Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Secercah Harapan


__ADS_3

"Mas, istirahat dengan tenang. Maafkan aku yang belum bisa mengikhlaskan kamu sepenuhnya, aku belum siap dengan ini," kedua matanya menyusuri setiap jengkal gundukan tananh di depannya, dan batu nisan yang tertulis nama suaminya.


"Ya Tuhan aku titipkan suamiku kepada-Mu, pertemukan kami kembali kelak di surga-Mu. Jadikan kami keluarga yang utuh disana," buliran bening berhasil lolos melewati bukit kenyal yang sudah tidak mulus lagi.


Siang semakin terik, angin berhembus cukup kencang mengibarkan rambut yang terurai. Entah sudah berapa lama Mami bersimpuh di sana, Vin dan yang lain hanya berdiam diri di belakangnya memberikan waktu sebelum mereka kembali ke rumah.


Om Keanu yang sejak tadi di sampingnya seraya memayungi Mami tak bisa berkata-kata. Kecuali mengusap kepala Mami dengan lembut, dan merangkulnya dengan erat.


__________


Sepulang dari area pemakaman, Mami langsung masuk ke kamarnya. Berdiam diri di sana sendirian, tak ingin di temani siapapun. Yang lain hanya bisa diam dan berjaga di luar kamarnya.


Sementara itu, Vannya, Dewi dan Rico duduk di halaman rumah. Saling bersapa setelah sekian lama tak berjumpa. Memang bukan reuni, tapi mereka tidak tau kapan lagi akan bisa berjumpa setelah hari ini.


"Hmm, akhirnya ketemu ya ...! Tapi sayang, di waktu yang seperti ini ...!" gumamnya dengan senyum masam. Kedua matanya sudah berkaca-kaca jika teringat Papi yang baru saja ia antar ke tempat peristirahatan terakhir.


"Sabar ya Van, Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang lebih indah nantinya," ujar Dewi.


"Iya Wi, pasti. Hmm, ya sudahlah. Yang sudah terjadi biarlah terjadi, masa depan masih panjang. Tidak baik jika sedih berlarut. Ada Mami yang masih butuh kami,"


"Kalian gimana di Ardhana Group? Sibuk sekali kayaknya," imbuh Vannya mencoba mengalihkan perhatian.


"Jangan di tanya lagi sibuknya, tapi tidak pernah ada tekanan sih. Jadi ya kita enjoy," sahut Dewi.


"Syukurlah kalau gitu, ikut senang dengarnya ...!" ucapnya.


"Tapi ada yang lagi sedih Van," celetuk Dewi seraya melirik ke arah Rico yang sejak tadi diam.


"Hah? Siapa? Kenapa?" sahutnya penasaran.


"Tuh sebelahmu, pujaan hatinya udah gak kerja lagi karena sakit ...!"


"Eh? Kenapa aku? Aku perasaan sejak tadi diam," jawab Rico dengan bingung.


"Astaga ...! Siapa pacarnya? Wah, sebentar lagi aku dapat undangan dari kamu Ric," timpal Vannya.


"Jangan dengarkan dia Van, aku tidak ada pasangan. Sunggguh," ujarnya berusaha membela diri.


"Bukannya diaminkan, ini malah menghindar. Emang siapa sih ceweknya? Jadi penasaran,"

__ADS_1


Entah sudah berapa lama mereka berbincang disana. Mulai dari wanita yang di sukai Rico, masalah pekerjaan dan semuanya mereka bicarakan. Tanpa disadari, hari sudah beranjak sore. Dewi dan Rico berpamitan untuk kembali ke Perusahaan sebelum lanjut pulang.


Setelah melihat keduanya menghilang dari pandangannya, Vannya segera berbalik badan masuk ke dalam rumah. Tidak ada orang di dalam, Vannya sedikit mengintip ke kamar Mami.


Pintu di buka tanpa bersuara, dengan perlahan Vannya masuk mendekati Mami yang tertidur di atas kursi pijitnya. Dengan cepat ia menyelimuti tubuh Mami, dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Mam, kita harus kuat. Kita akan selalu bersama dengan Mami ... apapun yang terjadi,"


"Vannya tau, Mami sangat kehilangan Papi. Kami juga kehilangan Mam, dan kami tidak mau lagi kehilangan orang yang kami sayang. Mami harus tetap sehat," ucapnya setengah berbisik menatap wajah sembab yang kini sudah tertidur.


Setelah beberapa saat Vaannya disana, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Badannya sudah terasa lengket setelah seharian terkena paparan sinar matahari di luar.


"Kinan tidur?" sebuah suara terdengar dari arah belakang.


"Udah Om, tadi aku tidak sengaja mengintip mau lihat Mami," jawab Vannya.


