
Sudah hampir satu pekan dia kembali ke rumah, tempat dimana ia dan Ayahnya memulai kehidupan yang baru. Tanpa sosok seorang Ibu di tengah-tengah mereka. Rumah mendiang Erika juga mereka jual, bukan akrena mereka butuh uang. Melainkan karena tidak ada yang menempatinya lagi, dan sayang jika di biarkan terbengkalai begitu saja.
Setiap pagi, Ayah membawa Aura ke taman. Berjemur, menikmati sinar pagi yang bagus untuk kesehatan. Meski Aura enggan untuk berlama-lama di luar, ia malu jika ada orang yang melihatnya duduk di kursi roda tanoa memiliki daya.
Tapi Ayah tak memperdulikannya, ia selalu mengajaknya bercerita untuk mengalihkan perhatian Aura yang terus saja meminta kembali ke kamar hingga kesal dibuatnya.
Dan lama-lama ia mulai nyaman dan terbiasa dengan aktivitas di pagi hari sebelum Ayah berangkat kerja. Perlahan, psikis yang sempat down kembali bangkit. Tidak ada wajah ketus yang terlihat, melainkan senyuman tipis yang membuat Ayah merasa terharu karenanya.
"Sayang, Ayah berangkat dulu ya ...! Kamu baik-baik di rumah. Cupp ...!" Kecupan hangat mendarat di pucuk kepala Aura yang sedang membaca majalah di depan jendela sudut ruang keluarga.
"Iya Yah, hati-hati di jalan. Semangat kerjanya," untuk pertama kalinya, Aura merespon dengan sangat baik. Biasanya dia hanya menanggapi dengan satu kata saja tanpa menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
"Iya, Sayang ...! Ayah pasti semangat, terimakasih Nak ...!" dengan sedikit bergetar, Pak Ruli menjawabnya. Air mata sudah berkumpul di sudut matanya, tapi ia menahannya agar tak tumpah di depan putrinya yang perlahan sudah mulai membaik.
"Ayah berangkat dulu ya Nak,"
"Iya Ayah,"
Setelah kepergian Ayahnya, Aura melanjutkan membaca majalah di sana. Tak lama setelah itu, ART mendekatinya untuk mengantar makanan ringan untuknya. Menemaninya yang sedang asyik membaca disana.
Tring ...!
• Hy Ra ...!
Apa kabarmu? Aku harap jauh lebih baik dari sebelumnya. Oh, iya. Kalau boleh, aku ingin main ke rumahmu.
Sebuah pesan singkat dari Rico, pria yang menyukainya tapi tak pernah ia hiraukan. Entahlah, Rico masih saja mengirimi pesan untuk sekedsr menyapa, menanyakan kabar dan aktivitasnya selama satu pekan ini meski tak pernah Aura balas.
"Ah ...! Ngapain dia terus menghubungiku, aku tidak tau dia tulus melakukan ini atau tidak. Tapi aku memang tidak percaya padanya, dia hanya bernafsu ... selebihnya hanya basa-basi," batin Aura seraya meletakkan ponselnya di atas sofa dekat tempatnya duduk.
__ADS_1
"Bi, aku mau ke kamar," panggil Aura pada ART yang sedang bekerja di dapur.
"Baik, Non ...!" sahutnya dsri dapur. Tak berapa lama kemudian seorang ART datang dengan sedikit terburu-buru takut Aura akan memarahinya jika terlalu lama.
"Pelan-pelan saja Bi. Nanti Bibi jatuh," ucapnya.
"I-iya Non ...!" dengan gugup ia menjawabnya. Terkejut melihat respon anak majikannya yang sudah berubah drastis. Biasanya dia selalu menjadi sasaran kemarahan meski tidak melakukan kesalahan sedikitpun.
Tapi pagi ini, ia melihat senyuman di wajah anak majikannya. Tatapan mata yang hangat, berhasil merogoh hatinya dan membuatnya terharu.
"Kenapa Bi? Apa aku salah? Maafkan aku ya, selama ini aku sudah memarahi Bibi. Padahal Bibi tidak salah apa-apa," ujarnya dengan tulus menatap mata Bibi yang saat ini berdiri mematung di hadapannya.
