
"Kin, bangun Kin ...!" sebuah suara samar-samar terdengar di telingaku. Tubuhku terguncang hebat, membuatku segera tersadar dan membuka kedua mataku secara perlahan.
"May, Kak Sofi, Bu Irene ...? Kenapa kalian disini? Ada apa?" tanyaku.
"Mereka sudah tiba," jawab Mamah Maya.
"Mas Randy pulang? Mana? Aku akan menemuinya ...!" Aku langsung berhambur lari keluar dari kamar untuk segera memeluk suamiku yamg sudah pulang.
____________
"Mas ...!" Teriak Mami berhambur lari keluar.
Menyisakkan Mamah Maya dan yang lainnya di kamar. Mereka tak sanggup lagi menahan kesedihan, tangisnya seketika pecah begitu saja. Begitu sakit melihat sahabatnya kini harus kehilangan sang belahan jiwa untuk selamanya.
"Sof, aku gak bisa pura-pura lagi ...!" isak Mamah Maya.
Mereka saling beperlukan satu sama lain, keduakaan yang mendalam di rasakan oleh semua orang. Suasana berkabung menyelimuti seisi rumah yang sudah menjadi saksi keduanya.
"Kalau bukan kita. Siapa lagi yang akan menguatkan Kinan, May ... Bu Irene ...!" ucap Tante Sofi.
"Ya Tuhan, kenapa harus terjadi hari ini. Kuatkan aku Tuhan, agar aku bisa menguatkan sahabatku ...!" gumam Mamah Maya.
Mereka segera pergi menyusul Mami Kinan yang sudah keluar lebih dulu. Tante Sofi segera lari mendekap Mami Kinan yang terduduk tak berdaya di lantai. Tangis Mami semakin pecah, membuat siapapun yang berada disana turut menangis tersedu.
"Kak ... Mas Randy ...!" ucapnya.
"Iya Kin, Randy sudah tiada. Kamu tau kan? Kamu harus kuat, meski itu berat ...!" bisiknya tak kuasa menahan air matanya.
"Mih ...!" panggil Vin.
"Vin, tenangkan Mami mu ... Nak," ujar Tante Sofi.
"Iya Tante," jawabnya seraya mendekap Mami dalam pelukannya. Membiarkannya menangis untuk beberapa saat, biarkan kesedihannya di tumpahkan semuanya.
Vin hanya bisa diam, memeluk wanita paruhbaya yang sangat berarti dalam hidupnya. Lidahnya kelu, tak mampu menyampaikan satu patah kata agar bisa menenangkan Mami.
"Vin, Papimu ...!" ucapnya.
"Mam, aku sudah ikhlas. Aku sadar, aku tidak akan bisa melawan takdir Tuhan. Mami juga harus bisa melepaskan Papi, mengikhlaskannya ...!"
__ADS_1
"Tuhan yang memberi hidup, Tuhan pula yang mengambilnya. Kita berpisah dengan Papi hanya sementara Mam, kelak kita akan bertemu dan berkumpul lagi di surga," imbuhnya dengan bijak.
"Tidak bisa Vin, terlalu sulit untuk Mami bisa mengikhlaskan ...!" jawabnya dengan terbata.
"Bukan tidak bisa, tapi belum. Aku tidak akan emmaksa Mami untuk itu, tapi ingat ... Mami masih ada kami di sini," ujarnya mengecup pucuk kepala Mami dengan lembut.
"Makasih Sayang,"
Vin merangkul Mami, mendekati jenazah Papi di atas karpet di ruang tengah. Mereka duduk bersimouh di sampingny, membuka kain penutup wajahnya untuk melihat wajah Papi yang sudah pucat.
Perlahan, Mami mengusap wajah Papi. Menyusuri setiap jengkal wajahnya tanpa tertinggal celah sedikitpun. Tak perduli semua orang yang berada di sekelilingnya, Mami tak ingin kehilangan satu detikpun waktunya untuk bisa melihat wajah Papi di hadapannya.
"*Mas, kamu lagi tidur kan? Ayo bangun ...! Ini sudah siang Mas,"
"Biasanya kamu langsung bangun kan kalau aku ganggu seperti ini, ayo cepat bangun. Marahi aku, kejar aku yang lari menghindar* ...!"
"Mam ...! Papi akan segera di mandikan," ujar Chandra.
