
Sesampainya di Perusahaan, Vin berjalan menuju lift yang terdapat tulisan khusus CEO. Randy berangkat lebih dulu karena Vin menolak untuk diajak berangkat bersama dengan alasan dia tidak mau orang lain memandangnya karena putra Randy.
Sebelum sampai di depan lift, Vin berbelok menuju lift yang berada di sebelah kiri bagian administrasi. Entah angin apa yang membuatnya memilih untuk berbalik badan dan menjauhi lift yang sudah ada di depan mata.
Semua mata melihat Vin dengan tatapan kagum, selama ini Vin memang jarang bahkan tidak pernah ikut Randy untuk datang ke acara undangan rekan bisnis ataupun teman-teman Randy atau Kinan.
*Wahh tampan sekali. Apakah dia pegawai baru yang akan bekerja disini? Semoga mereka satu departement denganku. . . Supaya aku bisa melihatnya setiap hari.
Wah. . . Menggemaskan sekali berondong yang satu ini. . .Hmm apakah dia masih jomblo? Kalau iya, ingin rasanya aku menjadikan dia sebagai menantuku* . . .
Satu persatu semua pegawai keluar dari lift, meninggalkan Vin sendiri di dalam lift. Sesampainya di lantai 4, Vin segera keluar dari ĺift dan menuju sebuah ruangan yang terdapat tulisan Ruang CEO.
Tokk. . .Tokk. . Tokk. .
"Masuk. . ." Ucap Randy dari dalam sana.
"Makasih Pi. . " Ucap Vin setelah menutup kembali pintunya.
"Kamu sudah datang rupanya. Satu jam lagi meeting akan di mulai. Kamu ikut saja, supaya kamu tau bagaimana kerja kita dan kedepannya kamu ada gambaran untuk pekerjaanmu." Ucap Randy pada Vin.
"Tapi Pi, aku belum lulus kuliah. Apa kata orang nanti, aku tidak ingin mereka salah paham dan menjudge Papi yang tidak-tidak." Ujar Vin.
"Apa kau lupa kalau Papi pemilik perusahaan ini?" Tanya Randy.
"Hmm. . Apakah ini pilihan yang tepat? Bukankah aku belun ada pengalaman? Bahkan Papi sendiri yang bilang kalau aku datang hanya untuk perkenalan saja." Ujar Vin.
"Papi hanya ingin kamu belajar mengelola Perusahaan ini Nak. Papi sudah 50 tahun, dan mau tidak mau sebentar lagi Papi harus berhenti. Meski ini Perusahaan Papi, tapi Papi harus mengikuti peraturan disini usian 60 tahun sudah pensiun." Ujar Randy lagi.
"Mengakui juga kalau Papi sudah berumur. Baiklah, tapi ada syarat." Ujar Vin.
"Apa itu?" Tanya Randy dengan serius.
"Ikut kemanapun aku pergi selama satu bulan aku kerja disini. Anggap saja Papi sedang melihat anak magangnya." Ucap Vin.
"Baiklah. . Ada lagi?" Tanya Randy.
__ADS_1
"Permintaan selanjutnya akan aku pikirkan lagi." Ujar Vin.
"Baiklah. . . " ujar Randy menyanggupi syarat dari Vin.
Selama satu jam sambil menunggu waktu meeting tiba, Vin hanya duduk di sofa sambil mengamati Randy yang sedang berkutik di meja kerjanya membuka beberapa berkas di hadapannya.
Kerutan di wajah Randy tidak bisa di bohongi. Terlihat jelas ada beberapa kerutan di wajahnya. Vin tak henti-hentinya menatap Randy dengan rasa kagum terhadap Randy.
Meski kerutan di wajahnya sudah terlihat jelas, tapi tidak bisa di pungkiri. Kharisma Papi masih tetap muda dan begitu tegas dalam soal pekerjaan. Sejak dulu Papi bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Dan aku harus bisa seperti Papi, bahkan lebih dari Papi.
"Vin. . meeting akan segera di mulai. Sebaiknya kita segera kesana. Ayo." Ujar Randy membuyarkan lamunan Vin.
"Ah?? Sudah ya? Okedeh. Ayo Pi." Ucap Vin segera berdiri dari sofa dan mempersilakan Randy untuk jalan lebih dulu.
"Kamu sakit?" Tanya Randy.
