
"Tepat pukul 5 pagi, saat petugas memeriksa kamar pasien. Kami tidak menemukan kebaradaan Erlina di kamar, dan saat kami masuk ke dalam kamar mandi ternyata Erlina sudah dalam kondisi tak bernyawa, kemungkinan pasien melakukan tindakan bunuh diri, karena kata polisi tidak ada tanda-tanda bekas kekerasa di tubuhnya," ujarnya menjelaskan dengan merasa bersalah karena tidak bisa mencegah tindakan Erlina.
"Huh!! Terimakasih Pak atas informasinya. Silakan di urus saja prosedur pemakamannya," ucap Chandra.
"Ba-baik Pak ...! Sebelumnya kami meminta maaf karena tidak bisa menjaga keamanan pasien,"
"Tidak Pak ...! Ini adalah takdir Tuhan. Mungkin sudah jalannya untuk pergi dengan kondisi yang seperti itu. Saya tidak akan menyalahkan siapapun. Terimakasih sudah merawatnya beberapa hari ini," ujar Chandra berusaha bersikap bijak.
"Baik Pak," sahutnya dari seberang sana.
Telepon pun terputus, Chandra tak menyangka Erlina akan meninggal dengan keadaan yang seperti itu. Tapi semua sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali lagi. Toh dia bukan siapa-siapa dalam hidupnya.
Tokk ... tokk ...!
"Masuk ...!" ucapnya.
"Maaf Pak, ini berkas untuk pertemuan siang ini," ucapnya seraya meletakkan berkas yang sudah di bukukan.
"Terimakasih Vannya,"
"Kakak kenapa?" tanya Vannya setelah menyadari ada yang aneh dengan Chandra.
"Duduklah ...!" ucapnya.
"Terimakasih," Vannya segera duduk di depan Chandra.
"Baru saja, aku dapat telepon dari pusat rehabilitasi ...!" ujarnya mulai bicara.
"Apa disana ada masalah? Apa Erlina berbuat ulah?" tanya Vannya.
"Erlina pagi ini di temukan dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa di dalam kamar mandi," jawab Chandra.
"A-apa? Astaga ...! Malang sekali nasibnya," ujar Vannya metasa iba dengan apa yang di alami Erlina yang malang itu.
"Ya, semasa hidupnya di penuhi rasa dengki dan ambisi. Dia sudah menghabisi kedua orangtuanya dengan tangannya sendiri, dan sekarang dia mati karena perbuatannya sendiri,"
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, ajalnya akan tiba secepat itu ...!" imbuhnya.
"Ya, walaupun aku tidak mengenalnya dengan baik. Tapi aku merasa kasihan padanya. Lalu, apakah sekarang Kakak tidak akan hadir di acara pemakamannya?" tanya Vannya.
"Mungkin tidak," jawabnya.
"Kenapa tidak? Biar bagaimanapun dia tidak memiliki kerabat lagi saat ini Kak. Kasihan dia, aku mau temani Kakak kesana. Anggap saja sebagai penghormatam terakhir," ucap Vannya.
"Kamu benar Van, tapi mengingat dia yang sudah menghabisi kedua orangtuanya dengan sadis. Aku ...!"
"Kak ...! Kita tidak berhak menghukum orang lain, hanya Tuhan yang berhak memberi hukuman untuk hamba-Nya. Kita sebagai manusia juga tempatnya khilaf kan Kak," ujar Vannya dengan lembut berusaha meyakinkan Chandra.
"Kau benar lagi. Untuk kedua kalinya kamu memberikan pelajaran yang berharga untukku. Makasih Van ...! Baiklah aku akan bersiap-siap," ujar Chandra.
"Baik Kak ...! Kalau begitu aku juga siap-siap dulu," ucap Vannya segera bangun dari duduknya dan bergegas keluar.
Di meja kerjanya sudah ada Mbak Eni yang sedang duduk di sana. Vannya segera menghampirinya dan menyapa Mbak Eni.
"Hy Mbak ...! udah lama?" tanya Vannya.
"Darimana lagi kalau bukan dari ruang kerja Pak Chandra Mbak. Hmm, ada apa Mbak?" tanya Vannya.
"Tidak, aku cuma mau tanya apa laporanku sudah sampai? Tadi aku mengirimu pesan tapi tidak kamu balas, jadi aku kesini saja seklian jalan-jalan. Siapa tau kamu sibuk dan butuh bantuan," ujarnya.
