
"Dia akan baik-baik saja. Lia sedang mengobatinya."Uahr Sofi.
"Kenapa bisa seperti ini si? Memang benar Kak Lia tidak melihatnya tadi?" Tanya Rayna.
"Gadis yang cerdas. . . Baik akan aku jelaskan. Jadi Lia sudah melihat dari kejauhan gerak gerik Devi. Dia berjalan ke arah kita dengan tatapan amarah, Lia tidak ingin dia melukai orang lain. Lalu dia berpindah posisi dan berusaha untuk menggagalkan rencananya. Ya hanya itu cara untuk menggagalkannya."Ujar Sofi.
"Kenapa Devi berbuat seperti itu? Bukankah kita semua teman?"Ujar Lila tidak percaya.
"La, kau masih ingat kejadian tadi siang di lift saat kau tidak sengaja mendorong Maya yang hampir terjatuh dan bersandar pada tubuh Revan?"Ujar Sofi.
"Ya, aku masih ingat. Aku kan sudah meminta maaf pada Revan juga Maya. Iya kan May?"Tanya Lila.
"Karena masalah itu, dia menganggap Maya berusaha mendekati Revan dan menggoda Revan."Ujar Sofi.
"Astaga. . . berarti ini semua gara-garaku."Ujar Lila.
"Jangan salahkan dirimu sendiri La."Ujar Kinan.
"Ray, jangan katakan masalah ini pada Pak Randy ya, biarkan masalah ini kami yang urus."Ujar Sofi.
"Baik Kak Sof, aku akan tutup mulut. Tapi apa kalian bisa jamin dia tidak akan berbuat seperti itu lagi Kak?"Tanya Rayna.
"Tenang saja, biar bagaimanapun dia teman kami Ray."Ujar Kinan.
"Aku sudah menduga hal ini akan terjadi, aku pasti sudah membuatnya sangat marah."Ujar Maya menyalahkan dirinya.
"May, jangan salahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu. Jodoh tidak bisa dipaksakan, dia hanya buta karena cinta. Baiklah bolehkan aku melihat keadaan Devi disana? Aku janji tidak akan mendekatinya, hanya mengintipnya saja."Ujar Lila.
"Pergilah, kalau perlu kamu rekam pembicaraan mereka."Ujar Sofi.
Lila segera melangkahkan kakinya meninggalkan teman-temannya di meja. Lila segera mencari Haris untuk menemaninya mencari kebenaran karena sebetulnya Lila belum percaya dengan perkataan Sofi mengenai Devi. Sesampainya di depan ruang P3K pintu tidak tertutup dengan rapat, Lila menyuruh Haris untuk merekam pembicaraan Lia dan Devi di dalam.
Di Ruang P3K
"Sakitnya akan sedikit berkurang. Bawa obat ini, dan oleskan 3 kali sehari dengan keadaan tangan kamu bersih agar tidak terjadi infeksi."Ujar Lia memberikan salep pada Devi.
"Terimakasih"Ujar Devi terus meniupi tangannya.
"Siapa sasaranmu?"Tanya Lia sambil mencuci tangannya.
"Ma...maksud kamu?"Tanya Devi pura-pura tidak mengerti.
"Aku tahu, kau sengaja melakukannya."Ujar Lia yang saat ini sedang mengeringkan tangannya dengan tissue.
"A..aku tidak mengerti. . . . "Ujar Devi
"Baiklah anggap saja aku juga tidak mengerti. Bersainglah secara sehat, tanpa menjatuhkan siapapun apalagi membahayakan orang lain. Maaf aku menggagalkan rencanamu, aku hanya menjaga orang-orang yang tidak bersalah. Dan menggagalkanmu untuk masuk ke dalam jeruji besi. "Ujar Lia.
". . . . . . . . . . . .. . . . . " Diam tidak merespon.
"Jangan pernah ulangi ini lagi, atau aku akan melaporkanmu pada Pak Randy juga polisi. . . .dan . . .Revan."Ujar Lia.
__ADS_1
"Ja...jangan laporkan aku... aku mohon."Ujar Devi.
"Katakan padaku siapa sasaranmu?"Tanya Lia menyandarkan diri di tembok.
"Kinan dan Maya. Mereka telah merebut perhatian pria yang aku suka... Aku hanya ingin memberikan pelajaran untuk mereka. Tidak lebih."Ujar Devi.
"Dengan air panas kau bilang hanya? Bagaimana jika air panas itu menyiram area wajah mereka?"Ujar Lia dengan tenang.
"Maa...maafkan aku. aku menyesal. Aku salah. . . Aku tidak akan mengulanginya lagi. . hiks hiks hiks."Ujar Devi menangis.
"Aku tidak perlu air matamu Devi, aku pegang kata-katamu. Jika kau masih berusaha membahayakan mereka aku tidak akan pikir panjang lagi untuk melaporkanmu pada Pak Randy untuk diberikan pelajaran yang setimpal, dan kemudian Polisi agar kau mendekam di penjara, yang terakhir. . . aku akan menceritakan tindakanmu itu pada Revan."Ujar Lia.
"Aku mohon jangan laporkan aku pada Pak Randy juga polisi. . .Aku mohon."Ujar Devi.
