Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Sadar


__ADS_3

Di sisi yang berbeda...


"Tanyakan pada hatimu, apakah kau sudah ikhlas menerima semuanya? Keputusan ada padamu, bukan aku yang memutuskan." Ucapnya seketika menghilang dari hadapan Alina.


"Louisa. . . Kamu dimana? Jangan tinggalkan aku. . Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tau, aku benar-benar tidak tau. . ." Teriaknya tak lama kemudian Alina jatuh tersungkur.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku seperti ini? Siapapun yang mendengar atau melihatku, tolong aku. . . Aku benar-benar tidak tau lagi harus berbuat apa. Aku sendiri tidak ingin seperti ini, terjebak di tempat ini sendirian." Imbuhnya dengan isakan tangis yang menyayat hati.


Alina masih tersungkur di sebuah tempat yang begitu luas, semula yang berwarna putih berubah menjadi gelap gulita. Saat tersadar dia sudah berada di tempat yang berbeda, ia segera bangun dan melihat ke sekeliling.


Semua gelap, tak ada yang bisa dia lihat saat ini. Tangisnya kian menjadi, air di pelupuk matanya kian deras mengucur membasahi kedua pipinya. Rasa takut menyelimuti dirinya saat itu, Alina benar-benar ketakutan dan tak berani membuka kedua matanya lagi.


"Aku sudah memaafkan semuanya, atas apa yang terjadi padaku sebelumnya meski aku sendiri tidak tau apa yang sebenarnya aku alami. Aku tidak ingin di tempat ini, aku takut. . ." Teriaknya lagi dengan sisa isak tangis.


"Buka matamu, jangan takut Nak." Ucap seorang wanita yang keibuan berbeda dengan Louisa.


"Si. . Siapa kamu? Apa kamu datang untuk menolongku? Benarkan? Bawa aku pergi dari tempat ini, aku mohon. . . Aku takut. . . " Ucap Alina.


"Nak, kamu sudah dewasa. Semua keputusan ada di tanganmu, singkirkan egomu untuk saat ini." Ucapnya seraya tangan kanannya membelai kepala Alina dengan lembut.


"I.. Ibu. . Ibu Lia. . Kau kah Ibuku?" Seketika Alina terbawa ke ingatan masa kecil lnya dimana dia sedang dalam pelukan Ibunya yang hangat. Alina berhambur memeluk sosokwanita di depannya,


"Ibu tak pernah berharap kamu akan berada di tempat ini Nak, belum saatnya kamu berada di dunia ini. Duniamu masih disana, bukan disini. Maafkan suamimu, apa yang terjadi adalah ketidaksengajaan. Selama dua tahun dia menjagamu, menyingkirkan semua pekerjaan demi untuk menunggumu. Sudah saatnya kamu kembali padanya, pada keluargamu yang saat ini sedang menantikanmu." Ucap Lia seraya membelai Alina dalam pelukannya.


"Aku masih merindukan Ibu, aku kangen Ibu. Kenapa Ibu meninggalkan Alina?" Rengeknya seperti anak kecil yang di tinggal pergi Ibunya ke pasar.


"Takdir Tuhan tidak ada yang mampu melawan, kalau bisa Ibu menawar pasti Ibu meminta untuk tetap bertahan demi kamu. Tapi Tuhan berkata lain, memang sudah jalannya kamu untuk bertemu dengan keluarga barumu yang begitu menyayangimu." Ucap Lia lagi.

__ADS_1


"Ibu. . Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi, aku merindukanmu Bu." Ucap Alina.


"Jiwa Ibu memang sudah tiada Nak, tapi Ibu selalu ada disini, di hatimu. Ibu selalu bersamamu di manapun kamu berada. Pergilah sebelum terlambat, atau kau akan menyesal untuk kedua kalinya." Ucap Lia dengan tangan memegangi dada Alina.


"Tapi. . . "Ucap Alina.


" Pergilah. . Ikuti cahaya itu. . Jangan tunda waktumu." Ucap Lia melepas pelukannya dan berbicara dengan intonasi yang lebih tinggi.


"Baiklah kalau itu yang Ibu mau, setidaknya aku sudah bisa bertemu dan memeluk Ibu. Aku menyayangimu Bu." Ucap Alina.


