
"Untunglah Nyonya segera memanggilku, jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan Kemal. Mulutku ini emang susah di ajak kerjasama," batin Amanda.
"Madav Sayang, bangun Nak ...!" ucap Tyas berusaha membangunkan putranya yang sudah berada di dunia mimpi.
"Madav ...!" panggilnya lagi dengan lembut.
"Ini putra kalian? Ah tampan sekali ...!" pujinya saat melihat wajah Madav yang tertidur pulas di pundak Amanda.
"Udah gak usah di bangunin, kasihan ...!" imbuhnya seraya mengusap rambut Madav dengan lembut.
"Hmm, Ibu. Jangan acak-acak rambutku," rengeknya masih dengan kedua mata yang terpejam.
"Nak bangun yuk sebentar, ada yang mau ketemu kamu ...!" ujarnya dengan lembut.
"Siapa Bu? Aku disini tidak ada teman. Temanku cuma Kakak cantik," sahutnya.
"Buka dulu matamu, ada Ayah versi cewek loh ...!"
"Ibu aku ngantuk," sahutnya dengan malas.
"Udah Yas, biarin aja. Lihat gini aja aku dah senang kok, ternyata aku dah punya ponakan," ucapnya dengan rasa bangga bisa melihat anak Arsen dan Tyas.
"Hoamm ...! Tante siapa?" tanya Madav mengucek kedua matanya.
"Hai sayang ...!" sapanya seraya mengusap pipi Madav yang seperti jelly.
"Mirip Ayah kan?" ujar Arsen berdiri di sampingnya dan merangkul pundaknya.
"Ayah jangan nakal, jangan dekat-dekat dia Ayah. Ayah punya Ibu," gerutunya.
"Tante ini adiknya Ayah, kamu mau ketemu Opah sama Omah kan?" tanyanya dengan lembut.
"Benarkah? Dimana Opah sama Omah?"
"Besok ya Sayang, Tante janji akan ajak kamu ketemu sama Opah dan Omah ...!" ucapnya.
"Tante boleh peluk kamu?" imbuhnya.
"Hmm," anggukan kecil membuat Madav berpindah tangan dengan begitu cepat.
"Tante janji akan bawa kamu ke Omah sama Opah, Sayang ...!" batinnya seraya menciumi wajah Madav dengan lembut.
Pertemuan singkat yang sangat berharga, membawa kebahagiaan untuk mereka yang berada di sana malam ini. Malam sudah semakin larut, Arsen dan Adelia berpisah di sana untuk kembali ke hotel.
__________
Sementara itu ...
__ADS_1
"Ayo, katanya mau mengajakku pergi dari sini. Sebelum pria jahat itu kemari," ujar Ilham sembari menggaruk kepalanya yang gatal.
"Sebentar, kamu pakai ini dulu," menunjukkan kain berwarna hitam untuk menutupi kedua matanya.
"Apa itu? Kalian mau menjebakku? Jangan ... aku tidak mau. Aku tidak suka ...!" teriaknya memberontak.
"Kalau kau tidak mau pakai ini, kami tidak akan membawamu keluar dari sini," jawabnya.
"Aiihhh ...! Dasar pembohong, kalian tidak lagi berpihak padaku. Awas saja akan aku adukan kalian pada anak buahku nanti,"
"Hiihh ...! Percuma saja kita bicara baik-baik padanya. Tidak akan selesai sampai besok sekalipun," gumam salah seorang pria yang sudah berdiri di belakangnya.
"Baiklah, ayo cepat ...!"
Kedua pria itu segera menjagal tubuh Ilham, membekap mulutnya dengan kain dan juga menutup kedua matanya dengan kain berwarna hitam. Tak lupa merwka juga mengikat kedua tangan agar tidak bisa kabur.
"Tolong aku, aku akan di culik ...! Siapapun kalian, tolong lapor polisi ada tindakan kejahatan," teriaknya terus memberontak.
"Astaga ...! Satu kain tak cukup untuk menutup mulutmu. Baiklah ...!" menambahkan satu kain dan menutup mulutnya dengan sempurna.
Setelah memastikan keadaan aman, mereka segera menarik Ilham dan memapahnya kanan dan kiri membawa keluar dari hutan belantara dengan berbekal lentera kecil yang sudah mereka siapkan dari beberpaa hari yang lalu.
Suara langkah kaki terdengar mendominasi suasana hutan yang senyap seperti tidak ada kehidupan. Sesekali terdengar suara ranting patah karema terinjak kaki mereka yang tak bisa melihat jalan karena gelap.
Ilham yang terus memberontak membuatnya sedikit lebih lama untuk bisa keluar dari dalam hutan. Sesekali pukulan mendarat di bagian tubuhnya agar berhenti memberontak dan sedikt tenang.
Namun itu tidak berlangsung lama, Ilham masih terus memberontak dan sempat bisa lepas dari dua pria yang menjegalnya, terlibat adegan kejar-kejaran tapi tidak lama setelahnya mereka berhasil menangkapnya.
"Baiklah ...! jangan salahkan kami kalau kau mati malam ini juga," ancamnya dengan keras.
"... ." Terus saja melawan, menendang dan mengibaskan kepalanya hingga membentur hidung salah satu pria itu hingga berdarah.
