Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Saingan Baru


__ADS_3

Sudah lama aku tidak menginjakkan kaki disini, semua masih sama. Gedung menjulang tinggi ke atas, macet terlihat dimana-mana. Hanya suasana yang sedikit berbeda, mungkin karena aku sudah terbiasa tinggal di kota yang sekarang menjadi tempat tinggalku.


Aku ke sini bukan untuk kembali, melainkan untuk pekerjaan. Semoga tidak terjadi apapun di luar kendaliku, apalagi aku membawa putraku yang masih kecil. Aku belum siap untuk itu.


Aku bahkan tidak mengabari sahabatku, semoga saja aku tidak perlu berlama-lama disini. Itu akan lebih baik untuk kami, mungkin 2-3 hari sudah cukup untuk kami berada di Ibukota.


___________________


"Selamat datang Pak ...! Bagaimana perjalanannya?" tanya Vin yang sudah menunggunya sejak beberapa menit yang lalu di halaman Perusahaan.


"Terimakasih, Pak Vin ...! Perjalanan lancar, dan ternyata belum banyak perubahan di ibukota," ujarnya.


"Haha ...! Ya beginilah Pak, terimakasih atas kunjungannya ke Ardhana Group,"


"Tidak perlu berterimakasih, Pak ...! Justru saya yang berterimakasih, karena sudah diberikan kesempatan untuk saya kesini dan bisa mengajak anak-isteri saya untuk jalan-jalan,"


"Saya turut berduka cita atas meninggalkan Pak Randy, saya tidak percaya saat mendengarnya. Dan saat melihat di media seperti percaya dan tidak percaya," imbuhnya.


"Terimakasih Pak, kami pun seperti sedang mimpi. Tapi nyatanya kami sedang tidak tidur ...! Oh ya ... dimana putra Bapak?"


"Sebentar ... Madav, kemari Nak ...!" panggilnya.


"Iya Ayah, sebentar ...!" sahutnya dari dalam mobil.


Pria kecil berusia sekitar 4 tahun turun dari dalam mobil bersama seorang wanita cantik yang pasti itu adalah Ibunya. Vin tersenyum lebar saat melihatnya, benar-benar menggemaskan sekali.


"Nak, kenala dulu sama Om ...!" pintanya pada pria kecil yang baru tiba di hadapannya.


"Hmm," menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekati Vin.


"Hallo Om, aku Madav ... Anak Ayah Arsen dan Ibu Tyas," ucapnya dengan sengat manis.


"Hai Madav, aku Om Vin ...! Selamat datang ya Nak, nanti Om ajak jalan-jalan mau gak?" seraya berjongkok di depan Madav.


"Ayah, Om mau ajak aku jalan-jalan ...! boleh kan?" tanya Madav.


"Boleh Nak, tapi tidak boleh nakal ...!" ucapnya.


"Iya Om, Madav mau ...!" jawabnya.


"Anak pintar," mengusap kepala Madav dengan lembut, dan segera berdiri kembali untuk menyapa isteri klien.


"Selamat datang di Ardhana Group Bu,"


"Terimakasih Pak Vin sudah menyambut kami, maaf jika kedatangan kami malah merepotkan. Turut berduka cita ya Pak ...!" ucapnya.


"Terimakasih Bu. Hmm, mari silakan masuk ...!"


Mereka segera masuk ke dalam gedung Perusahaan berlantai 7 itu. Dewi mengantarnya ke sebuah ruangan VIP di lantai 7, sementara itu Arsen langsung ikut dengan Vin ke ruang kerjanya untuk membahas pekerjaan.


...**ARDHANA GROUP...


...LANTAI 7**...

__ADS_1


"Bagaimana perjalanannya Bu?" tanya Dewi yang di tugaskan untuk menemani Tyas bersama putranya.


"Lancar Bu, hanya sedikit bernostalgia dengan kota ini ...! Ngomong-ngomong sudah lama bekerja disini? sepertinya masih muda sekali usianya ...!" ujarnya.


"Saya baru dua tahun disini Bu. Semoga saja bisa bertahan disini sampai nanti tiba waktunya untuk istirahat," ucapnya.


"Hmm, begitu. Oh ya, katanya disini ada Aura juga?" tanyanya.


"Iya dulu ada Bu, tapi sudah satu pekan dia tidak bekerja lagi disini karena sakit,"


"Sakit?" ucapnya memastikan sekali lagi.


"Benar Bu. Kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja lagi, jadi ... mau tidak mau dia harus istirahat saja di rumah. Ibu kenal dengan Aura?" tanya Dewi.


"Tidak, hanya pernah dengar beberapa kali kok. Smeoga dia segera pulih ya,"


"Aamiin,"


"Ibu, apa masih lama?" celetuk Madav yang sepertinya sudah merasa bosan.


"Baru saja kita sampai Nak ...! Tadi Ayah bilang apa?" dengan sabar Tyas mencoba mengalihkan perhatian putranya.