"Ibu menyayangimu Nak, pergilah. Ini yang terbaik untukmu." Sebuah kecupan mendarat di kening Alina.


Alina melambaikan tangan pada Ibunya dan berjalan mengikuti cahaya terang sesuai permintaan Ibunya.


Di sudut ruang VIP


"Apakah aku harus mengikhlaskanmu Kak? Bagaimana bisa aku melepaskan Kakak begitu saja. Bahkan kakak belum menjawab semua pertanyaanku bukan? Setiap aku curhat pasti Kakak selalu mendengarkanku dan memberikan saran untukku. Tapi selama dua tahun ini, setiap aku sedang menceritakan semuanya Kakak hanya diam, kedua mata Kakak terus terpejam. Lantas sekarang aku harus melepaskan Kakak? Tidak. . Aku tidak mau. . Aku tidak sanggup Kak."


Hatinya begitu kacau saat ini, kedua tangannya terus meremas tangan kiri Alina, menciuminya bahkan membelai Alina dengan lembut berharap Alina mendengar kata hatinya saat ini.


Kinan menangis dalam pelukan Randy, rasanya tak sanggup harus kehilangan anak perempuannya yang selama hidupnya selalu bersikap manis. Begitupun dengan Randy, sejak pertama kali bertemu dengan Alina di RS 22 tahun silam, ia langsung jatuh cinta padanya. Sosok anak kecil yang begitu menggemaskan.


"Mas... Cari Dokter yang lebih profesional Mas, jangan boleh anak kita pergi begitu saja. Dokter Lani bukan Tuhan, dia tidak berhak mengatakan anak kita sudah tiada." Ucap Kinan dengan ketusnya.


"Sayang. . . Sudah. .Sudah. ."Randy memeluk Kinan dan membelainya.


"Kak, Kakak lihat kan? Mami saja belum ikhlas, bagaimana bisa aku mengikhlaskan Kakak. Aku akan terus menunggu Kakak, bahkan kalau perlu sampai 10 atau 20 tahun lagi lamanya." Ucap Vin.

__ADS_1


.....


Chandra berjalan mendekati bed Alina dan berdiri dengan tegaknya. Entah apa yang akan dia ucapkan saat itu, semua mata tertuju pada Chandra yang sudah memasang wajah dingin dan garang.


"Saya putuskan, sebagai suami Alina Odelia Wijaya. . . Saya tidak akan menyetujui pelepasan peralatan yang saat ini masih terpasang di tubuhnya. Tak perduli biaya Rumah Sakit yang semakin melonjak, nyawa isteriku lebih berarti dari apapun. Saya yakin dia akan membuka matanya, dia tidak akan pergi begitu saja." Ucap Chandra.


"Tapi Pak Chandra... " Potong Dokter Lani.


" Kalau perlu RS ini aku beli atas nama isteriku, Tidak ada yang bisa mengubah keputusanku termasuk dokter sekalipun." Imbuhnya dengan lantang.


Tiba-tiba monitor berbunyi, muncul garis-garis berwarna hijau menyerupai rumput di layar monitor. Dokter segera memeriksanya. Jemari Alina secara perlahan bergerak, membuat Vin yang melihatnya sontak berteriak dengan senang.


"Lihat, jarinya bergerak. . " Teriak Vin bangun dari duduknya.


Semua orang mendekat untuk melihat, Chandra segera berlari duduk di kursi dekat bed dan menggenggam tangan Alina. Chandra melihat dari sudut mata nya keluar berlian yang langsung menetes begitu saja.


"Sayang, bangunlah. . . Kau mendengarku kan? Buka kedua matamu." Ucap Chandra.


"MasyaAllah, sebuah keajaiban. Detak jantung pasien kembali normal, bahkan meningkat tajam dari yang sebelumnya. Ini berkat doa kalian, sehingga kondisi Dokter Alina meningkat secara pesat." Ucap Dokter Lani dengan sebuah senyum yang mengembang di wajahnya.


Perlahan kedua matanya terbuka, semua terlihat remang-remang, lama kelamaan terlihat semakin jelas. Sosok pria asing berada di hadapannya dengan senyuman yang tak bisa diartikan.


__________________________________


Sesuai permintaan, lngsung Up lagi 😅😅


Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2