
Prangggg ...!
Sebuah figura yang terpasang di dinding hancur begitu saja. Vin yang saat itu tengah kedatangan tamu dari luar kota tersentak, mendekati figura yang jatuh. Ya, itu adalah foto kedua orangtuanya. Yang sengaja ia pasnag di dalam ruang kerjanya agar bisa melihat mereka setiap saat.
Perasaan aneh mulai menjalari tubuhnya, tiba-tiba Vin merasa cemas. Tapi entah apa yang ia cemaskan, padahal tadinya ia merasa baik-baik saja, tubuhnya tergolek lemas, bagai badan tak bertulang. Dewi yang melihatnya lamgsung histeris dan menghampirinya.
"Pak Vin," teriaknya.
"Pak tolong," imbuhnya dengan panik.
"Pak Vin, apa yang terjadi, apa Bapak terluka?" tanya seorang tamunya yang langsung lari dan berlutut mendekatinya.
"Saya baik-baik saja. Tapi entah kenapa badanku terasa lemas," jawabnya.
"Kalau begitu mari saya bantu untuk duduk ke atas sofa ya," ujarnya.
"Terimakasih Pak,"
"Saya panggilkan dokter dulu ya Pak," ujar Dewi.
"Tidak usah Wi, aku baik-baik saja. Coba kamu hubungi orang rumah ya. Aku hanya kepikiran Mami," ucapnya.
"Baik Pak," jawab Dewi.
Sementara itu,
Setelah beberapa saat berdiam diri melihat air turun dari balik jendela, lama-kelamaan Mami merasa gatal ingin keluar menyentuh air hujan secara langsung. Mengobati rasa rindunya terhadap kekasih hati yang sudah tiada.
Setelah keluar dari kamar, Mami melihat ke kanan dan kiri, menyapu seluruh ruangan. Tidak ada orang disana, itu artinya aman. Tidak akan ada yang melarangnya untuk keluar, terdengar suara alat pel dari ruangan sebelah.
Dengan langkah perlahan, tanpa menimbulkan suara, Mami menuruni anak tangga untuk segera keluar dan bermain air hujan. Dan benar saja, setelah jendela di buka bias air mengenai sebagian wajahnya. Angin yang membawa air hujan langsung menyambutnya dengan riangnya.
"Ahh! Sudah lama aku tidak merasakan ini. Mas, kamu lihat kan? Aku bisa main air hujan lagi, aku mau main sama Mas. Bisakah kamu datang meski hanya sebentar Mas?" gumam Mami menarik nafas panjang.
Perlahan, kedua kakinya melangkah maju menginjak teras rerumputan basah ang tergenang air. Kepala menengadah ke atas, kedua matanya terpejam menikmati tetesan air yang menjatuhi wajahnya.
Suara gemuruh petir di atas sana, tak membuatnya merasa takut dan berlari masuk. Mami begitu menikmatinya, bahkan ia semakin berjalan maju menuju tengah-tengah area halaman rumah di bagian belakang.
__ADS_1
Bagi Mami, hujan adalah pengobat rindu di kala sendkri. Saat ini Papi sedang menjadi hujan, yang ingin menengoknya di bumi. Mami semakin hanyut dalam buaian rintik hujan yang semakin deras.
Saat kebahagiaan mulai Mami rasakan, melepaskan segalanya yang selama ini Mami pendam. Tiba-tiba badannya kehilangan keseimbangan, kakinya terpeleset saat menginjak batu yang sudah berlumut.
"Aaaahhh!" pekiknya.
Tubuhnya tergeletak bersimbah darah di bawah guyuran air hujan. Kepalanya tak sengaja terbentur batu yang tajam, mulutnya seakan pilu tak mampu untuk berteriak. Tidak akan ada orang melihatnya, kecuali jika Bi Minah ke halaman belakang.
•••••
(Telepon rumah berdering setelah beberapa saat)
Bi Minah segera menyudahi aktivitasnya untuk mengangkat telepon di lantai bawah. Sejenak ia menoleh ke arah kamar Mami yang sedikit terbuka, tidak ada orang di dalam. Mungkin Mami sedang di kamar mandi, begitu pikirnya.
