
Hari terus berganti. Kinan dan Randy sudah terbaisa dengan aktivitas barunya merawat Alina dan juga Adik Vin. Setiap pagi Kinan selalu tak bosan menatap wajah pangeran kecionya yang masih terlelap di box miliknya.
"Mami. . .Nana mau di sisir rambutnya sama Mami." Ucap Alina masuk ke dalam kamar Kinan.
"Oh, baiklah. Kemari Nak. . ." Ucap Kinan dengan senyum manisnya.
Alina duduk di tepi ranjang tepat di depan Kinan menghadap pada box bayi. Alina juga suka sekali menatap adik Vin, dan bahkan pernah seharian berdiam diri di kamar Kinan dan Randy agar bisa menjaga adiknya.
"Mami. . .kenapa adik Vin selalu bangun siang?" Tanya Alina.
"Karena adik Vin tidurnya selalu larut Nak. Semalam Papi yang menggendong adik Vin sampai adik Vin bobo." Ucap Kinan.
"Nana juga mau ikut jaga Adik Vin Mami. . Nana mau temani Papim" Ucap Alina.
"Iya sayang. Besok ya kalau Kakak libur sekolahnya. Mami tidak mau Kakak bangunnya kesiangan, nanti terlambat sekolahnya." Ucap Kinan.
"Besok Nana boleh tidur disini kan Mami?" Tanya Alina lagi.
"Boleh sayang. . ." Ucap Kinan lagi.
Selesai di sisir, Kinan mengajak Alina untuk sarapan dan ke meja makan menunggu Randy selesai bersiap-siap untuk berangkat kerja dan mengantar Alina ke sekolahnya.
Selesai sarapan, Alina memikih untuk menunggu Randy di teras sambil melihat orang yang hilir mudik hendak bernagkat kerja dan mengantar anaknya. Tanpa di sadari, Randy dan Kinan yang sudah selesai sarapan melihat Alina dengan gemasnya yang sedang duduk sendiri.
Tak lupa Kinan mengambil gambar Alina dari belakang karena saking gemasnya.
"Putri kita sudah besar ya Mas, lihat. . . lucu sekali dia." Ucap Kinan dengan bangganya.
"Mas tidak sabar ingin melihat putri kita cepat besar sayang. " Ujar Randy.
"Hmm aku juga Mas. Oh iya, kita jadi kan selesaikan urusan kita sama Tuan Patrick. Aku ingin hak asuh Nana sepenuhnya ada pada kita Mas. Aku tidak mau kehilangan dia." Ujar Kinan.
__ADS_1
"Iya sayang, besok lusa kita bertemu dengan mereka." Ucap Randy.
"Aku ikut ya Mas. Aku besok siapkan ASI untuk Adik Vin kok. Aku hanya ingin lihat dengan mata kepala sendiri kalau masalah kita benar-benar clear." Ucap Kinan.
"Iya Sayang. . " Ucap Randy.
Randy segera berpamitan pada Kinan dan mengecuk keningnya. Begitupun dengan Laina yang mencium punggung telapak tangan Kinan dan mengecup kedua pipi Kinan secara bergantian.
_โฆ_โฆ_โฆ
Hari yang dinantikan telah tiba, Randy, Kinan dan Alina sudah bersiap untuk pertemuan hari ini bersama Patrick dan Febby. Mereka datang bersama seorang pengacara untuk menjadi saksi dari pertemuan hari ini dan juga mengurus hak asuh Alina untuk Kinan dan Randy sepenuhnya.
Disana Om Harun dan Bagas sudah menunggu Randy dan Kinan juga untuk menaadi saksinya.
Sesampainya di depan gedung pertemuan, Kinan menghela nafas panjang untuk mengurangi kegugupan dan juga menetralkan perasaannya saat ini yang berkecamuk menjadi satu.
Randy menggenggam tangan Kinan untuk memberikan rasa nyaman dan mengurangi sedikit rasa takutnya. Sebenarnya Randy juga merasa was-was dan takut jika Tuan Patrick tidak mau berdamai dan tetapeminta hak asuh Alina padanya.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja." Ucap Randy melempar senyum terbaiknya pada Kinan.
"Pasti. . . kita akan menang. Karena Nana juga bahagia dengan kita." Ujar Randy.
