
"Heh? Bagaimana bisa? Kami menikah baru 6 minggu Dok," sahut Vin terkejut.
"Iya Dok, kami menikah belum ada 7 minggu ...!" ujar Vannya menimpali.
"Baiklah, saya jelaskan ya Pak ... Bu ...!" ujarnya seraya mendekatkan kalender kecil berbentuk seperti lingkaran di tangan kanannya.
____________
"Jadi Ibu Vannya kan tadi bilang HPHT nya tanggal 2 Februari 2020, jadi HPHT \= +1 tahun +7 hari -3 bulan.
• 2 Februari 2020 + 1 tahun \= 2 Februari 2021
• 2 Februari 2021 + 7 hari \= 9 Februari 2021
• 9 Februari 2021 - 3 bulan \= 9 November 2020
Kemungkinan, Ibu akan melahirkan tanggal 9 November 2020. Lalu untuk menghitung berapa usianya di hitung dari tanggal 2 februari 2020 sampai tanggal 23 Maret 2020 maka hasilnya tepat 7 minggu ini ...!" ujar Dokter
menjelaskan.
"Berarti saya gak hamil di luar nikah kan Dok?" tanya Vannya.
"Tidak Bu, karena di hitung dari hari pertama haid ...! Dan untuk lebih akurat lagi, sebaiknya di lakukan pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap dan USG, bagaimana Bu?" tanyanya dengan sabar.
"Baik Dok, lakukan saja mana yang terbaik ...!" ucapnya.
"Kalau begitu, mari kita ambil darahnya ya Bu. Silakan naik ke atas bed disana," ujarnya.
Vannya segera beranjak naik ke atas bed dan berbaring ditemani Vin yang berdiri di sampingnya. Sementara itu Dokter Fani mencuci tangan di washtafel tindakan. Sedangkan perawat menyiapkan spuit berukuran 5cc dan vacutainer atau tabung pengumpul darah untuk diantar ke laboratorium.
Setelah memakai handscone, perlak di bawah tangan Vannya dan melingkarkan torniquet di atas siku bagian yang akan di ambil sample darahnya.
"Saya ambil darahnya ya Bu, tarik nafas ya ...!" ujarnya seraya memasukkan spuit ke vena.
Dalam waktu tak lebih dari satu menit sample darah sudah di dapatkan. Dokter Fani segera menyerahkan spuit berisi darah kepada perawat untuk segera di masukkan ke dalam vacutainer berwarna levender yang sudah di sediakan.
Sementara itu Dokter Fani segera menekan kapas steril di bekas yang baru saja di tusuk dengan spuit untuk menghentikan darah agar tidak keluar dan menutupnya dengan hypavik.
"Tangannya di tekuk dulu ya Bu, supaya darah tidak keluar," ujarnya.
"Hmm terimakasih Dokter ...!" sahutnya seraya bangun mengubah posisinya untuk duduk.
"Kira-kira berapa lama hasil lab akan keluar Dok?" tanya Vin.
"Sekitar 30-40 menit Pak, mau di tunggu atau ...!" ujarnya belum selesai.
"Kami tunggu saja Dok, oh ya ... untuk USGnya?" tanya Vin.
"Kalau begitu, mari ikut saya ...!" ucapnya.
__ADS_1
Vin dan Vannya mengikutinya masuk ke sebuah ruangan yang berada di dalam ruangan tersebut. Vannya segera berbaring di atas bed dan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya dti pinggul ke bawah.
Dokter Vani segera menyingkap baju Vannya sampai sebatas bawah dada dan menuangkan gell ke perut bagian bawah Vannya. Proses USG segera di lakukan dalam waktu tak kurang dari 30 menit.
Terlihat rona bahagia di wajah keduanya, Vannya merasa bersyukur Tuhan berikan kepercayaan di dalam dirinya. Ia berharap kelak anak yang di kandungannya akan membawa kebahagiaan kepada siapapun.
Sementara itu,
"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Alina saat masuk ke kamar mendapati Chandra yang masih duduk bersandar di atas ranjang.
"Mana bisa aku tidur kalau tidak ada kamu," jawabnya.
"Aiishh! Sebentar aku cuci muka dulu, kamu dah cuci muka sama ...!" tanyanya.
"Udah sayang ...!" jawabnya memotong perkataan Alina sebelum selesai.
"Baguslah, anak pintar ...!" celetuknya berlalu meninggalkan area kamar.
