Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Mencari Kecoa


__ADS_3

"Hmm, cepat ya Ric ...!" pintanya dengan suara parau.


"I-iya Ra ...!" jawabnya gugup.


Rico segera bangun dari duduknya mencari kecoa di setiap sudut ruang kerja Aura yang sebenarnya tidak luas. Di pojokan dekat lemari tidak ada, kemudian dia berpindah ke kolong meja tidak ada juga.


"Astaga ...! " Batin Rico saat kedua matanya tak sengaja melihat ke arah depan.


_________


"Gimana Ric? Sudah dapat kecoanya?" tanya Aura.


"Be-belum ...!" Jawabya dengan gugup.


"Mungkin kecoanya sudah pergi, yaudah duduk dulu sini ...!" ujarnya memberikan isyarat pada Rico.


Bagai terhipnotis, Rico pun menghampiri Aura yang sedang duduk di atas sofa dengan posisi kaki diangkat satu ke atas yang mana memperlihatkan paha mulusnya. Hingga Rico tampak gugup dan tak berani menoleh ke arah Aura.


"Ric ...!" panggilnya dengan lembut.


"I-iya Ra?" jawabnya.


"Kamu kenapa?" tanyanya dengan suara yang sengaja dibuat mendesah.


"Ti-tidak," jawabnya spontan.


"Makasih ya udah mau datang bantuin aku. Kamu baik deh," ujarnya seraya menyentuh dagu Rico untuk menoleh ke arahnya.


"Hmm, Ric ...!" ujarnya lagi.


"Ya?" sahutnya.


Aura segera memajukan wajahnya dan mengecup bibir Rico dengan lembut. Ia memainkan bibirnya dengan perlahan hingga membuat Rico terpancing dan kini Rico yang lebih agresif.


Tangan kekarnya menyusuri baju kemeja Aura yang mana kancing atasnya sudah terbuka hingga membutanya mudah untuk menyentuh gundukan yang menyembul di bagian dadanya.


"Ennghhh ...!" Suara Aura yang kini berada di bawah Rico.


Tangan satunya menyingap rok ke atas hingga berhasil menyentuh pusat kewanitaan Aura dan membuatnya kewalahan. Rico memperlakukan Aura dengan lembut, setelah sekian lama ia hanya bisa melihat Aura, akhirnya sekarang bisa melakukannya tanpa di duga-duga.


"Ric, jangan di teruskan. Aku takut nanti orang masuk," bisik Aura tersengal.


Rico takenghiraukannya, ia terus menciumi bagian tengkuk leher Aura yang jenjang. Dengan kedua tangan bekerja pada bagian tubuh Aura yang lain.

__ADS_1


Setelah hampir 30 menit mereka bergulat di atas sofa hingga Aura lemas di buatnya. Mereka pun mengakhiri pergulatan tersebut dan masing-masing merapikan pakaiannya sebelum melanjutkan pekerjaan.


"Kamu senang?" tanya Aura.


"Hmm, tapi aku ingin melakukannya lebih dari ini ...!" bisiknya.


"Jangan sekarang ya. Aku masih ada pekerjaan, makasih udah datang kesini,"


"Panggil aku saja kalau ada apa-apa ya," ucapya.


"Hmm ... baiklah," sahut Aura.


Rico pun segera keluar dari ruang kerja Aura dan segera berlalu menuju meja kerjanya di lantai 5. Sementara itu Aura masih berada di posisi yang sama menyandarkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya.


"Huh!! Andai saja Arsen dan Pak Vin seperti itu, mungkin aku akan menjadi wanita yang psling beruntung di dunia ini. Tapi sayangnya, mereka susah untuk ku takhlukan ...!" gumam Aura.


Tring ...!


"Hallo ...!" sapa Aura yang mengangkat telepon tanpa melihat nama penelepon.


"Apa kamu udah bisa menakhlukannya?" sebuah suara yang tak asing untuk Aura.


"Eh Ibu ...!" ujarnya segera duduk dengan tegap.


"Bagus ...! Buat dia menuruti apa perkataanmu, kalau bisa sampai dia benar-benar menyangimu,"


"Setelah itu kamu tinggalkan," ujarnya.


"I-iya Bu. Yaudah aku merapikan rambut dulu nih Bu, sebelum orang lain melihatku,"


"Hmm ...!" Telepon langsung terputus.


