Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Menjadikan Tawanan


__ADS_3

Mereka segera memegang kedua tangan Ilham dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Astaga ...! Itu Vin mau bawa pria itu kemana?" gumam Chandra yang baru tiba di halaman kantor kepolisian.


"Vin, tunggu ...!" teriak Chandra.


Namun usahanya terlambat, mobil Vin sudah berjalan meninggalkan area kantor kepolisian. Chandra tanpa berpikir panjang kembali masuk ke dalam mobilnya untuk mengikuti mobil Vin.


_____________


"Mau dibawa kemana pria itu? Apa sebenarnya rencana Vin?" gumam Chandra yang terus fokus memperhatikan mobil berwarna hitam di depannya.


Mobil di depannya melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Chandra kewalahan dibuatnya. Beberapa kali ia membunyikan klakson meminta jalan dari pengendara lain agar tak tertinggal oleh mobil di depannya.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir 2 jam, mereka tiba di sebuah tempat yang sepi. Tak ada rumah penduduk di sekitar sana, pepohonan menjulang tinggi keatas menambah kesunyian di sekitar.


Chandra bergegas turun dari mobil dan menghampiri mobil Vin. Security dan OB langsung menarik Ilham untuk segera keluar dari mobil dan menyeretnya masuk ke dalam hutan.


"Vin ...!" panggil Chandra jalan terbirit-birit.


"Vin tunggu ...!" panggilnya lagi.


Namun Vin tak menghiraukannya, emosinya sudah memuncak dan tak bisa ia kendalikan lagi. Semakin Ilham memberontak, semakin kuat pula mereka menarik Ilham membawanya semakin jauh dari tempatnya meninggalkan mobil tadi.


"Lepaskan aku, bunuh saja aku sekarang ...!" teriaknya.


"Diam ...!" bentaknya dengan lantang.


"Bunuh saja aku ...!" teriaknya.


Mereka terus menyeretnya semakin masuk ke dalam hutan. Tidak ada orang atau penduduk sekitar yang menyambangi hutan itu. Candra terus berlari mwngejar Vin yang berjalan seperti orang tidak pada umumnya.


"Vin, apa yang kamu lakukan? Mau di bawa kemana dia?" tanya Chandra seraya menarik tangan Vin.


"Lepaskan aku Kak ...! Biarkan aku memberinya pelajaran, dia sudah lancang mengganggu isteriku. Bahkan di depan mataku sendiri dia berani melakukannya, lalu apa lagi yang harus aku lakukan?"


"Apa kau masih harus diam saja dan tetap sabar? Sampai kapan? Hari ini bahkan dia sudah membuat nyawa iseri dan calon anakku hampir melayang, apalagi yang harus aku tahan? Kalau Kakak kesini hanya untuk menahanku sebaiknya Kakak pergi saja," imbuhnya dengan emosi.


"Baiklah, aku tidak akan menahanmu, tapi jangan sampai kamu membunuhnya ...! Ingat isteri dna calon anakmu," ujar Chandra.

__ADS_1


"Kalaupun dia mati, tidak akan yang mencarinya. Akan aku pastikan dia membusuk begitu saja di tengah hutan tanpa ditemukan orang lain," sahutnya.


"Astaga ...! Anak ini ...!" gerutunya melanjutkan perjalanan mengikuti Vin yang sudah beberapa langkah di depannya.


Sampailah mereka di sebuah gubuk kecil yang terbuat dari bilik bambu yang sudah rapuh. Mereka mendoringnya hingga jatuh tersungkur ke atas tanah yang keras karena tak pernah terkena air setetespun.


"Bunuh aku saja, bunuh ...!" ujarnya.


"Heh! Aku bisa saja melenyapkanmu sekarang. Tapi aku tidak sejahat itu, aku akan memberikanmu kesempatan untuk menikmati segarnya udara di bumi sebelum nyawamu terlepas dengan sendirinya dari tubuhmu,"


"Aku tidak suka memaksa, mana mungkin aku memaksa nyawamu yang masih betah bersarang di dalam tubuhmu itu, aku akan membuat nyawamu perlahan bosan bersarang di dalam tubuhmu yang sudah tak berdaya lagi," imbuhnya dengan memegang sebilah kayu.


"A-apa yang kau maksud?" tanyanya dengan penuh rasa takut.


