Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Terlihat Serasi


__ADS_3

Setibanya di kediaman Ilham, Rico dan Dewi segera menemui pihak keluarga. Dan menemui teman-temannya yang lain. Tidak ada obrolan panjang disana, hanya saling sapa tidak lebih.


Serangkaian acara berjalan dengan lancar, saat jenazah akan di makamkan, Rico dan Dewi memilih untuk kembali ke Perusahaan sebelum jam pulang tiba. Tidak ada obrolan selama dalam perjalanan pulang.


Dewi bahkan tertidur karena merasa lelah setelah seharian berkeliling mall mencari barang untuk klien Pak Vin. Rico yang melihatnya hanya tersenyum dan membawa mobilnya dengan perlahan agar Dewi tak terganggu tidurnya.


"Kira-kira siapa cowok yang kamu sukai Wi? Siapapun dia, dia adalah cowok yang beruntung Wi. Aku yakin, suatu saat kamu akan mendapatkannya," batin Rico yang tetap fokus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Perjalanan kembali menuju Perusahaan terasa lebih cepat di bandingkan perjalanan saat mereka hendak pergi takziah. Tanpa di sadari, mobil sudah memasuki area Perusahaan.


"Wi, bangun. Kita udah sampai," panggil Rico untuk membangunkan Dewi.


"Hmm? Udah sampai? Astaga, aku ketiduran. Maaf Ric," ujarnya seraya mengumpulkan nyawa.


"Ga apa-apa. Yaudah, kamu mau ikut ke basemant atau turun disini?" tanyanya.


"Sini aja udah, makasih ya Ric ...!" ujar Dewi seraya melempar senyum sebelum keluar dari dalam mobil.


"Sama-sama Wi," sahutnya.


Waktu menunjukkan pukul 15.40, masih ada waktu beberapa menit sebelum jam pulang tiba. Dewi segera kembali ke meja kerjanya, memastikan pertemuan siang ini sudah selesai dan berjalan dengan lancar.


Terdapat satu berkas di atas meja kerjanya, ya itu adalah hasil pertemuan siang tadi antara Vin dan Pak Arsen. Dewi segera membukanya untuk memeriksa hasil dari pertemuan dan segera memasukkan beberapa data ke file di layar monitor di atas meja kerjanya.


"Untunglah semua berjalan dengan lancar, makasih Pak sudah mengizinkan kami untuk takziah. Padahal akan ada pertemuan klien," gumam Dewi seraya mulai memasukkan data ke dalam grafik.


Sementara itu,


Vannya juga masih berkutik dengan layar monitor. Beberapa menit yang lalu, ada email masuk dari Pak Chandra mengirimkan beberapa laporan hasil dari pertemuan di anak Perusahaan.


Selama hampir 30 mwnit ia berkutik di layar monitor tanpa berhwnti atau beristirahat, akhirnya laporan selesai. Vannya kembali mengecek semua email yang masuk memastikam tidak ada yang terlewat sebelum ia mematikan layar monitor.


"Akhirnya, selesai juga ...! Makasih Nak, udah jadi anak yang baik selama Mama bekerja," gumamnya seraya mengusap perutnya dengan lembut.


Tokk ... tokk ...!


"Masuk," ucap Vannya.


"Sayang, udah selesai?" tanya Vin yang sudah sampai di Perusahaan untuk menjemputnya.


"Sayang, kamu udah disini? Cepat sekali?" ujar Vannya terkejut.


"Ya, hari ini hanya ada satu pertemuan. Dan sudah selesai sejak beberapa jam yang lalu. Dewi juga sudah selesai mengerjakan tugasnya, lalu apa lagi yang aku lakukan di Perusahaan," jawabnya seraya mendekati isterinya dan mengecup keningnya.

__ADS_1


"Hmm, bagaimana pertemuannya? lancar?" tanya Vannya.


"Pastinya, kalau tidak mana mungkin sekarang aku berada disini, ayo pulang ...!" ajaknya.


"Hmm, sebentar. Oh iya Dewi dimana?" tanya Vannya yang teringat dengan janji Vin hari ini akan mengajak Dewi ke rumah.


"Di mobil, aku ajak kesini katanya tidak mau ...!" Sahutnya.


"Hmm, begitu. Sebentar, aku siap-siap dulu ...!"


