
"Aku berada disini saat ini karena dukungan dari keluargaku. Bagaimana aku bisa mengeluh, jika setiap saat ada seorang Ibu peri yang selalu menemaniku. Dia adalah Ibuku, belahan jiwaku yang tak pernah lelah menyebut namaku di setiap doanya." Ucap Alina dengan mata yang berkaca-kaca.
Kinan hanya bisa memasang sebuah senyuman di wajahnya saat semua wartawan menoleh ke arahnya dan mengangguk. Entah apa yang Alina ucapkan psda mereka, Kinan tak bisa mendengarnya karena jarak mereka yang cukup jauh.
Mami memang tidak mendengar apa yang kamu ucapkan barusan Nak, sampai-sampai semua wartawan menoleh pada Mami. Tapi dari cara mereka melihat Mami, pasti kamu lagi-lagi membuat Mami merasa begitu bangga nantinya.
Kinan kembali masuk ke sebuah ruang kecil yang Alina gunakan untuk make up tadi. Disana terdapat sebuah sofa panjang dan empuk untuk Kinan duduk menunggu Alina yang sedang melanjutkan syutingbiklan sesi terakhir.
●●Mami, jadi ke Perusahaan kan? Aku ada meeting setelah ini. Aku pastikan sebelum kalian datang meeting sudah selesai. Love U more, Mam●●
●●Iya sayang, nanti Mamo dan Kakak kesitu Nak. Semangat meetingnya gantengnya Mami. Kamu pasti bisa. Love U too, Sayang●●
Vin mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Kinan. Yang mana membuat Kinan terus saja tersenyum. Putra kecilnya sudah besar, sekarang dia sudah bisa membantu Randy mengurus Perusahaan yang semakin berkembang dengan pesat.
"Mam. . .maaf lama menungguku. . ." Ucap Alina dari arah pintu.
"Tidak sayang. . .ini kan Mami sendiri yang mau. . kamu sudah selesai?" Tanya Kinan.
"Hmm sudah. . ." Ucap Alina menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah. . .kamu ganti baju Nak. . .Setelah ini kita ke Perusahaan." Ucap Kinan pada Alina.
"Okey Mam. . .aku ganti baju dulu ya." Ujar Alina segera beranjak menuju ruang ganti.
Jarak waktu yang mereka tempuh untuk menuju Perusahaan hanya 20 menit dengan kecepatan sedang. Alina sudah lama tidak main ke Perusahaan keluarganya meski dia sudah satu minggu di Indonesia.
Rasanya tak sabar ingin melihat adiknya dengan pakaian rapih dan duduk di meja kerja bertuliskan namanya. Alina tertawa sendiri saat membayangkan Vin sedang duduk di meja kerjanya dnegan beberapa kertas di hadapannya.
Sesampainya di Perusahaan Alina dan Kinan bergandengan menuju lift khusus. Dan semua mata tertuju padanya, mereka memandangi Alina dengan kagum. Alina hanya menganggukan kepalanya lalu tersenyum sebagai bentuk rasa hormatnya pada mereka.
*M**eski sudah terkenal, tapi dia tetap mau menundukkan kepalanya padaku yang hanya remahan kacang. Pak Randy dan Bu Kinan benar-benar beruntung memiliki putri yang cantik dan berbakat. Aku turut bangga saat melihatnya, bagaimana dengan Bu Kinan dan Pak Randy? Pasti mereka juga bangga. . .
Tokk . . .tokkk*. . .
" Papi. . ." Ujar Alina yang langsung berhambur mendekati Randy untuk mencium punggung tangannya dan juga mencium kedua pipi Randy secara bergantian.
__ADS_1
"Hai Sayang, Princess nya Papi yang cantiknya tar berlimited. " Ujar Randy yang entah dari mana dia mendapatkan kata-kata itu.
"Haiis. . .Papi lebay. . ." Ujar Alina.
"Tapi memang bemar. . .kamu cantik. . Salahnya dimana?" Tanya Randy lagi.
"Salahnya Papi itu cowok. Kan yang selalu benar itu cewek Pi. Hmm. . .Pekerjaan Papi masih banyak?" Tanya Alina.
"Sebentar lagi sayang. Sedikiiiit lagi. . . ." Jawab Randy dengan menunjukkan jari telunjuk dan ibunjarinya dengan jarak yang cukup dekat.
"Hmm baiklah. . ." Jawab Alina.
"Diamna kekasih hatiku?" Tanya Randy pada Alina.
"Kekasih Papi masih di belakang, lagi ngobrol sama selretaris Papi." Ucap Alina.