"Aiisshhh ...! Cuma itu? sekali-kali manis sama anaknya emang gak bisa apa?" gumam Aura dengan kesal.


Di sisi Lain ...


"Astaga ...! Kenapa aku seperti orang bo*oh. Bulannya tadi turun saja menemui Nyonya Erika," gumam Chandra merutuki dirinya sendiri.


Dia tidak langsung pergi, melainkan hanya berpindah posisi sampai bisa melihat wajah Nyonya Erika. Entah sudah berapa lama ia berada di sana, namun yang di tunggu tak kunjung terlihat.


"Apa dia tak pernah keluar rumah?" gumamnya lagi.


Saat mesin mobil mulai di nyalakan, samar-samar ia melihat ada aktivitas di dalam pagar. Ya, seorang ART sedang mendorong orang yang duduk di kursi roda. Chandra melihatnya tanpa berkedip, takut mereka akan tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


"Ah ternyata benar, itu orangnya ...! Hmm, baiklah. Aku kesini hanya ingin melihat wajahnya," ujarnya segera pergi dari area perumahan tersebut.


Sementara itu,


"Kak Chandra kemana sih? Kok belum balik-balik ...!" ujar Vannya yang sudah menyelesaikan laporannya.


"Van, makan yuk ...!" ajak Mbak Eni yang lagi-lagi sudah berada di depan pintu tanpa diketahui kapan datangnya.


"Astaga Mbak Eni," celetuk Vannya.


"Kamu kenapa?" tanya Mbak Eni.


"Gak apa-apa Mbak. Pak Chandra pergi dari 4 jam yang lalu kok belum balik-balik ya. Aku takut ada apa-apa dengannya Mbak," ujar Vannya menyampaikan apa yang saat ini sedang dipikirkannya.


"Mungkin dia mampir makan dulu kali Van, kan sekarang udah waktunya makan siang juga. Udah yuk makan," ucapnya.


"Hmm, iya juga sih. Mungkin dia lagi makan dulu. Yaidah aku siap-siap dulu," segera meraih tas kerjanya dan menutup pintu ruangan.


Vannya dan Mbak Eni pergi makan siang di tempat makan yang tak jauh dari Perusahaan. Kali ini mereka hanya perlu menyeberang jalan dan berjalan sekitar 700 meter dari tempat makan yang biasa mereka datangi.


Semangkuk bakso dan es jeruk menjadi pilihannya siang ini. Kebetulan Vannya sedang malas makan nasi, jadi Mbak Eni mengikuti saja apa yang sekiranya bisa Vannya makan.


Di Tempat yang berbeda ....


Alina seharian berada di rumah bersama Mami, Papi, Mamah dan Papah. Alina memilih untuk mendengarkan perbincangan mereka yang ternyata sangat seru. Bahkan Alina ketagihan untuk mendengar perbincangan mereka lebih banyak lagi.


"Makasih Tuhan, meski engkau sudah mengambil orangtua kandungku. Tapi engkau menggantikanya lebih banyak lagi. Mereka sangat menyayangiku, seperti anak kandungna sendiri," Batin Alina menatap wajah mereka satu persatu.


"Nyonya, makan siang sudah siap ...!" ujar Mbok Jum.


"Wah ... cerita kan belum selesai. Yaudah makan dulu yuk, setelah ini lanjutin lagi ceritanya," celetuk Alina.


"Hmm, kamu menyukai ceritanya?" tanya Mami.


"Tentu saja Mam, aku sangat menyukainya. Apalagi saat kalian menceritakan awal mula kedekatan kalian," sahut Alina.


Mereka segera berjalan menuju meja makan. Disana sudah tersaji tumis kacang panjang, ayam goreng, tempe goreng, sambal kecap dan lalapan segar kesukaan mereka.


"Makan yang banyak Nak, jangan pedulikan berat badan yang naik," ujar Mamah.


"Iya Mah, Mamah juga makan yang banyak ya ...!" sahut Alina.


Setelah makan siang, Mami menyuruh Alina untuk istirahat saja, tapi jangan langsung tidur, karena baru saja selesai makan. Sementara yang lainnya memilih untuk duduk di taman menikmati semilir angin.

__ADS_1


Alina menuruti perintah Mami, ia naik ke kamar dan duduk di ranjang cukup lama sampai dia tertidur dengan posisi duduk dan bersandar di kepala ranjang.


__ADS_2