"Sebentar lagi Nak, Mami masih kangen sama Papi. Biar Papi mandi sendiri aja," sahut Mami tanpa disadari. Seketika tangisnya kembali pecah, teringat kini suaminya sudah tak bisa bangun lagi.
"Hiks ...!" Mami memeluk erat tubuh Papi, enggan untuk melepaskannya.
Chandra dan Vin bersusah payah membujuk Mami untuk melepas pelukannya dan membiarkan Paoi di mandikan, karena hari sudah siang dan pemakaman sudah selesai di gali.
"Sebentar Bang, apa suaraku tidak terdengar?" ucap Mami sedikit kesal.
"Kin, ingat ... suamimu sudah meninggal. Kasihan kalau ditunda terus," ujar Om Keanu.
"Bang ...!" ucapnya meminta sedikit waktu lagi.
"Tidak, kali ini kamu harus dengarkan aku ...! Ayo ikut Abang," ucap Om Keanu.
Seperti anak kecil yang enggan di paksa, tapi Mami Kinan tak bisa berbuat apa. Dia sadar, situasi sudah berbeda sekarang. Meski dia tidak mau jauh-jauh dari jenazah Papi, bukan berarti dia menentang Om Keanu saat ini.
_______
Di bawah ramai, terdengar suara banyak orang di sana. Tapi kali ini ia enggan untuk keluar menemui mereka, ia masih duduk di kursi rias. Menatap wajahnya yang sembab, dengan balutan baju berwarna hitam.
Sudah satu jam lebih, ia berada disana. Entah apa yang dia lakukan, rasanya semangat dalam hidupnya sudah sirna. Tak ada arah yang bisa dia lihat di depannya saat ini.
__ADS_1
Seperti sednag berdiri dia persimpangan jalan yang sama-sama gelapnya. Tidak ada lampu penerang ang menyala, susah untuknya melangkahkan kaki memilih jalan mana yang akan ia lewati.
Cklekk ...!
"Sayang, ayo turun ...!" ajak Chandra mendekap isterinya dari belakang.
"Aku tidak mau turun, aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak akan kemana-kemana," jawabnya.
"Hey ...! Papi akan sedih melihat putrinya seperti ini. Papi menyayangimu sampai kapanpun, Papi hanya kembali ke sang Pencipta Sayang. Tapi dia selalu ada bersama kita, di hati kita semua ...!"
"Tapi aku tidak siap untuk ini,"
"Tidak ada manusia yang siap menghadapi takdir ini, semua orang bahkan menghindarinya. Tapi kita bisa apa, jika ada Tuhan yang maha Menentukan,"
"Turunlah, semua sudah di bawah ...! Kita harus kuat, buat Mami ...!" imbuhnya.
"Ma-Mami, dimana Mami?" tanyanya.
"Mami di bawah, kamu mau temani Mami di sana kan?" ujarnya dengan sabar.
"Hmm," gumamnya seraya mengangguk dengan pelan.
"Hapus air matamu, jangan biarkan wajah cantik isteriku tertutup kabut hitam,"
Chandra menggandang isterinya untuk turun dari kamar. Vannya dan Vin juga baru keluar dari kamar, Alina mengulurkan tangannya menggandeng adik iparnya untuk berjalan beriringan ke bawah.
Mereka segera mendekati Mami dan yang lain di teras depan menemui para tamu yang datang untuk takziah. Banyak sekali, bahkan dari luar kota sekalipun turut datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Sementara itu,
"Rico, aku ikut kamu ya ...!" ujar Dewi.
"Okay, aku ambil mobil dulu ...!" ucap Rico bergegeas pergi ke parkiran.
Tak lama setelah itu, mobil berhenti tepat di depan Dewi yang sudah berdiri di lobby. Para pegawai bergantian untuk takziah ke kediaman Pak Randy, karena mereka tidak bisa menutup Perusahaan kecuali hari libur.
"Kamu masih ingat jalan ke rumah Pak Randy kan?" tanya Dewi.
"Hmmm, masih kok. Meskipun sudah lama aku tidak lewat," jawabnya.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, Pak Randy akan pergi secepat ini. Semasa hidupnya, beliau adalah pribadi yang bijaksana dan menjadi panutan smeua orang. Tidak ada para pegawainya yang mengeluh," ujar Dewi.
"Iya Wi, tapi kematian tidak memandang siapa dan apa jabatan seseorang,"