang tidak bisa berkata-kata lagi.


Sementara itu ...


Suasana semakin sunyi, tidak ada langkah kaki yang terdengar. Jantung Vannya berdegup dengan kencang, tangamnya bergetar meraih ponselnya mencari nomor yang belum ia tambahkan ke daftar kontak.

__ADS_1


"*Astaga ...! Kemana sih nomornya? Kenapa saat situasi seperti ini malah nomor kayak tuyul," batinnya kesal.


"Akhirnya ketemu juga, astaga! Kenapa otakku tidak sinkron ... bagaimana caranya untuk menelepon? Otakku tidak bisa berfikir lagi,"


"Vannya, tenangkan pikiranmu ...! Tarik nafas panjang hembuskan pelan-pelan, jangan biarkan kepanikan menguasai dirimu," batinna berusaha menenangkan dirinya*.


Tak lama kemudian, baru dia bisa berfikir dengan jernih. Dan segera menekan simbol berbentunk gagang telepon di sudut kanan atas layar ponselnya.


Tring ...!


"Eh? Pak itu ada yang menelepon. Mungkin dari Ilham yang menghubungimu menanyakan apakan barang sudah sampai. Cepat angkat dan tanyakan alamatnya ya," ujar Vannya.


"Hmm, bukan Pak Ilham. Tapi ...!" ujarnya terhenti.


"Ta-tapi apa?" tanyanya.


"Lihat, darimu ...!" menunjukkan layar ponselnya.


"Bagaimana bisa? Aku kan tidak punya nomor Bapak,"


"A-astaga ...! Ka-kamu Ilham?" ujar Vannya tak percaya.


"Iya aku Ilham, aku tau kamu akan menolaknya. Makanya aku datang kesini," ujarnya menyeringai seraya melepas topi yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya.


"Ngapain kamu disini? Bukankah kamu sednag berjaga di Rumah Sakit? Pergilah, atau aku akan bereriak," ujar Vannya.


"Kamu mau berteriak? Berteriaklah, atau orang lain akan salah paham padamu," ujar Dokter Ilham yang sudah dibutakan oleh cinta.


"Eh mau ngapain? Tetap duduk disitu," ujar Vannya yang terkejut melihat Dokter Ilham bangun dari duduknya.


"Vannya, aku menyukaimu sejak dulu. Aku bisa memberikan apa saja untukmu, bahkan rumah ... mobil ... apapun yang kamu mau pasti aku belikan," ujarnya seraya mendekati Vannya.


"Jangan macam-macam Ilham ... aku mencintai suamiku, kamu hanya cinta sesaat. Sadarlah, aku sudah menikah. Mundur, atau kamu akan menyesal," ujar Vannya.


"Apa? Mundur? Tidak ada kata mundur dalam kamusku Van," sahutnya semakin mendekat.


Vannya berhasil menghindar, ia berlari ke arah belakang Dokter Ilham, berusaha meraih pintu untuk bisa membukanya. Namun tangan kekar berhasil lebih dulu menarik tangan Vannya dan membuatnya terjatuh ke atas sofa.


"Awh ...! Ilham, sadarlah ...! jangan macam-macam ...! aku mohon," ujar Vannya memelas.


"Apa katamu? tidak akan, aku akan memberikan sensasi yang belum pernah kamu dapatkan, setelah ini kamu akan mengemis-ngemis padaku untuk mengulanginya," ujarnya dengan senyum licik.


"Ti-tidak ... aku sedang hamil, jangan macam-macam ... please ...!" ujarnya.


Tubuh Vannya terkunci, Dokter Ilham sudah berada diatas dan menindih dua kakinya membuat Vannya tak bisa lagi bergerak.


"*Ya Tuhan, tolong aku ... siapapun yang lewat tolong buka pintu itu ...!" batin Vannya.


Cklekk* ...!


Seseorang sudah berdiri di pintu dengan tatapan yang snagat tajam seakan sang raja rimba yang hendak menerkam musuhnya.

__ADS_1


__ADS_2