Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Berjaga-jaga


__ADS_3

"Wih ...! Ramai sekali, awas aja kalau gak ada adu tinju. Gak jadi ramai nanti," timpal Dokter Fani yang baru datang setelah memberikan tindakan kepada pasien.


"Hahah ...! Mana ada cowok lawan cewek, aku kan gentle. Yang ada nanti aku di serang emak-emak, matilah aku kalau gitu," celetuknya.


Di sela-sela kesibukan mereka dalam melayani pasien selalu ada cara untuk mereka menghibur diri. Melepas ketegangan dalam dirinya dengan obrolan receh yang tak berfaedah itu.


__________________


Sementara itu ...


Musik klasik mengalun dari radio usang di atas meja sudut ruang kamarnya. Jendela sedikit terbuka membiarkan angin dari luar masuk menggantikan udara di seluruh ruangan kamar.


Jemarinya yang sudah tidak kuat lagi tampak sibuk dengan jarum dan benang woll berwarna levender. Ya, sejak kedatangannya Mami lebih memilih untuk duduk di sudut ruangan sembari membuat baju bayi dari kain woll yang di sediakan oleh menantunya.


Bukan maksud Vannya menyuruh Mami untuk bekerja, tapi agar Mami tidak larut dalam kesedihan. Satu minggu rasanya sudah cukup ia melihat Mami murung, tiba-tiba menangis meraung.


Tangisan dan air mata tidak akan membuat yang meninggal kembali hidup. Wajar memang jika ada keluarga yang meninggal pasti juga meninggalkan luka yang mendalam. Tapi sampai kapan? Sebagai orang anak ingin memberikan yang terbaik untuk orangtuanya, meski itu bukan yang mereka inginkan.


"Mam, kami semua sayang Mami. Kami akan melakukan berbagai cara untuk mengalihkan perhatian dan bisa bangkit dari keterpurukan ini,"


"Bukan kamu tidak sedih dengan kepergian Papi, hanya saja kita juga harus melanjutkan hidup kedepannya. Anak mana yang tak sedih di tinggal orangtuanya, anak mana yang tak sedih melihat orangtuanya menangis. Mam, tersenyumlah ...!" gumam Vannya yang berdiri dari balik pintu kamar, mengintip dari celah pintu yang tertutup sepenuhnya.


Tadinya ia ingin masuk untuk menemani Mami agar tidak sendirian. Tapi sepertinya saat ini Mami lebih baik sendiri, karena perhatian sedang terfokus dengan jarum dan benang woll.


Vannya memilih untuk duduk di ruang tengah, menyandarkan badannya yang sekarang sudah sering merasakan lelah. Meski usia kandungan masih trimester pertama, tapi banyak sekali perubahan yang dia rasakan saat ini.


Gubuk Kecil ....


"Vannya Sayang, kenapa kamu diam saja disitu? Kemarilah? Duduk bersamaku, akan aku ceritakan semua rencana indah kita kedepannya,"


"Aku menyayangimu, aku ingin memilikimu seutuhnya. Akan aku lakukan apapun untuk bisa bersanding denganmu, meski dengan memecah kepala pria itu sekalipun ...!" ceracaunya tak terarah. Sejak beberapa waktu yang lalu, setelahbia terbangun dari tidur tak ada jedanya ia terus menceracau.

__ADS_1


Beberapa warga yang kebetulan lewat tampak berhati-hati, mereka memilih berjalan tanpa bersuara. Takut akan diamuk oleh orang yang berada di dalam gubuk.


Dua penjaga yang berdiri di depan gubuk sesekali menganggukkan kepalanya, membalas senyuman mereka yang lewat di depannya.


Sudah beberapa hari ini, mereka di tugaskan untuk berjaga di sekitar gubuk. Menghindari kejadian yang tak mereka inginkan, bisa saja ada salah satu warga yang penasaran dan merasa iba saat mendengar ceracau Ilham.


Bukan kejam, tapi hanya itu satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan. Memaafkan bukan cara tepat untuk melupakan kejadian yang sudah ia lakukan terhadap Vannya, yang hampir merenggut dua nyawa yang tak bersalah.


"Aku lapar hey ...! Apa kalian tidak ada makanan untukku?" teriaknya dari dalam.


Salah satu dari mereka segera bergegas mengambil sebungkus nasi dan air mineral dari dalam tas plastik yang di dekat mereka. Meski Ilham di kurung dan diikat, bukan berarti mereka tak memberinya makan.


