
Vin langsung mematikan teleponnya dan kembali memasukkan ponsel ke kantong bajunya.
"Kak Nana minta rujak?" tanya Vannya yang sejak tadi mendnegarkan obrolan keduanya.
"Ya, tapi harus rujak yang dekat gedung pertemuan di perempatan depan sana. Jadi kita harus putar balik lagi," jawabnya dengan lirih.
_______
"Yaudah, ayo kita beli rujaknya. Demi calon ponakan," ujar Vannya menggandeng lengan suaminya.
"Huhh! Kasihan calon ponakanku. Gak tau apa-apa tapi buat alasan ibunya buat mendapatkan sesuatu yang Ibunya mau," gumam Vin.
"Kak jangan bilang seperti itu. Nanti kan aku juga akan seperti Kak Nana," ujar Vannya dengan lirih.
"Kamu sedang hamil?" tanyanya kemudian.
"Tidak, Emm ... maksud ku belum. Tapi seenggaknya kita latihan dulu sekarang kan?" ucap Vannya.
"Ya, kamu benar. Makasih ya Sayang," ujar Vin.
Vin dan Vannya segera meluncur menuju gedung tukang rujak yang Kak Alina maksud. Untunglah lokasi mereka saat ini tidak terlalu jauh, dalam waktu tak kurang dari 10 menit mereka sudah menemukan gerobak rujak yang mereka cari.
"Akhirnya sampai juga, untung saja sedang sepi. Aku turun dulu ya Kak," ucapnya segera melepas seatbelt.
"Hmm, aku tunggu disini ya ... ." ujarnya.
"Okey,"
Vannya segera turun mendekati gerobak rujak yang Kak Alina mau. Untung sedang tidak ada pembeli yang lain, jadi dia langsung bisa di layani. Dan dalam waktu tak sampai 10 menit rujak sudah jadi dan di bungkus rapih dengan plastik.
"Udah Kak, yuk!" ucap Vannya dengan semangatnya.
"Makasih, Sayang!" ujar Vin menatap wajah isterinya.
"Seharian Kakak mau bilang makasih berapa kali?" tanya Vannya.
"Heheh! Karena kamu sudah banyak membantuku dan membuat mood ku sangat baik. Apa aku salah kalau aku bilang makasih?" ujarnya.
"Haiss! Baiklah, terserah Kakak saja. Tapi ayo kuta lanjut perjalanan," ujar Vannya.
Merekapun melanjutkan perjalanan menuju rumah Alina dna Chandra yang tinggal 15 menit lagi mereka tempuh. Rasanya sudah tidak sabar Vannya ingin bertemu Kakak iparnya, kemarin malam belum puas mengobrol karena hari sudah malam.
Disisi Lain ...
__ADS_1
"Yang, kok mereka belum sampai juga ... ." ucap Alina yang sejak tadi gelisah mondar mandir seperti setrikaan.
"Kan tadi kamu yang minta mereka beli rujak. Mungkin lagi antri, duduklah. Atau bayi kita akan kelelahan karena Mommy nya sejak tadi jalan terus," celetuk Chandra yang duduk dengan santainya di sofa.
"Huh! Mana bisa aku tenang, aku takut mereka kenapa-kenapa. Harusnya tadi aku tidak menyuruh mereka putar balik," ujarnya menyesal.
"Hey! Tenanglah. Kamu tidak boleh stress Sayang, sebentar lagi mereka akan sampai kok. Sini aku pijitin, pasti kamu capek," ucapnya menepuk sofa di sebelahnya.
"Hmm, jangan-jangan mereka nyasar," gumamnya lagi.
"Astaga! Ada apa dengan isteriku?" batin Chandra memijit alisnya pelan.
"Yang ... katanya mau pijitin aku. Kok diam?" celetuk Alina.
"Ah, ya! Aku lupa, sini ... sini aku pijitin," ujarnya bersemangat.
Baru dua kali pijitan, terdengar suara mobil mulai memasuki halaman rumahnya. Binar bahagia terlihat di wajah Alina, entah bahagia karena rujak pesanannya sudah datang atau karena adiknya yang sudah sampai.
"Jangan lari, kamu sedang hamil!" ujar Chandra mengingatkan.
"Hehe! Iya sayang. Maaf aku lupa," sahutnya seraya berjalan mendekati pintu.
Dari kejauhan dia melihat Vin dan Vannya yang baru turun dari mobil dengan menentang banyak sekalu plastik di kedua tangannya. Meski begitu, mereka tetap melempar senyum pada Alina yang sudah menunggunya di ambang pintu.