"Iya Bu, aku tidak nakal. Tapi aku bingung, mau ngapain lagi disini ...! Paman sama Kakak Cantik tidak ikut," rengeknya dengan gemas.


"Mereka akan segera datang, sabarlah ...!"


"Madav, mau ikut Tante? Tante mau keluar sebentar nih ," tanya Dewi.


"Ibu, boleh Madav ikut?" tanyanya.


"Iya Ibu," jawabnya dengan cepat.


"Wi, titip Madav ya ...!" ucapnya.


"Iya Bu. Kalau begitu saya pamit ajak Madav keluar ya Bu, kalau Ibu perlu apa-apa bisa hubungi saya. Ini nomor ponsel saya," menyodorkan kartu nama.


"Ah ya. Makasih Wi,"


Dewi segera menggandeng Madav, membawanya keluar dari ruangan VIP di lantai 7. Di sepanjang lorong, banyak sekali pegawa yang terpana melihat Madav, pria kecil yang sanga tampan dan menggemaskan.


Di Kantin Perusahaan


Dewi mengajak Madav ke kantin Perusahaan untuk mencati beberapa jajan dan ice cream karena Dewi tau Madav menyukainya.


"Madav, mau ice cream kan?" tanyanya.


"Hmm, boleh Tante?"


"Tentu saja boleh, ambil saja yang kamu mau Nak," ucapnya.


"Asiik ...! Makasih Tante," kedua matanya membulat dengan sempurna, senyum kebahagiaan khas anak kecil terpancar dari wajahnya.


Madav segera mengambil ice cream kesukaannya. Sementara itu, Dewi mengambilkan beberapa lagi dan meminta box ice kecil untuk menyimpan ice cream agar tidak cepat mencair.

__ADS_1


"Wi, kamu udah lagi jajan?" sapa Rico yang baru saja dari luar.


"Eh Rico. Iya nih, lagi nemenin pangeran kecil ...!" jawabnya seraya mengambil beberapa bungkus makanan kecil.


"Pangeran kecil? Kamu lagi hamil? Wah ...! Kapan nikahnya Wi?" celetuk Rico memasang mimik wajah serius.


Plakk ...!


Sebuah pukulan mendarat mengenai bahu kiri Rico yang jaraknya lebih dekat dengannya. Dengan spontan Rico mengaduh, pukulannya memang tidak seberapa tapi kaget karena Dewi memukulnya tanpa isyarat.


"Awwh ...! Kamu kenapa sih Wi? Kaget tau ...!" ujarnya.


"Lagian kamu nyeletuk seenak jidat sih," sahutnya.


"Kan aku tanya Wi. Emang pangeran kecil siapa kalau kamu tidak hamil?"


"Putra semata wayang Pak Arsen, klien kita dari Kalimantan. Lihat deh, tampan kan?" ujarnya seraya menunjuk Madav yang masih sibuk memilih ice mana yang mau dia ambil.


"Astaga ...! Saingan berat, masih kecil aja udah jadi pusat perhatian para gadis. Kalah aku," celetuknya.


"Haha ...! Makanya jangan sok kecakepan Ric, diatas langit masih ada langit lagi," ujar Dewi seraya meraih keranjang belanjaan.


"Madav, udah belum?" seraya bergegas mendekati Madav.


"Tante, aku bingung mau beli yang mana. Aku suka dua-duanya ...!" ujarnya dengan wajah polosnya.


"Ya udah ambil dua-duanya Nak,"


"Boleh?" seraya mengangkat kepalanya meminta kepastian darinya.


"Hmm, boleh sayang ...!" sahut Dewi.


"Asiik ...! Makasih Tante baik ...!" ucapnya.


"Sama-sama anak baik. Ya udah, yuk kita bayar sekarang ...!" ajaknya pada Madav.


Dewi dan Madav segera ke meja kasir untuk membayar semua belanjaan mereka hari ini. Madav terlihat senang, tidak seperti tadi saat merengek karena bosan berada di dalam ruangan.


"Hmm ... dia memang keibuan, walaupun belum menikah. Tapi terlihat dari perlakuannya terhadap anak kecil, meski baru bertemu sekalipun ...!" batin Rico yang masih berdiri di tempat tadi.


"Ric, kita balik dulu ya ke dalam ...!" ujar Dewi yang sudah berdiri di depan Rico yang sepertinya sedang melamun.


"Ric ...! Ini kamu kan? Atau ada makhluk yang masuk ke dalam tubuhmu?" celetuk Dewi karena Rico terus saja tersenyum dengan pandangan entah kemana.


"Eh? Iya Wi ... ini aku," jawab Rico dengan gugup.


"Astaga Ric," gumam Dewi seraya menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Om sama Tante pacaran ya?" celetuk Madav yang berdiri di antara keduanya.


"Hei, adik kecil. Siapa namamu?" seraya mengusap rambut Madav dengan lembut.


"Aku bukan adik kecil Om, aku Madav ...! Om sama saja seperti Paman, selalu memanggilku Tuan Kecil," gumamnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, menggemaskan sekali anak ini," puji Dewi.


__ADS_2