"Bersihkan wajahmu dan segeralah kembali."Ujar Lia pergi meninggalkan Devi sendiri.
Melihat Haris dan Devi yang masih terdiam di deoan ointu P3K membuat Lia terkejut dan segera memberikan isyarat pada keduanya untuk segera mengikutinya menjauh dari tempat itu. Lia membawanya ke ujung lorong yang tidak terlihat dari arah manapun.
"Kalian sudah mendengar semuanya?"Tanya Lia tanpa menatap Lila dan Haris.
"I...iya... kami sudah mendengar semuanya dan Haris sudah merekamnya sesuai perintah Bu Sofi."Ujar Lila gugup.
"Bagus. . .Kirimkan rekaman itu padaku Haris. Dan bersikap seperti biasalah pada Devi, agar dia tidak tahu jika kalian sudah mengetahuinya"Ujar Lia dengan tegas.
"Baiklah. Terimakasih karena kamu sudah menggagalkan rencana dia yang licik. Kami tidak akan menjauhinya."Uhar Haris.
"Kalian juga harus waspada, jangan sampai dia melukai kalian."Ujar Lia.
"Ikuti aku untuk kembali ke yang lainnya tanpa Devi melihat kalian. Setelah ini ajak Devi pulang untuk berisitirahat."Ujar Lia.
Lia mengajak Lila dan Haris lewat pintu yang lainnya. Ternyata pintu itu sudah di depan matanya menyatu dengan tembok. Lila dan Haris sama-sama terkejut dan tidak menyangka ada pintu disitu
Di Taman..
"Dia sudah datang, bersikap biasa saja."Ujar Sofi memberitahukan kedatangan Devi.
"Hai Dev. . . bagimana dengan luka di tanganmu?"Ujar Kinan.
"Sudah diobati Lia Kin.."Jawab Devi dengan gugup.
"Syukurlah. . . lain kali kau harus hati-hati Dev. " Ujar Maya.
"I...iya May."Jawab Devi.
"Kak Lila lama sekali ke toiletnya, tahu brgitu aku ikut saja tadi."Ujar Rayna mengalihkan pembicaraan.
"Kau mau jadi penjaganya di toilet?"Tanya Kinan.
"Hmm tidak Kak... Eh itu dia. . "Menunjuk Lila yang sedang jalan berdua dengan Haris.
"Pantas saja lama, ternyata bertemu sang pujaan hatinya." Ujar Maya.
__ADS_1
"Maaf kalau lama. . Tadi sekalian cari Haris. Dev bagimana dengan lukamu?"Tanya Lila berpura-pura tidak tahu.
"Sudah baikan La. . "Jawab Devi memaksan untuk tersenyum.
"Syukurlah. . kita pulang lebih dulu yuk. . .besok kan harus bekerja. . "Ujar Lila.
"Besok kamu libur dulu saja sehari atau dua hari Dev."Ujar Kinan.
"Terimakasih Kin."Ujar Devi.
"Nah itu Lia. . .Li kita pulang juga yuk. ."Ajak Maya pada Lia.
"Yah Ray kesepian lagi deh. . "Ujar Rayna.
"Kau bisa datang kapan saja ke kantor anak manis."Ujar Maya.
"Boleh Kak?"Tanya Rayna ke Kinan.
"Kenapa tidak. . "Ujar Kinan.
"Tapi bawa makanan yang banyak ya Ray. . .anggap saja sogokan. ehehee" Ujar Lila.
"Bisa diatur. . ."Ujar Rayna.
"Ya sudah kami pulang dulu ya Kin, Ray. . "Ujar Sofi.
"Iya. . terimakasih sudah datang ya. .. "Ujar Rayna.
"Hati-hati ya kalian." Ujar Kinan.
Sofi dan yang lainnya pergi meninggalkan gedung Hotel dan menuju parkiran mobil. Mobil Haris pergi lebih dulu meninggalkan area parkiran, sedangkan Lia berhenti tepat di depan gerbang hotel membuat Maya dan Sofi bingung.
"Apakah kita sedang menunggu seseorang?"Tanya Sofi.
"Iya. . sebwnyar ya."Ujar Lia.
"Siapa?"Tanya Maya.
"May turunlah, dia menunggumu. sepertinya kau masih hutang waktu dengannya kan."Ujar Lia menunjuk Revan yang sedang duduk diatas motornya.
"Ta.. ..Tapi bagaimana dengan Devi. Aku takut."Ujar Maya.
"Aku sudah mengurusnya."Ujar Lia.
"Kalau kau tidak turun, biar aku saja yang turun."Ujar Sofi membuka pintu mobil.
"Ehh... jangan. Biar aku saja." Terimakasih.Ujar Maya dengan wajah bersemu merah.
Maya turun dari mobil dan pulang bersama Revan, mereka mampir di sebuah taman dekat rumah Maya. Revan menagih janjinya pada Maya untuk menceritakan semua yang terjadi beberapa hari belakangan ini dan juga kejadian tadi saat di acara. Mayapun menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun membuat Revan betah untuk mendengarnya.
Sedangkan Kinan dan Rayna segera kembali ke kamarnya di lantai 2. Malam ini Kinan menginap bersama Rayna, karena Randy tidak mungkin pergi meninggalkan acara hanya untuk mengantarnya pulang.
__ADS_1