
"Dew! Maaf ya aku tidak bilang padamu, kalau hari ini aku akan bertunangan. Bukannya aku tidak menganggapmu, tapi karena Mamah yang minta hanya kerabat dekat yang datang. Dan kalau aku bilang, kamu pasti akan tetap datang. Sekali lagi, maafkan aku," ucapnya sembari melihat fotonya dengan Dewi di gallery ponselnya.
"Semoga acara sore ini lancar, tanpa halangan. Aku pasrahkan padamu, Ya Tuhan. Semoga Kak Vin dan aku bisa melanjutkan hubungan ini ke jenjang selanjutnya, meski aku belum tau kapan waktu itu akan datang. Dan aku juga mencintainya sejak dulu, saat aku masih duduk di bangku SMP. Aku pikir apa yang aku rasakan hanya cinta sesaat, tapi nyatanya rasa ini masih melekat. Semua atas rencana-Mu, aku percaya itu,"
>>>>>>
Mobil keluarga besar Ardhana telah memasuki halaman rumah keluarga Vannya. Beberapa orang sudah berdiri menyambut kedatangan mereka. Setelah bersalaman dan bertegur sapa satu sama lain, merekapun masuk dan duduk di tempat yang sudah tersedia.
Acara demi acara telah berlangsung, tiba saatnya di acara inti. Tak berapa lama Tante Maya dan Tante Clara turun dengan mengapit Vannya di antara keduanya.
Semua mata tertuju padanya, gaun yang bernuansa biru laut melekat pada tubuhnya yang mulus. Di padukan dengan make up flawless dan juga tatanan rambut yang memperlihatkan leher jenjangnya.
Melihat Vin yang tidak berkedip saat menatap calon tunangannya, membuat Alina gemas dan segera menyenggolnya dengan sikunya.
"Dek, matamu hampir jatuh. Segeralah berkedip, atau nanti Vannya akan menolak lamaranmu karena matamu lepas dari sarangnya," bisik Alenia pada adiknya yang segera tersadar jika dirinya memang tak berhenti menatap sedari tadi.
"Haih! kakak ini. Tidak bisa apa lihat aku bahagia sebentar," gerutunya memasang wajah kecewa meski hanya candaan saja.
"Haduh ... haduh! Jangan kayak gitu Sayang, kamu tambah jelek nanti," imbuhnya lagi semakin menggoda adiknya.
Setelah Vannya duduk di antara Tante Maya dan om Revan, acara di lanjutkan dengan meminta jawaban Vannya atas lamaran Vin terhadapnya.
"Vannya ... Vin beserta keluarga datang untuk melamarmu, bagaimana dengan jawabanmu? Di terima atau di tolak?" Tanya seorang pembawa acara.
Dengan sedikit gugup dan wajah merona merah, Vannya mulai mengatur nafasnya sebelum menjawab lamaran Vin. Dan jawabannya adalah Ya, Vannya menerimanya.
Seketika seluruh keluarha besar dan orang-orang yang ada di sana berucap syukur dan bertepuk tangan penuh kebahagiaan.
Mami Kinan dan Vin berdiri menuju tempat pertemuan dengan Vannya juga Tante Maya. Mami Kinan menyematkan cincin di jari manis Vannya sebagai lambang tukar cincin, begitupun dengan Tante Maya yang menyematkan cincin di jari manis Vin.
Merekapun saling berpelukan, memasrahkan anak mereka dan memintanya untuk saling menjaga satu sama lain. Dan berharap acara akan berjalan dengan pancar sampai ke pelaminan.
"Nak! Tante titip Vannya ya, jaga dia ... Tante percaya sama kamu," bisik Tante Maa saat memeluk Vin.
__ADS_1
"Iya, Tante! terimakasih sudah memberikan restu pada kami, terimakasih untuk doa baiknya ... ." jawab Vin dengan santun.
"Vannya sayang ... Mami titip Vin ya Nak! Jaga hatinya, ingatkan dia jika ada khilaf, Mami berharap kalian bersatu sampai mau yang memisahkan dan bertemu lagi di syurga-Nya," bisik Mami Kinan pada Vannya.
