Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Tidak Setuju


__ADS_3

"Mas Randy bilang apa saja sama Ayah dan Bunda?Kenapa mereka tidak marah padaku?" Tanya Kinan pada Randy yang sedang menyetir mobil.


"Tidak bilang apa-apa. Aku hanya bilang ingin mengajakmu makan malam. Lalu kenapa kamu bilang ke Ayahmu kalau kita mau makan malam dengan para kolega? Kolega yang mana?" Tanya Randy.


"I-tu ... itu ... aku alasan saja supaya Ayah mengijinkan," Ujar Kinan dengan gugup.


"Oh begitu," Ujar Randy.


Mereka kembali terdiam, Kinan sibuk melihat kanan kiri karena dia memang jarang pergi keluar malam apalagi di malam minggu. Kinan lebih memilih untuk bermalam minggu dengan keluarga, kalaupun Kinan keluar itu harus dengan kedua orangtuanya.


Sesampainya di rumah Randy, Kinan merasa gugup karena akan bertemu dengan keluarga besar Randy. Dia takut jika keluarganya tidak menerima Kinan karena dia bukan anak konglomerat.


"Ini rumah apa istana?Besar sekali, halamannya sangat luas dan ada lampu di setiap pohon," Batin Kinan dengan takjub.


"Mari kita masuk," Ajak Randy menggandeng tangan Kinan.


"Baiklah. Tapi apakah aku tidak akan mempermalukan mas Randy?" Tanya Kinan dengan ragu.


"Yang penting kamu diam saja, senyum yang manis dan jangan banyak tingkah. Satu lagi, jangan jauh-jauh dari aku," Ujar Randy.


"Baik Mas," Jawab Kinan yang terus melangkah di samping Randy.


Lagi-lagi Kinan merasa sangat kagum melihat rumah Randy yang sangat besar. Atap rumahnya sangat tinggi menjulang keatas seperti istana yang dia lihat di negeri dongeng.


"Selamat datang Nak," Sapa seorang wanita paruhbaya yang cantik dan anggun.


"Selamat malam Mah! Kinan perkenalkan ini Mamahku," Ujar Randy pada Kinan.


"Selamat malam Tante. Saya Kinan," Ucapnya mencium punggung tangan Mamahnya Randy dengan sopan.


"Wah kamu lebih cantik daripada yang di foto. Pantas saja Randy tergila-gila padamu Nak," Ujar Mamah memuji Kinan.


"Terimakasih Tante," Ucap Kinan malu-malu.


"Benarkah mas Randy tergila-gila kepadaku? Perasaan dia sangat cuek dan tidak romantis. Apakah mas Randy memiliki kepribadian ganda jadi dia bisa berubah-ubah setiap menitnya?" -Batin Kinan lagi.


"Ayo kita langsung saja ke ruang tengah, disana sudah ada Oma dan Opa nya Randy baru datang dari Bandung tadi siang," Ajak Mamah Randy merangkul Kinan seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


"Iya Tante," Kinan mengikutinya dan Randy berjalan di belakangnya.


"Mami, kenalkan ini Kinan calon isteri Randy," Ujar Mamah mengenalkan Kinan pada mertuanya.


"Selamat malam Oma, Opa. Saya Kinan," Ucap Kinan mencium tangan Opa dan Oma secara bergantian.


"Selamat malam Nak, cantik sekali," puji Oma menyentuh dagu Kinan dengan lembut.


"Terimakasih Oma," Ucap Kinan dengan malu-malu.


Oma sangat suka dengan Kinan karena baik dan sopan. Tapi tidak dengan Opa, karena baginya Kinan dan keluarganya tidak sepadan dengannya. Opa hanya diam dan meliriknya sedikit.


Kinan yang tahu kalau Opa tidak menyukainya hanya diam dan tersenyum, karena dia tidak bisa berbuat apa-apa selain itu. Randy segera mengajak Kinan ke lantai dua, disana Randy akan memberikan Black Card untuk pegangan Kinan.


"Kenapa Mas mengajak Kinan ke kamar? Bagaimana kalau nanti keluarga Mas yang lain berpikir macam-macam tentang kita?" Ujar Kinan.


"Aku akan menikahimu, Ujar Randy datar. Dia membuka lemari dan mengambil kotak kecil. "Ini untukmu," memberikannya pada Kinan.


"Ini apa Mas?" Tanya Kinan dengan bingung.


"Buka saja," Ujar Randy lagi.


"Itu untukmu," Ucap Randy.


