
"Haruskah aku membereskannya sebelum drama di mulai atau menunggu sebentar lagi?" gumamnya bertanya apda dirinya sendiri.
Chandra terus menggulir layar dengan mouse di tangan kanannya. Semua dia baca tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Baginya setiap kalimat yang tertulis adalah penting.
"Sepertinya lebih seru kalau aku biarkan dulu, setidaknya biar rencana yang selama ini mereka susun tidak sia-sia. Anggap saja aku memberinya kesempatan untuk keduanya menampilkan keahlian dalam berakting,"
"Astaga! Sudah hampir 1 jam aku disini. Jangan sampai isteriku bangun dan aku tidak ada di sampingnya," Chandra segera keluar dari dokumen dan mematikan kembali monitor di hadapannya.
Ia segera bergegas kembali ke kamarnya. Untunglah Alina masih tertidur dengan pulas, Chandra segera beranjak naik ke atas kasur dan menempati posisinya sebelum Alina tidur tadi.
Tring!
Ponselnya tiba-tiba berdering, membuatnya yang sedang berhati-hati malah terkejut dan hampir saja membangunkan isterinya.
"Astaga! Siapa yang meneleponku. Apa dia tidak tau kalau isteriku sedang tidur. Huh!" batinnya kesal.
*Obrolan di telepon...
"*Hallo Chan! Kamu libur kan? Kenapa tidak langsung mengangkat telepon dari Mamah?" tanyanya dari seberang sana.
"Hallo Mah! Bisakah volumenya di kecilkan sedikit? Isteriku sedang tidur," ujarnya berbisik.
"Hallo ... kamu bicara apa? Mamah tidak dengar Nak! Mamah lagi di jalan," ujarnya.
"Mamah mau kemana?" tanya Chandra.
"Astaga! Ini anak bicara apa sih? Bikin emosi saja, Nak dengarkan Mamah. Pasang telingamu baik-baik. Mamah sama Papah sedang di jalan mau ke rumahmu," ucapnya meninggikan suaranya.
"Iya Mah! Aku tunggu di rumah, hati-hati ya!" jawab Chandra.
"Chan ... kamu masih hidup kan? Kenapa tidak bicara sedikitpun? Kamu marah sama Mamah?" tanya Mamah lagi.
"Ya Tuhan! Sebenarnya yang salah siapa sih?" Chandra segera mematikan teleponnya dan memilih seera mengirimkan pesan pada Mamah Irene*.
Di Tempat yang berbeda,
"Lihat Pah! Malah telepon di matikan, awas saja nanti kalau aku sudah sampai sana," ujarnya kesal.
"Sabar Mah! Mungkin Chandra baru bangun tidur, jadi nyawanya belum full," jawab Papah tetap fokus menyetir mobil.
__ADS_1
"Ah, dia mengirimkan pesan. Aku lihat dulu bentar," ujarnya.
• Iya Mah! Maaf aku sedang menemani Nana tidur jadi tidak bisa bicara dengan suara keras. Kami tunggu di rumah Mah. Hati-hati di jalan, see you!
"Apa katanya Mah?" Tanya Papah yang kepo.
"Ternyata dia sedang menemani Nana tidur Pah," jawab Mamah Irene dengan jurus nyengir kuda setelah menyadari dirinya salah.
"Kan, apa Papah bilang. Mamah si marah-marah terus," celetuk Papah.
"Kan Mamah tidak tau Pah!" ucap Mamah menimpali.
"Hah!! Kapan Ibu kota tidak macet? Astaga!" ujar Papah memukul stir mobil.
"Sabar Pah! jangan marah-marah terus. Nanti cepat tua," celetuk Mamah Irene membalas ucapan Papah.
Papah hanya diam, tanpa bersuara sedikitpun. Cuaca di luar sangat panas, mungkin mencapai 32°C. Terlihat beberapa orang juga berjalan kaki dengan menutupi kepalanya menggunakan apa saja yang mereka pegang.
Jalan di area stasiun tampak penuh mobil dan angkutan umum yang sedang menunggu penumpang. Suara klakson tak bisa di elakan saling bersahutan meminta jalan supaya yang di depannya maju.
"Papah si, bukannya lewat jalan lain saja. Malah lewat sini," celetuk Mamah menyalahkan suaminya.
"Iya Pah, cepat sampai ya sekarang ... mau mundur aja susah apa lagi geser kanan kiri," gumamnya.