Bi Minah melanjutkan untuk turun ke bawah karena suara telepon tak berhenti berdering sejak tadi. Kedua matanya melirik ke aah pintu halaman belakang yang terbuka, padahal tadi dia sudah menutupnya.
Setelah meraih gagang telepon, Bi Minah seraya berjalan mendekati pintu hendak menutupnya kembali karena tampias air masuk ke dalam dan akan membahayakan orang jika ada yang lewat.
"Hallo, dengan Minah disini. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Bi Minah.
"Nyonya sepertinya sedang di kamar mandi Non. Tadi saya tidak melihat dia di posisi yang biasanya," jawab Bi Minah.
"Tapi Nyonya baik-baik saja kan Bi?" tanya Dewi untuk memastikan.
"Iya Non. Nyonya baik-baik sa ...!" ucapanya terhenti saat melihat Mami sudah tergeletak di tengah-tengah halaman rumah.
"Nyonya ...!" teriaknya histeris. "Non, tolong panggilkan ambulance, Nyonya besar jatuh ...!" telepon terputus begitu saja. gagang telepon lolos dari genggaman tangannya.
"Hallo Bi," panggil Dewi yang turut panik.
Bi Minah langsung berlari menerobos hujan. Menghampiri Mami yang sudah tergolek tak berdaya dengan darah yang sudah bersih tak terlihat satu tetespun di wajahnya.
"Ya Tuhan! Nyonya, bangun Nya ...! Kenapa Nyonya bisa ada di sini," teriak Bi Minah.
Dengan susah payah, Bi Minah memindahkan tubuh Mami ke teras sampai menunggu ambulance datang. Bi Minah meraih kain selimut yang masih tergantung di atas tempat jemuran pakaian yang sudah kering untuk menutupi tubuh Mami yang sudah pucat.
Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara sirine ambulance yang semakin keras. Lagi-lagi Bi Minah berlari, hingga terjatuh beberapa kali karena licin.
__ADS_1
Cklek ...!
"Pak cepat," panggil Bi Minah.
Mereka langsung diarahkan ke tempat dimana Mami berada saat ini. Selang Oksigen langsung mereka pasangkan untuk memberikan pertolongan pertama. Setelah itu, mereka juga menghentikan perdarahan di area kepalanya dengan membalutkan kain kassa seadanya.
Dengan cepat, Mami langsung di angkat menggunakan brankar menuju ambulance untuk di bawa ke Rumah Sakit. Setelah mengunci seluruh pintu dan meraih telepon genggamnya yang terletak di atas meja, Bi Minah segera mengikuti petugas kesehatan dan turut masuk ke dalam mobil ambulance.
Di sepanjang jalan, Bi Minah berusaha menghubungi Vannya dan yang lain untuk mengabarkan jika saat ini Ibu mereka akan di bawa ke Rumah Sakit.
Di sisi Lain ...
Vannya tengah merapikan berkas untuk di bawa ke ruang kerja Chandra untuk meminta tanda tangannya. Setelah smeua terkumpul, ia segera masuk dan membukakan berkas satu persatu.
Tring!
"Bi Minah? Sebentar ya Kak," ujar Vannya segera menggeset tombol berwarna hijau di layar ponselnya.
"Hallo Bi, ada apa? Mami baik-baik saja kan?" tanya Vannya.
"Nyonya ... Nyonya besar saat ini kami bawa ke Rumah Sakit Permata Ungu," ujarnya terbata.
"A-apa? Apa yang terjadi Bi?" tanya Vannya dengan cemas.
"Sa-saya tidak tau Nyonya. Tapi saya menemukan Nyonya sudah tergeletak di tengah hujan di halaman belakang," ujarnya.
"Astaga! Bi saya titip Mami ya. Saya langsung kesana sekarang, tolong terus kirimkan informasi ke saya ya Bi," pinta Vannya.
"Ba-baik Nyonya," telepon terputus.
"Ada apa? Kau mau kemana?" tanya Chandra.
"Kak kita harus ke Rumah Sakit sekarang. Mami jatuh, aku tidak tau bagaimana ceritanya. Yang pasti Bi Minah sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit," ujarnya.
"A-apa? Ayo kita sekarang ke Rumah Sakit,"
________
__ADS_1