"Hai Sayang, akhirnya sampai juga. Aku kira kalian nyasar," ujar Alina memeluk Vannya dengan erat.
"Iya kita nyasar ke tukang rujak," celetuk Vin.
"Sstt! Kak," ujar Vannya menyikut suaminya.
"Aiihh! Sakit Yang," sahutnya meringis.
"Jaga ucapan Kakak. Jangan sampai membuat Kak Nana kesal, Ibu hamil lebih sensitif loh," bisik Vannya pelan.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya.
"Hmm, awas aja kalau Kakak sampai bikin Kak Vannya kesal," ancam Vannya menyipitkan kedua matanya.
"Astaga! Apa aku salah," gumam Vin.
"Ayo masuk, apa kalian mau terus diluar?" tanya Chandra yang sudah berdiri di belakang Alina.
"Iya Kak! Makasih," sahut Vannya segera melangkahkan kakinya melewati pintu.
__ADS_1
"Mbok, tolong bawang ini semua masuk ya. Sekalian siapkan rujaknya," ujar Alina.
"Biar aku bantu bawa ke dapur ya Mbok," ucap Vannya.
Vannya ikut masuk ke dapur, membantu Mbok Jum menyiapkan rujak untuk Alina. Sementara itu, Vin duduk bersama Alina dan Chandra di ruang tengah yang lebih tertutup dan nyaman untuk duduk-duduk.
"Akhirnya kamu ajak isterimu kesini Vin. Aku pikir kamu udah lupa sama jalan ke sini," celetuk Alina seraya menyandarkan dirinya pada Chandra.
"Haih! Kakak ini, kan Kakak tau aku setelah menikah sering perjalanan bisnis. Bahkan saat honeymoon juga aku mendadak harus pergi," sahut Vin.
"Kamu ini, harusnya luangkan waktumu buat Vannya Vin. Kasihan dia," ujar Alina.
"Kalau kalian mau honeymoon kedua, kabari aku Vin. Supaya aku kasih jadwal cuti untuk Vannya," ujar Chandra menimpali.
"Heh? Honeymoon kedua? Belum aku agendakan Kak," jawab Vin.
"Apa pekerjaanmu sebanyak itu sampai kamu tidak bisa mengatur jadwal liburmu?" tanya Alina.
"Bukan gitu, tapi aku bingung. Vannya tidak suka tempat keramaian. Dimana-mana tempat berlibur pasti identik dengan keramaian kan," ujar Vin.
"Hmm, tidak semua Vin. Ada kok yang tidak terlalu ramai," ujar Alina.
"Yang ada di otakku, tempat liburan yang sepi hanya hutan. Mungkinkah kami akan honeymoon di hutan?" celetuk Vin.
"Kau mau honeymoon atau setor nyawa ke raja rimba Vin? Astaga! Kenapa adikku idiot sekali," gumam Alina tak percaya.
"Kenapa tidak ke Jogja dan sekitarnya saja Vin? Aku rasa di sana suasana masih asri dan cocok untuk kalian," ujar Chandra.
"Ahh!!! Ide bagus, cobe deh nanti aku cari waktu yang tepat untuk berlibur. Kak Chandra siapkan jadwal untuk isteriku cuti ya," ujar Vin bersemangat.
"Bisa diatur. Biar nanti anak kita ada teman main, iya kan Sayang?" ujar Chandra melirik isterinya.
"Hmm," sahutnya mengangguk.
Di dapur ....
"Maaf ya Mbok, jadi harus masak banyak karen kedatangan kita," ujar Vannya dengan lembut.
"Tidak apa Nona! Sudah tugas saya untuk membantu Nyonya Alina. Lagian saya senang kalau Den Vin akhirnya datang bersama isterinya yang cantik ini," puji Mbok Jum membuat wajah Vannya bersemu merah dibuatnya.
"Hmm, Mbok Jum ini paling pandai memuji orang. Mbok Jum siapkan minumannya saja, biar ini aku yang siapkan ya," ucapnya lagi.
"Iya Non,"
__ADS_1
Asisten Rumah Tangga yang satunya kebetulan sednag keluar belanja bulanan kata Mbok Jum. Jadilah Vannya memilih untuk membantu Mbok Jum di dapur. Mbok Jum sudah beberapa kali bertemu dengan Vannya, saat Alina mengajaknya ke rumah Mami dan Papi.