Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Belum Ikhlas


__ADS_3

"Hmmm, masih kok. Meskipun sudah lama aku tidak lewat," jawabnya.


"Aku tidak menyangka, Pak Randy akan pergi secepat ini. Semasa hidupnya, beliau adalah pribadi yang bijaksana dan menjadi panutan smeua orang. Tidak ada para pegawainya yang mengeluh," ujar Dewi.


"Iya Wi, tapi kematian tidak memandang siapa dan apa jabatan seseorang,"


___________


"Kamu benar Ric, aku hanya belum percaya saja dengan kabar ini,"


"Eh iya, kamu udah dengar belum kalau Ilham hilang?" tanya Dewi.


"Hmm, aku dengar. Tapi aku tidak tau dia dimana, sudah lama kita tidak komunikasi karena dia sibuk dengan pekerjaannya," jawab Rico.


"Semoga saja dia bisa di temukan dalam keadaan sehat, walaupun aku dulu kesal sama dia karena sering mengganggu kami terutama Vannya. Tapi mendengar kabar ini aku juga kasihan," celetuknya.


"Heh ...! Ya begitulah dia, meski brengsek tapi aku tidak menyangka dia bisa lulus dengan gelar seorang Dokter, aku dulu sempat menyangka dia tidak akan lulus dan di DO," gumamnya.


Sesampainya di alamat, terlihat bendera berwarna kuning dsri kejauhan. Banyak mobil dan motor dari berbagai jenis yang terparkir di bahu jalan sepanjang gang sebuah rumah yang luas.


Dewi dan Rico berjalan beriringan, melewati gerbang yang menjulang tinggi. Terlihat beberapa security dengan sigap berdiri dan menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu.


Isak tangis terdengar semakin jelas, dari jauh Dewi melihat Nyonya Kinan yang terlihat tetap elegan sedang menangis memeluk seseorang di sana. Dewi berhenti sejenak, menyiapkan diri sebelum menemui sosok wani1ta yang ia kagumi sejak dulu.


"Sejak dulu, Nyonya Kinan selaku terlihat cantik. Meski dalam keadaan apapun, meski saat ini hatinya tengah hancur ...!" batin Dewi.


"Wi, ayo ...!" ajak Rico.


"I-iya Ric," sahutnya segera bergegas jalan mendekati Nyonya Kinan dan yang lainnya.


Perlahan, jaraknya semakin mendekat. Tinggal beberapa orang di depannya saat ini. Dewi sesekali melirik ke Vannya yang sejak tadi melihat ke arahnya. Akhirnya mereka bertemu, namun dalam suasana yang tak mereka harapkan.

__ADS_1


"Nyonya, saya turut berduka cita atas meninggalnya Bapak," ucap Dewi dengan suara yang parau. Rasanya hati terasa sakit saat bertatap mata dengan wanita di hadapannya saat ini.


"Makasih ya Wi," ucapnya seraya memeluk Dewi dengan erat.


"Maafkan kesalahan Bapak ya, saya mewakili suami meminta maaf jika semasa hidupnya ada kesalahan yang di sengaja maupun tidak," bisiknya.


"Iya Bu, Bapak tidak pernah melukai hati siapapun. Beliau adalah orang yang baik. Semoga Ibu selalu kuat dan sehat,"


Setelah beberapa saat berhadapan dengan Nyonya Kinan, sekarang Dewi harus berhadapan dengan sahabatnya. Sudah lama mereka tidak berjumpa, rasa rindu di hatinya tak mampu lagi di bendung.


Tanpa berkata-kata, Dewi langsung memeluknya dengan erat. Enggan untuk melepas dekapannya saat itu juga, tak ada kata yang mampu menggambarkan isi hatinya saat ini.


"Wi, makasih kamu sudah datang. Akhirnya kita bertemu," bisik Vannya.


"Hm, maaf ya Van. Aku belum sempat menemuimu, aku turut berduka cita," balasnya seraya mengusap punggung sahabatnya dengan lembut.


"Hmm, makasih Wi. Kamu jangan pulang dulu ya," pintanya.


"Baiklah, aku akan disini untukmu ...!" ujarnya.


