Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Kata Manis


__ADS_3

Setelah hampir 20 menit aku duduk di sofa, akhirnya terdengar pintu kamar mandi terbuka. Aku segera bergegas bangun dari duduk dan berlalu mandi sebelum makan semakin larut dan kata orang mandi malam tidak baik untuk tubuh.


Tapi kalau aku tidak mandi, aku tidak akan bisa tidur. Karena badanku penuh dengan keringat yang sudah membuat sleuruh tubuhku terasa lengket. Ku nyalakan air kran untuk mengisi bath up dan menuangkan sedikit aromatherapy untuk menghilangkan rasa penat setelah seharian bekerja.


_________________


30 menit sudah Vannya berendam air hangat di dalam bath up. Ia segera keluar dari bath up dan bergegas membilas badannya di bawah siraman air shower yang hangat.


Setelah di rasa cukup bersih, Vannya segera meraih kimono untuk menutupi badannya dan juga handuk kecil untuk di gulung menutupi rambutnya yang masih basah. Ia keluar dan langsung ke ruang ganti, mencari baju tidur yang nyaman untuk di pakai.


Piyama terusan lengan pendek berbahan satin dengan warna biru donker menjadi pilihannya malam ini. Badannya sudah tidak sabar ingin segera jatuh ke atas kasur yang empuk. Tapi rambutnya perlu di keringkan lebih dulu.


Dengan cepat Vannya segera mengeringkan rambutnya, dan membiarkannya tergerai begitu saja. Toh dia mau tidur, tidak ada pekerjaan yang mengharuskannya lembur malam ini.


Lampu utama di kamar sudah di padamkan, tersisa cahaya lampu duduk di nakas samping kiri kasur yang masih menyala. Dengan langkah cepat, Vannya segera mendekati kasur dan bersiap untuk masuk kedunia mimpi.


Dan benar saja, belum ada lima menit setelah dia merebahkan badannya yang lelah, Vannya sudah terlelap begitu saja.


Pagi Harinya...


Angin pagi berhembus memasuki kamar lewat lubang ventilasi kecil di atas jendela kamar. Sayup-sayup terdengar suara burung di luar sana, perlahan Vannya mulai membuka kedua matanya dengan malas.


Sebuah tangan besar melingkar di perutnya, terdengar suara dengkuran meski sangat tipis. Vannya membalikkan badannya, menatap wajah suaminya yang masih terlelap.


Wajahnya terlihat begitu tenang, nafasnya beraturan seperti hembusan udara dari AC yang baru di nyalakan. Perlahan, kedua tangannya mulai menyentuh wajah pria di hadapannya. Tidak ada respon, Vannya semakin memainkan tangannya di wajah yang pemiliknya masih terbuai dalam mimpi.


"*Melihat wajahnya, hatiku merasa sangat tenang. Dia sudah bekerja keras untuk keluarganya. Dan baru kali ini aku menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat dalam waktu yang lumayan lama. Dna ternyata sanhat menyenangkan,"


"Tau gini pasti aku sudah melakukannya dari lama. Baiklah, aku akan melakukannya setiap pagi. Sebelum dia terbangun dan membuatku salah tingkah. Aku mencintaimu Kak, sangat mencintaimu," batin Vannya teis menatap wajah Vin tanpa berkedip*.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu Sayang," ucap Vin dengan kedua mata masih terpejam.


"Heh? Apakah masih mimpi? Mimpi dengan siapa dia?" celetuk Vannya yang terkejut.


"Bukankah kamu tadi bilang mencintaiku? Lalu aku jawab, aku juga mencintaimu Sayang!" ujarnya mengulangi perkataannya.


"*Apa barusan aku mengucapkannya?" batin Vannya mencoba mengingat kembali.


"Tidak, aku dari tadi diam saja. Lalu darimana Kak Vin tau*?"


"Tanpa kamu mengucapkan pun, aku sudah tau. Kamu mencintaiku. Apalagi kalau melihatku dengan jarak yang dekat seperti ini. Setiap pagi saja kaya gini, aku mau kok," ujarnya mengeratkan lagi pelukannya.


"Haiss! Kak bangun ... hari ini kita ke rumah Kak Nana yuk!" ajaknya lirih.


"Aku akan bangun setelah isteriku mengucapkan kata-kata manis untukku. Atau menciumku mungkin," ceketuknya membenamkan wajahnya di dada Vannya.