"Untuk apa? Aku tidak perlu ini. Bukankah mas Randy sudah memberiku gaji yang lebih banyak. Itu sudah lebih dari cukup," Ujar Kinan.


"Tapi aku ingin memberikannya untukmu. Jangan membantah," Ujar Randy dengan tegas.


"Baiklah, makasih Mas Randy yanh tampan," Ujar Kinan sengaja mengeraskan suara pada kalimat terakhirnya.


"Berbaliklah," Ucap Randy pada Kinan.


"Mas mau apa?" Tanya Kinan.


"Sekali-kali jadi pacar yang nurut bisa kan?" Ujar Randy membuat Kinan segera membalikkan badannya.


"I-ini apa mas?"Tanya Kinan lagi.

__ADS_1


"Hadiah untukmu, karena sudah bekerja dengan sangat baik," Ujar Randy.


"Mas Randy kenapa tidak ada romantis-romantisnya sih? Harusnya dia kan memujiku agar aku merasa senang, ini malah datar sekali. Untung saja pacar kontrak, coba kalau pacar sungguhan bisa-bisa aku hipertensi," batinnya.


"Aku akan mandi dulu. Kamu diam dulu disini jangan kemana-mana," Ujar Randy pada Kinan.


"Iya Mas," Kinan menuruti perintah Randy.


Kinan pergi ke balkon kamar Randy, disana dia bisa melihat lampu-lampu gedung tinggi. Bintang di langit hanya ada beberapa disana, dan bulan sepertinya juga enggan untuk keluar malam itu. Kinan menghembuskan nafas dan menikmati suasana indah di balkon.


Disana ada sebuah kursi panjang, Kinan mendekatinya dan duduk disana. Angin sepoi-sepoi membuatnya merasa sedikit mengantuk dan tanpa di sadari Kinan terlelap disana. Selesai mandi Randy segera mengganti pakaian yang senada dengan dress Kinan, Randy berkaca dan tersenyum dengan manis.


"Aku harus terlihat tampan, agar Kinan tidak bosan melihat wajahku. Dan aku tidak sabar untuk melamarnya," Batin Randy.


Setelah selesai, Randy keluar dari closetroom, namun dia tidak melihat Kinan disana. Randy menyusuri segala penjuru kamar dan matanya tertuju pada pintu balkon yang terbuka. Ia segera mendekatinya dan mencari keberadaan Kinan, namun dia tidak melihatnya. Randy segera masuk kembali, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat ekor matanya menangkap sesuatu di pojok balkon.


"Bisa-bisanya dia tertidur disini. Tapi dia terlihat sangat cantik meski sedang tidur. Melihatnya dari jarak dekat membuatku merasa lebih tenang. Dia gadis yang baik, tapi entah kenapa dia sangat jutek padaku. Apa dia tidak tertarik padaku?"


Diam-diam Randy mengambil beberapa gambar selama Kinan terlelap. Randy menunggu Kinan yang sedang tertidur di kursi panjang tempatnya biasa menghabiskan malam jika dia sedang suntuk karena masalah pekerjaan.


Sementara itu....


"Ardhana, Papih tidak setuju jika Randy menikahinya," Ujar Opa.


"Pih, apa yang membuat Papih tidak setuju?" Tanya Ardhana sopan.


"Dia tidak sejajar dengan kita. Cucuku harus menikah dengan wanita terpandang," Ujar Opa lagi.


"Pih, Randy sudah dewasa.Dan dia sudah membuktikan dia bisa berdiri dengan kerja kerasnya sendiri. Kasta dan kedudukan itu nomor dua Pih, bagiku kebahagiaan Randy lebih penting. Tolong Papih restui mereka," Ujar Ardhana memohon.


"Aku akan mencarikan calon untuk cucuku kalau kamu tidak bisa Ardhana," Ujar Opa.


"Terserah Papih, tapi aku akan selalu mendukung Randy apapun yang terjadi nantinya," Ucap Ardhana lagi.


"Kamu tidak pernah tegas pada anak-anakmu. Kamu berhak menolaknya karena wanita itu jauh dibawah kita. Apa kata mereka kalau tahu cucuku menikah dengan wanita dari kalangan yang jauh dibawah kita," Ujar Opa lagi.


"Pih, kebahagiaan tidak bisa di jamin dengan harta Pih," jawab Ardhana lagi membuat Opa semakin kesal.

__ADS_1


"Sudah ... sudah. Mamih akan membujuknya nanti. Lebih baik sekarang kita makan," Ucap Oma menengahi.


__ADS_2