"Tidak, aku hanya gugup Pi. . Inikan pertama kalinya aku ikut meeting." Ujar Vin.
"Benarkah? baiklah. Ayo kita pergi sekarang." Ujar Randy.
Sampailah pada sesi terakhir, Randy memanggil Vin untuk bangun dari duduknya dan maju ke depan untuk di perkenalkan dengan semua pegawainya.
"Maaf menyira waktu nya sebentar. Hari ini saya meminta putra saya untuk datang ke Perusahaan. Saya ingin memperkenalkan pada kalian, dan juga membantunya. Karena mulai hari ini Vin saya tetapkan sebagai CEO muda di Perusahaan ini. Nak perkenalkan dirimu dengan baik." Ujar Randy.
"Makasih Pi. . Selamat siang semua. .Perkenalkan saya Melviano, panggil saja saya Vin. Mulai hari ini saya mulai bergabung untuk bekerja, mohon bimbingannya karena saya masih belajar. Semoga saya bisa mengerjakannya dengan baik." Ucap Vin.
Semua bertepuk tangan dan menganggukan kepalanya setelah Vin selesai memperkenalkan dirinya.
*Wahh. . jadi dia Putra Pak Randy yang selama ini di bangga-banggakan. Memang patut di banggakan
Hilang sudah harapanku untuk menjadikannya sebagai menantuku. Mana berani aku melamar Tuan Vin untuk aku jadikan sebagai menantuku.
_._._.
Sementara itu*. . .
__ADS_1
"Hallo Mam. . ." Ucap Alina saat terlihat wajah Kinan di layar ponselnya.
"Hallo Nak. . .Bagaimana kabarmu?" Tanya Kinan pada Alina.
"Baik Mam. . .Mami bagaimana kabarnya? Sedang apa sekarang?" Tanya Alina.
"Mami sedang merindukan putri Mami Nak. Kamu jadi pulang kan besok?" Tanya Kinan untuk memastikan.
"Jadi Mamiku sayang. Mana mungkin aku bohong sama Mami. Bahkan aku sudah packing semuanya dari seminggu yang lalu. Aku sudah tidak bisa menahan rinduku pada kalian. Apalagi udang asam manis buatan Oma Bunda, Daging asap buatan Oma." Ujar Alina.
"Baiklah, besok akan Mami undang Oma untuk menyiapkan makanan kesukaan kamu sayang. Bagaimana dengan pekerjaanmu disana?" Tanya Kinan.
"Aku mau berhenti dari dunia intertainment sementara waktu Mam. Aku mau seperti Om Keanu yang sudah sukses menjadi profesor. Kan Mami tau, tujuan aku kesini ya untuk menyelesaikan study Mam." Ucap Alina.
"Anak Mami sudah dewasa sekali. Kita sangat bangga punya kamu Nak. Apapun keputusanmu, Mami dan Papi akan mendukungmu selama kamu nyaman dan baik-baik saja tentunya." Ucap Kinan.
"Ok Mami. . .Sampaikan salamku untuk Papi dan adik kecilku yang sudah tidak kecil lagi ya Mam." Ujar alina.
"Iya sayang. . ya sudah kamu istirahatlah. Sampai jumpa besok lusa Nak." Ucap Kinan.
"Iya mami. . Kakak sayaaaaaang banget sama Mami." Ucap Alina.
Panggilan berakhir, Kinan menatap wajah putrinya di layar ponselnya yang baru saja dia dapatkan di sosial media milik Alina.
Terimakasih selalu menjadi anak yang baik untuk kami Nak. Sejak dulu sampai sekarang, tak pernah sedikitpun kamu mengusahkan kami. Semoga kamu bisa meraih impianmu, Mami tidak akan mengekangmu, karena kamu sudah membuktikan pada kami kalau kamu selalu berada di jalan yang benar.
Kinan lanjut menghubungi Bubda dan Mamah untuk datang ke rumah karena ingin belajar masak makanan kesukaan Alina, meski alasan sebenarnya supaya keluarganya bisa berkumpul setelah beberapa bulan mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
\=\=\=\=\=
**Mohon maaf, masih mencoba untuk bisa menyambungkan ceritanya.
Kalau ada ide untuk cerita selanjutnya, dengan senang hati aku terima masukannya.
Terimakasih sudah berkenan untuk membaca karyaku**. .
__ADS_1