"Astaga! Seperti anak kecil saja. Kak, suamiku yang paling tampan di dunia ini. Bangun yuk," ujarnya dengan manis berharap suaminya akan segera bangun.


"Haiss! Kalau sebentar lagi terus, buat apa aku membangunkan Kakak dengan kata-kata manis. Udah ah, tidur saja sana. Aku akan ke tempat Kak Nana sendiri saja," ujarnya mulai kesal.


"Sayang! Temani aku dulu sebentar," bisik Vin dengan lembut.


Vannya tak bisa berkutik, selain diam dan menurutinya. Ia kembali berbaring dalam pelukan suaminya meski rasa kantuknya sudah hilang sejak satu jam yang lalu. Setelah 5 menit, Vin baru membuka kedua matanya dan mulai bangun.


"Emang di tempat Kak Nana ada apa?" tanya Vin.


"Ada Kak Nana, Kak Chandra, Mbok Jum sama Pak Parjo lah," jawab Vannya sekenanya.


"Iya juga sih. Maksudku kesana mau apa?" tanya Vin lagi.

__ADS_1


"Aku mau mekindungi suamiku biar gak di kutuk sama Kak Nana karena belum pernah ajak isterinya main ke rumahnya," celetuk Vannya menyinggung Vin yang memang belum mengajak dirinya ke rumah Alina.


"Hmm, iya Sayang. Maaf ya belum ajak isterikunmain ke rumah Kakak ipar. Baiklah, gih siap-siap," ujarnya segera menyandarkan badannya di kepala ranjang.


"Iya Sayangku, aku mandi dulu setelah itu siapin sarapan sebelum kita pergi," ujar Vannya hendak turun dari kasur.


"Sayang," panggil Vin dengan manja.


Tanpa menyahut Vannya segera berbalik badan dan men*ium pipi Vin. Setelah men*ium pipinya, Vannya segera bergegas dengan jurus langkah seribu menutupi wajahnya yang sudah merah karena merasa sedikit malu,"


Sementara itu ...


Pagi-pagi sekali, sesuai janjinya. Chandra mengantar isterinya untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya. Mereka membeli dua buket mawar putih dan dua plastik bunga tabur juga 4 botol air mawar.


Sesampainya di atas makam, Alina dan Chandra berjongkok sedikit membersihkan makam dan menaburkan bunga serta meletakkan buket mawar di masing-masing atas makam.


Air mata tak mampu di bendung lagi, kerinduannya sedikit terobati dengan kedatangannya mengungunji makam keduanya. Terlihat masih ada bunga yang segar di atas pusara. Mungkin kemarin ada yang emngunjungi makam kedua orangtuanya.


"Ayah, Ibu. Nana datang, kali ini Nana bukan cuma ajak suami Nana, melainkan dengan calon anak kami. Calon cucu Ayah dan Ibu,"


"Ayah sama Ibu pasti udah tau kan? Maaf ya Yah, Bu. Kami baru bisa berkunjung kesini, karena dua bulan terakhir Nana harus bedrest ... Meski begitu, setiap saat Nana selalu berdoa semoga kalian di tempatkan di tempat terbaik-Nya. Dan Nana yakin, saat ini kalian sudah berbahagia disana kan," batin Nana mengusap batu nisan kedua orangtuanya dengan kedua tangannya.


Semilir angin pagi berhembus mengibarkan sebagian rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Rasanya seperti sedang ebrada di tengah-tengah antara Ayah dan Ibunya secara nyata.


Rasanya Ibu dan Ayah sedang memeluknya memberikan energi positif padanya. Chandra mengusap kepala isterinya dengan lembut, membiarkan isterinya ber-quality time dengan keadaan yang ada.


"Sayang, teruslah tersenyum sperti ini. Rasanya duniaku begitu indah saat melihat seulas senyum di wajahmu. Begitupun sebaliknya saat aku melihatmu bersedih," batin Chandra menatap isterinya.


Mereka berada di tengah-tengah ribuan makan selama hampir dua jam. Sebelum Chandra ingat jika hari ini Vannya dan Vin akan main ke rumahnya. Chandra segera mengingatkan isterinya untuk segera pulang sebelum mereka datang.

__ADS_1


"Sayang, kita sudah hampir dua jam disini. Sebentar lagi Vannya dan Vin pasti akan sampai ke rumah. Sebaiknya kita pulang ya," ujar Chandra dengan sabarnya.


__ADS_2