"Hey ...! Jangan lari ...!" teriaknya dengan lantang.
"Kau tak apa?" tanyanya memastikan rekannya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja. Ayo kita kejar dia. Jangan sampai dia bisa lolos dan membuat keributan," ujarnya dengan terbata menahan sakit di area hidungnya dengan darah yang masih mengucur tapi tidak terlalu deras.
Ilham terus berlari dan beberapa kali menabrak pohon tapi amsih saja bisa bangkit dan berlari dengan mata yang masih tertutup kain sebagian. Entah dapat kekuatan darimana, sehingga dia masih kuat terus melaju semakin masuk ke dalam hutan.
"Aku harus pergi, aku harus menemui Vannya, pasti dia sudah menungguku sejak tadi ...!" batinnya.
Karena merasa lelah, Ilham duduk sebentar di balik pohon besar untuk mengumpulkan tenaga. Dengan susah payah ia berusaha melepas ikatan tangannya untuk bisa melepas kain yang menutupi mulutnya dan juga kedua mata yang mengganggu pandangannya.
Ilham menggosok-gosokkan tali yang mengikat tangannya pada pohon agar ikatan perlahan terlepas karena gesekan yang di hasilkan. Dan berhasil, ikatan terlepas setelah sekian lama dia bersusah payah melepaskannya.
"Awwhhh ...!" pekiknya, saat sebagian kulitnya ikut terkelupas karena gesekan itu.
__ADS_1
Dengan cepat Ilham segera membuka tali yang membekap mulutnya, dan matanya. Setelah beberapa menit ia duduk disana, tenaga sudah sedikit pulih. Ia memutuskan untuk melanjutkan pergi dari hutan yang gelap.
"Hey ...! Berhenti ...!" Teriaknya dari jarak yang lumayan dekat.
"Tidak akan ...! Biarkan aku pergi, kalian buka temanku. Kalian penjahat," jawabnya seraya berteriak dna erus berlari sekuat tenaga menjauhi dua pria yang terus mengejarnya.
"Astaga ...! sepertinya aku malah semakin masuk ke dalam hutan. Tapi tidak apa, setidaknya aku erlepas dulu dari mereka. Besok pagi aku akan pergi dna meminta maaf pada Vannyaku karena tidak bisa datang malam ini," gumamnya dengan nagas tersengal.
"Aaaaaaahh ...!" teriaknya kemudian. Ilham terjerembah ke dalam jurang yang sangat tinggi.
Kedua pria yang mengejarnya segera mengerem langkah kaki mereka tepat 1 meter dari jarak jurang di depannya. Untunglah, mereka bisa berhenti dan tidak ikut terjerembah bersama Ilham.
"Dia jatuh ke bawah sana, coba kita lihat apakah jurang ini dalam?" ujarnya mengangkat lentera ke depan wajahnya untuk melihat kondisi jurang di hadapannya.
"Awas hati-hati ...! Apa kau melihatnya?" tanyanya sambil menarik kaos bagian belakang temannya agar tidak jatuh.
"Sebentar ...! Di bawah sana sangat gelap. Susah untukku bisa melihat kondisi di sana," ujarnya seraya menyipitkan kedua matanya untuk mencari sesuatu di bawah sana.
Dan apa yang dia cari terlihat, sosok manusia dengan keadaan menempel di pohon yang masih cukup tinggi dari dasar tanah. Sepertinya dia tertusuk di bagian perutnya. Kondisi yang sangat mengenaskan, membuat badannya tergidik jika membayangkan dia yang ada di posisinya.
"Bagaimana?" tanyanya lagi.
"Sudah tak bernyawa. Sepertinya dia tersnagkut dahan pohon tajam dan merobek perutnya," jawabnya.
"Naas sekali. Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Tentu saja pergi dari sini. Dia mati bukan karena kita," jawabnya dengan tenang.
"Kau yakin kita akan aman?"
"Tentu saja," sahutnya singkat.
Di Sudut Kota yang berbeda ...
Usai pertemuan dengan beberapa orang kepercayaan di anak Perusahaan, Chandra segera kembali ke hotel. Hari ini rasanya lelah sekali, mungkin tidur cepat bisa menghilangkan sedikit rasa lelah di tubuhnya.
Sesampainya di kamar, ia segera menyalakan lampu dan bergegeas mandi. Berendam dengan air hangat adalah pilihan kedua dari tidur cepat. Entah berapa lama Chandra berada di dalam bathup, mungkin dia tertidur di sana.
"Astaga ...! Aku ketiduran," gumamnya setelah terbangun dari tidur singkatnya.
Ia segera keluar dari bathup dan membilas tubuhnya dari guyuran sh**ower yang mengalir hangat. Setwlah merasa cukup, Chandra bergegas keluar dengan balutan handuk di pinggangnya dan mengambil baju ganti dari dalam koper.
"Kenapa mereka belum mengabariku? Apa sebaiknya aku yang menghubungi mereka dulu?" gumamnya.
"Baiklah, aku yang akan menghubunginya," meraih ponselnya di atas meja kecil dekat kasur.
Tuuttt ... tuuttt ...!
__ADS_1