"Hehe ...! Maaf Mbak, ponselku masih di tas. Jadi belum membukanya," jawab Vannya terkekeh.
Tak lama kemudian Chandra keluar, Vannya segera berdiri dan meraih tas kecilnya. Chandra juga meminta Mbak Eni untuk ikut dengannya, karena setelah dari pemakaman ia lanjut menemui klien dan bertemu dengan Vin.
"Eni, kamu ikut juga ya. Setelah ini aku ada pertemuan dengan klien, jadi nanti kalian kembali saja ke kantor. Aku tidak mau calon ibu ini kenapa-kenapa kalau kembali ke kantor sendirian," ujar Chandra.
"Calon Ibu?" tanya Mbak Eni bingung.
"Kau belum memberi tau sahabatmu?" tanya Chandra melirik Vannya.
"Hehe ...! Nanti aku jelaskan Mbak, sekarang vepat ambil tas. Aku tunggu," ujar Vannya.
__ADS_1
Setelah menunggu tak kurang dari 3 menit, Mbak Eni sudah kembali dengan tas di tangan kirinya. Mereka bergegas turun ke lantai bawah dan mengikuti Chandra dari belakang.
Mbak Eni tak banyak bertanya, karena sepertinya meteka terburu-buru. Toh nanti dia akan tau, kemana mereka akan mengajak dirinya saat ini. Hanya saja Mbak Eni masih kepikiran soal calon ibu yang baru saja Pak Chandra katakan.
Sementara itu,
Orang lalu lalang kesana kemari mengurus proses perawatan jenazah. Satu persatu sudah di lewati sebagaimana mestinya. Tepat pukul 10, tahap demi tahap sudah terlewati.
Tiba waktunya, mereka melakukan pemakaman. Sesuai pesan Pak Chandra, mereka di minta untuk memakamkam jenazah di tempat pemakaman yang dekat dengan makan saudaranya.
Mobil jenazah sudah siap, mereka segera memasukkan jenazah Erina ke dalam mobil ambulance. Beberapa petugas ikut mengantarnya ke pemakaman. Dalam waktu hampir satu jam, mobil sudah tiba di area pemakaman.
Di Pemakaman ....
"Selamat pagi, Pak Chandra ...! Ternyata anda sudah sampai lebih dulu," sapanya dengan ramah menyalami Chandra, Vannya dan Mbak Eni secara bergantian.
"Selamat pagi, Pak Budi ...! Ya, Erlina sudah tidak ada kerabat disini, jadi kami memutuskan untuk datang ...!" jawabnya.
Setelah itu mereka mengikuti petugas yang sudah membawa jenazah ke tempat dimana lokasi pemakamannya.
"*Siapa yang meninggal? Kenapa tidak ada keluarga dari jenazah itu? Dan hanya petugas dari pusat rehabilitasi yang datang membawa jenazah itu," batin Mbak Eni.
"Akhirnya aku kesini lagi setelah 6 tahun lebih tidak kesini. Kali ini aku mengantar saudarimu Erlita," batin Chandra.
"Kak Chandra pasti teringat dengan Kak Erlita, apalagi makam Erlina di satukan dengan makan Erlita ...!" batin Vanna yang sejak tadi melirik ke arah Chandra*.
Setelah proses pemakaman selesai dan para petugas yang mengantarkan Erlina berpamitan untuk kembali ke tempat kerjanya. Tinggalah Vannya dan Mbak Eni yange menemani Pak Chandra yang masih bersimpuh di atas pusara.
Sesekali Mbak Eni melirik ke arah Vannya, berharap ada jawaban dari pertanyaannya sejak tadi. Vannya hanya memberikan isyarat pada Mba Eni untuk nanti saja, karena situasi sedang tidak mendukung untuk dia menjelaskan.
"Erlita, aku datang lagi. Aku harap kamu bahagia disana. Sekarang Kakakmu juga sudah menyusulmu juga kedua orangtuamu yang sudah pergi lebih dulu. Kalian kembali di satukan sekarang," batin Chandra seraya memandangi batu nisan bertuliskan nama Erluta disana.
Chandra tersadar di sana masih ada Vannya dan Mbak Eni yang menunggunya. Ia segera bangun, dan menyunggingkan senyum simpul di wajahnya.
"Hmm, maaf. Kalian jadi menungguku. Makasih sudah menemaniku," ucap Chandra.
__ADS_1
"Sama-sama Pak ...! Saya turut berduka cita," ucap Mbak Eni dengan sopan.