"Cihh ...! Nasi bungkus? Aku tidak suka, aku mau makanan ari restoran bintang lima," membuang wajahnya tak sudi menatap sebungkus nasi yang sudah di buka.


"Yakin tidak mau makan? Baiklah aku saja yang makan, mana ada disini restoran bintang lima? Adanya raja rimba yang siap memangsa," sahutnya.


"Aku mau makan enak ...!" bentaknya. Kedua matanya melotot penuh dengan kemarahan.


"Kamu marah? Berani menatapku seperti itu?" membalasnya dengan menatap balik mata Ilham lebih tajam lagi dari sebelumnya.


"Tidak apa-apa ... aku tidak lapar," seraya menunduk.


"Aku tidak setega itu, makanlah ...! Kita peduli padamu hanya memberikan pelajaran supaya kamu tidak melewati batas," dengan sabar ia menyendok nasi dan menyuapinya.


Di Tempat Lain ...


Meeting sudah selesai sejak 30 menit yang lalu, jadwal 3 hari kedepan sudah tertata dengan rapih. Setelah yang lain pergi meninggalkan ruang meeting, tinggalah Vin dan Arsen yang masih duduk di kursinya.


"Kalau boleh tau, selama Bapak di Ibukota akan tinggal dimana? Kalau belum ada, lebih baik Bapak menempati rumah orangtua saya yang kebetulan kosong," ucapnya


"Terimakasih, atas tawarannya Pak Vin. Tapi asisten saya sudah mencarikan tempat untuk kami di sini beberapa hari. Saya terharu sekali di perbolehkan tinggal di kediaman keluarga Bapak,"

__ADS_1


"Ah begitu, kalau ada waktu senggang saya ingin menjamu Bapak di rumah kecil saya," ujarnya.


"Tentu saja Pak, suatu kehormatan untuk kami bisa bersilaturahmi dengan keluarga Bapak,"


"Suatu kehormatan bagi kami juga bisa menjamu Bapak dna keluarga. Saya mohon maaf jika selama ini saya tidak pernah datang ke sana untuk mengikuti pertemuan, jadi saya meminta Aura untuk mewakili saya kesana," ujarnya dengan tulus.


"Tidak apa, Pak ...! Saya tau Bapak banyak sekali schedule di luar Perusahaan. Ah ya, saya tidak melihat Aura sejak tadi. Apa dia tidak bernagkat hari ini?" tanyanya berbasa-basi.


"Smeoga saja memang Aura tidak berangkat hari ini. Jangan sampai dia melihat aku dan juga keluargaku," batin Arsen.


"Iya Pak, kebetulan sudah satu pekan Aura tidak bekerja lagi di sini,"


"Kenapa? Apakah dia memilih pekerjaan lain?" seraya membenahi posisi duduknya.


"Tidak, melainkan terjadi kecelakaan yang membuatnya tidak bisa bekerja lagi disini. Bukan karena kondisi fisiknya, melainkan kami ingin dia bisa istirahat saja di rumah dan rasanya tidak baik juga jika kami terus memaksanya untuk tetap bekerja melihat kondisinya yang sekarang ini,"


"Ke-kecelakaan? Astaga ...! Aku baru mendengarnya,"


"Iya, Pak ...!" jawab Vin dengan singkat.


Vin tidak menceritakan jika Aura ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa mendiang Papi. Karena rasa tidak etis jika menceritakaan masalah keluarga kepada orang lain, apalagi Arsen adalah klien.


Di sisi lain, Vin ingin menjaga nama baik keluarha juga nama baik Aura. Meski dia sudah mencoret nama baiknya sendiri di depan banyak orang. Setidaknya Aura amsih ada kesempatan untuknbertaubat dan membenahi dirinya menjadi lebih baik lagi.


Setelah perbincangan selesai, mereka bergegas menuju lantai 7 menemui isteri dan anak Arsen yang sudah menunggunya sejak tadi.


_____


***Maaf dua hari kemarin tidak up, karena ada kepentingan yang tidak bisa di tinggalkan. Smeoga hari ini bisa up lebih dari dua episode.


Terimakasih untuk kalian yang sudah setia membaca coretan Author, terimakasih untuk like dan komennya.

__ADS_1


Maaf tidak bisa membalasnya satu persatu, tapi Author selalu membaca komen kalian🥰.


Terimakasih atas dukungannya❤️❤️***


__ADS_2