"Hm, ya sudah. Kamu juga istirahat ya, biar Om yang berjaga disini,"


"Iya Om. Makasih," ucapnya.


Sementara itu ...


Ia merasa bersalah, akibat perbuatan mantan isterinya yang membuat semua ini terjadi. Kata maaf pun sepertinya tidak cukup untuk ia sampaikan, bahkan tidak pantas rasanya jika dia bersimpuh di hadapan keluarganya.


"Ayah, apa benar Pak Randy meninggal?" tanya Aura.


"Iya, beliau meninggal pagi ini ...!"


"Ini semua gara-gara aku Yah. Coba aja kalau aku gak dapat tandatangan palsu, pasti Ibu gak akan melakukan ini ...!" gumamnya.


"Jangan menyalahlam diri sendiri, percuma. Nyawa tidak akan bisa tukar dengan rasa penyesalan. Ini sebagai pelajaran untukmu, jangan lagi mengulangi perbuatan yang sama ...!" ujar Pak Ruli dengan bijak.


Susana di dalam Ruang Perawatan seketika hening. Aura tak bisa lagi menjawab, apa yang Ayahnya katakan benar adanya. Ia tak bisa lagi melakukan apa-apa, bahkan yang tak bersalah harus ikut kehilangan nyawa.


"Kenapa bukan aku saja yang mati? Kenapa Tuhan terus saja membuatku tersisa dalam rasa penyesalan. Apa ini karma yang harus aku hadapi karena kesalahan yang sudah terjadi?"


______


Sore berganti malam, setelah makan malam semua bubar ke kamar masing-masing. Vin memilih untuk masuk ke ruang kerja Papinya, yang selama ini menjadi spot favoritnya di kala tidak bisa tidur.

__ADS_1


Semua tertata dengan rapih, bau aroma khas Papi tercium di sana. Vin segera menutup pintu, dan duduk di dekat jendela menatap keluar yang sedang turun hujan rintik. Suasana semakin syahdu, hening. Hanya suara hujan yang terdengar.


Langipun ikut menangis, mengiringi kepergian sang legenda dalam hidupnya. Kilat di langit beberapa kali telrihat namun tak mengeluarkan suara sedikitpun. Menggambarkan suasana hatinya yang hancur, sakit beradu menjadi satu.


......VIN POV......


Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah hari ini. Aku harap kesedihan ini akan segera berakhir, aku tidak ingin lagi melihat ada air mata keluar dari keluargaku. Pih, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan setelah ini.


Semua orang kehilangan Papi, karena Papi adalah orang baik. Entah aku harus senang atau sedih dengan ini, yang pasti aku sedang berada di situasi yang benar-benar tidak aku inginkan.


Semoga duka hari ini akan segera berbuah manis. Menciptakan senyum di wajah mereka yang hari ini muram. Membuat mereka lebih kuat untuk menjalani hidup yang masih panjang.


Dan semoga, aku bisa menjaga keluarga ini dengan baik. Seperti dulu, saat Papi masih ada bersama kami.


____


Malam telah beranjak, hujan di luar turun semakin deras di susul suara petir yang tidak terlalu menggelegar. Vin memutuskan untuk kembali ke kamar. Menyudahi hari ini dan menyambut hari esok yang akan segera terbit.


Semua orang sudah tertidur. Lampu utama sudah di padamkan, tersisa beberapa lampu kecil yang menyala di beberapa spot di dalam rumahnya.


Suara langkah kaki terdengar berirama, bersahutan dengan suara jarum jam. Ya malam ini, malam pertama tanpa adanya sosok kepala keluarga. Semua terasa berbeda.


Cklekk ...!


"Kamu belum tidur?" tanya Vin saat mendapati Vannya yang masih duduk bersandar di atas ranjang.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau suamiku tidak ada," jawabnya.


"Jadi, kamu dari tadi menungguku?"


"Tentu saja, siapa lagi yang aku tunggu kalau bukan suamiku,"


"Hmm, baiklah. Aku ke toilet dulu ...!" ucapnya.


__________


Semua aktivitas di dalam rumah sudah selesai sejak beberapa waktu yang lalu. Para penghuni pun sudah tidur dalam balutan mimpi masing-masing. Hari ini terasa sangat panjang, air mata pun berjatuhan mengiringi kepergian sang kepala keluarga yang selama ini menjadi panutan.


Malam telah beranjak pagi, bersama secercah harapan dalam angan. Senyum mulai kembali terlihat, meski tak seperti biasanya. Mereka memilih untuk tinggal di rumah ini beberapa hari, menemani Mami yang masih enggan untuk meninggalkan rumah dan tinggal bersama anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2