Setelah menemui keluarga Pak Randy satu persatu, tiba waktunya Dewi juga Rico melihat jenazah Pak Randy untuk mendoakan dan menyampaikan permintaan maaf terakhir.


......DEWI POV......


Pak, ini Dewi ...! Pegawai baru Bapak, yang dulu seringkali membuat Bapak bingung karena saya masih baru dan banyak yang belum saya mengerti. Saya minta maaf jika banyak salah yang sengaja maupun tidak.


Semoga Bapak tenang disana, bahagia bersama Tuhan. Tinggal di surganya yang indah, saya bersaksi Bapak adalah orang yang baik. Tidak ada sedikitpun pegawai yang Bapak buat kesal.


Saya tidak percaya sosok yang selama ini saya kagumi sudah tiada. Takdir Tuhan begitu cepat datangnya, terimakasih atas ilmu yang Bapak berikan pada saya. Tanpa Bapak, mungkin saya masih berada di titik yang sama.


_______

__ADS_1


"Ayo kita keluar," ajak Rico.


"Hmm ...!" gumamnya. Air mata tak mampu ia bendung, menyisakan duka yang mendalam dalam hatinya.


Dewi dan Rico memilih untuk duduk di kursi ujung halaman seraya melihat para takziah yang terus berdatangan.


Tak lama setelah mereka duduk disana, seseorang mengumumkan jika jenazah akan segera di makamkan karena waktu sudah semakin siang. Dewi dan Rico segera berdiri, berjalan mendekat ke tengah-tengah halaman dimana yang lain sudah berkumpul disana.


Sebelum jenazah di bawa, Vin lebih dulu menyampaikan sepatah dua patah kata permintaan maaf mewakilin mendiang Papinya yang hari ini sudah berpulang ke hadapan yang Maha Kuasa.


Setelahnya, jenazah di masukkan ke dalam ambulance dan segera menuju area pemakaman yang tak jauh dari rumahnya. Sebagian ada yang ikut ke makam, ada pula yang emmilih untuk pulang.


"Ric, kita ikut ya ke makam. Aku sudah janji sama Vannya, untuk tidak pupang dulu ... tapu kalau kamu mau kembali ke Perusahaan gak apa-apa kok," ujar Dewi.


"Mana bisa, kita berangkat bersama masa iya pulang sendirian. Aku ikut juga," jawabnya.


"Hmm, makasih Ric," ucapnya dengan senyum mengembang di wajahnya.


Di Makam Keluarga ....


Selesai pemakaman, yang lain segera kembali ke mobil. Begitupun dengan Dewi dan Rico yang menunggu Vannya di parkiran area pemakaman. Semntara itu, Mami Kinan masih bersimpuh di atas pusara yang masih basah.


Kini dia benar-benar sudah di pisahkan dengan teman hidupnya, tak bisa lagi dia menatap wajah suaminya. Semuanya sudah berakhir, hanya gundukan tanah basah yang bisa dia lihat.


Dulu ia mengantarkan kepergian mendiang Ayah dan Bunda, tapi sekarang adalah suaminya. Kehilangan yang dulu saja belum terobati, sekarang harus kehilangan lagi dan lebih sakit.


"*Mas, istirahat dengan tenang. Maafkan aku yang belum bisa mengikhlaskan kamu sepenuhnya, aku belum siap dengan ini," kedua matanya menyusuri setiap jengkal gundukan tananh di depannya, dan batu nisan yang tertulis nama suaminya.


"Ya Tuhan aku titipkan suamiku kepada-Mu, pertemukan kami kembali kelak di surga-Mu. Jadikan kami keluarga yang utuh disana," buliran bening berhasil lolos melewati bukit kenyal yang sudah tidak mulus lagi*.


Siang semakin terik, angin berhembus cukup kencang mengibarkan rambut yang terurai. Entah sudah berapa lama Mami bersimpuh di sana, Vin dan yang lain hanya berdiam diri di belakangnya memberikan waktu sebelum mereka kembali ke rumah.

__ADS_1


Om Keanu yang sejak tadi di sampingnya seraya memayungi Mami tak bisa berkata-kata. Kecuali mengusap kepala Mami dengan lembut, dan merangkulnya dengan erat.


__ADS_2