"I-iya Non ...! Non tidak salah, saya hanya senang bisa melihat Non yang sekarang. Saya sudah memaafkan Non, dan selama ini saya tidak pernah membenci Non sekalipun ...!" jawabnya dari lubuk hatinya terdalam.
"Aku beruntung, bisa disini ...! Bertemu dengan Bibi, yang begitu baik. Meski aku tidak sebaik orang lain ...!" ujarnya.
"Tidak Non. Non anak yang baik, hanya saja kemarin Non masih belum bisa menerima. Tapi sekarang, Non sudah menjadi diri Non sendiri. Bapak banyak sekali bercerita tentang pada Bibi,"
"Tapi Non, bukankah ini waktunya Non istorhaat di kamar?" ucapnya.
"Ah tidak untuk hari ini. Aku tidak mengantuk, ayo Bi ceritakan padaku," rengeknya tak sabar.
"Hmm, baiklah. Dari mana dulu ya Bibi cerita. Soalnya Bapak banyak sekali ceritanya ...!" gumamnya seraya memilah cerita yang sudah terekam sejak dulu di memorinya.
Bibi mulai menceritakan apa yang dia dengarkan dari majikannya. Ya, selama ini Pak Ruli banyak cerita tentang putri semata wayangnya. Dia selalu bangga terhadap putrinya yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Flashback On
"Bapak ... ini kopinya," seraya meletakkan secangkir kopi panas di meja kerjanya.
__ADS_1
"Terimakasih ya Bi," ucapnya.
"Sama-sama Pak ...! Maaf Pak, apa itu foto Non Aura waktu kecil? Cantik sekali," pujinya seraya menatap bingkai foto kecil di atas meja.
"Iya Bi. Putriku memang cantik, selain itu dia mandiri, pekerja keras dan juga cerdas ...!" gumamnya dengan bangga menatap wajah putrinya di dalam bingkai foto kecil.
"Iya Pak ...! Non Aura memang cerdas, bahkan dia begitu mandiri. Memilih bekerja di Perusahaan lain, meski Bapak memiliki usaha sendiri dan kedepannya Non Aura adalah penerus Bapak," ujarnya menanggapi cerita majikannya.
"Iya Bibi benar. Sekarang dia sudah besar, bisa berdiri dengan kakinya sendiri tanpa meminta belas kasihan siapapun termasuk aku sebagai Ayahnya,"
"Aku bahkan belum bisa membahagiakannya Bi. Enrah apa yang bisa aku berikan untuknya saat ini, selain doa sebagai orangtua untuk putrinya ...!"
"Doa adalah hadiah terindah yang tiada tandingannya Pak. Saya yakin, Non Aura tidak menginginkan apapun dari Bapak ataupun Ibu. Karena dia sudah bisa membeli sendiri apa yang dia inginkan,"
"Ya, waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku menimangnya, menidurkannya dalam gendongannya. Memeluknya saat menangis,"
"Semoga saja dia selalu bahagia di luar sana, terlepas dari apa yang terjadi dalam keluarga kami ...!"
"Saya yakin, Non sudah bisa memahami atas apa yang terjadi pada Bapak dan Ibu. Toh selama ini, Non Aura juga sudah dekat sekali dengan Ibu Mayang,"
"Tapi tidak dengan Ibu kandungnya. Kasihan dia, tidak salah apa-apa tapi selalu menjadi sasaran dari dendam Ibunya di masa lalu. Sebagai seorang Ayah, harusnya aku bisa melindungi putriku dari kemarahan Erika ...!
"Tapi tidak ada daya untuk itu, setiap Aura kembali ke rumah selalu membawa kesedihan di wajahnya. Sampai kapan ini semua akan berlangsung?"
Flashback Off
...AURA POV...
Selama ini Ayah ternyata memperhatikanku, ya aku tau. Ayah sangat menyayangiku, baginya aku adalah putri kecilnya meski aku sudah berusia 22 tahun. Ayah sudah memberiku banyak kebahagiaan.
__ADS_1
Ayah sudah mengobati luka yang Ibu goreskan dalm hatiku. Karena Ayah, aku bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu meski bukan dari Ibu kandung. Aku menyesal sudah marah pada Ayah saat aku di Rumah Sakit.