Dewi segera merapikan meja kerjanya. Ia juga menghubungi Mbak Eni jika dirinya sudah selesai dan akan pulang saat itu juga. Setelah beberapa saat mereka mengobrol, telepn terputus dan Dewi segera meraih tas kerjanya.


"Biar aku yang bawa," ujarnya seraya menyahutbtas yang hampir mendarat di bahu kiri Vannya.


"Hmm, baik sekali. Makasih Sayang ...!" ucap Vannya dengan manis.


"Sama-sama ...! yuk ...!"


Vannya dan Vin bergandengan tangan di sepanjang lorong lantai 7 sampai lantai bawah. Semua orang yang melihatnya hanya tersenyum melihat mereka yang tampak serasi.


"Aduh ...! Mereka sweet sekali, kapan ya aku juga ada yang jemput seperti mereka," gumam seseorang yang melihatnya dari jarak 10 meter.


"Yang jomblo sabar, mungkin sekarang calon pasangan kita masih di rawat sama orang lain atau masih salah jalan," sahut rekan kerjanya di sebelah.


"I-iya Bu. Hati-hati di jalan," jawabnya dengan gugup dan salah tingkah dibuatnya.


Sesampainya di lobby, security segera membukakan pintu mobil untul Vannya dan bergantian membukakan pintu mobil untuk Vin. Dengan sopan mereka mempersilakannya.


"Makasih ya Pak, ini bonus untuk Bapak," ujar Vin mengelurkan beberapa lembar uang untuk security.


"Ti-tidak usah Pak," ujarnya menolak.


"Udah Pak, terima aja. Itu rezeki Bapak," ucap Vannya.


"Ba-baik Bu. Terimakasih Pak ... Bu ...! Semoga berkah," ujarnya terbata.


_____


"Wi, hai ...!" ujar Vannya dengan senangnya.


"Hai Van, bagaimana kabarmu?" tanya Dewi.


"Aku selalu baik Wi. Bagaimana denganmu?"

__ADS_1


"Aku juga baik Van," jawabnya.


Di sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol. Banyak sekali yang bisa mereka bahas, seperti sedang bertemu di cafe dan menikmati secangkir kopi di sore hari.


Vin fokus menyetir, membiarkan isteri dan sekretarisnya terus berbincang hingga beberapa kali terdengar gelak tawa dari keduanya. Entah apa yang mereka bahas, yang jelas Vin selalu ikut tertawa saat keduanya juga tertawa.


Setibanya di rumah, Dewi dan Vannya bergandenga tangan selepas turun dari mobil berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Sambutan hangat mereka dapatkan dari wanita berusia paruhbaya yang sudah berdiri di depan pintu.


"Mam," sapa Vannya seraya mencium punggung tangab Mami, dan memeluknya dengan erat.


"Bagaimana pekerjaan hari ini? lancar Nak?" tanganya.


"Lancar Mam, berkat doa Mami ...!" jawab Vannya.


"Selamat sore, Bu Kinan ...!" sapa Dewi dengan sopan.


"Sore Wi, bagaimana kabarmu?" tanya Mami seraya memeluk Dewi dengan hangat.


"Baik Bu. Bagaimana dengan Ibu?" tanya balik Dewi.


"Saya juga baik Wi," jawabnya dengan ramah.


"Hai Mam," susul Vin yang baru sampai di teras dengan membawa kardus besar.


"Hai Nak, bawa apa itu?" tanya Mami.


"Hadiah untuk anak klien Vin Mam, malam ini mereka akan datang ke rumah. Katanya ingin silaturahim sama Mami," ujar Vin.


"Benarkah? klien darimana?" tanya Mami.


"Dari Kalimantan Mam, makanya aku minta Dewi kesini untuk membantu kita siapin semuanya," ujar Vin.


"Oh, begitu. Kenapa tidak bilamg dari pagi? Tau gitu kan Mami bantuin siap-siap di rumah," ujar Mami.


"Makanya aku gak bilang dari pagi. Kalau bilang, pasti Mami capek sendiri," celetuk Vin.


"Ya udah, kalian masuk gih. Mandi, ganti baju dna istirahat dulu ...! Mami mau bantu Mbok Jum ke dapur," ujarnya.


"Biar saya bantu ya Bu," ujar Dewi dengan sopan.


"Iya Nak. Tapi kamu mandi dulu gih, ganti baju ya. Kayaknya ada tuh baju yang ukuranmu," ujar Mami.


"Baik Bu,"

__ADS_1


__ADS_2