
Revan sudah keluar dari ruang kerja Vin sejak 15 menit yang lalu. Vin berdiri di dekat jendela melihat orang yang sedang lalu lalang di bawah sana.
Hmm. . .membosankan sekali sepanjang hari harus berdiam diri disini. Bagaimana caranya supaya aku tidak bosan? Huhh. . Papi. . kemana dia? Baiklah, aku akan ke ruangan Papi saja, setidaknya ada teman ngobrol disana.
Vin meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Lalu pergi keluar dan menuju ruang kerja Randy. Namun saat hendak membuka pintu, seorang sekretaris mendekatinya dan mengatakan jika Randy masih ada tamu.
"Maaf Pak Vin, Pak Randy sedang ada tamu di dalam." Ujarnya dengan sopan.
"Sampai kapan?" Tanya Vin.
"Kalau menurut jadwal pertemyan sampai satu jam yang akan datang Pak." Ucapnya lagi.
"Huhh. . Ya sudah. Katakan padanya aku pergi menemui Om Revan dan om Haris. Aku bosan sendirian di dalam ruanganku." Ucap Vin lagi.
"Baik Pak." Jawabnya.
Vin segera berjalan menjauhi ruang kerja Randy dan langsung menuju lift. Vin rupanya lupa ruang kerja Haris dan Revan.
"Bu, Maaf. Apakah Anda rau ruang kerja Om Haris dan Om Revan?" Tanya Vin pada seseorang yang berpapasan dengannya.
"Oh Ruang Pak Revan berada di ujung lorong lantai ini Pak." Ucapnya menggerakkan tanfannya untuk menunjukkan arah yang harus Vin lewati.
"Oh Baiklah. . .Terimakasih Bu." Ucap Vin.
Vin melanjutkan langkah kakinya menyusuri lorong lantai 3 untuk menemui Revan dan juga Haris. Semua orang yang berpapasan dengannya menganggukkan kepalanya dan melempar senyum padanya.
Tok. . tokk. . tok..
"Om boleh aku masuk?" ucap Vin dari balik pintu.
"Masuk Nak. . "Ucap Om Revan.
__ADS_1
"Makasih Om." Vin masuk dan duduk di sofa yang berada di ujung sudut ruang kerja Revan.
"Apakah aku mengganggu Om?" Tanya Vin lagi untuk memastikan jika kedatangannya tidak menggangu.
"Tidak Vin, Om hanya sedang menyelesaikannya jadi maaf ya Om sambil mengerjakan ini sebelum deadline." Ucap Om Revan tersenyum.
"Hmm. . Okey Om. Aku hanta bosan sendiran di ruangan. Tadi aku ke ruangan Papi tapi katanya Papi sedang ada tamu." Ucap Vin menjelaskan maksud kedatangannya.
"Papimu memang hampir setiap hari ada tamu Nak. Dia selalu sibuk, tapi setidaknya dia bisa membagi waktunya untuk keluarga. Bahkan Papi mu tidak pernah membawa pulang pekerjaannya kan?" Ucap Om Revan yang lagi-lagi membuat Vin sadar jika selama ini Randy bisa membagi waktu untuk pekerjaan, keluarga dan yang lainnya.
"Hmm. . .iya om."Jawab Vin menganggukkan kepalanya.
Om Revan benar. . Papi tidak pernah membawa urusan pekerjaan ke rumah. Bahkan dia selalu meluangkan waktunya untuk duduk berkumpul di ruang tamu bersamaku dan juga Mami. Ternyata seharian di Perusahaan dia bekerja tanpa mengenal lelah supaya di rumah dia bisa fokus dengan keluarga. Aku juga harus bisa seperti Papi, tidak mencampur adukan urusan pekerjaan dengan yang lainnya.
Sementara itu, Om Recan terkihat serius dengan latar monitor di depannya. Tangan kanannyapun tak kalah sibuknya mengimbangi tangan kiri yang sedang mengetik di keyboard.
Mereka selalu serius saat bekerja. . .Tapi sepertinya mereka sangat enjoy, bahkan tidak mengeluh sedikitpun. Mungkin karena mereka sydah terbiasa dengan pekerjaannya atau karena suasana kerjanya yang membuat mereka lebih nyaman.