"Hmmm. . .Harusnya dia langsung kemari saja. Aku kan sudah kangen. . ." Ujar Randy.
"Aiiihhhh Papi. . .astaga. . . Baru bertu tadi pagi di rumah." Ujar Alina.
"Haihh. .Memang apa salahnya Papi kangen Mami? Kan dia isteriku, belahan jiwaku, Kekasih sejatiku till Jannah." Ujar Randy.
"Hallo Mas. . ." Ujar Kinan saat masuk ke ruang kerja Randy.
"Hai bidadariku yang cantik, manis tiada tara." Ujar Randy yang membuat Alina menggelengkan kepalanya kepalanya.
"Astaga Mas. . ada anak kita. Malah Mas bucin seperti itu. . " Ujar Kinan dengan wajah bersemu merah.
"Kakak. . .mau tetap disini atau mau . . ." Ujar Randy pada Alina.
"Haiiihhhh. . . Papi mengusirku??? Baiklah. . .aku akan pergi dari sini. . .sebaiknya aku ke ruang kerja Vin saja daripada harus melihat adegan yang tidak seharusnya aku lihat untuk saat ini." Ujar Alina.
"Makasih Ka sudah mengerti . ." ujar Randy.
"Astaga. . .Mami urus kekasihmu ya. . . .Kalau sudah selesai pacaran hubungi anakmu yang cantik dan kiyut (cute) ini ya Mam. . Kalau Papi macam-macam getok aja pake sepatu Mami." Ujar Alina.
__ADS_1
"Aku mendengarmu Kak." Ucap Randy.
"Bagus kalau Papi mendengarku. . Bye. . ." Ujar Alina menutup pintu ruang kerja Randy.
Kinan hanya tertawa melihat aksi Alina dan Randy yang seperti kucing dan Tikus daat mereka bertemu. Apalagi Randy yang terus memancing emosi Alina.
"Astaga Mas. . .kamu senang sekali membuat anak-anak kita terpacing." Ujar Kinan.
"Hahaha bautkan saja. . .mereka terlalu lucu, sayang kalau tidak aku asah bakat humornya." Ujar Randy.
Sementara itu Alina pergi ke ruang kerja Vin yang masih satu lantai dengan ruang kerja Randy. Tapi Vin masih di ruang meeting, dan Alina di minta untuk menunggunya karena sebentar lagi meeting akan selesai.
Sebelumnya. . .
"Patikan meeting akan selesai sebelum kedua wanitaku tiba di Perusahaan." Ujar Vin pada sekretarisnya.
"Baik Pak. . ." ucapnya sembari berjalan di belakangnya menuju ruang rapat.
Ini adalah pertama kalinya Vin mengikuti rapat tanpa Randy, Revan dan juga Haris. Dan untuk pertama kalinya juga dia bertemu dengan klien Perusahaan yang terbilang cukup besar meski tidak sebesar Perusahaan milik keluarganya.
"Selamat pagi semua. . .Selamat datang di Ardhana Group. Ini adalah pertama kalinya saya berdiri disini di depan para klien. Semoga saya tidka mengecewakan kalian, dan seterusnya kita bisa bekerja sama dengan baik." Ujar Vin untuk membuka rapat pagi ini.
Semua mengangguk dan tersenyum padanya. Memang usianya masih muda, dan belum punya pengalaman. Tapi Vin berusaha untuk bisa menguasai semua ilmu yang ia dapatkan dari Randy dan senior lainnya.
Meeting berjalan dengan lancar, sepertinya akan ada kabar baik untuk kedepannya. Karena semua klien tertarik dengan semua yang Vin jelaskan. Dan dalam waktu singkat, Vin berhasil menarik perhatian mereka bahkan sudah tidak canggung lagi.
Setelah mengantar klien sampai pintu lift, Vin segera kembali ke ruang kerjanya. Dan ternyata sudah ada Alina yang sedang menunggunya disana sambil rebahan di atas sofa memainkan ponselnya.
Vin segera masuk dan mengecuk kening Alina dari atas. Melihat adiknya yang sudah datang, Alina segera bangun dan duduk dengan benar.
"Wahhh Adik Kakak. . .tampan sekali. . " Ujar Alina memuji Vin.
"Hmm semua orang juga berkata seperti itu saat melihatku Kak. Jadi aku sudah tau kalau aku ini tampan." Ucap Vin.
"Haiihhh. . .kata-katamu mengingatkanku pada kekasihnya Mami yang sudah mengusirku supaya dia bisa berpacaran dengan Mami saat ini. . " Ujar Alina.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
♡KEKASIH KONTRAK TILL JANNAH EPS. 154♡