"Iya, Tan. Doakan supaya Vannya bisa menjaga hati Kak Vin, dan tidak mengecewakan banyak orang. Terimakasih untuk restunya,"
Dan setelah saling berbisik pada Vin dan Vannya. Kini giliran Mami Kinan dan Tante Maya yang saling berpelukan. Menangis dan tertawa berdua karena tidak menyangka jika anak-anak mereka akan berjodoh.
"May! Kita mau jadi besan, aku tidak menyangka ini. Kita sama-sama dukung mereka ya May, semoga hubungan ini langgeng. Dan kita jadi keluarga besar," bisik Mami Kinan memeluk Tante Maya dengan erat.
"iya Kin! aku juga tidak menyangka sebelumnya, sejauh apapun mereka berlari, kalau sudah jodohnya pasti akan bertemu. Dan bukan hanya mereka yang berjodoh. Tapi kita juga," jawab Maya dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan rasa haru.
Setelah acara inti selesai, dan acara selanjutnya juga sudah terlewati. Tiba waktunya mereka untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
Di tengah-tengah acara, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan Alina yang jatuh pingsan. Tuan Chandra segera membawa Alina ke Rumah Sakit di ikuti dengan keluarga besar Vin yang juga khawatir.
Mereka takut jika Alina akan seperti setahun yang lalu, saat dia hilang kesadaran dalam jangka waktu yang lama.
Setibanya di Rumah Sakit, suster segera menghampirinya dengan brankar yang mereka dorong. Vin segera mengurus administrasi, sedangkan yang lain mengikuti suster yang membawa Alina ke IGD.
Setelah hampir 15 menit lamanya, seorang dokter keluar dsrinbalik tirai dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Bagaimana keadannya, Dok?" Tanya Tuan Chandra segera mendekati Dokter.
"Dokter Nana hanya kelelahan, hormon ibu hamil memang mudang berubah. Dan sering kelelahan ... ."
"Ma-maksud Dokter?" Tanya Tuan Chandra terkejut.
"Anak kami sedang mengandung, Dok?" Tanya Kinan.
"Iya, Bu. Saat ini Dokter Nana sedang mengandung, usia kehamilannya masuk trimester pertama. Dan kondisinya sangat rentan, untuk itu kami menganjurkan Dokter Nana bedrest sementara waktu, untuk tempatnya kamo serahkan pada pihak keluarga saja," ujarnya lagi.
"Ka-kalau di rumah saja bolehkan?" Tanya Tuan Chandra.
__ADS_1
"Boleh, Tuan!"
Randy dan yang lain masih melanjutkan obrolan dengan dokter seputar tindakan yang akan mereka tempuh selanjutnya. Sementara itu, Tuan Chandra, Kinan dan Mamah Iren mendekati Alina yang baru sadar.
"Sayang ... Kamu sudah bangun?" Ucap Mamah Iren membelai rambut Alina dengan lembut.
"Ya, Mah!" jawabnya dengan lirih.
"Apa yang kamu rasakan sekarang Nak?" Tanya Mami Kinan khawatir.
"Tidak ada, Mam! Memangnya aku kenapa? Kenapa bisa disini?"
"Kamu pingsan, dan sekarang di perut kamu ada buah cinta kita, Sayang! Terimakasih, Cup!" kecupan hangat mendarat di kening Alina.
"Benarkah? Aku tidak salah dengar kan Sayang?" Tanya Alina terharu saat mendengar kabar bahagia.
>>>>>>
Kebahagiaan keluarga kecil Alina dan Tuan Chandra semakin lengkap dengan hadirnya sang buah hati yang saat ini masih ada dalam kandungan Alina.
Tuan Chandra menjadi lebih posesif terhadap isterinya, mulai dari makanan, tempat dan orang yang berada di sekelilingnya selalu ia pastikan aman dan tidak mengganggu Alina.
Sementara itu, Vin dan Vannya melangsungkan pernikahan setelah acara magang selesai. Dan Vannya bekerja di Wijaya's Group karena prestasinya, bukan karena dia isteri adik ipar Tuan Chandra.
.
.
.
.
Selesai .... 😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke Loving Slowly ya, di tunggu kritik dan sarannya disana.
Terimakasih sudah mampir 😊🙏