"Heh! Apakah telingamu tak berfungsi dengan baik? Tau efek pukulan di wajahmu itu?" ucapnya berjalan mendekat.


"Ja-jangan mendekat ... diam disitu ...!" ujarnya seraya merangkak mundur.


"Cih ...! Memang aku anak buahmu yang harus mengikuti perkataanmu? Tadi katanya bunuh saja, kenapa sekarang takut? Pengaruh alkohol sudah habiskah? Hahah ...! Aku lupa, kamu sedang tidak minum ... tapi otak dan mulutmu tak sinkron ... bahkan matamu sudah rusak karena nafsumu," ujarnya.


"Ja-jangan bunuh aku ... aku masih ...!" ujarnya.


"Ma-maafkan aku ...!" ujarnya mengiba.


"Maaf katamu? Kau pikir dengan kata maafmu bisa mengembalikan kondisi isteri dan calon bayi kami? Harusnya kau berpikir dulu sebwlum bertindak. Palagi kau afalah seorang Dokter, Cih ...! sangat memalukan ...!"


"Ini untuk nyalimu yang berani menyentuh isteriku, Bug ...!"


"Ini untuk kebodohanmu karena sudah membuat isteri dan calon bayi kamu dalam keadaan gawat, bug ...!"


"Dan ini adalah untukmu karena sudah membuat emosiku memuncak, brakkk ...!"


Lagi-lagi Ilham mendapat beberapa pukulan di bagian tubuhnya yang lain hingga membuatnya terjerambah. Tak ada yang berani melerainya, apalagi saat melihat wajah Vin yang sangat menakutkan.


Bahkan Chandra saja tak berani memintanya berhenti, karena sebelumnya sudah berjanji untuk tidak menahannnya. Ia memilih berdiam diri di luar menunggu sampai Vin reda emosinya dan mengajakna pergi dari tempat ini.


"Aaahh ...!" teriaknya menahan rasa sakit.


"Aku memang akan membantumu untuk bebas dari tahanan, tapi jangan harap kamu bisa bebas setelahnya. Kamu akan menjadi tawananku sampai aku merasa puas," ucapnya mengancam.

__ADS_1


"Tolong bunuh saja aku," pintanya penuh rasa iba.


"Cih ...! Tadi bilang jangan bunuh, sekarang minta di bunuh. Plin-plan sekali jadi pria," gumam Vin.


"Kenapa diam?" bentaknya.


"Ti-tidak," jawabnya ketakutan.


"Vin sebaiknya kita segera pergi. Kita harus mengurus Vannya, dia harus di rujuk ke Rumah Sakit yang sama dengan Rumah Sakit tempat Papi di rawat," ujar Chandra.


"Kalian ikat dia, tutup semua akses agar dia tidak bisa kabur ...!" ujar Vin.


"Ba-baik Pak ...!" jawabnya terbata-bata.


"Bunuh saja aku ... bunuh cepat ...!" teriaknya.


Vin bergegas pergi meninggalkan Ilham begitu saja. Security dan OB segera menutup pintu dan jendela dari luar tanpa memperdulikan teriakan Ilham yang terus meronta.


"Kalian bawa mobilku saja, biar aku pergi dengan Vin," ujarnya seraya menyerahkan kunci mobil pada security.


"Baik Pak," jawabnya.


"Tutup mulut kalian, jangan katakan apapun pada siapapun. Anggap saja kalian tidak melihat kejadian yang baru saja terjadi,"


"Baik Pak ...!" jawabnya lagi secara bersamaan.


"Hmm, pergilah ...!"


Mereka bergegas pergi meninggalkan area sepi tersebut. Benar-benar tidak ada orang yang terlihat disana, bahkan nyamukpun tak terlihat. Sementara itu, Chandra meraih kunci mobil di tangan Vin.


"Biar aku yang menyetir, emosimu sedang tidak stabil," ucapnya.


"Hmm, makasih Kak ...!" ucapnya.


Chandra segera menginjak gas meninggalkan tempat tersebut menyusul mobilnya yang sudah jalan lebih dulu di depannya. Mereka menuju Rumah Sakit dimana Vannya berada saat ini.


Dalam waktu 1 jam mereka sudah tiba di Rumah Sakit dan segera bergegas menemui Vannya dan Mbak Eni yang sudah mereka tinggal selama hampir 3 jam lamanya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Vin setelah tiba di depan ruang tindakan IGD.

__ADS_1


__ADS_2