Alina segera menuju washtafel untuk mencuci wajahnya dan membersihkan mulut sebelum tidur. Tak sampai 15 menit, Alina sudah selesai melakukan aktivitasnya dan segera meraih botol lotion di atas meja rias.
"Badanku sudah semakin besar sekarang, aku bahkan lupa berat badanku dua bulan yang lalu berapa kg ...!" gumam Alina yang masih mengolesi kakinya dengan cream lotion.
"Tidak apa berat badanmu naik, bagiku kamu yang paling cantik ...!" ujar Chandra yang sudah berdiri di ambang pintu ruang ganti dengan kamar utamanya.
"Hmm, iya Sayang. Semoga kamu tidaknberubah pikiran sampai beberapa bulan ke depan atau bahkan setelah aku melahirkan ya," ujar Alina segera bangkit dari duduknya.
"Hmm, ya udah yuk tidur ...!" ajaknya.
"Aku ada sesuatu untukmu," ujarnya menahan tangan Alina yang hendak berlalu pergi.
"Apa?"
"Kemarilah," ajak Chandra menggandeng Alina ke balkon.
Di balkon sangat gelap, mungkin Chandra lupa tidak menyalakannya. Alina segera berbalik badan hendak menyalakan lampunya. Namun tiba-tiba tangan Chandra menahannya.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Apa kamu gak lihat? Disini sangat gelap, kamu lupa belum menyalakan lampunya Sayang," jawab Alina dengan lembut.
"Aku tidak lupa," jawabnya.
"Lalu?"
"Hmm, makanya sini. Nanti kamu akan tau ...!" ujar Chandra menggandeng isterinya menuju kursi panjang disana.
"Hey ...! Kenapa bau wangi sekali? Apa disini ada hantu? Astaga ...! Aku lupa kata Mami kalau sednag hamil tidak boleh keluar malam lama-lama," ujarnya.
"Memang kenapa?" tanya Chandra dengan santainya.
__ADS_1
"Katanya wanita yang sedang mengandung wangi untuk mereka dan bisa mengundang juga,"
"Bagiku kamu juga wangi, apa itu berarti aku salah satu dari mereka?" ujar Chandra.
"Aiishh ...! Terus ngapain kita disini Sayang?" tanya Alina dengan lembutnya.
"Close your eyes ...!" ucapnya semakin membuat Alina penasaran.
"Kenapa harus tutup mata? Kamu mau kerjain aku? Ah tidak mau, aku takut ...!" ujarnya memasang wajah murung.
"Kamu percaya kan sama aku? Ayo dong close your eyes," ucap Chandra berusaha meyakinkan Alina.
"Tapi janji ya, jangan membuatku kaget ataupun takut ...!" ujarnya.
"Hmm, janji ...!" jawabnya dengan tersenyum simpul.
"Kelingkingnya dulu mana?"
"Astaga ...!" Chandra menyatukan kelingkingnya dengan kelingking Alina yang sudah sejak tadi di tunjukkan di depan wajahnya.
Setelah kelingking mereka saling bertaut, Alina memejamkan kedua matanya. Chandra segera memberikan isyarat entah kepada siapa.
"Masih lama?" tanya Alina.
"Sebentar lagi Sayang," jawabnya dengan lembut.
"Lama sekali sih," celetuknya.
"Sabar Sayang ...! Hitung dari 10 ya," ujarnya.
"Gak sekalian aja hitung dari 100?" sahutnya.
"Haha ...! Ya sudah dari 3 tapi pelan-pelan," ucapnya.
"1 ... 2 ... 3 ...!" Alina mulai menghitung.
"Itu bukan dari 3 namanya, ulangi ...!" perintahnya segera menutup kedua mata Alina dengan satu tangannya.
"Aiihh! Sama aja Sayang, 3 ... 2 ... 1 ...!" dengan sedikit kesal Alina kambali menghitung.
"Open your eyes ...!" ucapnya dengan setengah berbisik.
Perlahan Alina mulai membuka kedua matanya. Pandangan bertambah gelap dari sebelum dia menutup kedua matanya tadi. Beberapa kali Alina mengucek kedua matanya dengan tangan.
"Tidak ada yang berubah ...!" celetuknya dengan kecewa.
"Memang, selamat kamu kena prank ...!" ujar Chandra tertawa lepas.
"Aiih! Gak lucu tau, udahlah aku mau masuk saja. Dan kamu tidur saja disini," ucapnya dengan ketus.
__ADS_1