Dengan langkah perlahan, Kinan dan juga Rabdy berjalan melangkah mendekati sebuah pintu masuk. Seorqng pengacara telah berjalan di depan mereka sebagai penunjuk ruangan. Alina berada diantara Kinan dan juga Randy berjalan berdampingan.
Sesampainya di depan ruangan, Alina langsung mundur saat melihat pria dan wanita yang ia ingat saat kejadian itu. Wajah Alina berubah menjadi pucat pasi dan sembunyi di belakang Kinan.
"Sayang. . . jangan takut, Ada Mami Papi disini." Ujar Kinan.
"Nana takut. . Om itu jahat Mami. Ayo kita pulang saja." Ucap Alina.
"Sayang, ada Papi. . Papi tidak akan biarkan orang jahat menyentuhmu secuilpun. Kita datang untuk menyelesaikan semuanya Nak. Setelah ini kita akan hidup dengan tenang." Ujar Randy berjongkok di depan Alina.
"Ada Papi dan Mami yang akan menjaga Nana. Banyak orang baik disini yang akan menjaga Nana. Kamu percaya kan sama Mami dan Papi." Ucap Alina.
"Hmm. . . " Alina menganggukkan kepalanya kepada Randy dan Kinan.
__ADS_1
Mereka duduk bersebarangan dengan Patrick dan juga Febby yang lagi-lagi membuat Alina menundukkan kepalanya karena merasa takut saat harus menatap wajah keduanya.
Kinan memeluk Alina dari belakang dan menciumi pucuk kepalanya berkali-kali. Sesekali diam-diam Patrick melirik ke arah Alina yang nampaknya ketakutakn padanya.
Acara pengambilan hak asuk atas Alina berjalan dengan lancar, Randy menyerahkan semua harta milik keluarga Alina untuk Patrick dengan syarat dia tidak lagi mengganggu atau menyentuh Alina.
Ich habe nur genommen, was mir gehรถren sollte. Und jetzt ist alles in meinem Besitz, ohne dass ich mir die Hand schmutzig machen muss (Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Dan sekarang semuanya sudah aku miliki tanpa aku harus mengotori tanganku ini).
Batin Patrick dengan senangnya. Randy langsung memeluk Kinan dan Alina saat itu juga. Perasaannya tak bisa di gambarkan dengan apapun, mereka sangat senang karena hak asuh Alina jatuh padanya.
Randy dan Kinan bahkan rela menyerahkan harta mereka jika perlu. Karena kebahagiaan mereka bukan karena harta yang mereka miliki saat ini, melainkan orang-orang yang selalu ada dan bersama dengannya sampai kapanpun.
"Makasih Mas. . . Kita tidak akan kehilangan putri kita sekarang." Ujar Kinan memeluk Alina dan menciumi wajah putrinya
"Hmm. . kalian adalah ladang rezeki dan kebahagiaanku. . mana mungkin aku akan melepaskannya begitu saja " Ujar Randy pada Kinan dan Alina.
"Cih. . .Bahkan sekarang seorang Randy Ardhana lebih memilih wanita tak berkelas." Ujar Febby tiba-tiba mendekatinya.
"Wanita berkelas seperti apa yang kau maksud Fe?" Ujar Randy sambil memeluk Kinan dan Alina.
"Apa matamu tidak bisa melihat dengan jelas? Lihat saja penampilan yang kampungan. Bo*** sekali." Ujar Febby.
"Wanita berkelas tidak bisa di nilai dari harta dan penampilan, tapi dari kelakuan dan ucapan Fe. Aku mencintainya karena hatinya, bukan karena kecantikannya. Bagiku, dia sudah terlalu cantik, dan dia bisa saja pergi merawat diri tapi aku tidak mau. Tidak berhias saja dia sudah mampu mengalahkanmu, bagaimana kalau dia bersolek?" Ujar Randy membuat Kinan terharu dengan jawabannya.
\=\=\=\=\=\=\=
Maaf baru up๐
Kira-kira untuk episode selanjutnya mau yang seperti apa? adakah ide??
Ditunggu Kritik dan Sarannya Kak ๐๐
Jangan lupa like dan komen. . rate5 dam Vote seikhlasnya juga boleh, biar lebih semangat ngetiknya . heheh.
Terimakasih yang masih setia membaca karyaku. . ๐๐
__ADS_1