"Vin. . minumlah. . Tenang saja tidak ada alkoholnya Nak. Hanya minuman biasa supaya kamu tidak dehidrasi karena terlalu banyak bengong." Ujar Om Revan dengan membawa dua kaleng minuman dan memberikan satu pada Vin.
"Makasih Om. Apa pekerjaan Om sudah selesai?" Tanya Vin.
"Sudah. . . Nanti siang tinggal bekerja di luar, menemui klien." Ucap Om Revan dengan senyuman di wajahnya.
"Apakah Om tidak merasa lelah? Aku lihat sejak tadi Om begitu serius dan sibuk dengan pekerjaan Om." Tanya Vin lagi.
"Lelah? Tidak ada kata lelah selama bekerja Nak. Lelah hanyalah alasan belaka, selama kita disiplin waktu maka semua pekerjaan akan selesai tepat pada waktunya. Dan setelah itu kita bisa istirahat sepuasnya. . .jika pekerjaan baru tidak langsung datang." Ucap Revan pada Vin.
"Apakah Om tidak bosan?" Tanya Vin lagi.
"Tentu saja. . ada kalanya rasa bosan itu muncul. Tapi kita harus bisa mengalahkannya. Ingat saja keluarga kita yang di rumah, kita bekerja 8 jam dalam sehari. Dan sisanya adalah waktu kita bersama keluarga. Rasa bosan akan hilang setelah jita bersama keluarga di rumah, ya. . .obat penghilang bosan hanyalah keluarga." Ucap Recan yang lagi-lagi membuat Vin hanya mengangguk.
__ADS_1
"Vin banyak belajar dari Om. . . Vin harus bisa membagi waktu dan mengontrol ego. Papi dan Om adalah panutan Vin, untuk itu ingatkan aku jika aku mulai merasa bosan ya Om." Ucap Vin.
"Untuk anak seusiamu, kamu luar biasa Vin. Sudah mau menerima tugas dari Papimu, disaat anak-anak yang seusiamu sedang sibuk dengan teman-temannya dan dunianya sendiri. Kau bahkan lebih memilih untuk mengikuti jejak Papimu memulai bekerja mengurus Perusahaan disaat masih kuliah." Ucap Revan.
"Iya om. . aku hanya coba-coba dulu. Semoga aku tidak mengecewakan kalian." Ucap Vin.
"Kamu tidak aka pernah mengecewakan Papimu Nak. Percayalah. Yang terpenting kamu harus yakin dengan apa yang sedang kamu kerjakan saat ini." Ucap Revan pada Vin.
"Iya Om. Makasih atas dukungannya." Ucap Vin lagi dengan sopan.
Vin berada di ruang kerja Revan dalam waktu yang cukup lama. Kemudian Haris juga datang dan mereka terlibat dalam obrolan bertiga disana.
Vin banyak bertanya pada Revan dan Haris mengenai pekerjaan dia kedepannya. Dan ternyata Revan dan Haris tanpa sungkan-sungkan memberikan wejangan yang sangat bermanfaat untuk Vin.
Waktu makan siang telah tiba, Vin memilih untuk kembali ke ruang kerja Randy karena ingin makan siang bersamanya. Sesampainya di depan ruang kerja Randy, dia langsung mengetuk pintu dan melihat Randy sedang sibuk dengan laptop di depannya.
"Papi. . sudah waktunya makan siang. apakah Papi tidak ingin makan?" Tanya Vin duduk di kursi yang berhadapan dengan Randy.
"Pergilah makan siang dengan Revan dan Haris Nak. Papi masig harus mengecek beberapa data untuk pertemuan nanti." Ucap Randy.
"Om Revan dan Om Haris sudah pergi Pi, mereka sekalian ada meeting dengan klien. Ya sudah aku akan menemani Papi saja disini." Ujar Vin mengeluarkan ponselnya di saku kemejanya.
"Kau makanlah, nanti kalau sakit Mami akan sedih." ucap Randy pada Vin.
"Bagaimana dengan Papi? Mami akan lebih sedih lagi kalau tau Papi melewatkan makan siang karena sibuk dengan pekerjaannya. Apakah pekerjaan Papi tidak akan selesai kalau Papi tinggal untuk makan siang dulu?" Tanya Vin pada Randy..
"Hais. . .Baiklah. . Ayo kita pergi makan." Ucap Randy menutup laptopnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
♡Kekasih Kontrak Till Jannah Eps 151♡
__ADS_1