Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Tujuh Minggu


__ADS_3

"Mungkin dengan cara ini, bisa menjembatani hubungan anak dan Ibu yang tak pernah akur selama beberapa tahun tanpa alasan yang tak jelas," gumam Aura setelah selesai merapihkan berkas di atas meja kerjanya.


Aura segera bergegas pulang, lantai tempatnya bekerja sudah mulai sepi. Hanya beberapa orang yang masih berada disana dan sudah selesai dengan pekerjaannya.


Di Tempat lain,


"Aku tidak habis pikir kenapa kamu sampai menandatangani kertas itu Vin,"


"Semoga saja apa yang kamu lakukan sesuai dengan rencana kita untuk memberikan pelajaran pada mereka ya," imbuhnya penuh harap.


"Hmm, iya Kak! Aku yakin apa yang aku lakukan saat ini bisa membuat Kakak merasa bangga karena sudah memiliki adik ipar yang cerdas," ujarnya memuji dirinya sendiri.


"Haha ...! Kamu ini,"


Mereka melanjutkan obrolan entah sampai berapa lama. Yang pasti obrolan sore itu terhenti karena suara ketukan pintu dari Vannya.


Mereka segera bergegas pulang meninggalkan ruang kerja yang sudah mulai gelap, karena waktu menunjukkan hampir jam 6 sore.


Chandra berpisah dengan Vannya dan Vin di parkiran. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran dan perlahan menjauh dari Perusahaan.


"Kak, aku belum minta janji sama dokternya," ujar Vannya yang baru ingat jika harus ada janji dulu dengan dokter.


"Itu semua tidak berlaku untuk isteriku Sayang ...! Kalau sampai mereka tidak mau melayani kita, ya sudah kita pergi saja. Paling mereka yang akan rugi," celetuk Vin dengan sangat yakin dan tetap fokus menyetir mobil.


"Astaga! Kakak pikir mereka siapa, jangan gunakan jabatan Kakak untuk mendapatkan apa yang kakak mau. Itu tidak baik," ujar Vannya dengan bijak.


"Ya, aku tau. Tapi seorang suami akan melakukan apa.saja untuk isterinya. Apalagi isterinya sedang mengandung buah cinta mereka," sahut Vin membuat Vannya tau bisa mengelak lagi.


Jarak tempuh dari Perusahaan tempat Vannya bekerja dengan Rumah Sakit yang mereka tuju tidak terlalu jauh. Dalam waktu tau kurang dari 60 menit, mereka segera turun sebelum kemalaman.


"Kak ... janji dulu. Kalau ternyata kata Dokter Stef salah, Kakak jangan marah ya. Aku takut Kakak kecewa," ujar Vannya perlahan.


"Sayang, setidaknya kita sedang berusaha. Kalau hasilnya ternyata belum sesuai yang kita harapkan. Berarti kita bisa honeymoon lagi," jawabnya.


"Hmm," gumam Vannya.


Vin menggenggam tangan Vannya dengan erat. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap apa yang di katakan Dokter Stef benar adanya. Dan kalaupun tidak, ia harus bersabar dan jangan menunjukkan kecewanya di hadapan Vannya.


Karena biar bagaimanapun mereka sudah sama-sama berusaha. Toh, mereka juga belum lama menikah. Jadi masih banyak sekali kesempatan untuk mereka menghabiskan waktu berama.


"Selamat datang di Rumah Sakit Permata Ungu, ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya resepsionis denhan ramah.

__ADS_1


"Saya ingin konsultasi ke dokter spesialis kandungan. Apakah hari ini ada jadwalnya?" tanya Vin.


"Oh ya ada Pak, silakan isi dulu identitas diri anda ...!" ucapnya.


"Apakah harus?" tanya Vin.


"Kak ...! Udah turuti saja, jangan membuatku tak enak hati ...!" bisik Vannya pada Vin.


"Tapi Sayang," ujar Vin setengah berbisik.


"Kak," ujarnya dengan lembut menatap mata Vin dnegan sendu.


"Aiishh! Tatapanku membuatku tak sanggup mengelak lagi. Baiklah, demi kamu aku akan melakukannya," uajr Vin.


"Makasih Sayang," ujar Vannya.


"Katakan sekali lagi," pintanya.


"Hmm?"


"Ayo katakan sekali lagi," ujarnya.


"Makasih Sayang, udahkan?" ucap Vannya mengulangi perkataannya.