"Aisshh! Tidurlah biar Mamah tidak berisik," ucap Papah tak mau kalah.
"Mana bisa aku tidur di tengah-tengah kemacetan Pah! Apalagi suara klakson yang sejak tadi bersahutan. Ada apa sih di deoan sana,"
Setelah berada di tengah kemacetan hampir 45 menit lamanya, akhirnya perlahan mobil mulai maju meski lamban seperti siput berjalan. Untunglah setelah melewati stasiun perjalanan lancar tanpa ada drama macet dan sebagainya.
Mereka sampai di rumah Chandra-Alina sekitar pukul 4 sore, memasuki area halaman rumah yang luas terlihat Vin dan Vannya sednag berdiri mungkin sednag berpamitan pada Chandra-Alina.
"Hallo Tante, Om!" Sapa Vin dengan sopan.
"Hallo ganteng nya Tante, kok udah mau pulang? Kan kami baru saja datang," ujar Mamah Irene.
"Iya Tante, Kak Vin ada acara lain katanya ... ." sahut Vannya membantu suaminya mencari alasan.
"Ah begitu rupanya, besok main lagi dong kesini. Tante kan pengen ngobrol juga sama kalian," celetuknya.
__ADS_1
"Lain waktu Tan, kan masih ada banyak waktu ... ." jawab Vin tetap tersenyum.
Merekapun berpamitan dan segera meninggalkan halaman rumah Chandra-Alina. Sementara itu Mamah Irene dan Papah segera masuk, berbincang-bincang dengan anak dna menantunya.
"Mah, lama sekali sampainya. Dari rumah jam berapa?" tanya Alina.
"Dari rumah mah cepat Nak, tapi Papahmu salah jalan," jawab Mamah.
"Salah jalan? Papah nyasar?" tanya Alina.
"Mana mungkin Papah lupa sama jalan ke rumah kalian Nak. Kami terjebak macet di stasiun," jawabnya dengan tenang.
"Kamu lihat kan Sayang? Mereka selalu begitu," celetuk Chandra.
Alina hanya tersenyum melihat mertuanya yang seperti kartun yang menceritakan persahabatan Kucing dan Tikus yang saling menjahili satu sama lain.
Di sisi lain,
Setibanya di rumah, Vannya dan Vin langsung ke kamar untuk membersihkan badan sebelum makan malam tiba. Sore ini ART nya telah kembali, tadi mereka sudah melihatnya sedang menyiapkan makan malam di dapur.
"Kak aku mandi dulu ya," ujar Vannya melenggang pergi setelah meletakkan tas kecilnya di meja dekat perbatasan kamar dengan ruang ganti.
"Aku tidak di ajak?" celetuk Vin yang masih berdiri di dekat pintu.
"Haiss! sejak kapan mandi harus mengajak Kakak," ujar Vannya.
"Sejak saat ini, sudah lama kita tidak mandi berdua. Aku lelah, tolong keramasi aku ya ... ." ucapnya yang sudah jalan lebih dulu di depan Vannya.
"Astaga! Selelah apa sampai dia tidak ada tenaga untuk keramas," batin Vannya yang ikut masuk ke dalam kamar mandi.
Vannya segera menyalakan air kran untuk mengisi bath up dan menuangkan beberapa tetes aromatherapy mawar ke dalamnya. Belum di suruh untuk masuk, Vin sudah lebih dulu melangkahkan kakinya ke dalam bathup.
"Kenapa? Ayo," ajaknya menjulurkan tangannya pada Vannya, tanpa menjawab Vannya menyambutnya dengan memegang erat tangan Vin.
Vannya duduk di kepala bathup, sedangkan Vin menjatuhkan kepalanya di pangkuan Vannya untuk di keramas. Perlahan Vannya mulai menyiramkan air ke kepala Vin dan menuangkan shampoo ke rambutnya di ikuti dengan pijitan lembut di kepalanya.
"Hmm, enak Sayang. Sering-seringlah keramasi aku," ujarnya tanpa membuka matanya menikmati pijatan lembut dari tangan halus isterinya.
"Okey, sering-seringlah Kakak bilang lelah dan sejenisnya lalu ikuti aku saat mau mandi," ujarnya tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Apa kamu mau mandi dengan memakai baju?" tanya Vin membuat wajah Vannya bersemu merah.