"Astaga! ngelunjak ya ...!" ucapnya menggelengkan kepalanya.


"Biar saja ...!" sahutnya.


Vin mulai menulis di formulir pendaftaran pasien baru. Sedangkan Vannya duduk di kursi panjang menunggu suaminya yang masih berdiri di meja resepsionis sambil mengisi formulir.


"Dia bahagia sekali. Semoga hasilnya nanti tidak mengecewakannya," batin Vannya menatap punggung Vin.


Setelah mengisi formulir, respsionis mempersilakan Vin untuk duduk. Sementara mereka mulai memasukkan data diri yang baru saja Vin masukkan ke dalam selembar formulir di tangan kanannya.


"Oh Astaga! Aku sudah melakukan kesalahan ...!" celetuknya saat melihat layar monitor di hadapannya.


"Ada apa?" tanya rekannya yang sedang menghubungi pihak rekam medik memintanya untuk diantarkan rek medik yang baru atas nama Ny. Vannya Ardhana.


"Pria tampan itu Tuan Vin? Keponakan Profesor Keanu yang juga berperan penting di Rumah Sakit ini," gumamnya setengah berbisik.


"Benarkah? Tau gitu aku akan meminta izin berswafoto dengannya," celetuknya.

__ADS_1


"Aiishh! swafoto saja yang ada di otakmu. Harusnya kita tidak membiarkan dia mengisi form ini sendiri. Tapi kita yang menuliskannya,"


"Siapa juga yang menyuruhnya? Aku hanya diam," sahutnya.


"Aku yang menyuruhnya," jawabnya ketakutan.


"Tenanglah ...! Mereka orang baik. Jadi tidak mungkin mengadu pada ke Direktur Rumah Sakit. Lagian kan kita tidak tau juga," ujarnya berusaha menenangkan rekan kerjanya.


"Hmm, semoga saja ...!" jawabnya penuh harap.


Seorang rekam medik datang membawa buku map berwarna hijau tua di dekapannya. Resepsionis segera menerimanya dan memasukkan beberapa kertas yang sudah di rapihkan ke dalam sampul.buku rekam medik tersebut.


Tak menunggu lama, Vin dan Vannya segera masuk ke ruang dokter kandungan.


"Selamat malam, Pak Vin Ardhana ...! silakan duduk ...!" ujarnya dengan ramah.


"Terimakasih Dok ...!" jawab Vin segera duduk kursi yang sudah tersedia di hadapan Dokter Fani.


"Wah! Saya tidak menyangka akan kedatangan pasien yang istimewa. Perkenalkan, saya Dokter Fani ...!" ujarnya memperkenalkan dririnya dengan baik.


"Jadi, apa yang bisa saya bantu Bu?" tanha Dokter Fani.


"Iya Dok, jadi kemarin saya smepat pingsan. Lalu suami saya memanggil dokter keluarga katanya saya sednag mengandung. Tapi rasanya kami belum yakin sebelum mendapatkan jawaban yang sama dari dokter yang berbeda. Karena kami juga belum lama menikah," uajr Vannya menjelaskan maksud kedatangannya.


"Hmm, baiklah. Sebelumnya saya mau tanya. Kapan hari pertama haid terakhir (HPHT) Ibu?" tanyanya.


"5 hari sebelum kami menikah Dok, tanggal 2 Februari 2020 ...!"


"Sebentar ya, saya samakan dengan kalender dulu,"


"Baik ... jadi Ibu pertama haid terkahir tanggal 2 ya Bu. Biasanya haid lancar atau tidak?" tanyanya lagi.


"I-iya Dok," jawabnya.


"Berarti seharusnya tanggal 2 bulan ini Ibu juga sudah haid. Sekarang tanggal 23 Maret 2020, kalau perhitungan kalender usia kehamilan Ibu sudah memasuki minggu ke 7 Bu," ujarnya menjelaskan.


"Heh? Bagaimana bisa? Kami menikah baru 6 minggu Dok," sahut Vin terkejut.


"Iya Dok, kami menikah belum ada 7 minggu ...!" uajr Vannya menimpali.


"Baiklah, saya jelaskan ya Pak ... Bu ...!" ujarnya seraya mendekatkan kalender kecil berbentuk seperti lingkaran di tangan kanannya.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir, pastikan sudah like di episode ini dan sebelumnya ya 🥰🥰🥰


__ADS_2